Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Geger


__ADS_3

Berita itu datang tepat pada saat orang tua Gerdy tiba di rumah. Udara pagi yang dingin mendadak panas membara. Merobek fajar menyingsing. Sungguh berita yang menggemparkan!


Nadine punya bayi! Bayi itu anak Gerdy! Putera orang terpandang! Dan baru pulang menunaikan ibadah haji! Kapan mereka menikah?


Gerdy sendiri bagai dihantam petir di pagi buta. Bagaimana sampai Bradley datang memberi kabar? Dan dia menolong Nadine! Apa yang terjadi dengan istrinya?


Tapi semua sudah terlambat untuk bertanya. Dia terpaksa harus menyaksikan kehebohan yang terjadi.


Surya berusaha memadamkan api yang berkobar itu, "Mereka sudah menikah sepuluh bulan yang lalu. Aku tidak perlu menjelaskan kenapa mereka sampai berani menikah secara diam-diam. Yang jelas, lelaki yang datang tadi adalah calon yang disiapkan untuk Nadine kalau temanku tidak segera mengambil jadi istrinya."


"Jangan mentang-mentang teman terus kamu bela maksiatnya," tegur seorang bapak dalam kerumunan di sisi jalan. "Mereka nikah bawah tangan atau apa?"


"Mereka menikah secara resmi." Surya menunjukkan chat berisi buku nikah yang dikirim Nadine sembilan bulan yang lalu. "Kalian lihat tanggal pernikahan ini. Nadine sengaja mengirim lembaran buku nikah agar sahabatnya percaya kalau mereka sudah resmi berumah tangga. Kalian lihat juga foto pengantin ini. Bulan kapan temanku mengirim. Jadi aku heran dengan bisik-bisik kalian."


"Jadi bayi itu bukan lahir di luar nikah?" tanya seorang pemuda.


"Kamu kurang jelas lihat chat ini?" bentak Surya. "Mata saja kayak ikan maskoki."


Surya sengaja menyimpan bukti itu untuk meredam kegemparan jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Dia tidak menyangka rahasia ini bocor pada saat ribuan warga berkumpul menyambut kedatangan keluarga terkaya itu dari Tanah Suci.


Surya akhirnya sibuk menunjukkan bukti kepada warga yang berkerumun dan berkomentar miring. Warga yang tahu kabar kelahiran bayi sebetulnya cuma sebagian kecil, orang-orang di sekitar tenda penyambutan saja. Mereka mendengar pembicaraan Bradley dengan Gerdy yang mendampingi orang tuanya, sehingga kegemparan tidak meluas. Tapi dampaknya tetap dahsyat.


Abi berusaha tegar di hadapan orang banyak. Dia masih mampu menyampaikan sambutan di podium dengan sepotong senyum, mengucapkan terima kasih atas kehadiran warga dan minta maaf tidak dapat melaksanakan open house untuk menerima ucapan selamat karena mereka perlu istirahat. Sementara Umi langsung pingsan. Kabar itu terlalu.dahsyat untuk direkam kesadarannya.

__ADS_1


Ketika warga yang menyambut kedatangan mereka mulai pergi, ketika suasana rumah mulai sunyi, ketegaran Abi runtuh juga bersama butiran bening yang mengalir di sudut matanya.


"Jadi ini hadiahmu untuk menyambut kepulangan Abi?" desis ayahnya dengan suara tertahan. "Jadi ini ucapan selamatmu?"


Gerdy bersimpuh di hadapannya dengan segenap rasa sesal tanpa berani menatap mata yang terpuruk itu. "Maafkan aku, Abi.... Maafkan aku...."


Gerdy menunduk dalam-dalam. Dia tak sanggup melihat tatapan ayahnya. Tatapan itu bukan tatapan murka seorang ayah. Bukan tatapan menumpahkan seluruh api kebencian. Tatapan itu adalah tatapan seorang ayah yang merasa dikecewakan anaknya. Tatapan yang lebih perih dari seribu lecutan cemeti sekalipun!


"Mengapa ini sampai terjadi, Gerdy?" Suara Abi demikian sakit menusuk gendang telinganya. "Mengapa kamu sampai tega menghancurkan kehormatan Abi?"


"Maafkan aku, Abi.... Maafkan aku...."


Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Gerdy. Selebihnya tenggelam dalam penyesalan yang mengalir lewat linangan air matanya. Kata-kata Abi seolah menjebloskan dirinya secara perlahan ke lorong azab yang tiada ujung.


"Kamu satu-satunya pemuda di kelurahan ini yang mampu menembus perguruan tinggi negeri ternama. Satu-satunya pemuda yang jadi simbol pendidikan warga. Mengapa kamu pula satu-satunya pemuda yang berani berbuat sehina ini? Apa kesalahan Abi sehingga kamu demikian kejam menghukum orang yang baru pulang dari pertaubatan ini? Apa kesalahan Abi, Gerdy? Apa?!"


Tangis Abi pun meledak. Meratapi keruntuhan harga dirinya. Ya Allah! Aku sudah memenuhi panggilan suci-Mu! Mengisi setiap bulir darahku dengan tetes firman-Mu! Mengapa Kau kirimkan bencana yang aku tak kuasa menghadapinya?


Di dalam rapat warga, dia sering menghimbau agar mereka menjaga anak baik-baik, mencegahnya dari kehidupan bebas. Dia sendiri lalai! Tak bisa membentengi anaknya dari bujukan setan! Di mana harus ditaruh mukanya?


Hal ini pula yang jadi pikiran Umi di dalam kamarnya. Sejak siuman dia tak henti-hentinya menangis. Tak mampu berkata-kata.


Akhirnya apa yang dikhawatirkan terjadi juga! Anaknya tergoda rayuan busuk gadis itu! Pernikahan diam-diam terjadi pasti ada sebabnya! Mereka telah mencorengkan arang pekat di mukanya tanpa tahu bagaimana membasuhnya!

__ADS_1


Bagaimana dia menghadapi ibu-ibu pengajian? Bagaimana menangkis cemoohan orang-orang yang jadi bahan gunjingannya? Bahkan anaknya lebih bejat! Bayi sudah keluar baru lapor! Itupun bukan dari mulutnya sendiri!


Umi tidak melontarkan kemarahan apapun ketika anaknya muncul di pintu kamar. Dia cuma ingin menangis. Membiarkan air mata jatuh berderai membilas kesedihannya.


Gerdy sampai tidak jadi melangkah masuk. Dia berdiri termangu di ambang pintu. Matanya memandang ibunya dengan perasaan hancur.


Tidak ada lagi sosok ibu yang keras setiap kali dia membantah nasehatnya. Tidak ada lagi wajah yang beringas setiap kali dia pulang larut malam. Suara yang kadang terdengar nyaring itu tenggelam dalam tangis pilunya. Tatapannya yang galak terpuruk luruh tanpa mampu bercerita apa-apa. Semua itu karena Gerdy! Dia sudah merenggut seluruh kebahagiaan di wajahnya!


Mungkin kejadiannya akan lain kalau dia melapor sejak dini. Walau sulit memberi maaf, mereka bisa mencari jalan keluar. Banyak cara untuk tidak kehilangan muka.


Tapi Gerdy memilih jalannya sendiri! Jalan yang membuat mereka tak punya pilihan kecuali merelakan kehormatan tercabik-cabik dengan kejamnya! Dan mereka tidak butuh pertanggungjawaban apapun. Nasi sudah jadi bubur.


Mereka bahkan tidak memuntahkan kemarahan sedikit pun. Tidak merajamnya dengan sumpah serapah apapun. Mereka seakan ingin membiarkan Gerdy mendakwa dirinya sendiri.


"Kalau boleh memilih, mereka barangkali lebih baik tinggal di Tanah Suci daripada harus menerima kenyataan pahit ini," keluh Wisnu yang muncul di belakangnya, muram. "Kenyataan yang sulit mereka terima."


Abi dan Umi tidak boleh tersungkur lama-lama di lembah duka, batin Gerdy pedih. Mereka harus segera menemukan kembali kehidupan yang hilang. Dan itu tidak mungkin terjadi kalau sumber malapetakanya selalu menghias hari-hari mereka. Sudah waktunya dia pergi dari rumah ini!


Menjelang tengah malam, Gerdy masuk diam-diam ke kamar orang tuanya. Mereka sudah terlelap. Entah kelelahan pulang dari Tanah Suci, atau ingin beristirahat sejenak dari beban duka itu.


Hati-hati Gerdy bersimpuh di depan kaki orang tuanya. Kepalanya menunduk dalam-dalam.


"Ampuni aku, Abi Umi, ampuni aku." Gerdy menangis tanpa suara. Air mata bergulir membasahi pipi. Pedih. "Anggaplah Abi tak pernah menyisakan keringat buat aku. Anggaplah aku tak pernah lahir dari rahim Umi. Aku pamit...."

__ADS_1


Gerdy mengecup kaki kedua orang tuanya, lalu bangkit perlahan. Sekali lagi dia melihat wajah kedua orang tuanya. Air muka mereka tampak menggelap. Barangkali tengah bermimpi tentang petaka ini, tapi tak mampu untuk terjaga!


__ADS_2