Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Janji Suci


__ADS_3

Kebencian Umi kepada Nadine memang sudah lenyap. Sikapnya sangat bersahabat. Idyla juga sudah mendapat tempat sebagai cucunya. Tapi untuk menerimanya sebagai donor, meski sukarela, rasanya berat.


"Berilah kesempatan untuk menebus dosa saya, Umi," pinta Nadine menghiba. Tatapannya menggelepar penuh permohonan. "Demi ayah Gerdy."


"Dia bukan apa-apamu lagi," kata Umi datar. "Pergilah ke pangkuan suamimu."


"Gerdy sudah kehilangan anak-istri, Umi," keluh Nadine sambil menunduk kelu. Diperhatikannya ukiran meja yang berliku. Seperti itulah dirinya sekarang, berada di persimpangan. Dia rela bersuamikan Bradley, tapi tak bisa melupakan Gerdy. "Dia tidak boleh kehilangan ayahnya. Dia sangat mencintai orang tuanya, maka itu dia tak pernah berniat untuk pulang, tak pernah sudi memaafkan dirinya."


Umi terdiam bingung. Kondisi suaminya kian memburuk. Tapi sudah bolak-balik keliling kelurahan, belum menemukan donor juga. Bukan tidak tergiur oleh iming-iming hadiahnya, mereka takut dioperasi, takut mati.


"Suamimu bagaimana?" tanya Umi dengan pandangan bijaksana. "Tidak keberatan?"


"Dia lagi ada kunjungan pengusaha ke luar negeri."


"Kamu perlu minta persetujuan."


"Tak ada waktu, Umi. Kalau menunggu sampai suami saya pulang, suami Umi juga mungkin sudah pulang."


"Bisa kan dihubungi lewat handphone?"


Suaminya pasti mengizinkan. Dia tidak ada kuasa untuk menghentikan segala keinginannya. Tapi Nadine kuatir Bradley terluka mendengar permintaannya. Dia pasti mengira dirinya rela berkorban karena belum bisa melupakan masa lalunya!


Wisnu muncul bersama Karlina di pintu. Melihat gelapnya wajah mereka, Umi tak perlu bertanya bagaimana hasil pencarian donor hari ini.


"Kayaknya usaha kita sia-sia," keluh Karlina lesu. "Baiknya Umi terima saran aku, sebelum terlambat."


Dia sudah menyodorkan diri jadi donor. Orang tuanya juga mendukung. Tapi Umi sungkan menerimanya.


Karlina sudah banyak membantu. Menjaga rumah selama mereka berada di rumah sakit, mengurus buruh perkebunan, rumah makan, mesin giling padi, mencari donor. Mengapa harus berkorban sementara cincin kawin belum melingkar di jarinya?


Bahkan Karlina hampir gagal jadi menantu kalau Wisnu tidak bersedia menggantikan posisi kakaknya. Itu juga Umi mulai curiga anaknya sengaja mengulur-ulur pernikahan dengan dalih ingin menyelesaikan S2 dulu.


Andini tidak sanggup bertahan karena terlalu lama menunggu. Dia menemukan pelabuhan baru anak Datuk Meninggi. Orang tuanya langsung setuju dan membatalkan pertunangan secara baik-baik, karena mereka pada dasarnya merasa tidak enak pada keluarga Pak Lurah.


Dengan mundurnya Andini tidak membuat Karlina tenang jadi calon istri tunggal. Kehidupan Wisnu makin liar dan menyeret hubungan mereka pada situasi rumit.


"Baiklah." Umi menghela nafas berat. "Kita berangkat sekarang."


"Umi," potong Nadine dengan sinar mata protes. "Saya...."


"Kamu juga ikut. Sudah sepantasnya kamu berkorban. Karlina buat jaga-jaga."


"Terima kasih, Umi," kata Nadine senang.


"Tapi minta izin dulu sama suami."

__ADS_1


"Baik, Umi."


Nadine pura-pura menghubungi suaminya sambil melangkah ke luar rumah menuju ke mobilnya, sementara Umi dan Karlina berjalan ke mobil yang berbeda.


Wisnu membuka pintu depan untuk Karlina masuk dan membuka pintu belakang untuk ibunya.


Kemudian dua mobil mewah bergerak beriringan meninggalkan halaman.


Wisnu sebenarnya keberatan Karlina jadi donor. Dia tidak mau perempuan itu jadi bagian dari hidup ayahnya. Hingga detik ini hatinya belum menerima untuk menjadikannya istri.


Kepergian Andini membuat hatinya sedikit lega. Mereka berdua adalah calon istri pilihan ibunya yang sulit menaburkan rasa cinta. Barangkali karena seleranya adalah perempuan yang lebih tua.


Wisnu berharap ginjal Nadine cocok dengan ayahnya. Perempuan itu sudah seharusnya jadi bagian dari hidup ayahnya karena sudah mempersembahkan seorang cucu yang di dalam tubuhnya mengalir darah kakeknya.


Umi sudah menawarkan penggantian biaya operasi berikut hadiah lainnya agar Idyla bisa diboyong ke rumah. Tapi Nadine menolak karena tidak bisa hidup tanpa anaknya.


Situasi sempat memanas saat Wisnu mendukung ide Katrin agar adiknya menuntut cerai pada Bradley, dan dia siap untuk jadi suami pengganti.


Menurutnya Nadine jauh lebih cocok untuk jadi istri dibanding Karlina dan Andini. Tapi rencana itu menguap karena ditentang keras oleh ayahnya.


Abi seakan menginginkan dirinya hidup dalam cobaan dengan memperistri perempuan yang tidak sesuai dengan seleranya.


Dokter tersenyum melihat kedatangan mereka. Dia tahu untuk apa dua perempuan cantik itu dibawa ke rumah sakit.


"Sudah ada yang mendahului," katanya. "Suami Ibu sudah berada di ruang operasi."


"Negosiasi sama dokter?" tanya Wisnu.


"Saya tidak berani lancang," jawab dokter. "Yang memberi hadiah adalah saudara, bukan saya."


"Lalu?"


"Dia tidak menyinggung soal hadiah, kelihatannya tulus ingin membantu."


"Siapa orang yang demikian baik itu, Dok?" sambar Umi ingin tahu.


Sebelum menjawab, dokter mengamati mereka sekilas seolah ingin membaca hatinya.


"Seorang gembel," ujarnya hati-hati. "Maaf, saya tidak punya pilihan selain menolong pasien secepatnya."


"Saya tak peduli statusnya apa," tukas Umi. "Di mana orangnya sekarang?"


"Di ruang pasca operasi. Silakan kalau mau menemuinya."


Belum juga mereka sempat meninggalkan ruangan, seorang suster sudah menerobos masuk dengan tergopoh-gopoh.

__ADS_1


"Dok ...," lapornya gugup. "Pasien di ruang pasca operasi pergi."


Mereka terperangah. Umi sampai ternganga lebar. Pergi?


"Kenapa diizinkan?" tatap Dokter marah. "Kamu tahu kondisinya bagaimana."


"Saya tidak tahu kapan perginya, Dok," kata suster. "Waktu saya datang, kamarnya sudah kosong."


Seorang gembel meninggalkan uang satu milyar begitu saja? Tercengang Nadine. Gembel macam apa dia? Sementara untuk menyambung hidup harus mengorek sebutir nasi di jalanan!


"Dokter punya alamatnya?" pandang Wisnu bingung.


Dokter menggeleng kecut. "Kelihatannya dia tidak tergiur dengan uang saudara. Dia seolah ingin menunjukkan pada kita bahwa hatinya tidak sehina pakaiannya."


"Gerdy...!" pekik Nadine tertahan. "Pasti dia...!"


"Tapi apa mungkin anakku jadi gembel?" cetus Umi ragu. "Apakah separah itu kehidupannya setelah berpisah denganmu?"


"Dia ingin pergi dariku untuk selamanya...!" desis Nadine separuh menangis. "Dia sudah mengelabui aku...!"


Umi memandang tak mengerti. "Maksudnya?"


"Aku tadi berpapasan di parkiran dengan seorang gembel...!"


"Berarti belum jauh...," gumam Wisnu.


Dia segera berlari ke parkiran lewat pintu belakang. Barangkali kakaknya masih berada di sana. Tapi langkahnya tertahan di pintu keluar karena cuaca sangat buruk.


Hujan turun amat deras. Pedang langit saling menikam dengan seru. Tak peduli jerit guntur yang terjebak.


Gerdy melangkah terhuyung menerabas tirai hujan meninggalkan rumah sakit. Tubuhnya sangat lemah. Tak bertenaga. Hanya karena kekuatan hatinya dia sanggup berjalan menuju ke tempat suci itu.


Ketika melalui jendela kaca ruang pasca operasi dilihatnya kereta brankar yang membawa ayahnya dihela begitu cepatnya, ketika sempat didengarnya perbincangan dokter mengenai kondisi ayahnya yang kian memburuk, ada sesuatu yang melecut dadanya untuk bangkit dari pembaringan. Kelangsungan hidup ayahnya tidak hanya bergantung pada ginjal pemberiannya.


Tak dihiraukan dingin yang menggigit tubuhnya. Tak dipedulikan pakaiannya yang basah kuyup. Berkali-kali dia jatuh tersungkur, tapi bangkit kembali dengan berbekal harapan itu.


Ketika kakinya sudah tidak mampu lagi melangkah, dia merayap menaiki tangga ke pintu rumah suci itu. Dia harus berhasil mencapai tujuannya, karena di sanalah tersimpan kehidupan ayahnya!


Dalam temaram lampu mesjid, Gerdy bersimpuh di ambang pintu. Matanya menerawang ke depan seolah ingin menembus batas waktu. Dua bulir air mata jatuh membelah wajahnya.


"Sudah lama aku tidak datang ke hadapan-Mu," desis Gerdy pedih. "Bukan aku tidak rindu. Aku malu. Malu sekali. Terlalu putih janji yang dikhianati. Terlalu hitam dosa yang digoreskan. Ketika seorang laki-laki mengambil anak dan istriku, aku tidak mengadu pada-Mu. Aku marah. Benci. Aku jalani hidup dengan keangkuhanku...."


Gerdy mengusap air mata yang membanjiri wajahnya. "Tapi kali ini, sekali ini, dengan segenap rasa malu aku datang ke hadapan-Mu. Memohon rasa iba-Mu. Jangan ambil ayahku. Jangan biarkan dia pergi. Aku berjanji, akan kuserahkan jiwa ragaku untuk-Mu jika Kau serahkan ayahku pada mereka...."


Perlahan Gerdy bangkit, dan bersamaan dengan dia meninggalkan tempat suci itu, ayahnya pun meninggalkan ruang operasi dalam keadaan selamat.

__ADS_1


Dokter sendiri heran. Entah kenapa tensi darah yang terus menurun selama operasi tiba-tiba saja naik stabil. Padahal bermacam obat sudah tak mampu merangsangnya.


"Terima kasih, ya Allah," bisik Gerdy begitu tahu operasi ayahnya berjalan sukses. "Akan kupenuhi janjiku pada-Mu."


__ADS_2