
Kejadian memalukan dalam pesta pernikahan menyisakan pertengkaran hebat antara Katrin dan adiknya.
"Pokoknya aku tidak terima!" geram Katrin. "Aku akan menuntut wanita keparat itu biar tidak seenak-enaknya! Dia sudah membuat aku malu di hadapan para tamu!"
Tentu saja Nadine marah besar melihat Katrin bersikeras ingin menuntut Umi dengan delik ujaran kebencian. Semua kebusukan keluarga ini pasti terbongkar dan menempatkan kakaknya lebih rendah dari pelacur!
"Kalau kau menghargai adikmu, urungkan niat itu!" teriak Nadine tak kalah emosinya. "Jangan menambah masalah yang sudah bertumpuk di rumah ini!"
Katrin memandang dengan nanar. "Jadi kau rela kakakmu disebut pelacur? Kau menerima dirimu dibilang perempuan sundel?"
"Aku memang perempuan sundel! Apa namanya untuk seorang istri yang pergi ke pelukan pria lain demi anaknya?"
"Bukan berarti dia boleh menyebutmu seenak-enaknya!"
"Dia mantan mertuaku!"
"Tapi dia tidak pernah mengakuimu sebagai menantu!"
Nadine menatap kakaknya dengan tajam. "Bisa tidak hidupmu keluar dari masalah?"
"Dari dulu aku ingin keluar dari masalah!" balik Katrin sengit. "Tapi orang-orang selalu membuat masalah padaku!"
"Artinya hidupmu tidak benar!"
"Jadi hidupmu yang benar?"
"Aku tidak sebejat kamu!"
Katrin bercerai dengan Datuk Meninggi karena tertangkap basah selingkuh dengan sugar baby di sebuah home stay. Dan dia ingin memperalat Prilly untuk menghancurkan Datuk Meninggi. Dia sakit hati datuk itu meninggalkannya tanpa mewarisi uang sepeserpun, bahkan rumah dirampas.
Baru kemarin diselesaikan. Nadine mengancam Datuk Meninggi dan Sastro untuk mempermasalahkan penyerobotan hak kepemilikan ke pengadilan. Akhirnya mereka menyerah.
Katrin sudah bangkrut. Hartanya habis digunakan untuk bersenang-senang. Kemudian datang Bradley menyelamatkan hidupnya. Dia pula yang memberi tahu lelaki itu tentang kondisi anaknya sampai akhirnya Nadine menyerah menghadapi situasi yang semakin memojokkan dirinya.
Nadine tahu maksud kakaknya untuk mengadukan Umi ke polisi adalah faktor uang! Dia ingin mengembalikan kejayaan hidupnya!
"Aku tahu kamu tidak serius untuk memenjarakan Umi," kata Nadine sinis. "Berapa uang yang kamu inginkan?"
__ADS_1
"Lima puluh milyar. Aku kira harga itu sepadan dengan nama baikku, atau aku jadi istri muda. Jika mediasi gagal, maka wanita itu akan kujebloskan ke penjara."
Nadine memandang tak percaya. "Lima puluh milyar? Lima puluh ribu saja gugatanmu kegedean! Kamu lebih rendah dari pelacur! Dan kamu marah disebut pelacur! Lalu kamu ingin disebut apa?"
"Jadi seperti itu penghargaanmu padaku?"
"Penghargaan muncul untuk manusia yang ada harganya! Kamu merasa dirimu berharga? Harusnya kamu merasa terhormat disebut pelacur! Julukan itu sudah paling baik bagimu!"
Nadine curiga Katrin berani untuk melawan orang terkaya di kabupaten ini karena mendapat dukungan dari Dennis. Sejak skandal perselingkuhannya terbongkar, omnya rajin sekali berkunjung, padahal biasanya menunggu Lebaran. Dia juga membantu mencari pengacara dan menyatakan ucapan itu sudah cukup untuk jadi alat bukti.
Nadine merasa telah terjadi sesuatu di antara mereka. Katrin tidak ada kapoknya bikin skandal memalukan!
Kehidupan kakaknya semakin tidak terkendali sejak jadi istri keempat Datuk Meninggi. Dia betul-betul memanfaatkan statusnya untuk hidup hura-hura. Ketika hidupnya terjatuh, bukan berbenah diri, dia mengincar cowok gratisan untuk memuaskan dahaganya! Omnya sendiri!
"Aku berharap kamu bersedia bergabung," kata Katrin. "Besok pengacara datang untuk menggarap kasus ini."
"Aku tidak sudi!" tolak Nadine tegas. "Jika kamu tetap dengan rencanamu, aku minta kamu angkat kaki dari rumah ini!"
"Sabar, beb," ujar Bradley yang duduk di sampingnya. "Masalah ini bisa diselesaikan secara baik-baik. Kalau kamu usir kakakmu, dia akan tinggal di mana?"
"Alah, kalau aku tidak turun tangan, dia sudah kehilangan haknya!"
"Hal itu bisa diperhitungkan nanti pada saat bagi waris. Aku tidak mau keluarga ini pecah gara-gara kasus ini."
"Aku tidak bisa tinggal seatap dengan orang yang selalu bikin masalah! Aku bisa mati berdiri, Om!"
"Ya sudah kita pindah ke rumah satu lagi," potong Bradley sabar. "Atau kita tinggal di rumah yang sudah disiapkan untukmu di Pondok Indah?"
"Aku ingin tinggal di kotaku, Mas," jawab Nadine. "Aku sumpek dengan kehidupan di kota besar."
Untuk sesuatu alasan yang dia sendiri tidak tahu, dia tidak mau meninggalkan kota kecil ini, kota di mana dia menghabiskan masa kecilnya.
Hari itu juga Nadine pergi karena tidak tahan dengan kelakuan kakaknya. Bradley berusaha untuk maklum. Sifat mereka sangat bertolak belakang, ibarat bawang putih dan bawang merah. Jadi wajar istrinya tidak kerasan.
"Sekarang bagaimana?" tanya Dennis setelah mereka pergi. "Kasus tetap lanjut meski ditentang adikmu?"
"Kita bicarakan masalah ini di dalam kamar, Om," ajak Katrin mesra. "Om datang bukan sekedar untuk mengurus ujaran kebencian, kan?"
__ADS_1
Katrin sudah membuat hidup Dennis lebih mudah dan terhindar dari kecurigaan istri. Dia terperangkap dalam pesona yang liar sehingga rela bolak-balik ke rumah ini.
"Aku tahu aku lebih menggairahkan dibanding simpanan Om di Bandung," senyum Katrin nakal sambil bangkit dari sofa dan berjalan ke kamarnya. "Bagaimana kabarnya Tarlita sekarang?"
"Hubungan kami sudah berakhir. Dia meminta rumah yang didiami di Bandung."
"Om berikan?"
"Bagaimana lagi? Urusannya bisa panjang kalau tidak dipenuhi."
"Lagi pula buat apa Om selingkuh sama wanita lain? Om cukup datang ke rumah ini. Aku siap saji kapan saja."
Mereka masuk ke dalam kamar. Katrin berbaring terlentang di atas kasur, kemudian meraih tubuh atletis itu ke dalam pelukannya.
"Kamu sudah bulat dengan tuntutanmu?" tanya Dennis dengan wajah berdekatan.
Katrin balik bertanya, "Om ingin aku membatalkan tuntutan?"
"Lima puluh milyar aku kira terlalu mengada-ada. Pengacara lawan pasti berasumsi tuntutanmu adalah pemerasan. Asumsi itu semakin kuat dengan tuntutan alternatif untuk menjadi istri muda."
"Dalam mediasi nanti aku memberi batasan minimal kepada pengacara untuk diperjuangkan, kecuali jadi istri muda adalah harga mati."
"Kalau mediasi gagal, bagaimana?"
"Perempuan itu pasti tidak mau masuk penjara."
"Aku berandai-andai. Jika ibu Gerdy nekat menempuh jalur hukum, rahasia hidupmu pasti terbongkar di pengadilan. Kamu sudah siap untuk itu?"
"Rahasia apa maksud Om?"
"Maaf jangan tersinggung.... Aku jadi berpikir ketika Nadine mengatakan, jika perempuan suka melacur disebut pelacur bukan ujaran kebencian, tapi menyampaikan fakta. Hal ini bisa ramai di pengadilan karena pengacara lawan akan membongkar kebiasaanmu."
"Orang gila saja disebut gila marah," sanggah Katrin. "Aku juga demikian. Aku marah disebut pelacur, sekalipun aku lebih bejat dari pelacur."
"Hak kamu untuk marah. Tapi perkara lebih bejat dari pelacur akan jadi senjata utama mereka untuk menyerang balik, kecuali sebutan itu dialamatkan pada perempuan baik-baik."
Katrin tersenyum genit. "Aku juga perempuan baik-baik...baik-baik melayani Om...."
__ADS_1