Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Kiamat Masih Jauh


__ADS_3

Tentu saja Katrin heran melihat perubahan drastisnya. Tiba-tiba saja Gerdy jadi muslim taat, tak pernah melalaikan sholat. Begitu suara adzan berkumandang, bersicepat dia pergi mengambil air wudhu, meninggalkan segala kesibukan.


"Apa yang terjadi di Jakarta?" tanya Katrin ketika Gerdy memilih berpisah tidur di kamar sebelah. "Kau bertemu dengan mantan istri?"


"Ya," sahut Gerdy jujur. "Tapi dia tidak mengenali diriku."


"Kok bisa?"


"Karena dia mengingat seseorang dari penampilannya."


"Jadi karena mantan istrimu kau pisah ranjang denganku?"


"Kita bukan pasangan suami istri, tapi berlaku seperti pasangan suami istri. Hal itu mengotori perjanjianku dengan Tuhan."


"Ceritanya hijrah?"


"Aku berhutang janji pada Tuhan."


"Karena Tuhan menyelamatkan ayahmu?"


"Ya."


Katrin tidak bisa memaksanya untuk tidur satu kamar. Apa yang mereka lakukan selama ini bukan karena terpaksa, karena suka sama suka.


"Aku akan kembali ke kamarmu kalau kau bersedia menjadi istriku."


Katrin sangat senang mendengar ucapan itu, tapi hanya sebatas senang. Sejak peristiwa pertama Gerdy sering menghembuskan ikatan suci, tapi dia menolaknya.


"Aku terlalu kotor untuk jadi istrimu."


"Dan aku tidak terlalu bersih untuk jadi suamimu."


"Kalau kita menikah, masalah yang kita hadapi pasti lebih besar dari istri pertamamu."


"Aku sudah tahu semua yang kamu lakukan di masa lalu, tapi aku tidak hidup di masa lalu."


"Meski begitu, aku tetap tidak pantas untuk jadi istrimu. Aku bahagia kamu hijrah. Tapi kamarku tidak pernah dikunci jika kamu ingin pindah tidur malam-malam."


Hidup serumah tanpa ikatan adalah rintangan paling berat bagi Gerdy untuk memenuhi perjanjian suci. Dia berniat untuk pergi, tapi Katrin pasti tersinggung.


Katrin tidak pernah tebar pesona, tapi keberadaannya sudah menebar pesona. Satu-satunya kondisi yang sulit untuk dikendalikan.


"Kau malu memiliki suami mantan adikmu?" desak Gerdy ketika mereka hanya mampu bertahan satu minggu. "Padahal kau pernah bilang bahwa cintamu sudah lahir jauh sebelum adikmu mengenal cinta."

__ADS_1


"Aku sangat bahagia dengan kehidupanku saat ini," bisik Katrin sambil merebahkan kepala di dadanya. "Dan aku yakin kebahagiaan itu akan terenggut jika kita menikah."


Katrin sadar betapa besar rasa cintanya kepada Gerdy, tapi dia juga sadar betapa besar kesalahan masa lalunya. Sulit untuk dimaafkan oleh penebusan apapun.


"Sampai kapan kita hidup seperti ini?" tanya Gerdy sambil membelai rambutnya. "Jangan padamkan api cinta yang mulai menyala-nyala di hatiku."


"Api cintamu menyala-nyala karena kau menemukan pesona mantan istrimu padaku. Maka itu adikku paling cemburu pada kakaknya."


"Kau sungguh berbeda dengan adikmu."


"Karena ada rasa benci di hatimu. Siapapun kamu anggap lebih baik dari mantan istrimu."


Gerdy tidak tahu perasaan apa yang bersemayam di hatinya saat ini terhadap Nadine. Entah benci atau justru kecewa pada diri sendiri. Yang jelas, dia bertekad untuk merubah haluan hidupnya.


Gerdy tidak pernah lagi muncul di dunia malam, begadang semalam suntuk di kedai minuman, atau bersuka ria berjoget di gerbong kereta api bersama pelacur jalanan. Sabu-sabu, putau, dan pil koplo menjadi tabu di matanya. Tak terbetik lagi untuk menikmati meski diperoleh secara cuma-cuma.


Waktunya banyak dihabiskan buat mendulang kebenaran. Banyak berdiam diri di mesjid. Kadang sampai bermalam, sekaligus untuk menghindari pesona terlarang di rumah.


"Barangkali kiamat sudah dekat," komentar Poltak. "Kulihat gereja juga penuh."


"Vihara tidak muat," timpal Made.


"Kuil apalagi," sambung Parmin.


"Kalau begitu kenapa kalian belum tobat juga?" balik Poltak. "Memangnya di Surga mau jadi gembel juga?"


"Alah, kayak yang ngomong orang bener saja!" sindir Parmin. "Tuhan mana kenal sama orang yang sarapan paginya ngembat PSK!"


"Dia kan lagi naksir Sophia," ujar Made. "Anak Pak Haji."


"Nggak salah tuh?" belalak Parmin. "Anak juragan kosmu kan masih kuliah?"


"Kuliah sih gampang berhenti," sahut Made. "Kalau cinta, apa bisa berhenti?"


"Eh, denger ya," kata Poltak. "Gerdy punya istri cakepnya minta ampun, mana mungkin ngambil istri lagi?"


"Tampangnya layak dicintai banyak wanita."


Gerdy cuma tersenyum mendengar celotehan mereka. Sudah biasa. Lalat lewat saja jadi bahan gosip. Bahkan ada yang menganggapnya kode alam untuk pasang toto gelap.


Dia memang sering berkunjung ke rumah Pak Haji. Tapi bukan bertamu pada Sophia, ikut pengajian mingguan. Dan mereka tidak tahu kalau Katrin bukan istrinya.


Tapi mereka sudah menduga kalau pendidikannya tinggi. Tidak seperti mereka yang rata-rata tamatan SD, lalu terjun ke dunia preman.

__ADS_1


Gerdy selalu serba tahu, tapi bukan sok tahu. Karena wawasannya yang berbeda dengan orang kebanyakan itu, dia jadi kelihatan menonjol di mata Pak Haji. Jadi murid kebanggaan.


Sering mereka terlibat diskusi yang alot seusai pengajian. Entah masalah agama atau bukan. Kalau soal politik, mereka bicara seperlunya saja. Mereka tak mau menambah ruwet keadaan karena banyak yang tidak berirama dalam menabuh gong kebebasan!


"Musibah paling besar adalah kebodohan," kata Pak Haji suatu kali. "Dan kebodohan paling besar adalah membiarkan diri tersungkur di lembah dosa."


"Justru jaman edan ini banyak yang bangga berbuat dosa. Bahkan jadi terkenal."


"Karena kebenaran tak punya teman, dan netizen adalah maha benar dengan segala cuitannya."


"Karena kita tidak siap menerima kebenaran. Kita terbiasa menerima sesuatu yang dibenarkan atas nama rekayasa kepentingan. Agama bukan lokomotif, tapi gerbong penuh motif."


"Kamu ini sebetulnya lulusan apa?" selidik Pak Haji seolah penasaran. "Cara berpikirmu tidak mencerminkan orang biasa."


"Saya hanya sering numpang baca di kehidupan, numpang nonton di tribun kejadian, dan numpang dengar dari orang-orang yang pantas didengar."


"Mana mungkin untuk seorang anak jalanan?"


"Apa anak jalanan tidak boleh tahu tentang agamanya? Tentang negerinya?"


"Kamu terlalu banyak tahu tentang orang-orang di sekelilingmu, sementara orang-orang di sekelilingmu tidak tahu banyak tentang dirimu."


Selama ini Gerdy sangat tertutup. Dia tidak pernah cerita soal dirinya. Mereka tidak tahu asal-usulnya, apalagi latar belakang pendidikannya.


Kemunculan istri cantik rupawan dengan gaya kosmopolitan menggambarkan bahwa Gerdy adalah bukan orang biasa. Sungguh sulit diterima akal jika warga biasa memiliki pendamping hidup sesempurna Katrin.


Kalau percakapan sudah menjurus ke masalah pribadi, Gerdy lebih banyak tersenyum daripada menjawab. Diskusi jadi macet. Akhirnya mereka sama-sama diam menyaksikan siaran berita di televisi.


Di layar kaca tampak digambarkan suasana wisuda di sebuah perguruan tinggi negeri. Dan Gerdy tertegun. Matanya menatap tak berkedip. Dia hampir tak percaya melihat sarjana magister baru yang diwawancarai itu, yang diminta kesan-kesannya. Wisnu!


Anak yang dulu terkenal manja. Yang bisanya cuma merengek. Yang tak mau sekolah tanpa uang jajan cukup. Tahu-tahu sudah S2! Keluaran universitas ternama pula!


Alangkah gagahnya dia dengan topi sarjananya. Didampingi Karlina dan ayah ibu di kanan kirinya dengan senyum penuh kebanggaan. Senyum yang seharusnya jadi miliknya!


Dia yang paling didambakan untuk mencapai magister. Satu-satunya tumpuan harapan mereka. Tapi kini mereka justru memperoleh kebanggaan dari anak yang tak diharapkan dapat berprestasi tinggi!


Selamat adikku, bisik Gerdy dengan hati bergetar. Matanya berkilat-kilat menyimpan haru. Kau mampu membangun harapan yang terkoyak.


"Heran," gumam Pak Haji. "Kulihat seakan kamu yang berdiri di sana. Kamu yang mereka gandeng. Hanya wanitanya bukan itu."


Gerdy cuma tersenyum. Tapi apa katanya? Perempuannya bukan itu? Lalu siapa? Katrin? Atau...Sophia? Ah, pasti bukan Sophia! Pak Haji tidak mungkin berpikiran untuk mengambil menantu seperti dirinya!


Wawancara telah usai. Ganti berita lain. Tapi wajah-wajah bahagia itu masih membayang kuat di pelupuk matanya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja ada sentakan aneh muncul dari peristiwa itu. Dia merasa semangat yang demikian besar memenuhi rongga dadanya. Membangkitkan kerinduan yang menggebu. Dia ingin kembali ke bangku kuliah! Menggali cita-cita yang terkubur dalam reruntuhan hidupnya!


Dia memang telah gagal mewujudkan impian orang tuanya. Tapi dia tidak boleh membiarkan dirinya kehilangan lentera hidup. Dia harus menemukan kembali masa depannya yang hilang.


__ADS_2