
Mata Umi melotot. Bukan takjub melihat pemuda tampan yang duduk di hadapannya, tapi terkejut mendengar ucapannya.
Katrin ingin mengadukannya ke polisi? Apa salahnya? Perempuan itu adalah benar suka melacur! Mengapa dia menggugatnya karena disebut pelacur? Apa ingin disebut binatang berwajah manusia?
"Aku hubungi suamiku dulu," kata Umi berusaha untuk tenang. "Aku tidak biasa menerima laki-laki tanpa pendamping suami."
"Kan sudah ada Ibu Silvana selaku pendamping," kata pengacara.
"Aku bilang pendamping suami," tandas Umi, kemudian menoleh ke Silvana. "Kamu suamiku bukan?"
"Saya manajer rumah tangga."
Umi memandang pengacara. "Kamu dengar sendiri itu. Orang hukum harus bisa membedakan."
"Silakan kalau Ibu ingin menghubungi suami," ujar pengacara sabar. "Saya datang sekedar pemberitahuan; ada ujaran Ibu yang tidak dapat diterima oleh klien saya. Tapi Ibu Katrin siap untuk mediasi."
"Maka itu aku perlu menghubungi suami. Aku tidak begitu paham soal hukum."
Umi segera menekan angka tertentu sebagai panggilan cepat, setelah tersambung dia berkata, "Abi pulang dulu, penting."
"Aku lagi kedatangan pelanggan."
"Pokoknya pulang dulu."
"Ada apa sih kelihatannya penting banget?"
"Kalau tidak penting, mana pernah Abi disuruh pulang mendadak?"
"Coba tolong jelaskan padaku, ada apa?"
"Abi lagi kedatangan pelanggan?"
"Ya."
"Aku kedatangan pengacara Katrin."
Umi tidak takut menghadapi tuntutan. Kemungkinan terburuk adalah masuk penjara. Menanggung akibat dari segala perbuatan adalah konsekuensi dari hidup bernegara. Hanya caranya kurang mengenakkan hati, seolah dia adalah orang paling bersalah di dunia.
Abi sendiri membaca poin tuntutannya tidak masuk akal. Mereka terkesan ingin memeras. Seberapa tinggi nama baik wanita itu sehingga memiliki nominal yang demikian besar? Parameternya apa?
"Saya bukan menolak mediasi dalam waktu dekat," kata Abi. "Saya butuh waktu untuk mempelajari poin-poin ini secara hukum, dan saya butuh pengacara untuk itu."
"Kira-kira kapan saya dapat jawaban?" tanya pengacara.
"Minggu ini."
"Baiklah, saya tunggu. Saya permisi kalau begitu."
Pengacara pamit. Abi terduduk lemah di sofa. Tidak disangka keluarganya akan berhadapan dengan hukum. Ujaran kebencian adalah jenis pelanggaran yang kadang tanpa disadari terjadi, dan sangat subyektif, dalam arti bergantung kepada korban. Jika korban bersikeras menuntut, maka terjadilah proses hukum. Jika korban menganggap angin lalu, maka berlalu pula masalah itu.
Delik ujaran kebencian adalah sarana resmi untuk balas dendam. Kesadaran hukum di kelurahan ini sangat rendah, sehingga sanksi hukum tidak memberi efek jera. Pencuri ayam keluar dari penjara jadi pencuri kambing, bukan kapok.
"Apa aku salah menyebut dia pelacur?" cetus Umi gelisah.
"Kamu bisa buktikan kalau dia pelacur?"
"Dia sering bermain dengan ABG, mempunyai pria simpanan, mengganggu suami orang."
"Kamu bisa buktikan itu?"
"Semua warga sudah tahu kelakuan bejatnya."
"Kamu bisa buktikan itu?"
"Apa sih maksud Abi bertanya begitu? Masa aku harus membuktikan semuanya?"
__ADS_1
"Harus dibuktikan semuanya. Kalau tidak mampu membuktikan, maka kamu dianggap mencemarkan nama baik."
"Memang begitu faktanya!"
"Fakta apa?"
"Fakta dia bukan perempuan baik-baik."
"Kamu berhadapan dengan hukum. Semua omongan harus disertai dengan alat bukti. Kok tidak paham-paham?"
"Banyak orang memergoki kalau dia ada main di luar."
"Nah, orang ini harus kamu hadirkan di hadapan hukum, sebanyak-banyaknya."
"Masa harus sebanyak-banyaknya?"
"Semakin banyak semakin bagus. Bahkan tidak hanya orang yang melihat, orang yang pernah terlibat affair juga. Pokoknya semua orang yang dapat memberi petunjuk kalau perbuatannya seperti pelacur."
"Tapi hak dia untuk jadi pelacur."
"Dan hak kamu untuk memberi julukan yang sesuai. Tidak ada orang yang memberi julukan jelek kepada diri sendiri."
Pengacara yang dihubungi Abi pun sependapat untuk melawan di pengadilan kalau ada bukti cukup tentang sebutan itu. Hanya warga biasanya takut untuk jadi saksi karena gencarnya pertanyaan dari pelaku hukum sehingga sering keseleo lidah dalam menjawab dan akhirnya menyusahkan diri sendiri.
"Sambil mengumpulkan alat bukti, baiknya kita sambut baik niatan untuk mediasi," kata pengacara yang dihubungi Abi lewat handphone. "Tapi saya pesimis melihat nominal ganti rugi tidak masuk akal. Atau bapak berminat untuk memilih opsi satu lagi?"
Abi tertawa pendek. "Siapa yang tidak berminat menjadikan wanita itu sebagai istri kedua?"
"Ya sudah pilih saja itu, berarti kasus ini selesai dengan mediasi."
"Masalahnya istri saya lebih rela masuk bui daripada menerima opsi itu."
"Saya yakin Ibu Katrin tidak menghendaki istri bapak masuk sel, dia menginginkan uang bapak. Dia tahu bapak bisa memenuhi tuntutannya. Nah, ini perlu dimusyawarahkan. Nilai sebesar itu hitung-hitungannya bagaimana, parameternya apa, dan sebagainya."
"Kapan bapak membutuhkan, saya usahakan ada waktu. Kebetulan bulan ini saya tidak menangani banyak kasus."
"Besok siang siap?"
"Tentu saja."
Mereka mengakhiri percakapan jarak jauh.
"Aku perlu ikut besok?" tanya Umi.
"Tidak perlu. Lebih baik Umi mencari orang yang bersedia memberi keterangan untuk mendukung sebutan itu."
"Ya sudah kalau keinginan bapak begitu."
"Bukan keinginanku, keinginan hukum."
"Iya, aku tahu."
"Alat bukti itu penting untuk pertimbanganku."
"Pertimbangan apa?"
"Mengambil madu."
"Apa?!"
"Jadi ngegas ya? Tetangga Katrin ada yang jualan madu. Aku bisa pesan lewat dia."
Meminta orang untuk memberi keterangan di muka hukum ternyata tidak mudah. Mereka mengaku hanya mendengar selentingan, tidak ada yang menyaksikan secara langsung.
"Bu Lili katanya pernah memergoki Katrin keluar dari sebuah kontrakan?" desak Umi.
__ADS_1
"Iya," sahut Bu Lili. "Pas diselidik lagi kontrakan itu ternyata dihuni peserta senam."
"Kemarin Bu Lili bilang yang tinggal di kontrakan laki-laki, bagaimana sih?"
"Saya bisa saja salah lihat kan, Umi. Maklum sudah bermata empat."
Kalian pengecut, geram Umi dalam hati. Cuma omong besar. Giliran aku minta bantuan, semua jadi marmot!
Mereka tidak bersedia jadi saksi karena takut terbelit masalah, ujung-ujungnya jadi tersangka. Umi sebenarnya siap membayar mereka berapapun, hanya pasti jadi masalah di pengadilan, minimal jadi santapan empuk kubu lawan.
"Lalu apa bedanya dengan Umi? " balik Abi sambil duduk bersandar di tempat tidur. "Menuduh orang lain pelacur tanpa bukti?"
Umi memandang suaminya dengan bingung. "Lalu aku harus bagaimana, Abi?"
"Kamu siap tidak untuk menghadapi sidang?"
"Tentu saja aku tidak siap kalau tidak ada yang mendukung."
"Suamimu pasti mendukung."
"Maksudnya yang mendukung perkataanku."
"Aku tidak ada bukti untuk itu. Jadi terpaksa menempuh jalan mediasi."
"Kau akan penuhi tuntutannya?"
"Aku tidak rela istriku masuk kurungan."
"Harusnya ujaran kebencian itu sanksinya bukan bui, tapi hukuman sosial; suruh bersih-bersih lingkungan atau apa dalam jangka waktu tertentu. Jadi tidak timbul dendam atau sakit hati."
"Sudah salah ngajari orang lagi. Mulai sekarang jaga omongan."
"Bagaimana kalau mereka bersikukuh dengan angka itu, Abi?"
"Kemarin pihak kita sudah menyampaikan ke pihak mereka, nilai sebesar itu adalah permintaan main-main, terjadi debat antara dua ahli hukum. Pihak kita mengajukan lima milyar dan ditolak mentah-mentah. Aku mau sewa pengacara empat lagi, yang sudah punya nama di negeri kita, tujuannya agar mereka tidak main-main. Aku menduga Katrin hanyalah boneka. Aku ingin orang di belakangnya menampakkan hidung."
"Buat apa, Abi? Yang penting mereka bersedia untuk menurunkan angka itu."
"Aku tidak akan minta belas kasihan mereka, aku ingin mereka minta ganti rugi dengan angka normal, kecuali mereka bukan orang-orang normal."
"Kalau mereka bersikeras, bagaimana? Abi akan maju ke persidangan?"
"Kalau kita tidak memiliki saksi untuk memenangkan persidangan, terpaksa aku penuhi permintaan mereka."
"Hukumannya berapa tahun untuk kasus ini?"
"Paling maksimal satu tahun, soalnya bukan kasus berat, perkara keseleo lidah saja."
"Kalau cuma satu tahun, mendingan maju ke persidangan saja. Umi rela menjalani hukuman."
"Jangankan satu tahun, satu jam saja aku tidak rela kamu masuk bui. Lebih baik aku keluar uangĀ
lima puluh milyar."
"Terlalu besar, Abi."
"Maka itu supaya kamu tahu betapa bahayanya lisan."
"Aku sadar sekarang, Abi. Aku pasti lebih hati-hati lagi dalam berbicara."
"Yang terpenting kamu sadar betapa besar hargamu di mataku. Cintaku kepadamu melebihi kekayaan yang kumiliki."
Umi merasa tersanjung. "Wanita setua aku apa pantas dihargai setinggi itu?"
"Kalau di tempat tidur, kamu selalu ngaku tua!"
__ADS_1