
Pejabat nomor satu kadipaten itu bernama Baharuddin Fadillah. Dia terkenal dengan sebutan Datuk Meninggi karena perawakannya kurus tinggi seperti belalang sembah.
Entah kenapa dipanggil Datuk, padahal tidak ada keturunan dari seberang. Dia adalah orang terkaya di daerahnya, maka itu berani jadi bupati.
Kekayaan yang berlimpah membuatnya terhindar dari kecurigaan publik, padahal justru jadi topeng.
Segala kebijakan dan sikap di depan publik selalu pro rakyat, padahal di belakang tergantung kepentingan.
Datuk Meninggi terkenal setia pada istri. Maka itu dia sangat populer di kalangan ibu-ibu PKK sebagai suami idaman. Istrinya sendiri sampai akhir hayat mengenalnya sebagai sosok suami yang sangat membanggakan.
Padahal Datuk Meninggi sangat tenar di kalangan perempuan tertentu sebagai Superman ranjang. Perempuan tertentu ini adalah public figure bersuami atau single yang tak pernah diterpa gosip miring.
Datuk Meninggi sebenarnya mengincar Nadine, teman kuliah putrinya di fakultas kedokteran. Kesempurnaan gadis itu membuatnya rela berdarah-darah untuk menjadikan istri pengganti.
Namun Nadine tidak silau oleh kilauan harta dan tahta, malah memilih laki-laki terbuang, maka pilihan bergeser pada kakaknya. Katrin tidak kalah elok.
Datuk Meninggi makin tergila-gila ketika Katrin jadi instruktur senam ibu-ibu kompleks di depan rumah dinasnya. Dia bukan lelaki hebat yang mampu memandang goyang pinggul sebagai kebebasan berekspresi. Dia adalah seorang lelaki naif yang gampang terpancing bila melihat goyang erotis. Dia jadi berfantasi untuk dapat menikmati tetangga pinggulnya!
Katrin mengirim sinyal positif, dan kesempatan terbuka lebar saat terdengar kabar suaminya meninggal karena kecelakaan tunggal. Maka itu dia bergerak cepat mengirim orang kepercayaan bernama Himawan untuk berkunjung ke rumah bersalin, dan cuma Katrin yang tahu kalau pria itu adalah utusan Datuk Meninggi.
Adalah sebuah kebodohan besar membiarkan sang body goal menari-nari di alam liar. Himawan diminta untuk melamarnya.
Datuk Meninggi cuma perlu bersabar beberapa bulan untuk meresmikan karena perempuan itu baru saja melahirkan dan ditinggal mati suami.
Katrin adalah satu-satunya perempuan dari kelurahan terpencil yang membuat lelaki rela mengeluarkan banyak uang untuk urusan ranjang!
Himawan juga berkunjung ke rumah sakit di mana Mami dirawat, yang justru mengundang kecurigaan.
Mami cuma beberapa jam koma dan tidak mengalami cedera parah. Mungkin lusa sudah bisa pulang. Sebuah mukjizat yang seolah disesalinya.
Nadine dan suaminya paham kalau kematian sangat diharapkan untuk dapat menyusul Papi. Padahal bukan karena itu, Mami merasa menanggung beban seumur hidup untuk menyembunyikan rapat-rapat sebuah rahasia besar.
"Saya adalah Himawan, sahabat lama Katrin," kata pria itu saat mereka terheran-heran melihat kedatangannya di kamar VIP. "Saya membawa sedikit bingkisan."
Himawan meletakkan parcel buah di meja kecil.
"Terima kasih," desis Mami dengan mata tak lepas memperhatikannya.
Wanita itu bingung. Sejak kapan Katrin punya sahabat om-om? Anak sulungnya bukan perempuan yang suka menghabiskan banyak waktu di luar. Selesai melatih senam, dia jarang sekali mampir ke kafe atau diskotek. Lalu di mana mereka bertemu?
Mami tidak mau pusing-pusing memikirkannya. Himawan kelihatannya pria baik-baik. Barangkali mereka bertemu saat Katrin mengikuti Diklat instruktur senam, dan sempat bersahabat meski cuma beberapa Minggu.
Di depan ibunya, Nadine berusaha menahan rasa penasarannya. Dia cuma basa-basi seperlunya atas kebaikan pria asing itu. Tapi tidak aneh kalau kakaknya berani affair sama om-om.
"Jadi Himawan datang besuk Mami?" tatap Katrin saat Nadine datang menjenguk dan duduk di dekatnya. "Mami pasti bingung."
__ADS_1
"Aku juga bingung. Bisa dijelaskan?"
"Himawan adalah utusan Datuk Meninggi," jawab Katrin. "Datang untuk melamar diriku dan aku menerimanya."
Nadine terbelalak. "Darah nifas saja belum kering, kau sudah bicara soal lamaran?"
"Memangnya kenapa? Nikahnya kan nanti menunggu masanya tiba."
"Kau harusnya menjelaskan dari awal sehingga tidak terjadi salah paham. Mami jelas curiga ada laki-laki asing datang membesuknya."
"Apa hal ini terpikir sama kamu saat memutuskan untuk menikah dengan Gerdy?" balik Katrin. "Bagaimana sakitnya hatiku saat melihat perutmu buncit tanpa tahu kapan kalian menikah!"
"Jadi kamu balas dendam?"
"Aku tidak balas dendam. Mami pasti tidak setuju kalau aku menikah dengan Datuk Meninggi. Dia pasti meminta aku menikah sama Dodi, tunanganku dulu, yang sampai sekarang masih menungguku."
"Jangan salahkan Mami. Dia tidak mau hidup anaknya semakin liar."
"Hidupku tidak liar! Aku hidup satu atap secara resmi nanti, dengan orang nomor satu di kabupaten ini! Aku tidak mungkin berzina dengan lelaki lain, kecuali dengan adik ipar! Ee, maksudku dengan lelaki yang diinginkan!"
Nadine berusaha menahan amarah atas keceplosan kakaknya. Dia melirik suaminya sekilas. Gerdy kelihatannya tidak menguping obrolan mereka. Asyik duduk di sofa nonton televisi sambil menikmati kacang almond.
"Aku pamit dulu," kata Nadine sambil beranjak bangkit. "Mami menunggu kejelasan masalah ini."
Dengan wajah keruh Nadine pergi meninggalkannya. Dia tidak mau hatinya terbakar cemburu karena Katrin mulai berani kurang ajar di depannya.
"Apa katanya?" tanya Mami yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Himawan adalah utusan Datuk Meninggi," jawab Nadine. "Dia datang untuk melamarnya."
Mami kaget. "Datuk Meninggi melamarnya dan aku tidak dikasih tahu? Apakah dia sudah tidak menganggap aku ibunya?"
"Katrin sakit hati Mami tidak memberi tahu pernikahan adiknya," sahut Nadine. "Dia merasa dianggap bukan keluarga lagi."
"Pernikahan kalian darurat."
"Sebetulnya tidak darurat. Aku baru hamil sepuluh hari saat menikah. Yang membuat darurat adalah Papi menginginkan aku menikah dengan Bradley."
"Semua ini salahku," desis Gerdy kelu. 'Aku sudah berani menghamili, dan tidak memperoleh restu orang tua."
"Kamu tidak salah, beb," kata Nadine. "Aku datang ke apartemen untuk menyerahkan kesempurnaan cinta, dan tidak minum pil anti hamil. Kamu tidak mendapat restu orang tua bukan sebuah kesalahan. Mereka pantas dan sudah seharusnya tidak setuju."
"Jadi kesalahan kalian berdua kalau begitu," potong Prilly sambil duduk di sofa makan emping pedas. "Mengapa kalian jatuh cinta? Coba saling benci, nggak bakal buncit tuh perut."
"Non Prilly tidak bisa nyetir mobil mewah kalau tuan dan nyonya saling benci," bela Mimin. "Saya juga cuma mimpi bisa naik mobil mewah. Oh ya, si Non katanya siang ini mau pergi ke bengkel untuk servis rutin."
__ADS_1
"Oh iya, keasyikan nonton drakor sampai lupa." Prilly mematikan televisi dan bangkit dari sofa.
Hari ini jadwal servis rutin motor pemberian kakaknya. Perkiraan selesai sore.
"Besok aku nggak bisa jaga Mami," kata Prilly. "Jadwalku padat banget."
"Ditemani si Mimin sendiri juga gak apa-apa."
Prilly pergi. Nadine melanjutkan laporannya.
"Katrin takut Mami tidak setuju kalau dikasih tahu," kata Nadine.
"Aku pasti tidak setuju," tegas Mami. "Aku sudah bilang jika sudah selesai dengan si Sastro, nikah sama si Dodi. Aku sudah kehilangan muka di depan keluarganya, karena aku yang meminta untuk bertunangan dan aku juga yang membatalkan."
"Katrin jelas keberatan. Dodi hanya pegawai rendahan di perkebunan keluarga suamiku."
"Katrin sudah kaya. Cari apa lagi? Dia tinggal mencari cinta yang hilang karena tertimbun uang."
Nadine paham kakaknya menolak untuk kembali ke masa lalu. Dia tidak butuh cinta sekarang. Tapi butuh lelaki yang mampu mencukupi kemewahan hidupnya. Dodi jelas tidak sanggup. Jadi harapan Mami cuma mimpi di siang bolong.
"Peralatan bayi sudah dipasang di kamar partisi?" tanya Gerdy ke istrinya seolah ingin mengalihkan persoalan.
"Sudah beres semuanya," jawab Nadine. "Mimin sama Prilly sudah memasang dan merapikan."
Kamar tidur mereka direnovasi dengan perluasan ke belakang. Ruang makan dipindah dan dijadikan kamar bayi.
Awalnya Gerdy mau membangun rumah jadi dua lantai. Nadine menolak karena biaya terlalu besar, dan mereka harus kontrak rumah untuk tinggal sementara, pemborosan. Lagi pula, jadi banyak kamar kosong. Istrinya lebih suka uang yang ada dialokasikan buat Prilly masuk universitas.
"Kau lihat sendiri Mami saja marahnya seperti itu Katrin dilamar tanpa sepengetahuan dirinya," kata Gerdy dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. "Bagaimana Abi sama Umi? Mereka bukan cuma merasa tidak dianggap orang tua, mereka merasa perlu untuk merevisi silsilah keluarga."
Sinar mata Nadine meredup. "Kamu sudah siap untuk itu?"
"Aku bukan keluarga kaya raya lagi saat mereka tahu pernikahan kita. Apa yang kamu cari dari aku?"
"Cinta," jawab Nadine manis. "Maka itu jangan sekali-kali pergi ke rumah Katrin tanpa aku. Dia pasti menerima kamu dengan kimono transparan dan pakaian dalam serba minimalis."
"Tahu dari mana?"
"Aku sudah lama jadi adiknya."
"Jadi kamu tahu kalau kakakmu melatih senam cuma modus?"
"Aku tahu kalau Katrin dan Datuk Meninggi sering janjian ketemu di Marina Bay Singapore."
"Dan kamu biarkan?"
__ADS_1
"Aku memilih menyingkir ke pondokan. Mereka suka sama suka. Aku baru tidak bisa menerima ketika Katrin bikin skandal inses, menurutku sudah di luar batas kemanusiaan."
Gerdy tidak paham soal batas kemanusiaan. Batas itu sering digeser karena banyak kepentingan.