
Gerdy menjalankan mobil dengan kencang menyeruak keramaian lalu lintas. Wajahnya sangat kusut. Karlina tahu ada sesuatu terjadi di pondokan yang membuatnya kecewa. Apa Nadine tertangkap basah lagi selingkuh?
"Kau mau cerita?" Hati-hati Karlina menawarkan diri untuk tempat curhat. "Keluarkan semua unek-unek untuk mengurangi beban hatimu."
"Nadine tak seindah yang kubayangkan," kata Gerdy dengan dada sesak. "Dia sama seperti gadis kebanyakan. Lari ke pelukan cowok lain pada saat aku tidak ada di sisinya."
"Apa kau yakin dengan apa yang dilihat?"
"Nadine tidak pernah merayakan ulang tahun bersamaku, malam ini dia merayakan bersama Bradley."
"Itu tidak membuktikan pacarmu sudah selingkuh. Di pondokan banyak orang. Apa dia merayakan berdua?"
"Aku tidak peduli dia selingkuh atau tidak. Kejadian itu sangat menghinaku."
"Bisa saja perayaan itu surprise dari teman-temannya."
"Kue ulang tahun itu surprise dari Bradley dan dia menerima. Aku memberi surprise yang sama tahun kemarin, dia tolak mentah-mentah. Apa ini bukan penghinaan?"
Gerdy tidak bisa menerima perlakuan seperti itu. Ketika seorang pacar mengutamakan lelaki lain, berarti hubungan mereka sudah berakhir.
"Kalian sudah membangun mimpi dengan susah payah," kata Karlina. "Jangan sampai mimpi itu buyar gara-gara masalah kecil."
Gerdy menoleh dengan tidak senang. "Masalah kecil katamu? Ini masalah harga diri. Apa maksud dia menerima kue ulang tahun itu?"
"Kau bisa tanya baik-baik apa alasannya. Nadine bisa saja sulit menolak karena situasi menjebak."
"Tidak ada alasan yang pantas untuk itu. Dia bisa menolak kue ulang tahun dari aku, pacarnya, dalam situasi yang rumit."
"Aku tahu kamu sangat mencintai Nadine. Kamu mau mengorbankan cintamu untuk sebiji kue ulang tahun?"
"Cinta tidak jadi pertimbangan kalau sudah menyangkut harga diri."
Cowok arogan, batin Karlina sebal. Dia lebih mementingkan harga diri dan menyingsingkan perasaan. Dia tidak berpikir betapa terlukanya Nadine karena cintanya jadi korban kue ulang tahun.
"Kamu tenang saja," kata Gerdy. "Aku tidak memintamu jadi istri meski aku gagal menikah dengan Nadine. Kamu bisa melanjutkan rencanamu bersama Robby."
"Kau jangan egois," tegur Karlina lembut. "Kau merasa sangat kecewa dengan perayaan ulang tahun itu, bagaimana kalau Nadine tahu apa yang kita lakukan?"
"Memangnya kita sudah melakukan apa?" balik Gerdy sengit. "Kita tidak pernah melakukan apa-apa."
Karlina tersenyum. "Yang kau maksud adalah kebutuhan biologis. Kau biasa mengawali dan mengakhiri pertemuan dengan bercinta. Tapi pacaran kan bukan cuma itu."
"Lalu apa lagi?"
"Banyak yang kita lakukan; lunch, dinner, healing, shopping, clubbing...."
"Aku sering melakukan semua itu dengan Surya. Kau menganggap aku pacaran dengannya?"
"Jadi menurutmu di mata Nadine tidak ada perbedaan antara pergi bersamaku atau pergi bersama Surya?"
"Kan tidak ada kiss atau wikwik. Pegang-pegang kamu saja nggak."
"Kalau begitu biarkanlah Nadine merayakan ulang tahun bersama Bradley sebelum jadi istrimu."
"Tapi dia tidak pernah merayakan ulang tahun bersamaku, itu bedanya."
"Jadi kalau dia merayakan bersamamu, maka dia boleh merayakan bersama Bradley?"
__ADS_1
"Nyatanya tidak begitu."
Cowok ini tidak pernah disakiti, pikir Karlina hambar. Dia tidak bisa menerima saat itu terjadi.
"Baiknya kau pikirkan baik-baik," ujar Karlina. "Dia cuma merayakan ulang tahun bersama Bradley, sementara apa yang sudah kita lakukan? Lunch berdua, dinner berdua, healing berdua...."
"Semua yang kulakukan adalah untuk menghormati keputusan orang tua kita. Sementara apa yang dia lakukan untuk menghormati siapa? Jangan ukur perbuatannya, ukur esensinya. Tidak paham juga? Kita sudahi obrolan soal ini."
"Jadi ngambek sih?"
"Aku tidak marah. Aku cuma ingin kamu tidak langsung menghakimi bahwa maling satu tangki bahan bakar lebih besar kesalahannya dibanding maling korek api. Belum tentu. Bagaimana kalau maling korek api untuk membakar satu tangki bahan bakar?"
"Logika itu cuma bisa diterima oleh cowok play boy kayak kamu, yang menganut kehidupan bebas."
"Kita sudahi saja obrolan soal ini."
"Karena kau sudah meninggalkan semua itu?"
"Karena kau tidak paham."
Gerdy melambatkan lari mobil dan menghidupkan lampu sen, lalu belok memasuki pelataran hotel bintang lima. Mobil berhenti di depan lobi.
"Jemput di sini," kata Gerdy. "Aku mau istirahat. Capek."
"Aku temani."
"Kau sudah ditunggu Robby di Tanamera."
"Kamu lagi galau, aku kuatir kamu kembali kumat. Aku terhina kalau kau calling gadis bispak."
"Bullshit."
"Aku betul-betul ingin istirahat."
Gerdy turun dari mobil. Dia masuk ke lobi. Kemudian pesan kamar ke front office dan naik lift menuju ke kamar untuk istirahat.
Gerdy tertidur pulas di sebuah ranjang mewah. Wajahnya sangat gelap. Kejadian di pondokan itu membuatnya mengalami konflik batin yang hebat, antara cinta dan harga diri.
Gerdy baru bangun ketika sebuah tangan membelai rambutnya dengan lembut, dan melihat Karlina berbaring dengan posisi miring di dekatnya.
"Cepat sekali kamu kembali," kata Gerdy.
Karlina tersenyum manis. "Aku tiga jam meninggalkan dirimu."
Gerdy bangkit duduk. "Kamu bilang apa sama Robby?"
"Aku bilang kalian tidak bisa datang karena ada surprise ulang tahun dari ibu kos buat Nadine."
"Kamu bilang apa sama resepsionis bisa masuk ke kamarku?"
"Aku bilang cewek pesanan kamu."
"Aku tidak biasa menggunakan jasa gadis panggilan."
"Aku mengaku sebagai adikmu." Karlina tersenyum berlumur madu. "Jadi mau pakai aku? Kan bukan cewek panggilan?"
"Masa aku pakai adik sendiri?"
__ADS_1
"Kan adik bohongan."
"Jangan mancing-mancing. Kita cuma berdua di kamar ini. Sesuai kesepakatan, kita tidak boleh melibatkan perasaan."
"Aku tidak melibatkan perasaan."
"Oh, iya," senyum Gerdy samar. "Begituan kan melibatkan alat vital, perasaan cuma dampak."
"Kelihatannya kau sudah baikan."
"Aku tidak pernah memikirkan perempuan terlalu lama."
Karlina jadi berpikir. Bagaimana Gerdy dapat melupakan Nadine sesingkat itu sementara perjalanan cinta mereka sudah sangat panjang?
Play boy tidak pernah benar-benar jatuh cinta!
Atau Gerdy cuma bersandiwara? Berpura-pura sudah move on padahal hatinya hampir tenggelam? Dia tidak mau dirinya terlibat terlalu jauh. Keterlibatannya pasti jadi beban, karena bagaimana juga dia adalah calon istri yang resmi.
Gerdy tidak mau dirinya berkorban demi membangun cinta calon suami yang mengalami kehancuran. Dia membaca kekhawatiran itu karena kedekatan mereka selama ini.
"Aku takut jatuh cinta sama kamu," kata Karlina suatu kali. "Jadi kamu jangan terlalu baik sama aku."
"Jatuh cinta sama cowok ganteng dan tajir adalah normal."
"Robby pasti sakit hati. Dia sangat percaya padamu."
"Maka itu aku tidak pernah berniat mengambil kamu dari sisinya."
"Aku juga tidak mungkin meninggalkan Robby."
"Karena dia sudah mengambil mahkotamu?"
"Bukan Robby yang merenggut kehormatanku. Seorang cowok yang jadi cinta pertamaku."
Gerdy terkejut. "Terus...Robby tidak mempermasalahkan hal itu?"
"Robby tidak pernah membahas masa lalu. Karena masing-masing orang punya masa lalu berbeda."
"Baik sekali pacarmu."
"Makanya aku bucin banget."
"Robby adalah putera tunggal dari keluarga kaya raya. Mengapa mereka mengijinkan untuk nikah muda?"
"Barangkali karena saking sayangnya sama Robby."
Kasih sayang orang tua yang berlebihan kadang membuat anak sulit untuk dewasa. Atau orang tua justru tidak pernah menganggap dewasa anaknya?
Jadi tidak aneh jika sudah berumah tangga orang tua sering ikut campur. Kadang jadi hakim untuk menantunya. Ujung-ujungnya persoalan kecil jadi besar.
Semoga Robby dan Karlina tidak mengalami situasi seperti itu.
Umi juga tidak pernah menganggap anaknya dewasa. Urusan calon istri saja diatur, seakan dialah yang paling tahu tentang perempuan.
Umi menolak untuk disebut otoriter. Dia cuma minta Gerdy tidak berpacaran dengan Nadine. Takut cucunya terkontaminasi.
Dan terbukti sekarang. Nadine tidak mampu menjaga perilakunya, membuat Gerdy sangat terhina.
__ADS_1