Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Ingin Kembali Ke Masa Lalu


__ADS_3

Sebenarnya sudah beberapa hari Gerdy merasa pinggangnya sakit, tapi tak dihiraukan. Dia masih menjalankan aktivitas sebagaimana biasa. Jadi tukang ojek keliling pada malam hari, dan pagi harinya masuk kerja.


Dia hampir kedodoran menutupi biaya kuliah. Mendekati tahap akhir pendidikan semakin banyak pengeluaran. Dia harus kerja keras untuk mengamankan cita-citanya.


Sejak kuliah S2, Gerdy menyerahkan daerah kekuasaan kepada teman-temannya. Tak ambil bagian lagi. Bisa saja minta jatah. Tapi risikonya kalau ada apa-apa, dia mesti turun tangan. Dia ingin hidup teratur dan tenang supaya bisa memusatkan perhatian untuk belajar.


Siang itu pinggang Gerdy bertambah nyeri. Dia terpaksa meninggalkan lokasi kerja. Sambil duduk berselonjor di ruang istirahat, dipijit perlahan-lahan pinggangnya.


Nadine muncul di pintu. Dia sedang mencarinya karena tidak kelihatan di lapangan. Diperhatikannya Gerdy dengan heran.


"Kamu kenapa?" selidik Nadine sambil berjalan mendekat.


"Ada gangguan teknik sedikit," senyum Gerdy kecut. Di mata Nadine terlihat lebih mirip seringai kesakitan. "Maaf, saya istirahat sebentar."


Dalam keadaan seperti ini pun dia masih saja basa-basi, pikir Nadine kesal. Padahal sempat dilihatnya tadi dia meringis kesakitan.


"Kau jatuh?" tanya Nadine sungguh-sungguh. "Makanya kerja hati-hati."


"Saya bukan anak kecil yang baru bisa jalan."


'"Lalu kenapa?"


"Ibu tidak pernah sakit pinggang?"


Brengsek, geram Nadine dalam hati. Dia meledekku. Padahal tahu siapa yang memijitnya jika sakit pinggang karena kelelahan mengurus rumah, dan minta upah bercinta!


"Cuma orang mati yang tak pernah sakit," gerutu Nadine keki. "Kamu pasti masih ingat siapa perempuan yang sering dielus seperti itu."


Tiba-tiba Nadine teringat pada manusia aneh beberapa bulan lalu di rumah sakit, yang memberikan ginjalnya secara cuma-cuma. Dengan paras berubah, hati-hati Nadine duduk di tepi meja. Dia sampai tidak sadar kalau jarak mereka terlalu dekat. Untung sepi.


"Kau bukan sakit pinggang biasa, kan?" tatap Nadine tercekat.


"Ada berapa macam sakit pinggang?"


"Kau yang menyelamatkan ayahmu, kan?"


"Apa peduli Ibu?"


"Jadi benar kamu yang pura-pura jadi gembel?"


"Saya memang gembel."


"Mengapa tak pernah bilang padaku?" pandang Nadine sendu. Suaranya bergetar didera perasaan.


"Buat apa?"


"Tentu saja buat keselamatan dirimu."


"Ibu tidak usah kuatir. Kalau saya mati, sumbangkan saja mayatnya ke laboratorium, tak perlu keluar biaya." Gerdy bangkit dari duduknya. "Saya mau kembali ke lapangan."


"Biar nanti atasanmu mengawasi."


"Saya tidak enak."


"Kau perlu istirahat."


"Ibu jangan terlalu baik. Saya sudah cukup merepotkan perusahaan."


Nadine menghela nafas dengan sabar.


"Baiknya ambil cuti beberapa hari," katanya.

__ADS_1


"Kalau saya menolak?"


"Tentu tahu risikonya bila membantah perintah owner."


Tapi ketika Gerdy tidak masuk beberapa hari, Nadine justru cemas. Takut sakitnya tambah parah. Fungsi ginjalnya terganggu. Siapa yang merawatnya? Yang mengurus semua keperluannya? Oh, dia harus menghadapi penderitaan seorang diri!


Kejadian seperti ini tentu bukan pertama kali. Sepanjang waktu hidupnya berlalu dalam kesunyian. Malam-malamnya terlewati dalam kenestapaan.


Ingin rasanya Nadine kembali ke masa lalu. Merajut kenangan yang pernah terkoyak. Tapi dapatkah dia berlari sementara kakinya demikian ketat terikat?


"Kamu tahu alamatnya, Luk?" tanya Nadine pada laki-laki yang duduk di hadapannya.


Luki baru pulang dari daerah. Dia menghadap untuk menyampaikan laporan. Tapi pimpinannya lebih tertarik pada masalah Gerdy.


"Tidak," jawab Luki tawar. "Dia cuma bilang tinggal satu kota sama saya."


"Kota Bandung itu luas."


"Makanya."


"Sahabat macam apa kamu?"


"Gerdy bukan lagi sahabat seperti yang saya kenal. Banyak yang disembunyikan dari saya. Terakhir dia bicara jujur saat menolak jadi CEO junior karena tidak mau jadi sugar baby."


"Saya tahu itu," tukas Nadine hambar. "Dia tidak mau mengkhianati cintaku."


"Lalu saya kehilangan jejaknya."


"HRD tidak tahu?"


Terus terang Nadine tidak berani bertanya langsung. Bagian kepegawaian pasti curiga. Buat apa presiden direktris minta biodata tukang sapu?


"Yang diberikan alamatnya di Jakarta," kata Luki.


"Buat apa Ibu ingin tahu alamatnya?"


"Kok buat apa? Dia karyawanku dan sekarang lagi sakit."


"Dia sudah resign."


Nadine tersentak kaget. Mengundurkan diri? Kenapa begitu tiba-tiba? Apa alasannya? Kenapa dia sampai tidak tahu?


"Katanya dapat posisi lebih bagus di perusahaan lain."


"Perusahaan mana?"


"Entah."


"Dan kamu tidak berusaha untuk tahu? Benar-benar teman sejati!" sindir Nadine.


"Saya baru tahu tadi pagi dari HRD."


Terus terang Nadine tidak percaya dengan alasan Gerdy. Tidak mudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dalam persaingan dunia kerja yang kian ketat. Semua ini pasti gara-gara dirinya! Dia ingin menghindar dari bayang-bayang masa lalu!


Nadine tak mempersoalkan Gerdy keluar dari perusahaan. Itu haknya. Dia malah bebas berhubungan tanpa perlu khawatir ketahuan pegawainya. Tapi bagaimana Gerdy menghidupi dirinya?


Kalau kembali ke jalanan, jadi preman atau apapun namanya, risikonya sangat besar. Sama saja menggali kuburan sendiri. Dia tak boleh kerja berat, tak boleh terlalu lelah.


Dia bukan lagi seorang lelaki yang gagah perkasa, yang dapat menantang ganasnya ombak. Dia harus pintar-pintar memilih kehidupan demi keamanan ginjalnya.


"Ada apa?" Bradley yang malam itu ada di rumah dapat merasakan keresahannya. "Pegawaimu minta naik gaji?"

__ADS_1


Nadine menggeleng sambil matanya tertuju ke buku yang dibacanya. Dia tak ada masalah di kantor. Walau hampir tak punya waktu untuk mengelola perusahaan karena kesibukan kuliah dan mengurus Idyla, ada wakilnya menangani, dan lebih pengalaman.


"Dimarahi dosen?" desak Bradley lagi. "Sering telat masuk?"


"Cuma capek," kilah Nadine tidak enak. "Repot bagi waktu."


"Berhenti saja."


"Baru masuk masa sudah keluar lagi?"


'Aku sering keluar masuk universitas."


"Sayang-sayang biaya."


"Kalau tidak keluar masuk universitas, terus kuliahnya di mana?"


"Gitu deh." Nadine cemberut manja merasa kena prank.


"Jangan memaksakan diri," nasehat Bradley. "Nanti sakit."


"Kalau tidak punya titel, rasanya kurang pede. Mereka memujiku karena jabatan."


"Bukan karena kau cantik?"


"Aku minta Mas serius sedikit. Aku lagi butuh teman curhat."


"Habis direksimu mata keranjang semua. Sejak perusahaan dipegang kamu, mereka rajin sekali memberikan laporan. Jaman Mami mana mau menghadap kalau tidak dipanggil. Mami seram kali ya?"


"Aku tidak ada apa-apanya dibanding Mami."


"Nyatanya mereka jadi rajin laporan, terutama Luki."


"Mas tahu dari mana?"


"Laras."


Mendadak dada Nadine berdebar. Apa suaminya juga tahu keberadaan Gerdy di perusahaan? Soal keakraban mereka? Tapi melihat cerahnya wajah yang putih bersinar itu hatinya merasa lega. Ada untungnya juga mantan suaminya tidak jadi orang penting di perusahaan, sehingga luput dari perhatian sekretarisnya.


"Mas tidak cemburu?" pancing Nadine.


"Bukan dosa mengagumi wanita cantik."


"Tapi Mas seolah tak percaya padaku," tukas Nadine separuh merajuk. "Buat apa menginterogasi sekretaris segala?"


"Yang salah bosnya," senyum Bradley. "Tiap kali aku ngebel selalu lagi blusukan. Ponselmu sering tidak aktif. Sama siapa aku menanyakan kabarmu?"


"Mas bisa datang ke mari."


"Minggu-minggu ini aku banyak urusan di daerah. Kau tak mau proyekku terganggu karena ingin berjumpa denganmu, kan?"


Aku malah tidak tahu kamu punya tender di daerah, keluh Nadine dalam hati. Di Jakarta punya selingkuhan atau tidak pun, aku tidak tahu.


Dia tak pernah tahu kabar suaminya. Tak pernah ambil peduli. Menelpon juga bisa dihitung dengan jari. Kalau Bradley tidak menghubungi, mereka jarang komunikasi.


Suaminya pula yang mengambil inisiatif mengunjunginya. Sesekali Nadine pergi ke Jakarta. Itupun mengajak Idyla jalan-jalan sekalian mampir ke rumah omanya di kota satelit.


Bradley begitu pengertian. Mencoba memahami kesibukannya. Padahal bukan karena itu dia memperoleh sisa-sisa perhatiannya.


Bukan pula karena pembaringan yang selalu dingin. Dia kadang terkapar gersang menahan dahaga. Kemeriahan di ranjang adalah satu-satunya kelemahan yang belum mampu diperbaiki suaminya, padahal sudah berobat ke mana-mana.


Tapi kalau Nadine minta cerai, Bradley pasti lebih terluka lagi. Mengapa harus mempersoalkan sesuatu yang suaminya tak kuasa mengabulkan?

__ADS_1


Kemuliaan hatinya inilah yang membuat Nadine masih mampu menjaga kesetiaan, dan meredam pemberontakan di dadanya.


__ADS_2