
Sekarang Nadine tahu di mana dapat menemui Gerdy. Kalau tidak ada di gudang supermarket, pasti di mesjid. Hampir setiap ada kesempatan dia mengunjunginya. Dan tidak putus asa membujuknya untuk kembali ke perusahaan.
Namanya saja supervisor pengadaan barang. Semua pekerjaan dipegang, mulai dari pekerjaan administrasi sampai menurunkan barang-barang, punya asisten tidak bisa diandalkan. Benar-benar pekerjaan yang menguras tenaga. Belum lagi membantu marbot mengurus mesjid.
Mula-mula Gerdy membiarkan saja Nadine bolak-balik ke tempat kerjanya. Kadang membantu membersihkan permadani mesjid dengan alat penyedot debu. Tapi lama-lama dia resah juga.
Bagaimanapun Nadine mantan istrinya. Pernah dicintainya. Kalau setiap hari berada di dekatnya, dia khawatir suatu saat lupa siapa perempuan itu. Kejadian di kamar hotel tempo hari sudah cukup jadi gambaran.
Dia harus mengoyakkan jerat yang memikat itu sebelum terpuruk ke lorong masa lalunya. Terperangkap dalam jeruji cintanya. Di situ sudah terlambat untuk menata hati.
"Urus saja suamimu," ujar Gerdy ketika pulang kuliah Nadine mampir ke tempat kerjanya. "Jangan pedulikan aku."
"Tak perlu kau ajari," sahut Nadine tanpa perasaan apa-apa. "Sebelum menikah sama Bradley, aku sudah pandai mengurus suami."
"Nah, pulanglah sana. Belai-belai suamimu, supaya tidak lari ke perempuan lain."
"Yang bakalan lari itu hidupmu, bukan suamiku."
"Usiaku semakin pendek kalau setiap hari kamu datang ke mari."
"Jangan pandang remeh ginjalmu."
"Yang menentukan umurku bukan kamu."
"Dan kau membiarkan Tuhan meralat usiamu dengan kerja berat seperti ini?"
"Kamu menganggapku seolah sudah hampir mati," dengus Gerdy ketus. "Apa sudah pasti aku masuk daftar lebih dulu daripada kamu?"
"Tanya sama ginjalmu."
"Ada apa dengan ginjalku?"
Pelan-pelan Nadine menarik nafas. Laki-laki itu sungguh keras kepala. Dia terlalu sombong untuk dikasihani, lebih-lebih oleh mantan istrinya.
Dan kata-kata yang sudah menempel di bibir Nadine menggantung dengan sendirinya. Matanya tertuju ke perempuan body goal yang muncul dari ujung gedung membawa rantang makanan.
Nadine menoleh ke arah Gerdy dengan kaget, dan bertanya, "Katrin kerja di sini?"
"Ya," jawab Gerdy. "Jadi pramuniaga."
"Dia membawa makanan untuk siapa?"
__ADS_1
Melihat Gerdy diam saja, Nadine tahu jawabannya. Jawaban yang membuatnya sangat kecewa.
Sebenarnya Nadine senang bisa menemukan kakaknya secara tak sengaja. Tapi ketidaksengajaan ini justru membuat sakit hatinya.
Katrin terlihat sedikit kikuk saat menyapa adiknya, "Nadine, kau ada di sini?"
"Yang harus bertanya itu aku," balik Nadine dingin. "Sejak kapan kamu kerja di sini? Aku sudah cukup sering mampir, tapi baru sekarang melihatmu."
"Karena baru sekarang kau mampir pada jam istirahat. Aku selalu mengantarkan makan siang untuk Gerdy."
Nadine memandang mantan suaminya dengan sinar mata menyala. "Jadi kakakku yang membuatmu memilih kerja di sini? Apakah kalian hidup bersama?"
Melihat mereka saling pandang, Nadine jadi muak. Dia segera meninggalkan mereka.
"Nadine, tunggu!" Katrin mengejar dan menghadang langkahnya. "Dengar dulu penjelasanku."
"Penjelasan apa?" sergah Nadine sengit. "Aku tahu Gerdy adalah fantasimu dan kalian hidup satu atap. Apa lagi yang mau dijelaskan? Semua sudah jelas!"
"Kau tidak tahu bagaimana terpuruknya Gerdy setelah berpisah denganmu," kata Katrin sabar. "Apakah kau pernah memikirkannya? Tidak kan? Aku berusaha membantu untuk mengembalikan kehidupannya yang hilang...."
"Dengan jalan memberi kehangatan?" potong Nadine sebal. "Aku itu sudah memaafkan kamu loh, Kak. Aku berusaha mencarimu agar kita bisa kumpul lagi sebagaimana sebuah keluarga. Tapi hari ini kamu kembali membuat aku kecewa, dan sangat menyakitkan."
"Oke, aku tinggal bersamanya, dan aku tidak perlu bercerita apa yang terjadi jika laki-laki dan perempuan tidur satu ranjang. Tapi semua dilakukan atas dasar suka sama suka. Jadi aku tidak tahu di mana salahnya?"
"Kau tidak tahu di mana salahnya?" belalak Nadine tak percaya. "Gerdy itu siapa aku?"
"Mantan suami," sahut Katrin tenang. "Apakah aku salah hidup bersama mantan adik ipar? Laki-laki yang aku cintai dalam diam jauh sebelum kamu mengenal cinta."
"Tapi kamu perlu tahu aku berpisah dengannya bukan karena aku sudah tidak mencintainya," sambar Nadine muak. "Aku ingin menyelamatkan darah dagingnya."
"Sebuah pengorbanan yang kemudian disadari oleh kalian adalah kekeliruan besar, dan kesalahanku juga mempertemukan kamu dengan Bradley."
"Aku jadi curiga kau sengaja menjebakku karena ingin aku berpisah."
"Aku mengakui aku orang bejat. Tapi aku tidak pernah berniat membuat adikku menderita. Apa yang aku lakukan selama ini adalah sebuah pengorbanan seorang kakak untuk kebahagiaan adiknya, meski tidak semua pengorbananku menurutmu benar."
"Jadi hidup bersama Gerdy adalah bentuk pengorbananmu agar aku bahagia?" sindir Nadine sinis.
"Kau ingin aku bagaimana?"
Sebuah pertanyaan yang membuat Nadine sangat jengkel karena Katrin sudah tahu apa yang diinginkannya. Bergegas dia pergi ke mobilnya yang parkir di basement.
__ADS_1
Gerdy sudah hidup bahagia bersama Katrin, padahal dia selalu gelisah memikirkannya. Dia sudah tertipu oleh kekhawatirannya sendiri.
Bila hujan malam-malam, pikirannya sering terhanyut pada Gerdy. Berada di mana dia saat itu? Di mesjid? Di supermarket? Atau kehujanan di perjalanan pulang?
Air matanya sering jatuh menetes membayangkan Gerdy menghabiskan malam-malamnya dalam kesunyian, tanpa warna kehidupan.
Tapi ternyata kehidupannya jauh lebih meriah. Dia melewati malam-malam dingin bersama perempuan paling panas. Nadine seharusnya justru mengasihani dirinya sendiri! Dialah yang menderita!
Tapi Nadine tidak bisa mengingkari cinta yang semakin kuat berakar di hatinya. Dia tidak mampu menghalau Gerdy dari pikirannya.
Nadine sudah terlanjur berjanji kepada Umi untuk mengembalikan Gerdy ke dalam pangkuannya. Sekarang bagaimana dia memenuhi janjinya? Umi pasti tidak sudi menerima kalau Gerdy pulang bersama Katrin! Atau ... hatinya yang tidak rela?
Esok paginya Nadine sudah berada di depan sebuah rumah yang cukup megah. Dia memperoleh informasi dari HRD supermarket di sinilah kakaknya tinggal.
Rasa cemburu langsung membludak tanpa bisa dibendung begitu melihat Katrin keluar rumah dengan rambut basah. Dia mengenakan seragam kerja. Nadine segera turun dari dalam mobil dan menunggunya di depan pintu pagar.
"Jadi ini bentuk pengorbanan untuk adikmu?" tatap Nadine sinis begitu mobil yang dikendarai Katrin tiba di sampingnya. "Kau pamerkan rambut basah di depan adikmu?"
"Kau salah sarapan datang-datang ngomel?" balik Katrin sabar sambil keluar dari mobil. "Aku mana tahu kamu akan muncul di depan rumahku? Lagi pula apa masalahmu?"
"Masalahku adalah kamu! Aku muak melihat kebusukanmu!"
"Jika aku hidup serumah dengannya tanpa ikatan kamu bilang busuk, maka banyak orang busuk di sekelilingmu. Kenapa kau cuma muak padaku?"
"Kau sungguh tidak menghargai adikmu!"
"Penghargaan seperti apa yang kau inginkan? Kau ingin aku berpisah dengan mantan suamimu? Baik, sekarang juga aku akan meminta Gerdy untuk pergi dari rumahku. Tapi bisakah kau menjamin kalau dia akan menjalani kehidupan normal di luar? Siapa yang bertanggung jawab jika dia merusak diri sendiri seperti pada saat pertama kali kutemukan?"
"Bukan urusanmu."
"Jadi urusanku karena Gerdy tinggal bersamaku. Siapa yang akan mengingatkan tentang kesehatannya kalau kusuruh pergi? Kamu? Sebenarnya siapa yang busuk? Aku atau kamu yang mengurus laki-laki lain padahal sudah bersuami?"
"Gerdy bukan laki-laki lain bagiku!"
"Bagaimana kau bisa bilang Gerdy bukan laki-laki lain padahal sudah bukan siapa-siapa lagi? Pernahkah berpikir kalau kau sudah tidur seranjang dengan laki-laki yang paling dicemburuinya?"
Kau juga pernahkah berpikir kalau kau adalah perempuan yang paling kucemburui? Batin Nadine. Bagaimana aku rela membiarkan kau tidur seranjang dengannya?
"Aku tahu hal ini pasti terjadi!" tegas Katrin. "Maka itu aku menolak untuk jadi istrinya agar bebas pergi kapan saja! Berani kau sampaikan sendiri padanya?"
Jujur Nadine tidak rela mantan suaminya jatuh ke dalam pelukan kakaknya. Gerdy adalah cinta sejatinya. Tapi bagaimana dia menjaga cintanya sementara dirinya sudah bersuami?
__ADS_1