
Hari pertama jadi pengangguran terasa aneh bagi Gerdy. Dia bangun pagi-pagi tidak tahu untuk apa. Membuka toko sudah ada Pak Marto. Membersihkan rumah sudah digarap oleh Mimin dan Prilly sejak subuh. Prilly mengisi hari-hari tegang menunggu hasil ujian seleksi masuk perguruan tinggi negeri dengan berbagai kesibukan.
Akhirnya Gerdy tinggal di kamar menunggui bayi, kadang menggangu istri jika menyusui. Nadine sendiri merasa aneh pagi-pagi melihat suaminya berkeliaran di depan matanya.
"Aku jadi mati gaya," kata Gerdy sambil duduk di atas tempat tidur. "Aku tidak tahu apa yang harus dikerjakan."
Nadine tersenyum menggoda. "Bercinta."
"Kemarin sudah lima, dan sekarang hari masih pagi."
"Kenapa kalau hari masih pagi? Aku masuk kerja minggu depan. Kamu sudah menyiapkan berkas untuk melamar pekerjaan, tapi lowongan yang sesuai bidangmu belum ada. Lalu kamu mau duduk bengong di rumah? Aku lagi nganggur, kenapa tidak dikerjai saja istrimu?"
"Kamu bersedia bercinta setiap hari?"
"Aku bahkan tidak ingin berhenti bercinta denganmu."
"Lalu kita makan apa kalau begitu?"
"Cek dari Wisnu belum dicairkan dan kalau boleh tahu uangnya mau digunakan buat apa?"
"Aku belum tahu."
"Nah, uang itu bisa digunakan buat makan, sementara kita bercinta setiap hari."
"Aku ada rencana untuk membeli pick up buat transportasi toko. Pak Marto pernah jadi sopir. Pick up itu bisa diserahkan padanya."
"Harga pick up berapa sih? Belum uang pesangon dari bos body goal itu. Nah, semua kita habiskan buat makan sehingga bisa bercinta setiap saat."
"Mumpung masih muda?"
"Aku mau bercinta sampai tua."
"Uang kita tidak cukup untuk kebutuhan sampai tua. Jadi digunakan untuk usaha saja."
"Usaha apa?"
"Belum kepikiran."
"Jual makanan online saja," kata Prilly sambil masuk membawa pakaian bayi yang sudah rapi disetrika. "Mimin kan jago bikin makanan."
"Kebiasaan," tegur Nadine. "Masuk tanpa ketuk pintu."
"Pintunya tidak dikunci dan tidak tertutup rapat. Jadi salah siapa?"
"Biasakan mengetuk pintu. Kalau aku lagi bermesraan sama kakak ipar, bagaimana?"
"Aku tahu kalau kalian lagi bercinta, pintu pasti dikunci. Nah, dari kemarin baru open room!"
"Kalau aku lupa mengunci, bagaimana?"
"Aku sudah calon mahasiswi, jadi masalahnya di mana? Tinggal tutup lagi pintunya, beres dah."
__ADS_1
Gerdy seakan membela Prilly, "Kamu itu kenapa sih? Masalah kecil saja jadi urusan. Nyatanya kita tidak sedang bercinta dan aku lagi gabut."
Rara memandang tidak suka. "Masalah privasi kok soal kecil? Jadi kalau begitu kamu boleh keluar masuk sesuka hati ke kamar adikku tanpa mengetuk pintu?"
"Jadi ke mana-mana deh."
"Aku hanya menafsirkan ucapanmu."
"Ceritanya kakak cemburu kalau Kak Gerdy bolak-balik ke kamarku?" tanya Prilly.
"Menurutmu pantas?"
"Cemburu tidak mengenal pantas atau tidak."
"Maksudku apakah pantas suamiku keluar masuk kamarmu?"
"Tergantung keperluannya apa."
"Untuk keperluan apa saja tetap harus ada privasi. Kamu sadar nggak kalau dirimu sangat menarik? Bisa membuat kambing jadi serigala. Jadi kamu mesti hati-hati, tidak cuma di rumah."
"Iya, iya."
Prilly menyimpan pakaian bayi di lemari kecil lalu pergi. Kakaknya ini ketat sekali menjaga privasi. Barangkali dia tidak mau kejadian dua kali, cukup Katrin. Keluarga mereka sudah tidak bermartabat. Tapi bukankah dengan begitu dirinya mencurigai suaminya? Untung Kak Gerdy sabar.
"Kamu jangan terlalu ketat sama Prilly," tegur Gerdy. "Lama-lama dia merasa terkekang dan jadi pemberontak."
"Tempatnya bukan di rumah ini kalau ingin hidup tanpa aturan. Aku harus tegas kepada adikku. Jangan sampai kejadian aku terulang padanya."
"Kamu menyesal dengan apa yang terjadi pada kita?"
"Jangan juga khawatir secara berlebihan karena kepribadian Prilly jadi tidak berkembang. Aku berharap segala bentuk kekhawatiran ini bukan karena rasa cemburumu."
"Aku tidak akan berhenti untuk cemburu karena dengan itu cintaku bertahan."
"Tidak juga kepada setiap perempuan."
"Aku tidak cemburu kepada setiap perempuan. Aku cemburu kepada perempuan yang jadi selera masa lalu suamiku."
"Adikmu juga?"
"Dia belum lepas baju putih abu-abu, kan?"
Hari-hari yang dilewati diwarnai cemburu. Gerdy tidak tahu apa cinta seperti itu sehat. Dia menikmati kecemburuan itu dalam kemesraan Nadine yang tiada tara. Dia pikir cemburu perlu dalam berumah tangga untuk mengukur kadar cinta mereka.
Tapi cemburu Nadine kadang kebablasan. Dia mencurigai perhatian suami kepada adiknya. Masa lalu jadi alasan untuk waspada. Gerdy menyukai gadis putih abu-abu untuk kehidupan bebas, bukan kehidupan terikat dalam rumah tangga.
Setiap apa yang diberikan Gerdy kepada adik ipar harus melalui istrinya. Prilly sendiri kadang gerah. Skandal Katrin rupanya jadi momok yang menakutkan buat Nadine.
Nah, hari pertama jadi pengangguran sungguh tidak nyaman. Rumah sempit membuat Gerdy dan Prilly bertemu di setiap tempat. Dia jadi banyak mengurung diri di kamar bersama sang bayi.
Gerdy harus segera memperoleh pekerjaan. Dia sudah membaca beberapa lowongan pekerjaan di internet dan media cetak, tidak masalah berbeda disiplin ilmu, yang penting ada kegiatan dan menghasilkan uang.
__ADS_1
"Tidak usah buru-buru cari kerja," kata Mami sambil sibuk menghitung pendapatan toko hari ini. "Pilihlah pekerjaan yang sesuai denganmu agar nyaman menjalaninya. Kamu kan tidak dikejar kebutuhan."
"Betul, Tuan," kata Pak Marto. "Toko ini sebenarnya sudah cukup untuk kehidupan Tuan sekeluarga."
Rumah ini sudah jadi hak Gerdy karena pemiliknya bersedia menjual. Seluruh kamar dibongkar dan diisi dengan rak sembako. Pak Marto dan keluarga tinggal di lahan kosong di belakang toko.
"Apalagi jika Mami bersedia dipinang sama Pak Hamdani, wah, tambah besar lagi toko," canda Bu Marto.
"Aku tidak berminat buka usaha bersama," kata Gerdy. "Aku akan mencari peluang bisnis lain."
"Kerja sama dengan Mami selaku istrinya kan tidak apa-apa, Tuan."
"Kamu ini kalau ngomong tidak dijaga," tegur Mami."Aku tidak muda lagi. Jadi bisa saja Hamdani cuma memberi harapan palsu."
"Dia sungguh-sungguh ingin mengambil Mami sebagai istri," tegas Bu Marto. "Dia butuh ibu buat anak-anaknya."
"Ambil saja baby sitter kalau cuma buat mengurus anak."
"Pak Hamdani sudah punya baby sitter. Tinggal ibu sambung belum punya."
"Kamu jadi mak comblang ya?"
"Mami cari yang gimana lagi sih? Dia masih muda, ganteng, kaya, komplit dah."
"Kamu dibayar berapa untuk mempromosikannya?"
"Saya tidak promosi. Saya hanya menceritakan apa yang dilihat."
"Aku juga lihat."
"Nah, terus?"
"Aku masih ingin sendiri."
Hal inilah yang dikuatirkan Gerdy. Dia curiga Mami pura-pura percaya kalau Papi sudah tiada, karena tidak tega melihat menantunya begitu gigih mencari.
Gerdy tidak peduli Mami percaya atau tidak, yang penting terbit matahari di wajah mertuanya sehingga kelihatan bersinar cerah, tidak mendung setiap hari.
Baru terpikir oleh Gerdy kalau di rumah ada tiga perempuan single yang menarik. Dia menduga hal itu adalah salah satu faktor yang membuat toko ramai. Atau justru istrinya yang jadi daya tarik istimewa? Dia tahu setiap pria kelihatan bergairah melihat Nadine.
"Pikiranmu kok sampai ke situ-situ?" komentar Nadine suatu hari.
"Selingkuh paling menyenangkan dengan wanita bersuami," kata Gerdy. "Tidak ada tanggung jawab di belakang hari. Aku yakin pria pasti berderet jika kamu membuka pintu."
"Kamu seperti itu di kantor?"
"Kebanyakan di kantor selingkuh terjadi pada wanita bersuami, atau pernah bersuami. Aku kira di kantormu begitu juga."
"Aku nggak tuh."
"Aku tidak bicara soal kamu."
__ADS_1
"Tadi kamu bicara soal aku. Pakai bilang laki-laki antri jika aku membuka pintu. Kamu pikir aku loket stadion?"
Membahas perselingkuhan buntutnya pasti tidak mengenakkan, padahal cermin dalam berumah tangga.