
"Kamu tidak memberi tahu keluarga, besok akan menikah?" tanya Dennis sambil duduk di sofa ruang tamu. Dia baru datang dari Jakarta.
"Nggak, Om," sahut Katrin. "Mereka juga nggak ngasih tahu aku waktu Nadine menikah."
"Kok dendaman sih?" tegur Dennis, sambil mengambil teh hangat di meja dan meneguknya. "Nadine menikah diam-diam karena takut beritanya tersebar."
"Aku juga menikah diam-diam takut beritanya tersebar. Ada saatnya warga tahu. Terima kasih atas bantuannya, Om."
"Tidak usah sungkan-sungkan menghubungi kalau butuh bantuan. Aku pasti bantu.
"Ya, Om."
"Setidaknya ibumu kasih tahu."
"Mami setujunya aku menikah sama si Dodi, tunanganku dulu. Ribet urusannya kalau dikasih tahu."
Katrin sudah terbiasa hidup mewah. Dia tidak mau hidup menderita karena menikah dengan mandor perkebunan yang gajinya cuma cukup untuk makan. Hidup tidak cukup berbekal cinta.
Dennis tidak bisa menyalahkan keponakannya, karena setiap orang berhak untuk hidup bahagia.
"Ada alasan kenapa keluargamu satu pun tidak ada yang hadir?"
"Cuma mereka yang nggak dikasih tahu, Om," jawab Nadine. "Keluarga besar kita sudah mengkonfirmasi untuk hadir. Bude sama Bulik bahkan sudah ada di dalam."
"Aku malas ketemu mereka," ujar Dennis dengan wajah sedikit keruh.
Katrin tersenyum. "Gara-gara Tarlita ya, Om?"
"Gara-gara suami adikmu," gerutu Dennis jengkel. "Sesama lelaki harusnya tahu. Dia kan bisa mengarahkan tantenya ke rumah siapa begitu."
Gerdy tidak bercerita tentang penggerebekan itu, pikir Katrin kelu. Apa dia mulai tertutup karena desakan istrinya?
Adik ipar adalah satu-satunya anggota keluarga yang berusaha bersikap adil. Mereka berkomunikasi secara rileks, sehingga tidak terjadi ketegangan.
Yang paling sulit diajak komunikasi justru Nadine. Baru mengangkat telpon saja sudah memancing perang. Omongan Katrin jadi melantur ke mana-mana. Padahal dia tak pernah berniat untuk merusak rumah tangga adiknya, meski tidak menolak jika adik ipar ingin tidur bersamanya.
"Kamu sedang tidak haid, kan?" tanya Dennis.
Katrin terkejut mendengar pertanyaan seperti itu, tapi disembunyikan di balik senyum malu-malu. "Om tanya haid kenapa?"
"Kan tidak boleh nikah kalau lagi haid."
Kirain mau apa, pikir Katrin merasa kecele. Dia sempat membayangkan sesuatu yang romantis dan bingung untuk menolaknya! Jika Om Dennis minta upah begituan atas kesediaannya jadi wali, bagaimana?
Keputusannya untuk cukup inses dengan Papi bisa berlanjut kayak sinetron. Omnya adalah buaya darat, dan disembunyikan di balik kopiah.
"Lagi tidak, Om," jawab Katrin santai. "Lagi pula aku tidak memikirkan aturan. Aku biasa hidup tanpa aturan untuk urusan ranjang."
"Kau harus pindah ke Eropa kalau begitu. Hidup serumah tanpa ikatan menyalahi tatanan kehidupan yang ada."
Dennis seakan menasehati diri sendiri. Dia hidup tanpa ikatan dengan Tarlita. Tapi dia tidak mau keponakannya berbuat hal yang sama, meski sekedar basa-basi.
__ADS_1
"Lagi pula kau sebentar lagi akan menjadi istri orang nomor satu di kabupaten," ujar Dennis. "Jadi kau harus memikirkan aturan dan hidup dengan aturan."
"Alah, semua itu cukup di mulut, pencitraan saja," bantah Katrin. "Kalau aku tidak puas dengan mas bupati, cukup pura-pura setia di depan publik."
"Kau akan selalu dahaga kalau melajur hasratmu. Nah, setelah jadi istri mas bupati kau tidak bisa begitu. Karir suamimu bisa hancur.
Katrin tersenyum kecut. Karir hancur karena tidak tahu triknya. Mereka bermain dengan orang-orang yang berani membongkar aib sendiri demi mendongkrak followers.
Kalau bermain rapi, semua berjalan biasa-biasa saja. Buktinya elektabilitas kepercayaan kepada Datuk Meninggi semakin melambung seiring melambungnya permainan di atas ranjang.
"Oh ya, waktu jadi wali si Nadine, Om dikasih apa?" tanya Katrin.
"Nggak dikasih apa-apa."
"Pelit banget adikku. Dia itu nikah sama sultan."
"Nikah diam-diam karena kecelakaan. Jadi suaminya tidak ada uang."
"Bohong kalau tidak ada uang. Dua atau tiga ratus juta pasti pegang."
"Tidak apa-apa. Sudah kewajiban aku jadi wali karena kakakku tidak memenuhi syarat."
"Tidak memenuhi syarat apa maksud, Om?"
"Sudahlah," elak Dennis seakan enggan untuk bercerita. "Yang sudah terjadi biarlah terjadi."
Katrin tidak tahu kalau Dennis sudah mengetahui skandal yang terjadi di rumah ini. Perempuan yang demikian cantik dan seksi seperti Katrin memang dapat membuat laki-laki lupa akan norma yang berlaku.
Katrin melihat wajah omnya begitu kusut. Pasti lagi kepingin. Tante Caroline sulit diminta, kemarahannya belum reda, hubungan dengan Tarlita sudah hancur, sementara dia tidak suka jajan sembarangan.
"Aku tidak minta apa-apa," jawab Dennis, berlagak tidak tahu ke mana arah ucapannya. Dia memang bajingan, tapi nanti dulu kalau harus menyantap keponakan. "Yang penting acara besok lancar."
Katrin merasa lega karena tidak perlu mengulang perbuatan terkutuk itu. "Tapi Om tenang saja. Aku transfer nanti seratus juta, aku minta nomor rekeningnya."
"Alah, tidak usah dipikirkan itu." Dennis sok menolak, padahal berharap. "Tapi ... kalau bisa jangan lewat rekening, gampang dilacak."
"Terserah Om gimana caranya." Katrin tersenyum. Sekali lagi melempar tawaran, meski dia sendiri tidak menginginkan. "Tapi beneran nih nggak pengen test drive? Daripada ngecer di luar loh, Om? Ketahuan netizen, pasti merembet ke mana-mana, ujung-ujungnya mereka senang kalau Om sudah jatuh miskin!"
Bulik muncul dari ruang dalam dan tampak surprise melihat keponakannya. "Kapan datang, Den?"
"Barusan, Bulik," jawab Dennis. Dan sebelum banyak pertanyaan yang membuatnya gerah, dia segera bangkit. "Badanku rasanya tidak karuan. Di mana aku bisa mandi?"
"Di kamar mandiku. Om juga bisa istirahat di kamarku, biar aku tidur sama Bulik."
"Kamar di rumah ini kan banyak?"
"Ada dua kamar lagi kosong. Tapi aku tidak mengijinkan laki-laki tidur di situ, kecuali laki-laki yang berhak."
"Kamar Nadine dan Prilly?"
"Ya," sahut Katrin pahit. "Kamar itu dibiarkan kosong sampai mereka pulang. Aku tidak berharap mereka pergi untuk selamanya."
__ADS_1
"Oh ya, bagaimana dengan papimu?" tanya Bulik. "Apa sudah ada kabar beritanya?"
"Belum, Bulik."
"Aku tidak tahu harus berdoa apa lagi untuknya." Wajah wanita itu berubah mendung.
"Yang sabar ya, Bulik. Semua ini pasti ada hikmahnya."
Katrin sendiri tidak tahu apa hikmah di balik kematian ayahnya? Barangkali azab adalah sebutan yang paling tepat. Terkubur tanpa nisan.
"Kamu sudah makan, Den?" tanya Bulik.
"Sudah," jawab Dennis singkat, padahal perut keroncongan. "Makan di jalan."
Dennis tahu Bulik lagi mencari celah buat menginterogasi dirinya. Apa lagi yang mau ditanya? Semua sudah jelas. Tarlita minta putus dan rumahnya di Bandung melayang. Rumah tangganya digantung. Hingga detik ini Caroline belum memaafkan, tapi menolak untuk cerai.
Hari ini jadwal Dennis padat sekali. Staminanya cukup terkuras. Dia harus menyiapkan energi buat besok. Selesai jadi wali nikah, dia langsung masuk kantor, ada tamu dari daerah.
"Yang mana kamarmu?" tanya Dennis.
"Makanya sering main ke mari," senyum Katrin. "Kamar keponakan saja tidak tahu."
Katrin mengantar Dennis ke kamarnya, kemudian kembali lagi ke ruang tamu, duduk santai menikmati suasana malam.
Bude datang dan bertanya, "Dennis mana?"
"Mandi di kamarku."
Bude terbelalak. "Di kamarmu?"
"Tenang saja, Bude. Aku tidak tidur bersamanya. Dia juga nggak mau kali. Aku tidur sama Bulik."
"Nah, terus bagaimana mami kamu? Dia bisa hadir besok?"
"Gak bisa, Budek. Pas barengan jadwal check up. Kalau di cancel, entah kapan lagi dokternya datang ke Indonesia."
"Tapi si Nadine dan suaminya kan bisa hadir. Cukup si Prilly yang ngantar."
"Nadine tidak bisa datang. Besok suaminya wisuda."
Nah, cuma informasi ini yang akurat. Katrin dapat kabar langsung dari Gerdy. Selebihnya dia terpaksa berbohong.
"Papimu belum pulang juga?"
"Belum, Budek."
"Ya sudah kalau begitu. Aku istirahat dulu."
"Ya, Budek."
Katrin biasanya jam segini sudah pergi tidur. Malam ini dia sangat gelisah. Bukan karena besok hendak menikah, tiba-tiba saja muncul pertanyaan dalam dirinya, apakah yang dilakukan pada Papi sudah benar?
__ADS_1
Rumah ini memang tenteram dan damai. Tapi melihat adik ipar begitu gigih mencari Papi, sebuah kecemasan mencuat deras. Dia tidak mau rumah tangganya nanti berantakan gara-gara kasus pria sampah itu!