
Datuk Meninggi adalah pemegang rekor simpanan terbanyak di kabupaten ini. Jika mereka menuntut nikah siri, dibuang, ganti yang baru.
Ada selebgram coba-coba mengancam untuk membongkar skandal mereka. Orang-orang Datuk Meninggi langsung beraksi. Esoknya, perempuan itu mengalami kecelakaan tunggal di jalan raya karena mobil tiba-tiba lepas kendali.
Orang-orang Datuk Meninggi laksana agen Mossad yang memiliki kemampuan untuk melenyapkan orang tanpa terendus.
Datuk Meninggi tidak suka jajan sembarangan. Maka itu dia memilih perempuan yang sudah teruji, yaitu istri orang. Gadis dan janda hanyalah transit sebelum menuju target sesungguhnya.
Ketika skandal mulai menimbulkan kecurigaan, maka perempuan itu dibuang sebelum bau busuk tercium oleh publik.
Pernah selebritis bersuami membongkar perselingkuhan mereka di media sosial. Tapi bukti check in, bill, dan nomor kontak mengarah pada seorang beach boy.
Selebritis itu bukan cuma mendapat malu dihakimi netizen, dia juga dicerai suaminya. Padahal si suami sudah terlanjur bangga istrinya sukses berselingkuh dengan mas bupati.
Jadi jangan coba-coba membongkar kedok Datuk Meninggi.
Dari sederet simpanan, Katrin adalah perempuan yang sanggup melayani kebuasan cintanya. Dia begitu bersemangat jadi joki karena kuda pacu sangat liar.
"Kamu sungguh luar biasa," kata Datuk Meninggi setelah pacuan berakhir, di antara sisa-sisa nafasnya. "Mereka tidak ada yang sanggup melayaniku sampai empat kali, maka itu aku butuh dua perempuan dalam satu malam."
Katrin tersenyum kecil. Tidak ada sejarahnya body goal kalah oleh seorang joki tua, betapapun hebatnya obat yang dipakai. Dia barangkali cuma kalah oleh pria yang dicintainya, karena bercinta dengan segenap perasaan, dan hal itu belum pernah terjadi.
"Abang sungguh perkasa," puji Katrin. "Padahal sudah kepala lima."
Biasanya lelaki merasa bangga kalau disebut perkasa. Dia ingin tahu berapa harga dari pujian itu. Kalau nilainya lebih kecil dari cek suami terdahulu, maka dapat dipastikan pernikahan tidak bertahan lama.
Datuk Meninggi kelihatannya lebih royal. Malam pertama di rumah, malam kedua di hotel bintang lima dengan kolam renang pribadi, dan bulan madu rencananya keliling Eropa.
"Kau pandai sekali menyenangkan suami," kata Datuk Meninggi. "Aku jadi terpancing untuk bertanya, rumah ayahmu di kota satelit lagi direnovasi kan?"
"Sudah selesai, Bang."
"Aku mau rumah itu diperluas, ada kolam renang di dalam dan fasilitas kelas satu lainnya. Coba kamu minta pada arsitek untuk menghitung biayanya."
"Pasti miliaran, Bang."
"Hitung saja berapa pastinya. Uang bukan masalah selama kamu senang."
Pujianku tidak pernah gagal, batin Katrin bangga. Datuk Meninggi hanyalah lelaki bodoh yang gampang terbuai oleh fatamorgana. Bercinta dengannya sama dengan suami terdahulu, tidak ada kenikmatan.
"Abang biasanya berapa kali dalam satu malam?" tanya Katrin ingin tahu.
"Kamu siap kalau lima?"
"Aku siap melayani Abang sampai pagi. Tapi aku kuatir dengan kondisi Abang. Bagaimana kalau malam ini kita istirahat, besok pagi kita lanjut?"
__ADS_1
"Baiknya begitu. Hitung-hitung ngasih bekal."
"Memangnya Abang mau pergi ke mana?"
"Besok aku blusukan ke pelosok. Menginap dua hari di rumah penduduk."
"Abang benar-benar pro rakyat."
"Aku justru sedang menipu rakyat. Aku tidak paham dengan kerja birokrat, maka itu diserahkan pada wakil. Tugasku cuma jalan-jalan."
"Yang penting Abang bisa mengkoordinir."
"Mengkoordinir apa? Aku betul-betul tidak tahu apa yang perlu dikoordinir."
"Tapi Abang bisa kan tanda tangan?"
"Tugasku cuma tanda tangan. Kalau program gagal, gampang tinggal cari kambing hitam."
"Kalau program sukses, jadi prestasi Abang."
"Makanya elektabilitas kepercayaan tinggi," seringai Datuk Meninggi bangga. "Jadi dalam satu pekan, paling dua tiga hari saja aku ada di rumah."
Seumur-umur blusukan juga tidak apa-apa, batin Katrin. Yang penting nafkah lahir lancar.
Tidak kena jadwal juga tidak apa-apa,
Katrin terpaksa mandi lagi. Keringat Datuk Meninggi yang melekat di tubuhnya cukup mengganggu kenyamanan. Selesai mandi, dia berdandan seperlunya. Dia tidak suka berias secara berlebihan karena justru mengurangi pesona alaminya.
Dennis menghubungi lewat ponsel. Katrin terima dan bertanya, "Ya ada apa?
"Kok ada apa?" Terdengar suara protes di speaker ponsel. "Katanya hari ini aku disuruh datang ke rumahmu."
"Oh iya. Tunggu saja di rumah. Aku baru check out. Lagian Om menolak ditransfer, maunya cash, jadi ribet deh."
"Aku kan sudah kalau ditransfer, gampang dilacak."
"Kok dilacak? Duit itu dari suamiku, hadiah buat Om karena sudah bersedia jadi wali, tidak ada hubungan dengan kantor."
"Jaman edan begini apa saja dihubung-hubungkan. Lolos duit ini, selidiki duit itu. Budaya memiskinkan lagi menjamur."
"Om datangnya kepagian. Aku tiba di rumah kira-kira dua jam lagi."
"Wah, lama sekali aku menunggu di pintu gerbang."
"Kok di pintu gerbang? Ada si Emi dan si Mirna di dalam."
__ADS_1
"Aku sudah pencet bel berkali-kali, tidak ada yang muncul."
"Tunggu sebentar, aku telpon dulu."
Katrin mencari nomor kontak Emi dan menghubunginya. Setelah tersambung, dia bertanya, "Ada di mana kamu?"
"Di rumah."
"Jangan bohong."
"Di rumah kakek saya maksudnya, Nyonya."
"Jadi begini kerjaanmu kalau aku tidak ada di rumah?"
"Saya lagi ada perlu sama keluarga."
"Bilang saja kamu kangen bercocok tanam dengan kakekmu!"
"Iya, Nyonya."
"Cepat pulang. Kasihan Om Dennis menunggu di pintu gerbang."
"Kan ada si Mirna? Jangan-jangan lagi ngegosip di tetangga!"
"Emangnya kamu suka ngegosip! Kayaknya dia lagi merawat suaminya yang sakit di kamar belakang. Panel di situ rusak. Jadi bel tidak kedengaran."
"Sejak kapan si Mirna perhatian sama suaminya? Dia pasti takut bersih-bersih sendirian di rumah segede itu! Ngumpet di ketek suaminya! Saya juga kadang merinding, rumahnya serem!"
"Kamu pikir rumah hantu apa? Sudah jangan banyak omong! Cepat pulang!"
"Baik, Nyonya."
Punya pembantu penakut sekali, gerutu Katrin jengkel. Padahal belum pernah ada penampakan di rumah itu. Dia jadi berpikir untuk segera menambah pembantu, yang pemberani supaya betah. Rencananya dia mau tinggal di rumah lama yang sudah direnovasi, lebih dekat ke perkotaan, atau tinggal di rumah dinas.
"Om tunggu sebentar ya," kata Katrin menghubungi Dennis lagi. "Emi sedang di perjalanan."
"Ya," sahut Dennis. "Aku tunggu di warung kopi."
"Kalau kelamaan nunggu aku pulang, Om ambil sendiri saja uangnya di brankas kamar. Aku kirim kodenya."
"Gak usah," tolak Dennis. "Aku tunggu saja. Kebetulan lagi senggang."
"Ngomong-ngomong Om tahu nggak sih alamat adikku?"
"Nggak," jawab Dennis. "Ada urusan apa lagi dengan adikku?"
__ADS_1
"Aku tidak ada urusan sama si Nadine, tapi ada urusan sama suaminya."