
Manajer HRD seorang pria separuh baya beristri satu dan memiliki anak empat. Dia memperkenalkan diri dengan singkat. Gerdy duduk mendengarkan. Bimo sangat berpengaruh di kantor ini sehingga segala sesuatu jadi mudah. Seharusnya dia mempresentasikan diri.
"Anda bebas masuk kapan saja kalau tidak ada jam kuliah," kata manajer HRD. "Prinsipnya anda bertanggung jawab terhadap laporan mingguan untuk Ibu. Jadi setiap Senin pagi laporan distribusi dan eksplorasi di daerah sudah harus siap dalam bentuk hard copy dan soft copy. Untuk lebih jelasnya anda bisa pelajari semua itu dalam job desc, file-nya ada di sekretaris Ibu. Ada yang mau ditanyakan?"
"Tidak ada."
"Silakan anda naik ke lantai lima kalau tidak ada pertanyaan. Ibu sudah menunggu."
"Baik. Permisi."
Gerdy keluar dari ruangan HRD. Pegawai wanita di sepanjang ruangan bersekat yang dilewati menganggukkan kepala, kemudian berbisik-bisik dengan temannya.
Gerdy tidak nervous jadi topik pembicaraan. Dia sudah biasa melihat perempuan terkagum-kagum kepadanya. Mereka biasanya sudah bersuami. Pegawai single jaga image.
Gerdy masuk ke dalam lift. Lantai lima adalah lantai tertinggi. Di lantai itu nasib semua pegawai ditentukan. Dia cukup tersanjung mendapat kehormatan untuk bertemu dengan CEO. Tentu jabatannya ada kaitan dengan pimpinan tertinggi di kantor ini. Bimo tidak bilang tentang jabatan yang diduduki. Dia hanya diminta datang untuk mulai kerja.
Bimo menghubungi lewat gadget, dan bertanya, "Bagaimana sudah ketemu mamiku?"
"Baru masuk lift," jawab Gerdy. "Jawabanku apa kalau beliau tanya tentang kamu?"
"Jawab saja apa adanya. Mamiku justru tidak percaya kalau kamu bilang aku anak imut-imut, ya jangan lebay juga bilang aku anak amit-amit."
"Statement kayak begini membuat aku bingung. Tidak jelas, sama kayak orangnya. Sudah dulu ya. Aku sudah sampai di lantai lima."
Gerdy mengakhiri percakapan. Pintu lift terbuka. Di lantai lima sepi. Ada beberapa ruangan tertutup. Tidak seperti di lantai dasar dengan ratusan pegawai di ruangan terbuka dengan partisi separuh badan.
Gerdy mengetuk pintu jati berukir.
"Masuk." Terdengar suara lembut dari dalam ruangan.
Gerdy membuka pintu. Di dalam sudah menunggu seorang pria separuh baya dan dua orang wanita berbeda usia. Mereka duduk di sofa tamu.
Gerdy menyapa dengan sopan, "Selamat pagi."
"Pagi," jawab wanita yang biasa dipanggil Ibu. Wanita itu kelihatan sangat cantik dan seksi. Gerdy jadi teringat ibunya yang kelihatan segar dan menawan di usia hampir kepala lima. "Duduk."
Gerdy duduk. Perempuan itu sangat ramah dan murah senyum.
"Perkenalkan, ini Handa staf ahliku, ini Lusy sekretaris pribadi. Aku tidak banyak staf. Tiga dengan kamu yang sebentar lagi menduduki staf junior. Aku harap kamu betah di kantor ini. Kamu nanti akan bekerja sama dengan mereka berdua. Mereka orang terpercaya dan aku harap kamu pun begitu."
__ADS_1
"Siap, Bu."
"Handa, Lusy, aku kira perkenalan ini cukup. Silakan kalian kembali ke ruangan masing-masing. Aku mau bicara empat mata dengan Gerdy."
Handa dan Lusy mengangguk permisi lalu pergi. Gerdy duduk dengan santai tapi tetap menjaga kesopanan. Dia tidak gugup ditinggal berdua dengan perempuan berpengaruh itu.
"Namaku Marliana. Kamu panggil Ibu atau Tante Liana terserah," kata wanita itu memulai percakapan. "Aku ingin berbicara soal anakku. Prestasinya beberapa semester ini lumayan bagus. Menurut anakku peningkatan itu terjadi karena bergaul denganmu. Aku senang sekali. Jadi aku harap di samping menunaikan tugas di sini, kamu dapat membantuku untuk meningkatkan prestasi Bimo di tahap akhir ini. Dia harapan satu-satunya untuk menggantikan posisiku."
"Baik, Bu."
"Kamu tahu Bimo anak tunggal. Kegagalan studinya adalah kegagalan perusahaan ini. Aku tidak mau perusahaan ini dipimpin oleh orang bodoh."
"Menurut saya Bimo tidak bodoh. Dia hanya butuh semangat untuk belajar."
"Aku menggantungkan harapan itu padamu. Kamu bagus ingin mandiri sehingga bersedia bekerja untuk membiayai kuliahmu. Bimo mana mau itu?"
Gerdy masuk kantor ini dengan alasan ingin belajar mandiri supaya tidak kaget menghadapi persaingan ketat di dunia kerja bila lulus nanti. Dia dapat meneruskan bekerja jika kinerjanya positif di mata Ibu.
"Bimo masih sering main perempuan?" tanya Marliana.
"Namanya anak muda, Bu. Hidup jadi monoton kalau tidak mengenal wanita. Tapi pacaran bersih."
"Bagus. Aku khawatir Bimo terjerumus dalam pergaulan bebas, menghamili anak orang. Akhirnya masa depan berantakan."
Gerdy merasa tidak sedang membohongi wanita itu. Bimo benar-benar pacaran bersih, setiap kali kencan sampai bersih tidak ada sehelai benang pun, dan menggunakan pengaman, sehingga ajaib kalau hamil.
"Silakan kamu temui Handa dan Lusy. Jaga nama baik aku. Kamu diperkenalkan kepada pegawai sebagai keponakanku. Maka itu aku hari ini masuk. Aku ingin menyambut kamu secara langsung."
Pantas saja sepanjang koridor Gerdy sampai pegal mengangguk kalau Ibu mengumumkan begitu. Status itu jauh lebih dihormati daripada jabatannya. Dia tidak besar kepala dengan apa yang disandangnya. Semua adalah fatamorgana belaka.
Hari pertama kerja, Gerdy mendapat kesan yang baik dari staf ahli. Handa ramah dan kooperatif. Lusy sangat familier menjelaskan informasi yang dibutuhkan.
Mereka menemani Gerdy sampai malam. Dia sudah minta mereka untuk pulang karena hari Sabtu seharusnya libur. Tapi mereka senang week end di kantor. Mereka terkesan dengan kerendahan hatinya yang sudi naik motor ke tempat kerja padahal keponakan big boss.
Gerdy meninggalkan kantor menjelang jam makan malam tiba.
Nadine sudah menunggu di teras rumah saat Gerdy pulang. Dia langsung memasukkan motor ke garasi. Mimin menutup pintu garasi setelah tuannya keluar.
"Makan dulu apa mandi?" tanya Nadine. "Aku sudah siapkan lobster kesukaanmu. Air hangat juga sudah siap."
__ADS_1
"Aku ingin istirahat sebentar sekalian laporan sama istri," jawab Gerdy.
Mereka masuk ke dalam kamar. Nadine tak lupa mengunci pintu, kemudian membuka sepatu dan pakaian suaminya.
"Jangan perlakukan aku seperti pangeran."
"Itu janjiku saat pertama jadi istri. Menunggu suami pulang kerja, mencopot sepatu, kaos kaki, pakaian, menyiapkan teh hangat, air hangat untuk mandi, menyiapkan makan. Kasih tahu aku kalau kurang."
"Itu sudah cukup untuk suami yang berpenghasilan kecil."
"Memangnya digaji berapa?"
Gerdy mengambil map yang diletakkan di tempat tidur. "Ini file-nya. Kamu lihat sendiri."
Nadine membuka file dan mulai membacanya sambil berdiri.
"Bagaimana hari pertama kerja?" tanyanya.
"Menyenangkan kalau aku bujangan."
"Ingat istri di rumah," tegur Nadine. "Kamu pasti viral di mata pegawai wanita."
"Aku sudah biasa melihat perempuan jatuh cinta padaku."
Nadine terbelalak saat membaca salary yang diterima suaminya.
"Gajimu sangat besar. Cukup untuk memenuhi semua kebutuhan."
"Standarnya apa gaji segitu dibilang sangat besar?"
"Untuk gaya hidupku, bukan gaya hidup suamiku. Bagaimana bisa mendapat gaji sebesar ini, padahal cuma kerja Sabtu Minggu?"
"Aku dapat tugas tambahan untuk memberi motivasi pada anak CEO agar kuliah yang benar, berprestasi, dan pacaran bersih."
Nadine melanjutkan membaca berkas.
Gerdy memeluk pinggang istrinya dari belakang dan mengecup leher yang sangat mulus itu dengan mesra.
"Aku ingin merayakan hari pertama kerja," bisiknya. "Istri tidak perlu baca job desc, cukup lihat salary."
__ADS_1
Handphone Gerdy yang tergeletak di kasur berbunyi. Di layar terpampang sederet nomor.
Nadine terkejut. Dia hapal nomor itu. Katrin!