Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Salah Aku Juga


__ADS_3

Mobil Gerdy meluncur kencang di jalan raya yang sepi. Padahal baru jam sepuluh, malam Minggu pula, kota satelit sudah mati.


Beberapa anak muda kelihatan nongkrong di kafe tenda pinggir jalan. Selebihnya rumah-rumah sunyi seakan tidak berpenghuni.


Mereka baru pulang dari pesta ulang tahun teman Karlina. Kelihatan sekali mood gadis itu lagi kurang bagus. Wajahnya dilipat kayak sajadah belum dicuci. Dia minta pulang cepat sebelum acara selesai.


Karlina mogok bicara sepanjang perjalanan pulang, padahal dalam pesta dia sempat tertawa-tawa bersama Robby. Kebahagiaannya terenggut saat Gerdy benar-benar membuatnya jengkel!


Gerdy tidak mau masuk ke diskotik untuk menghadiri acara ulang tahun, padahal teman-temannya menunggu. Dia malah nongkrong di warung pinggir jalan.


Karlina ingin semuanya berjalan seperti biasa. Teman-temannya cuma minta berdansa, bukan minta ditemani tidur.


Dia jadi kena bully mereka. Gerdy disebut kakak paling sombong di dunia, dan sebutan lain yang membuat kupingnya terbakar.


Bahkan ada yang bilang Gerdy cemburu karena Karlina begitu mesra berdansa dengan pacarnya.


Gerdy terjerat cinta terlarang dengan adik sendiri!


Karlina jengkel menerima tuduhan seperti itu. Untung Robby tidak tahu. Persoalan jadi besar jika pacarnya terpengaruh!


Dia sebenarnya sudah masa bodoh dengan hubungan mereka yang sudah terjalin sejak kelas tujuh SMP. Entah karena masa pacaran yang terlalu lama atau ada laki-laki lain yang mulai hinggap, Robby sudah kehilangan daya tariknya.


Perjodohan ini tanpa disadari sudah membangun harapan semu yang melenakan hatinya. Lagi pula, jatuh cinta sama cowok tajir, ganteng, dan perkasa adalah bukan sebuah kesalahan.


Karlina tidak tahu kalau dia bukan calon istri pilihan meski Gerdy gagal menikah dengan Nadine. Gadis seperti dirinya hanya cocok untuk melanglang buana di kehidupan bebas, bukan untuk duduk bersama di pelaminan.


"Salah aku juga," kata Gerdy sesaat setelah mobil yang dikendarainya meninggalkan pelataran parkir diskotik. "Aku masuk pada kehidupan kalian dengan berdansa, ketika aku ingin berhenti, jadi timbul masalah."


"Aku tidak minta banyak darimu!" sergah Karlina kesal. Dia hampir melabrak pemuda itu di depan teman-temannya, namun dia mencoba menahan diri karena pasti mengundang perhatian Robby yang lagi berkumpul bersama temannya. "Aku cuma minta kamu sedikit menghargai aku!"


Gerdy bertanya dengan santai, "Menghargai bagaimana maksudmu?"


"Apa salahnya kau meladeni temanku berdansa? Jangan sok jual mahal!"

__ADS_1


"Temanmu bukan cuma minta ditemani berdansa, minta ditemani minum juga, beberapa temanmu bahkan ingin tidur bersamaku. Aku tidak suka cewek yang terlalu agresif."


"Jadi kau lebih suka aku mendapat malu? Kau tahu apa tanggapan teman-temanku? Sangkaan mereka kamu cemburu karena aku berdansa sama pacarku!"


Sikap Gerdy tetap cool seolah tidak terpancing oleh emosi Karlina yang meledak-ledak. "Kamu tidak perlu marah-marah padaku seandainya pikiranmu sedikit jernih. Apa susahnya bilang kalau aku sudah menikah, sudah pensiun dari dunia malam, beres kan?"


"Pertanyaan seharusnya dibalik, apa susahnya kamu layani mereka nge-dance? Kalau mereka ngajak minum atau ngamar, kamu tinggal nolak!"


"Kamu ingin membuat temanmu senang dengan mengorbankan aku? Kamu pikir aku ini bego banget apa?"


Karlina tidak terima dan mendelik. "Aku cuma minta kamu melayani nge-dance seperti biasa, mengorbankan apa? Lebay banget!"


"Bagimu cuma, bagiku sudah luar biasa. Aku tidak termasuk laki-laki yang sudah punya istri tapi suka bermain dengan putih abu-abu."


"Munafik!"


"Aku tidak minta kamu menghormati keputusanku. Aku cuma ingin memenuhi janjiku sama Nadine untuk berhenti bertualang setelah menikah."


Karlina heran bagaimana playboy kelas kakap macam Gerdy bisa berubah haluan secara drastis hanya karena janjinya pada seorang perempuan, makhluk yang selama ini jadi budak nafsunya!


Bagi Karlina, Gerdy tidak lebih dari seorang pecundang yang bertekuk lutut di kaki perempuan!


Sayangnya, mengapa perempuan itu bukan dia! Tapi Nadine! Seorang gadis yang berasal dari keluarga tidak bermartabat!


Gerdy tersinggung saat Karlina mengungkit silsilah keluarga istrinya, "Jadi kamu merasa bermartabat karena berasal dari keluarga bermartabat? Keluarga bermartabat tidak serta merta membuat kamu bermartabat."


"Kurang ajar," geram Karlina marah. "Jadi kamu menganggap aku tidak bermartabat karena menganut kehidupan bebas? Apa bedanya denganmu?"


"Aku tidak mengaku diriku bermartabat. Aku cuma tidak mau menghakimi orang yang lebih baik dariku. Jadi jangan merasa terhormat karena kedudukan orang tua, kita ini adalah kutu busuk yang menggerogoti nama baik mereka."


Kata-kata itu membuat Karlina terdiam. Dia sudah terjebak dalam kehidupan yang mencoreng muka orang nomor satu di kelurahan ini. Ada bagusnya cuma dua cowok. Jika dia mengecer cintanya pada setiap cowok, aib ini pasti sudah terbongkar!


Bagaimana dengan tanggung jawabnya selaku ketua karang taruna? Kehidupan seorang ketua seyogyanya lebih bersih dari anggota yang dipimpinnya!

__ADS_1


"Aku minta maaf kalau sudah menyinggung dirimu," kata Gerdy jantan. "Banyak hal kotor yang perlu dibersihkan karena aku tidak mau mengecewakan istriku. Satu hal yang perlu kamu tahu, aku tidak melihat latar belakang istriku, aku melihat apa yang ada pada istriku. Aku tidak berharap Nadine jadi istri yang sempurna karena aku juga bukan suami yang sempurna."


Karlina jadi berangan-angan, akankah cinta Robby seagung cinta Gerdy pada istrinya? Memuliakan perempuan dengan cara tidak mengkhianati, mencoba saling setia, karena di situlah indahnya cinta yang hakiki.


Apa yang mereka lakukan selama ini bukan bagian dari cinta, peristiwa demi peristiwa yang terjadi hanyalah rentetan dari sepenggal drama.


"Nadine tahu apa yang kita lakukan," kata Gerdy tenang. "Dia tidak mempermasalahkan kalau pun terjadi apa-apa sama kita, dia cuma minta padaku untuk tidak mencari kenikmatan pada perempuan lain selama apa yang diinginkan sanggup disuguhkannya."


Gerdy menjalankan mobil lambat-lambat, kemudian belok memasuki halaman rumah Karlina dan berhenti di dekat beranda.


"Kelihatan sepi," komentar Gerdy. "Bunda biasanya menunggu kita di beranda."


"Kita pulang belum begitu malam karena tidak ada acara tambahan. Jadi Bunda lebih baik nonton sinetron favoritnya."


"Acara tambahan itu penting banget bagimu ya?"


"Awalnya tidak penting. Tapi kamu membuat jadi penting."


"Aku sudah membelikan alat bantu, sebagai permintaan karena tidak ada acara tambahan dariku."


"Aku tidak pernah pakai."


Gerdy menatapnya tak berkedip. "Jadi...ada cowok lain? Bukan Linmas, kan?"


"Sialan," seringai Karlina kecut. "Aku mencoba cukup dengan Robby, karena dia calon suamiku."


"Aku senang banget dengernya."


Gerdy berharap skenario yang mereka susun benar-benar berjalan dengan lancar.


Keluarga Robby kelihatannya sudah bulat mendukung anaknya untuk menikah setelah lulus SMA, sehingga Karlina bisa diboyong ke California untuk meneruskan kuliah.


Sebagai putera tunggal, Robby begitu bebas menentukan jalan hidupnya. Dia tinggal simsalabim, maka semua keinginan tersedia di hadapannya. 

__ADS_1


Sungguh anak yang sangat beruntung!


__ADS_2