Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Menanti


__ADS_3

Dua bulir air mata jatuh membelah wajah Nadine. Sia-sia dia menunggu kedatangan suaminya. Lelaki itu tidak muncul sampai jam besuk berakhir, atau mungkin tidak akan pernah datang.


Mami yang menungguinya sudah tertidur di sofa, sementara Mimin pulang. Dia tidak mau mereka jatuh sakit karena kurang tidur semalaman. Lebih baik gantian menemani.


Nadine menyesal tidak mendengar omongan suaminya. Jika Gerdy tidak pulang, ketidakhadiran dalam penyambutan orang tuanya dari Tanah Suci beritanya pasti tidak sedahsyat kelahiran bayi ini! Tapi semua sudah terjadi!


"Aku betul-betul heran," kata Bradley siang tadi. "Baru kali ini kulihat seorang ibu pingsan mendengar menantunya melahirkan. Ada apa, Nad? Mereka tidak merestui pernikahan kalian?"


Nadine yakin apa yang dilihat Bradley cuma sebagian kecil dari peristiwa yang terjadi. Dia bersyukur rumahnya kosong saat pemuda itu datang. Entah pergi ke mana Katrin. Padahal sudah pulang dari persalinan di rumah sakit. Jika tahu, dia pasti langsung datang. Bukan untuk besuk, tapi mengambil ibu dan adiknya.


Orang tua Gerdy benar-benar jadi pikirannya. Bagaimana murkanya mereka pulang dari Tanah Suci, bukan salam Illahi yang disuguhkan, malah seorang bayi! Cucu pertama dari hasil pernikahan diam-diam karena hamil duluan!


Sanggupkah Gerdy bertahan? Mampukah membela diri dari dakwaan orang tuanya? Atau justru pasrah menerima keadaan? Patuh pada perintah mereka untuk meninggalkannya dan menikah dengan Karlina!


Diam-diam Nadine merasa takut. Andai dugaannya benar, dia berarti harus mengarungi hidup seorang diri bersama sang buah hati. Makhluk mungil yang tidak tahu apa-apa. Yang cuma menangis kalau merasa lapar. Oh, Tuhan! Bagaimana dia menghadapi tantangan hidup yang ganas ini dengan beban berat di pundaknya?


"Belum tidur?" Suster jaga muncul di pintu. Dia heran melihat makanan di atas meja masih utuh. "Kenapa Ibu belum makan? Ibu harus banyak makan untuk memulihkan kesehatan."


Ibu. Sejak punya bayi, Nadine harus membiasakan diri mendengar panggilan itu. Dia sudah menjadi seorang ibu.


"Tidak lapar, Sus," kata Nadine singkat.


"Tubuh Ibu sangat membutuhkan nutrisi," nasehat suster ramah. "Saya dengar dari suster lain Ibu paling sedikit makan. Kenapa? Tidak suka sama menunya?"


Nadine terpaksa menyuguhkan sepotong senyum. "Enak kok. Suster periksa saja dulu pasien lain. Makanan itu pasti sudah habis kalau suster kembali ke mari."


Suster membaca pengusiran halus dalam sinar matanya yang gelap. Tapi dia tetap menjaga kesopanan. Dia pamit setelah menitip beberapa pesan.


Rumah sakit ini sangat memuaskan. Di samping fasilitasnya serba mewah, pelayanannya tidak mengecewakan. Tentu saja semua diimbangi dengan biaya yang sangat mahal. Teringat itu Nadine jadi gelisah.


Dia ingin pulang sesegera mungkin. Dia tidak punya cukup uang tunai untuk membayarnya. Mengambil tabungan harus Gerdy sendiri atau ada surat kuasa. Kamar VVIP ini di luar klaim jaminan kesehatan. Jadi Nadine mesti bayar sendiri. Dia perlu uang tunai untuk keluar dari rumah sakit ini.


Bradley entah datang lagi entah tidak. Lagi pula, Nadine tak mau merepotkan. Dia sudah berbaik hati menemani sepanjang siang. Membelikan buah-buahan segar.


Lelaki itu pula yang pertama kali menyampaikan selamat kepadanya. Yang pertama kali memberi hadiah, barangkali pula kado satu-satunya buat si kecil. Padahal cintanya pernah ditolak, dan ada yang lebih pantas melakukan.


Laki-laki yang lebih berhak itu sendiri baru muncul setelah waktu besuk terakhir lewat beberapa jam. Mata Nadine yang sudah separuh terpejam membuka kembali.


"Kukira sudah tidur," kata Gerdy.


"Aku tidak bisa tidur," desis Nadine tercekat. "Aku menunggumu."

__ADS_1


Dia terenyuh melihat keadaan suaminya. Tubuhnya tampak lesu. Wajahnya pucat kurang tidur. Mungkin semalaman terjaga menunggu kepulangan orang tuanya di lokasi penjemputan. Dan seperti ada yang coba disembunyikan di balik tatapannya.


"Kamu diusir orang tua?" tanya Nadine ingin tahu. "Tidak boleh lagi tinggal di istana itu?"


"Mereka terlalu baik untuk mengusirku," sahut Gerdy sambil duduk di kursi dekat wajahnya. "Tapi aku terlalu kotor untuk tinggal bersama mereka."


Nadine tidak berkomentar apa-apa. Bagaimana juga dia beruntung suaminya tidak diambil oleh mereka.


"Kita mesti tabah, beb." Gerdy menggenggam tangan istrinya dengan lembut. "Aku tak punya siapa-siapa lagi. Kita arungi kehidupan ini berdua."


"Bertiga," sahut Nadine terharu. "Sama anak kita."


"Ya bertiga, dengan anak kita."


Nadine mencoba tersenyum. "Kau belum kasih selamat padaku. Biar kamu tak mengharapkan kehadiran anak itu, ibunya sangat mengharapkan ungkapan kasih sayang dari pria yang dicintainya."


"Hampir lupa." Gerdy membungkuk mencium dahi istrinya. "Terima kasih, sudah memberi hadiah terindah di hari ulang tahunku."


"Sudah disiapkan kado untukmu."


"Apa?"


"Beli peralatan bayi."


"Kamu lupa beli botol susu padahal itu sangat perlu, biar tidak rebutan sama ayahnya kalau malam-malam," canda Nadine tersenyum.


Gerdy terkejut. "Masa tidak ada? Perasaan itu yang pertama kupikirkan untuk dibeli karena aku tahunya cuma itu."


"Aku berikan ke anaknya Pak Marto," kata Prilly sambil merubah posisi tidur membelakangi mereka. "Aku lupa kasih tahu kalian."


"Kamu belum tidur?" selidik Nadine. "Jadi kamu menguping obrolan kakakmu?"


"Aku sudah tujuh belas tahun," sahut Prilly tanpa membuka matanya. "Jadi tidak ada larangan untuk menguping apa saja. Memangnya suami kalau malam suka rebutan botol susu ya sama anaknya?"


Kemudian Prilly tidur dan tidak mendengar omongan apa-apa lagi.


Gerdy mengecup kening istrinya sekali lagi dengan penuh kasih sayang. "Bukan yang pertama kan?"


"Yang kedua."


"Jadi Bradley yang pertama?"

__ADS_1


Nadine tersenyum menggoda. "Yang pertama tadi waktu aku minta."


Gerdy menghampiri boks bayi di sudut kamar, dan berdiri di sisinya mengamati bayi merah yang tertidur pulas itu. Ada rasa lega di hatinya. Bayinya lahir normal.


Matanya menelusuri bagian mana dari wajah mungil itu yang mirip dengannya. Ah, tentu saja lebih mirip Nadine. Bayi itu perempuan.


"Bayimu tidak tertukar?" gurau Gerdy. "Tidak ada mirip-miripnya sama aku?"


"Matanya mirip kamu."


"Mata pejabat?"


"Mata keranjang!"


"Kapan aku main mata sama perempuan lain?"


"Jadi belum pernah main di belakangku?"


"Aku sudah meninggalkan kebiasaan itu sebelum denganmu."


"Beb...," panggil Nadine halus. Ketika laki-laki itu menoleh, dia melanjutkan kata-katanya, "Kau tidak membencinya kan?"


"Kau tidak berada di sini kalau aku membencinya."


Bagaimanapun bayi itu darah dagingnya. Dia berkewajiban untuk membesarkan, melimpahi dengan kasih sayang, dan memberi nafas kehidupan.


Dia mesti berjiwa besar. Tak boleh berkeluh kesah, apalagi patah semangat. Dia harus menyembunyikan deritanya rapat-rapat agar Nadine tidak bertambah sedih. Seorang pun tidak boleh tahu betapa hancur hatinya saat ini!


"Besok aku pulang," kata Nadine. "Bisa pergi ke bank besok?"


Gerdy menatap kaget. "Secepat itu?"


"Aku sudah merasa agak baikan."


"Kamu harus betul-betul sehat."


"Aku tinggal di kamar paling mewah, beb."


"Jangan khawatir. Itu tanggung jawabku sebagai suami."


"Aku tidak betah tinggal di sini."

__ADS_1


"Siapa yang betah tinggal di rumah sakit? Kecuali dokter sama suster."


Gerdy tahu Nadine ingin segera keluar dari rumah sakit bukan semata-mata menghemat biaya, dia kuatir Katrin muncul.


__ADS_2