Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Kesucian Cinta (1)


__ADS_3

Karlina adalah gadis SMA paling liar yang pernah dikenal Gerdy. Di balik kelembutan wajahnya tersimpan cinta yang ganas.


Dia sangat ahli dalam pencitraan sehingga kedudukannya sebagai putri orang nomor satu di kelurahan benar-benar terjaga. Gerdy khawatir jika suatu saat keadaan memaksa mereka untuk menikah.


"Bagaimana pestanya semalam?" tanya Umi sambil berjalan masuk ke kamar anaknya.


"Umi kebiasaan kalau masuk tidak mengetuk pintu," tegur Gerdy halus. "Untung aku sudah pakai baju."


Gerdy sedang berdandan di depan cermin berukir. Hari ini Nadine tidak masuk kerja karena tidak ada job. Jadi kesempatan ini bisa dimanfaatkan untuk healing. Mereka belum pernah kencan di hari Minggu.


"Salah sendiri tidak dikunci," kata Umi. "Biasanya habis Subuh tidur lagi."


Gerdy mengambil dompet dan kunci mobil di meja kecil, sambil berkata, "Teman Karlina itu anak pengusaha. Jadi pestanya sangat meriah."


"Aku mau kalian menikah setelah kamu dapat gelar S1 karena saat itu Karlina sudah lulus SMA. Jadi kamu bisa membawa Karlina ke Netherland untuk mengurus keperluan selama menempuh S2."


Disaat yang sama Robby ingin menikah dengan Karlina agar dapat memboyongnya ke California, pikir Gerdy kecut. Dia pergi ke Netherland justru untuk membiarkan hal itu terjadi.


Di kepalanya bahkan sudah ada rencana untuk memvideokan mereka saat bermesraan sehingga perjodohan ini batal. Dia masih berpikir skenario itu dilaksanakan dengan bantuan mereka atau secara diam-diam.


"Kita bicarakan satu setengah tahun lagi," kata Gerdy. "Siapa tahu saat itu pikiran Umi berubah, ingin menjodohkan aku dengan Puteri Salma dari kerajaan Yordania."


Umi berharap sekali Karlina jadi menantu, padahal Gerdy menempatkannya di daftar terbawah untuk calon istri. Dia kuatir tidak bisa mengendalikannya karena terlalu liar.


"Aku pagi ini kembali ke Bandung," kata Gerdy.


Umi terkejut. "Mendadak sekali?"


"Banyak tugas." Gerdy menunjukkan dengan sabar beberapa chat dari dosen untuk menutupi kecurigaan ibunya. "Tugas sebanyak ini tidak selesai dalam seminggu kalau aku santai."


Padahal tugas itu bisa diselesaikan dalam dua tiga hari. Dia belanja makanan yang banyak dan mengurung diri di apartemen untuk mengerjakan tugas. Teman kuliahnya sampai takjub bagaimana pemuda brengsek macam dirinya bisa serius dalam belajar, dan berprestasi.


Padahal mereka cuma tidak tahu caranya. Belajar tiap hari hanya pintar secara hapalan, padahal yang dibutuhkan adalah perkembangan kemampuan berpikir.


Maka itu Gerdy sering protes kalau dosen sering memberi tugas. Tugas membuat otaknya lelah, tidak membuatnya pintar.


Hidup harus bervariasi agar tidak menimbulkan kejenuhan. Berawal dari mencari variasi itu Gerdy bertemu dengan orang-orang yang salah. Dia jadi terjebak dalam sebuah prinsip; hidup cuma satu kali, maka nikmatilah.


Nadine sudah menunggu di beranda ketika Gerdy tiba di pondokan. Dia menyambut pemuda itu dengan senyum manisnya.


"Tunggu ibu kos," kata Nadine. "Dia belum selesai mandi."


"Ibu kos ikut?" 


"Aku perlu pamit."


"Sekalian saja ajak kalau mau." Gerdy duduk di sebelahnya. Di meja ada dua cangkir minuman. "Teh siapa ini?"


"Buat kamu."

__ADS_1


"Aku mau kamu seperti ini saat kita berumah tangga, menunggu kedatangan suami pulang."


"Itu janjiku."


"Jadi kamu akan berhenti kerja kalau sudah jadi istriku?"


"Kau ingin aku berhenti kerja?"


"Aku ingin kamu nyaman jadi istriku."


"Wah, lagi asyik rupanya." Bradley muncul di beranda dengan senyum ceria. "Aku bawa apel hitam. Lumayan buat selingan."


Bradley menaruh keranjang buah di meja dan menoleh pada laki-laki yang menatap bingung ke arahnya.


Bradley memperkenalkan diri, "Aku Bradley. Kamu pasti Gerdy. Aku pernah lihat fotomu di rumah Nadine."


Bradley? Gerdy sampai tidak jadi bangkit untuk berjabat tangan. Jadi pemuda ini saingannya? Yang berhasil merebut simpati Papi?


Bradley duduk di depan mereka diikuti pandangan heran Nadine yang sejak tadi tak lepas mengawasi. Dari mana pemuda itu tahu kalau hari ini dia tidak masuk kerja?


"Aku menghubungi manajermu," ujar Bradley. "Katanya hari ini kamu tidak ada job."


Gerdy menegur dengan kesal, "Lalu apa keperluanmu?"


"Jadi kehadiranku mengganggu?" Bradley tersenyum. "Kalau begitu aku masuk saja. Permisi."


Gerdy terkejut. Jawaban itu sungguh di luar dugaan. Padahal dia sengaja memancing keributan.


Gerdy jadi cemas. Dia percaya Nadine mencintainya sepenuh hati. Tapi pemuda itu memiliki kekuatan yang hebat untuk menghapus arti sebuah kesetiaan.


Bradley tahu bagaimana menghadapi gadis seperti Nadine. Dia mencoba mengambil hati orang-orang di sekeliling untuk menarik perhatiannya.


Suatu hari dia berhasil mengangkut semua penghuni pondokan ke sebuah kafe. Dan pulangnya, Gerdy sudah menunggu di pondokan!


"Aku tidak tahu kamu mau datang," kata Nadine tidak enak. "Kamu tidak memberi kabar."


Gerdy sengaja datang tanpa memberi tahu lebih dulu untuk membuktikan kecurigaannya. Ternyata benar, Nadine pergi bersama Bradley selama dirinya tidak ada. 


"Biar kamu tahu kapan ada di pondokan kapan pergi sama laki-laki itu?" Gerdy memandang dingin.


"Aku tidak enak sama ibu kos," sahut Nadine serba salah. "Beliau ikut, masa aku tidak?"


"Itu taktik. Bila perlu, dia angkut seluruh warga perumahan agar bisa membawamu pergi."


"Yang ajak ibu kos."


"Tentu saja. Dia tidak mungkin ngomong sendiri."


"Dia cuma buang-buang waktu mendekati aku."

__ADS_1


"Nyatanya?"


"Aku minta kamu percaya."


"Setiap kali kamu mencoba meyakinkan diriku, setiap kali pula muncul keraguan di hatiku."


"Jadi aku harus bagaimana?" pandang Nadine bingung.


"Pertanyaan itu menandakan kamu tidak siap menghadapinya."


Kesetiaan Nadine memang belum luntur. Dia masih bisa menghalau pesona yang memukau itu dengan berbekal cinta. Tapi sampai kapan?


Gerdy tidak selalu berada di sisinya. Telepon genggam hanyalah jembatan semu. Nadine bisa mendendangkan janji setia saat berada dalam pelukan pemuda itu!


Dan kekhawatiran Gerdy mencapai puncaknya saat ini! Minggu depan dia pergi ke pulau seberang, melakukan riset bersama dosen atas permintaan sebuah lembaga swadaya. Kesempatan yang bagus buat Bradley kasak-kusuk. Bagaimana Nadine menghadapinya?


"Jangankan ditinggal sebulan," kata Luki, teman kuliahnya. "Satu detik setelah kamu pergi dari pondokan, dia bisa lari ke pelukan laki-laki itu."


"Nadine bukan perempuan seperti dalam pikiranmu."


"Bagaimana kamu yakin?"


Gerdy diam. Kesetiaan dan pengkhianatan jaraknya cuma sejengkal. Semua itu bisa saja terjadi. Tapi cinta butuh kepercayaan. 


"Keyakinanmu bisa menipu diri sendiri," ujar Luki.


"Menurutmu apa yang harus dilakukan?"


"Jadikan laki-laki itu sebagai penampungan barang bekas."


"Kasih saran apa cerita diri sendiri?"


"Kita ini pencinta keindahan. Dan perempuan adalah yang terindah. Nikmatilah."


"Belum kena batunya."


"Aku tak pernah menghadapi perempuan dengan perasaan karena mereka pandai memainkan perasaan. Sekali masuk dalam permainan mereka, kayak kamu itu jadinya."


"Aku tidak tahu pacarku masih virgin atau tidak. Jadi aku tidak tahu siapa yang jadi penampungan barang bekas."


Luki memandang tak percaya. "Jadi kamu belum pernah menikmatinya? Sejak kapan jadi play boy cupu?"


"Aku tidak mau mengotori kesucian cintanya."


"Mellow banget kau, men. Semua perempuan itu sama. Mereka kelihatan istimewa kalau kita memandangnya dengan perasaan. Maka itu hentikan permainannya."


"Aku tidak bisa."


"Ayolah, men! Jangan jadi pecundang!"

__ADS_1


"Lebih baik jadi pecundang daripada jadi orang konyol."


"Justru konyol laki-laki yang mau jadi pecundang!"


__ADS_2