Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Solusi Jitu


__ADS_3

Ting tong.


Gerdy yang sedang berdandan di depan cermin terdiam heran. Tamu dari mana datang pagi-pagi begini? Tidak mungkin penghuni apartemen. Mereka tidak pernah menggunakan bel, langsung masuk begitu saja kayak penggerebekan. Jadi bel satu-satunya alat yang paling awet di apartemen ini.


Ting tong.


Gerdy segera menyelesaikan dandannya. Tamu itu tidak sabar sekali. Membuka pintu butuh waktu sekurangnya untuk berjalan. Bagaimana kalau tuan rumah lagi membersihkan badan? Memangnya di rumah petak, bisa teriak dari dalam kamar mandi? 


Ting tong.


Gerdy bergegas keluar dari kamar sambil membawa tas kuliah. Hari ini ada kuliah pagi. Ada pergeseran jadwal dari guru besar karena siang beliau pergi ke Semarang untuk jadi narasumber.


Ting tong.


Gerdy ingin mengajari tata krama pada tamu ini. Mendingan langsung masuk dan duduk menungggu di sofa daripada mengganggu kenyamanan. Penting sekali kelihatannya. 


Ting Tong.


Gerdy membuka pintu lebar-lebar, dan terpukau. Di luar berdiri Katrin, Papi, dan polisi. Dia kenal polisi itu karena sering bertemu di perkebunan, Babinmas. Buat apa Katrin membawa polisi?


Gerdy sebenarnya kaget kedatangan tamu tak terduga ini, tapi berusaha menutupinya. Matanya memandang dengan tenang.


"Anda bertiga kelihatan tidak sabar sekali untuk saya bukakan pintu," kata Gerdy. "Masuk."


"Terima kasih," sahut Babinmas.


Mereka masuk. Gerdy membawanya ke sofa tamu. Dia sudah tahu maksud kedatangan mereka. Percuma Katrin membawa polisi. Mereka bisa terjerat sendiri.


"Duduk," ujar Gerdy. "Minum apa?"


"Terima kasih," jawab Babinmas. "Kami tidak lama di sini. Kami hanya ingin minta alamat Nona Nadine. Menurut Bu Katrin anda punya alamatnya. Nona Nadine sudah menculik Mami dan Prilly."


Gerdy menatap tak percaya. "Menculik? Ini tuduhan serius. Nona Nadine membawa ibu dan adiknya untuk tinggal bersama. Maksud anda menculik bagaimana?"


"Saya dapat laporan sementara begitu. Maka itu sebelum diproses ke Polsek saya ingin menempuh jalur musyawarah terlebih dahulu. Jadi saya harap anda tidak keberatan untuk bekerja sama."


"Saya tidak keberatan membantu anda. Hanya perlu anda ketahui dakwan penculikan adalah sangat serius. Anda mesti hati-hati dalam menyikapi pengaduan mereka."


"Nona Nadine telah membawa mereka tanpa sepengetahuan Bu Katrin. Saya sudah sampaikan untuk mediasi. Mereka setuju. Maka itu kami perlu alamat Nona Nadine untuk bermusyawarah. Kasus ini adalah masalah internal keluarga, kalau bisa jangan sampai ke meja hijau."

__ADS_1


"Saya justru berharap masalah ini digelar di pengadilan agar masyarakat tahu apa sebabnya Nona Nadine membawa pergi ibu dan adiknya secara diam-diam. Dia pasti punya alasan sendiri."


"Untuk mengetahui alasan itu, maka saya perlu alamatnya."


"Mereka berdua ini tahu alasannya. Jadi buat apa bapak datang jauh-jauh ke apartemen saya? Mereka mengadu kepada bapak dengan alasan apa sehingga mereka berani mengatakan bahwa peristiwa ini adalah kasus penculikan?"


"Kasus ini terjadi karena salah paham."


"Salah paham bagaimana yang bapak maksud?"


"Pak Polisi datang ke mari untuk minta alamat adikku," sambar Katrin tidak sabar. "Kasih saja apa susahnya? Jangan berbelit-belit."


"Aku tidak berbelit-belit," sahut Gerdy santai. "Aku cuma minta kamu tidak memanfaatkan kebaikan Pak Polisi. Aku yakin kamu tidak menceritakan alasan sebenarnya sehingga muncul asumsi salah paham. Kamu cuma ingin tahu alamat adikmu dengan menggunakan tangan Pak Polisi. Apa perlu aku menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada beliau?"


Babinmas memandang tak mengerti. "Kejadian apa maksud anda?"


"Jadi bapak tidak tahu? Bapak bisa katakan salah paham berdasarkan apa?"


"Menurut pengaduan Bu Katrin, terjadi pertengkaran hebat antara pelapor dengan terlapor gara-gara pelapor masuk ke kamar ayahnya untuk kerokan."


Gerdy mengangkat sudut bibir sedikit, sinis. "Maksud bapak mengerok ayahnya karena masuk angin?"


"Anda kelihatan tidak percaya?"


"Begitu menurut pengakuan mereka."


Gerdy jadi sebal. "Begini, Pak. Saya pagi ini ada mata kuliah penting. Saya harus segera ke kampus. Kedatangan bapak sia-sia untuk mencari tahu alamat Nona Nadine. Saya tidak memiliki alamat itu."


"Bohong kamu!" geram Katrin marah. "Kamu bilang sama aku tahu alamat adikku!" 


"Saya harap Anda dapat bekerja sama," kata Babinmas. "Anda tahu risikonya kalau menghalangi tugas polisi."


"Saya tidak menyembunyikan informasi. Saya benar-benar tidak tahu. Boleh saya bicara empat mata sama Bu Katrin?"


"Silakan."


Gerdy membawa Katrin ke tempat lain dan berbisik, "Bodoh. Kamu berani lapor polisi, kamu sendiri dapat malu nanti."


"Jangan mengancam aku," geram Katrin sengit.

__ADS_1


"Aku tidak mengancam. Aku hanya menunjukkan gambaran, itu yang terjadi kalau kamu memaksa minta alamat adikmu dengan memanfaatkan tangan polisi."


"Kita buktikan saja apa omonganmu bukan karena takut ditangkap polisi."


"Aku tidak mungkin ditangkap polisi karena kamu tidak punya bukti kalau aku tahu alamat adikmu. Aku justru yakin kamu diborgol polisi kalau aku cerita kejadian yang sebenarnya."


Katrin memandang tajam. "Kejadian apa maksudmu?"


"Aku tahu kamu dan ayahmu sering berhubungan intim. Keluargamu hanya melihat satu kejadian. Tapi satu kejadian itu sudah cukup untuk menyeret kalian berdua ke meja hijau."


Katrin terkejut. Jadi Nadine sudah bercerita pada Gerdy tentang peristiwa yang dilihatnya itu? Bedebah!


Gerdy kembali ke sofa dan duduk di hadapan Babinmas. "Begini, Pak. Saya sudah bicara dengan Bu Katrin, masalah ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan tanpa melibatkan aparat kepolisian supaya tidak merepotkan. Banyak tugas penting yang perlu diselesaikan oleh bapak."


Babinmas memandang Katrin yang duduk di sebelahnya. "Apa benar begitu, Bu Katrin?"


"Ya." Katrin terpaksa mengangguk. "Kami akan selesaikan secara kekeluargaan."


"Harapan saya begitu. Jadi masalah ini tidak perlu ditangani kepolisian dengan delik penculikan. Baik kalau begitu. Saya mesti segera pulang karena banyak urusan di kota satelit. Permisi."


Babinmas bangkit pergi. Papi juga. Dia diam saja karena tidak peduli dengan urusan ini. Mereka pulang atau tidak, yang penting ada kenikmatan di rumah. Dia datang bertamu karena desakan anaknya.


Katrin belum bangkit dari duduknya. Dia masih penasaran dengan Gerdy. "Nadine cerita padamu apa yang terjadi hari itu?"


"Aku percaya pengakuanmu jujur ke Babinmas," sahut Gerdy tenang. "Kamu masuk kamar ayahmu untuk kerokan. Tapi bukan kerokan masuk angin, kerokan rumput liar agar tidak mengganggu kenikmatan."


"Kurang ajar," geram Katrin. "Aku tidak serendah itu. Jangan macam-macam kamu. Aku bisa bertindak kejam!"


"Aku tunggu ancamanmu."


Katrin bangkit dengan jengkel.


"Bereskan dulu masalahmu," kata Gerdy. "Maksudmu baik, tapi tidak masuk logika orang."


Katrin menoleh dengan acuh tak acuh. "Ada saran?"


'Kamu bisa menghentikannya kalau ada kemauan," jawab Gerdy. "Kamu tidak dapat informasi apa-apa dariku kalau kebiasaan itu tetap berlangsung."


"Kamu hanya tahu sedikit tentang apa yang terjadi."

__ADS_1


"Aku tahu banyak. Hanya tidak mungkin cerita di depan polisi."


Gerdy sebenarnya kasihan pada Katrin. Dia ingin menyelamatkan ibunya yang mengalami kekerasan seksual, tapi salah kaprah. Dan akhirnya jadi kebiasaan karena kurangnya perhatian dari suami.


__ADS_2