
Nadine ketar-ketir saat suaminya mendesak untuk mengantar Mami pulang. Mata-mata Umi bertebaran di setiap sudut kota untuk memonitor anaknya selama mereka pergi ke Tanah Suci.
Nadine tidak mau kepulangannya menghadirkan petaka baru.
"Kita tidak bisa sembunyi selamanya," kata Gerdy sambil menunggu istrinya selesai berdandan. "Cuma soal waktu."
"Tapi jangan kita yang menentukan waktunya," sanggah Nadine. "Biarlah waktu itu sendiri yang menentukan."
"Apa yang kau kuatirkan kalau orang tuaku tahu tentang pernikahan kita?" tanya Gerdy. "Takut suamimu jatuh miskin?"
"Aku takut suamiku tidak bisa menerima kenyataan. Aku tahu cuma karena cinta rela tidur di kamarku. Sampai kapan itu terjadi?"
"Selamanya," sahut Gerdy pasti. "Aku sudah belajar hidup kayak orang kebanyakan, tapi kamu suguhi makanan yang sulit ditolak. Makanan itu sangat mahal dan sayang kalau tidak disantap."
"Belajar tidak harus sekaligus karena akan berdampak kurang baik. Belajarlah sedikit demi sedikit sehingga tanpa disadari sudah terjadi perubahan."
"Menurutmu aku sudah ada perubahan?"
"Gaya hidupmu sudah ada perubahan. Kamu mulai terbiasa pergi kerja mengendarai mobil kelas menengah. Aku kurang setuju sebenarnya karena mobil mewahmu jadi nganggur."
"Aku sudah bilang pakai sama kamu. Perempuan secantik kamu berhak untuk mendapatkan yang terbaik. Aku pakai mobil baru. Aku minta masa kreditnya diperpendek. Jadi beban hutang tidak terlalu lama. Jangan sampai mobil lunas kondisinya sudah jelek. Kemudian kredit lagi. Kapan selesainya kita berhutang?"
"Mobil lima tahun masa jelek?"
"Aku tidak pernah punya mobil sampai lima tahun. Aku suka mobil mewah model SUV. Aku pasti ganti kalau ada keluaran terbaru. Jadi tidak berdasarkan masa pakai. Aku pernah ganti dua kali dalam setahun."
"Kebiasaan itu yang harus ditinggalkan nanti. Cukup mobil mewah yang ada karena pajaknya sangat memberatkan. Anggap saja mobil itu kenangan terakhir yang jadi saksi perjalanan hidupmu."
"Kebiasaan apa lagi yang harus ditinggalkan? Gaya hidupku mulai berubah. Main perempuan sudah lama dihentikan. Apa lagi?"
"Tidak ada. Kamu malah hampir kebablasan. Aku tidak mau jadwal kita di tempat tidur dikurangi. Kamu cuma ambil satu kemarin, pagi saja, sisa dua lagi. Apa aku kelihatan tidak menarik lagi karena perut sudah buncit?"
"Aku takut terjadi apa-apa dengan kandunganmu."
"Anakmu justru senang ditengok sesuai jadwal. Kamu cuma tiga hari ada di Jakarta. Tiga hari lagi tinggal di Bandung, atau di mana. Aku tidak tahu kamu ada di pelukan siapa, yang perutnya tidak gendut."
"Mulai deh. Aku ambil sisanya malam ini."
"Jadi lima?"
"Kamu mau berapa?"
__ADS_1
"Malam ini kita ngantar Mami pulang. Kamu ambil di mana?"
"Urusanku."
"Aku tidak mau diambil di mobil."
"Masa di mobil? Kira-kira!"
"Jadi mobil khusus untuk Karlina?"
"Curiga deh. Pasti alasannya bawaan bayi."
Nadine tidak masalah berhubungan intim di mana juga. Dia tidak mau suaminya menahan diri sebelum tiba waktunya. Kebutuhan batin adalah tiang keharmonisan rumah tangga. Banyak perselingkuhan terjadi karena kurangnya pelayanan istri.
Nadine sengaja memilih waktu malam hari untuk mengantar Mami pulang. Dia tidak ingin warga melihat mobil Gerdy memasuki rumahnya. Mereka biasanya pergi tidur sehabis Isya, kecuali ada pasar malam atau tabligh akbar.
Warga tidak mengenal malam Minggu atau tanggal merah, mereka bekerja keras setiap hari.
"Aku harap kamu menikmati kehidupan seperti ini," kata Gerdy sambil mengendarai mobil dengan santai. "Kita tidak seharusnya main kucing-kucingan. Aku sendiri sudah pasrah. Apa yang terjadi, terjadilah. Kesempatan terakhir untuk membuat pengakuan, adalah detik-detik menjelang keberangkatan orang tuaku ke Tanah Suci, dan itu tidak dimanfaatkan."
"Aku sangat menikmati kehidupan yang tidak seharusnya ini," sahut Nadine yang duduk di sampingnya. Dia awalnya ingin duduk di belakang bersama Mami, tapi tidak enak suaminya jadi kayak sopir pribadi. "Aku bahagia selama ada kamu di sisiku, selama ada cinta di hatimu."
Nadine begitu percaya dengan kekuatan cinta. Dia berprinsip lebih baik kekurangan harta daripada kekurangan cinta. Sebuah pandangan klasik yang sudah ditinggalkan sebagian besar mommy jaman now.
Mereka berprinsip; harta bisa mendatangkan cinta, tapi cinta tidak bisa mendatangkan harta. Jadi kekurangan materi adalah perlambang awal pudarnya keharmonisan.
"Oh ya, apakah ada kabar baru dari Katrin?" tanya Mami. "Aku tidak mau punya madu seusia anak bungsuku. Papi benar-benar sudah mempermalukan diri sendiri.'
"Perceraian jadi menggantung karena Papi tidak ada di rumah," sahut Gerdy. "Istri mudanya menolak untuk menggugat cerai ke pengadilan agama. Ribet katanya."
"Jadi statusnya saat ini masih maduku?"
"Aku usahakan nanti agar wanita itu tidak jadi madu. Aku akan membantu proses perceraian mereka."
"Pasti minta bantuan Om Dennis," sindir Nadine.
"Apa salahnya kalau bisa?"
Kemarin istri Dennis menghubungi Gerdy. Dia minta bantuan untuk menyelidiki suaminya karena sering sekali dinas ke luar kota. Dia pernah membuntuti, suaminya malah muter-muter kota Bandung sampai mobilnya kehabisan bahan bakar.
Barangkali Dennis tahu diikuti. Dia mestinya tidak terlalu sering beralasan dinas ke luar kota sehingga mengundang curiga istrinya. Tarlita sekali-sekali disuruh datang ke Jakarta. Hotel banyak. Atau Dennis tidak perlu menginap di Bandung. Mereka bertemu siang hari saja pada jam kerja. Dia tidak mau ketahuan selingkuh tapi gerak-geriknya mencurigakan.
__ADS_1
Situasi ini bisa dimanfaatkan Gerdy untuk negosiasi.
"Katrin tidak mencari Papi di tempat judi atau di rumah janda langganan?" selidik Mami.
"Dia sudah minta bantuan polisi untuk mencari. Hasilnya nihil."
Mami berpikir sejenak, kemudian berkata, "Apa mungkin Papi pergi ke rumah Ningsih?"
"Siapa Ningsih?" tanya Gerdy.
"Cinta pertamanya. Dia jadi janda sekarang."
"Rumahnya di mana?"
"Kelurahan sebelah."
"Masa cari istri muda down grade? Dia baru saja dapat istri seusia Prilly. Dalam hitungan hari, masa ganti istri yang seusia Mami?"
"Kambing saja kalau pakai bedak dikawin sama Papi. Dia itu cuma melampiaskan nafsu maniaknya."
Pandangan Mami saja seperti ini, pikir Gerdy tawar. Bagaimana orang lain? Papi sudah semestinya pergi dari rumah itu!
Dia hanya mengotori berlian yang ada di rumah itu. Kemilau sinarnya meredup oleh kebejatan akhlaknya. Mereka tidak perlu menikah secara diam-diam kalau perilaku Papi sedikit bermartabat, dan bulan madu keliling Eropa bukan sebuah mimpi.
"Kadang aku malu sama suamiku," keluh Nadine muram. "Papi membuat kedudukan suamiku makin sulit di hadapan orang tuanya. Aku berharap suamiku tidak menyesal memilih aku jadi istrinya."
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh," tegur Gerdy santai. "Aku tidak pernah menyesal dengan keputusanku."
Dia sudah mengambil keputusan untuk menjadikan Nadine sebagai istri, maka itu berlaku untuk seumur hidup. Dia harus siap menanggung risiko, meski risiko itu sulit diterimanya.
Nadine bisa menjalankan tugas seorang istri dengan baik sudah cukup baginya. Gerdy tidak berharap banyak karena dia sendiri tidak memberi banyak.
Selama Nadine tidak menduakan dirinya, selama itu cintanya akan bertahan. Baginya selingkuh adalah perceraian.
Dia tidak akan mencatat berapa banyak laki-laki yang sudah tidur dengannya sebelum menikah. Tapi setelah jadi istri, satu laki-laki pun tidak boleh menyentuhnya.
Hingga detik ini, Nadine masih jadi istri yang membanggakan. Dia berharap kebanggaan itu untuk selamanya.
Nadine bukan tanpa godaan di kantor. Banyak pria yang terpikat dengan pesonanya. Dia merasa cukup dengan suaminya. Jadi tidak butuh perhatian laki-laki lain. Di benaknya tidak pernah terbersit untuk selingkuh karena tidak ada alasan untuk itu.
Ada bujangan yang bersedia antar jemput sebelum Nadine memiliki mobil. Dia memilih naik taksi atau diantar Prilly pakai motor kalau kebetulan adiknya tidak ada kesibukan di sekolah. Kadang diantar jemput suaminya kalau lagi ada di rumah. Dia berusaha menutup celah untuk munculnya pengkhianatan.
__ADS_1