
Kepergian Mami dan Prilly dari rumah mengundang kecurigaan Sastro.
"Kamu usir mereka atau bagaimana?" selidiknya.
"Masa aku mengusir keluargaku sih, Mas?" balik Katrin. "Mereka ingin tinggal di rumah Nadine untuk sementara."
Sastro menatap surprise. "Jadi Nadine sudah punya rumah?"
"Dia kan fotomodel, sales juga, ya mampu lah beli kalau rumah begitu-begitu saja."
"Kok mendadak banget perginya?"
"Tidak mendadak kok. Mas saja jarang di rumah, jadi tidak tahu perkembangan."
"Perkembangan apa?" tatap Sastro menusuk. "Apa ada skandal baru di rumah ini?"
"Skandal apa?" Katrin balas menatap dengan tajam. "Papi sudah kapok menggasak pembantu sejak kepergok sama Mas."
"Kapok apa ada gantinya?"
"Maksud Mas apa?" sambar Katrin tersinggung. "Prilly tidak mungkin jadi pengganti. Nadine jarang pulang. Mas menuduh aku?"
"Kok jadi nyorot ya? Aku kan cuma nanya."
"Pertanyaan Mas bikin muntap! Lagi pula apa masalahnya mereka tinggal di rumah Nadine ?"
"Bebannya jadi bertambah. Kasihan. Wanita secantik Nadine tidak pantas menderita."
"Maksudnya apa bilang cantik?" tatap Katrin geram.
"Wajar kan aku memuji adik ipar?" balik Sastro santai. Dia tidak tersinggung dicurigai karena hatinya sudah tertutup oleh debu kehidupan. "Wajar juga aku merasa kasihan."
Katrin mendengus sinis. Suaminya menaruh simpati bukan bentuk perhatian kepada adik ipar, tapi sebuah siasat busuk untuk memangsa mereka pada waktu yang tepat.
Maka itu Katrin selalu meminta Prilly untuk mengunci pintu kamar jika hendak tidur atau ganti baju. Gadis yang beranjak dewasa itu mulai memancarkan pesona yang bisa membuat laki-laki gelap mata.
Nadine seringnya pulang pada saat Sastro tidak ada di rumah. Jadi adiknya yang paling cantik itu aman dari terkaman suaminya. Lagi pula, dia cukup pengalaman untuk menghadapi buaya darat.
"Mimin juga tinggal dengan Nadine?" tanya Sastro.
"Ya."
"Apa urusannya?"
"Jelas ada urusannya, Nadine belum punya pembantu."
"Lalu kamu punya? Mimin sangat dibutuhkan di rumah ini."
Katrin memandang suaminya dengan tajam. "Mas tahu kenapa Mimin pergi? Kenapa semua pembantu tidak betah dan minta berhenti? Mas sendiri sebetulnya gatal!"
"Enak saja bawa-bawah aku," protes Sastro. "Aku memang suami brengsek, tapi punya mata. Aku tidak sudi menyikat pembantu. Mereka pergi karena bajingan tengik itu."
"Jangan hina Papi. Dia mertuamu."
"Lalu kenapa kau hina suamimu dengan tuduhan keji itu? Kamu pernah lihat aku masuk kamar pembantu? Kalau aku sering lihat Papi masuk kamar mereka!"
"Sering? Jadi bukan sekali saja Mas memergoki Papi? Jangan-jangan jadwalnya berbenturan!"
"Jangan menuduh tanpa bukti," dengus Sastro dingin. "Pikirkan saja kejadian yang pernah kau lihat buktinya. Kapok adalah satu-satunya kata yang tidak ada di kepala ayahmu."
"Aku sudah sering menasehati Papi. Jadi Mas jangan mencurigainya terus."
"Tukang mabok memangnya dengerin omongan orang? Omongan setan baru didengerin."
"Jadi mas ngaku diri mas orang dan papiku setan? Asal mas tahu ya, dengan jadi setan dia dapat duit ratusan juta per bulan! Dan siapa yang membuat dia jadi setan? Yang ngakunya orang! Kamu!"
Sastro adalah pria hidung belang yang mengagungkan kenikmatan dunia, tanpa peduli etika dan norma. Mami juga pernah jadi sasaran.
__ADS_1
"Aku ini mertuamu," geram Mami marah saat habis mandi Sastro masuk kamar tanpa permisi. "Pergi saja ke istri tua kalau kamu benar-benar membutuhkan."
"Rini tinggal di Jakarta," seringai Sastro mengandung nafsu keji. "Aku butuhnya sekarang. Jadi apa salahnya kalau kita saling tolong-menolong?"
"Saling tolong-menolong apa?" belalak Mami gusar. "Kau pikir aku sudah gila?"
Sastro tersenyum sinis, "Kalian pasti mati kelaparan kalau aku tidak mengambil anakmu jadi istri. Kalian harusnya bersyukur sudah diselamatkan dari kebangkrutan. Tapi apa timbal baliknya? Kalian menganggap aku binatang."
"Kalau manusia, ada rasa malu untuk minta begituan kepada mertua."
"Aku minta bantuan karena aku tidak berselera dengan perut buncit istriku."
"Dan menurutmu itu bukan binatang?" pandang Mami dingin. "Aku tahu kamu barusan dari kamar anakku, dan baru keluar setelah Prilly mengancam dengan pistol. Apa kamu mengharapkan yang lebih buruk dariku?"
"Ancaman seperti itu seharusnya ditujukan pada Papi."
"Aku sungguh menyesal punya menantu kamu," desis Mami muak. "Meskipun cuma menantu kontrak."
"Tapi Mami tidak menyesal punya suami binatang."
"Dia jadi begitu gara-gara kamu!" sergah Mami tersinggung. ""Enak saja bilang suamiku binatang!"
"Lalu inses apa namanya kalau bukan binatang?"
"Jangan asal kamu!" delik Mami geram. "Siapa yang inses?"
"Di rumah ini cuma ada dua laki-laki. Katrin hamil. Aku tahu istriku tidak pernah jajan di luar. Lalu siapa yang membuatnya hamil? Aku tidak mungkin karena aku mandul."
"Dusta kamu!" bentak Mami sengit. "Aku dengar sendiri pengakuan istri tuamu! Dia mandul! Maka itu dia melamar anakku untuk kawin kontrak!"
Sastro tersenyum licik. "Aku sudah menukar hasil tes lab. Aku benci jadi orang miskin karena Rini pasti menceraikan aku kalau tahu aku mandul. Dia butuh keturunan untuk mewarisi dinasti bisnisnya."
Mami kaget bukan main. Dia sampai kehilangan kata-kata. Matanya memandang menantunya dengan tak percaya.
"Anak yang ada di perut Katrin adalah anak ayahnya," kata Sastro. "Aku sudah tes DNA tanpa sepengetahuan mereka. Hasilnya ada di tas kerja jika Mami mau bukti."
"Silakan lapor," tantang Sastro. "Balasannya pasti sangat menyakitkan untuk keluarga ini. Hukuman paling ringan diusir dari kampung, dan jangan harap tersisa nama baik, untuk selamanya."
Mami terlihat syok. Dia berdiri mematung di depan cermin rias.
"Bagaimana?" tanya Sastro penuh kemenangan. "Mami mau hal itu terjadi?"
Mami diam. Sastro berjalan mendekat dan berdiri di belakangnya.
"Mami harusnya bersyukur bisa bercinta denganku. Aku jauh lebih muda dari Papi. Dan cukup kita berdua yang tahu anak siapa yang ada di kandungan istriku. Hasil tes DNA membuat aku jijik bercinta dengannya."
Sastro memeluk mertuanya dari belakang, lalu mencopot tali kimono. Mami membiarkan saja kimono dilepas sehingga terlihat tubuhnya yang seksi.
Keluarga ini sungguh tidak bermartabat, pikir Mami sedih. Padahal dulu keluarga ini cukup terhormat. Sebuah pengkhianatan membuat suaminya bangkrut dan kecewa berkepanjangan.
Kedatangan Sastro menambah rusak keadaan. Dan tidak ada alasan untuk Mami dan Prilly tinggal di rumah ini ketika skandal inses terbukti benar.
***
Kepergian mereka bukan cuma membuat Katrin pusing, bikin repot juga. Dia harus menggantikan posisi mereka untuk mengurus rumah sementara belum ada gantinya.
Katrin butuh asisten rumah sekurang-kurangnya empat orang. Satu di dapur, satu tukang kebun, dua lagi mengurus rumah yang selama ini ditangani Mami dan Prilly.
Katrin hanya sempat membersihkan kamar yang ditempati dan kadang masak. Perut buncit membuatnya senang bermalas-malasan.
Rumah jadi tidak terurus. Cari pembantu baru sulit, mungkin mereka muak dengan kelakuan penghuninya. Mereka berpikir dua kali untuk melamar kerja meski bergaji besar.
Katrin sempat berpikir untuk merekrut beberapa PSK. Jadi tidak masalah dengan kondisi itu. Tapi apa bedanya dengan rumah bordir?
Pagi itu Katrin sibuk masak di dapur menyiapkan sarapan. Dia mencacah bumbu untuk membuat nasi goreng spesial.
Sastro ada di rumah. Kalau suaminya lagi gilir, dia makan di luar. Jadi masak kalau ada suami saja.
__ADS_1
Papi muncul di dapur dengan mulut bau minuman. Dia baru pulang dari semalam.
"Aku capek menasehati," gerutu Katrin jengkel. "Papi itu maunya gimana sih?"
Katrin menumpahkan bumbu ke penggorengan. Dia menepiskan tangan Papi yang hendak menyingkapkan baju hamil.
"Jangan sekarang," sergah Katrin. "Suamiku ada di rumah."
"Alah, paling bangun siang."
"Mas Sastro menunggu di kamar. Dia minta dibuatkan nasi goreng."
"Orang kaya sukanya nasi goreng," ejek Papi.
Katrin menuangkan nasi ke penggorengan dan mengaduknya agar bumbu meresap.
"Papi minum apa sih?" tegur Katrin. "Aromanya tidak enak banget."
"Oplosan."
"Papi tidak baca berita di media sosial banyak orang meninggal karena minuman oplosan."
"Teman judi ku ulang tahun. Tidak enak kalau menolak."
Katrin sebenarnya tidak peduli apapun yang dilakukan papinya. Mati gara-gara minum oplosan juga bodo amat. Tapi dia butuh bantuan untuk mencari orang-orang yang disayanginya.
Maka itu Katrin membiarkan saja tangan Papi bergerilya lagi. Pemabuk itu kalau tidak dilayani pasti merengek kayak anak kecil.
"Jangan grasah-grusuh," pinta Katrin saat Papi mulai beraksi dari belakang. "Aku lagi masak. Tanganku nanti kena minyak."
Keluar jawaban tidak jelas dari mulut Papi karena pikirannya sudah terbang ke awan.
"Papi bantu aku nanti," kata Katrin sambil tangannya sibuk mengaduk nasi di penggorengan, mulutnya juga sibuk mengeluarkan suara-suara tidak jelas.
Perhatian yang kurang dari suami di saat periode kedua kehamilan membuat Katrin sulit menolak keinginan ayahnya.
Barangkali suaminya tidak berselera dengan perempuan hamil.
"Bantu apa?" tanya Papi antara sadar dan tidak, terbakar kenikmatan.
"Mencari Mami dan Prilly."
"Biarkan saja tidak usah dicari."
"Tidak boleh begitu," tegur Katrin lembut. "Mereka keluarga kita."
"Mereka pergi meninggalkan kita. Apa itu disebut keluarga?"
"Mereka pergi karena perbuatan kita."
"Perbuatan apa? Apa salah kita? Kamu lahir dari air maniku, maka wajar sudah besar jadi penampungan!"
Pikiran Papi lagi kacau, keluh Katrin dalam hati, kebanyakan minum. Percuma diajak bicara.
"Kenapa aku tidak mau mencari mereka?" geram Papi. "Aku tidak butuh mereka."
"Tapi aku butuh mereka. Karena aku sangat sayang sama Mami, Papi ada di belakangku sekarang. Bagaimanapun caranya mereka harus kembali ke rumah. Aku tidak bisa hidup tanpa mereka."
"Baby...!" Tiba-tiba terdengar panggilan Sastro dari ruang dalam. "Sudah selesai belum nasi gorengnya? Aku lapar!"
Mereka segera merapikan pakaian, permainan sudah mencapai puncak.
"Lama sekali bikin nasi gorengnya," kata Sastro sambil muncul di dapur.
"Kompor meleduk," sahut Katrin tanpa rasa gugup sedikit pun. "Untung ada Papi yang membetulkan."
"Sudah beres kan?" tanya Papi. "Aku istirahat dulu."
__ADS_1
Kalian pikir aku bego, geram Sastro dalam hati. Tapi aku akan berpura-pura bego untuk mendapatkan segalanya!