
Gerdy menjalankan Moge pelan-pelan menelusuri jalan yang di kanan kiri berjejer pedagang kaki lima, berbaur dengan pejalan kaki yang tak pernah sepi.
Penampilannya mirip gangster nomor wahid: Rambut klimis, berkacamata hitam, berjaket wol, memakai kalung berisinial namanya, celana sedikit ketat, sepatu mengkilap, dan berwajah dingin. Kalau tersenyum, sudut bibirnya terangkat sedikit.
Kemudian Moge berhenti di depan kios rokok.
"Poltak," panggil Gerdy ke pemilik kios rokok berkumis tebal, tanpa turun dari motornya.
Poltak datang menghampiri, dan bertanya, "Ada apa, Bang?"
"Kita kan satu nusa."
"Betul."
"Satu bangsa."
"Setuju."
"Satu bahasa."
"Ya."
"Satu bungkus rokok dong."
"Duilah, Bang! Hutang saja muter-muter!"
"Daripada muter kepalamu!"
Rokok adalah sahabat barunya. Gerdy merasa lebih percaya diri dengan sebatang rokok di bibir, lebih merasa sebagai laki-laki. Barangkali karena lewat kepulan asapnya dia bisa menyembunyikan kegalauan hidup.
Untuk sebungkus rokok, Gerdy sebetulnya tak perlu hutang. Tinggal menjentikkan jari pedagang rokok pasti menyodorkan secara cuma-cuma. Sebagai preman yang menguasai daerah ini, segalanya bisa diperoleh dengan mudah.
Kekuasaan yang sebenarnya tidak sengaja didapatkannya. Ketika dia sedang nongkrong di pinggir jalan dengan Mogenya, tampak beberapa preman mengerubungi mobil SUV, kayaknya ingin memeras karena parkir sembarangan di wilayah mereka.
Gerdy datang untuk mendamaikan. Kelompok preman tidak menerima dan terjadilah perkelahian. Mereka berhasil dihajarnya sampai babak belur.
Gerdy tidak tahu siapa yang ditolongnya kalau pengemudi mobil itu tidak turun dan memanggilnya, "Gerdy...!"
Gerdy yang sudah meninggalkan areal perkelahian menoleh dengan terkejut. Di depannya tersuguh sesosok perempuan cantik sedang berdiri terpana menatapnya, seakan tak percaya.
"Kamu tinggal di kota ini?" Sebuah pertanyaan meluncur dari bibir sensual yang sedap dipandang.
Gerdy melanjutkan langkahnya menuju ke Moge yang parkir sisi jalan.
"Tunggu!" Perempuan itu berlari mengejar. "Aku mau bicara sama kamu."
"Bicara apa?" tanya Gerdy dingin. "Mau menyampaikan kabar kalau adikmu hidup bahagia bersama Bradley? Syukurlah."
__ADS_1
Katrin berjalan di sisinya sambil berkata, "Kamu keliru kalau adikku hidup bahagia. Apa artinya hidup bermewah-mewahan kalau kebutuhan batin tidak terpenuhi?"
Gerdy berhenti melangkah dan memandang sejurus, "Maksudmu Bradley....?"
"Ya," jawab Katrin. "Nadine hanyalah jadi obyek untuk terapi. Bradley adalah lelaki perkasa dalam kehidupan tapi pecundang di ranjang."
"Adikmu curhat sama kamu?"
"Aku dapat informasi dari seseorang dan aku memberi saran sama Nadine untuk menuntut cerai karena sudah satu tahun menikah belum berhasil juga pengobatannya, tapi dia menolak karena merasa berhutang budi."
Karena tidak mau hidup sengsara juga, pikir Gerdy kecut. Dia memiliki banyak uang untuk melepas dahaga dan bisa memilih laki-laki mana saja sesuai seleranya.
Terjadi pertengkaran hebat antara kakak beradik. Nadine menuduh Katrin selingkuh dengan suaminya karena tahu persoalan paling sensitif dalam rumah tangganya.
Bagaimana Katrin bisa tahu kondisi organ rahasia Bradley kalau tidak pernah terjadi apa-apa dengan mereka?
Katrin sulit untuk menjelaskan. Maka itu dia memilih untuk pergi dari rumah. Dia sadar kehadirannya cuma mengganggu keharmonisan rumah tangga adiknya. Dia sedang mencari alamat teman lamanya ketika para preman itu coba-coba memerasnya.
Poltak datang menghampiri Gerdy yang duduk di atas Moge dengan Katrin berdiri di dekatnya.
"Abang hebat sekali," puji Poltak kagum. "Sekali gebrak lima jagoan tengil itu langsung kelojotan."
"Aku tidak suka melihat kekerasan pada perempuan," kata Gerdy santai. "Kepalamu juga bisa copot kalau coba-coba mengganggu si Ratna pemilik warung pengkolan itu."
"Ampun, Bang," ujar Poltak. "Aku tidak berani macam-macam lagi di depan Abang. Tapi aku heran kenapa Abang tidak jadi preman saja, malah jadi tukang ojek."
"Abang sudah banyak musuh dengan kejadian ini," sahut Poltak. "Oh ya, ini siapa, Bang? Kayaknya Abang sudah kenal betul."
"Aku lagi mencarinya," senyum Katrin manis. "Dia pergi dari rumah."
Poltak melotot. "Jadi kamu istrinya? Aduh, Bang! Istri semok begini main tinggal saja! Kalau aku tidak bakalan keluar-keluar kamar!"
"Ada yang beli rokok tuh," potong Gerdy muak. "Banyak berkicau banyak kehilangan rejeki kau."
Dengan jatuhnya komplotan preman itu otomatis wilayah kekuasaan berpindah tangan. Gerdy menjalani semua itu tanpa peduli pilihannya benar atau tidak. Dia merasa dikhianati kehidupan. Kebenaran apa lagi yang perlu dipertahankan?
Gerdy sudah tidak memikirkan apa-apa lagi. Dia cuma ingin menjadi laki-laki dan mati sebagai laki-laki.
Bulan-bulan pertama hampir setiap hari berkelahi karena kawanan preman itu ternyata banyak sekali. Lama-lama komplotan mereka kapok juga melihat kemampuan bela diri dan terutama nyalinya yang besar.
Tapi Gerdy tak pernah minta upeti, apalagi memeras. Pedagang kaki lima, kuli panggul, tukang parkir, pengamen, PSK jalanan, bebas mencari nafkah. Tak perlu setor. Karena kebaikannya ini, mereka jadi tahu diri. Setiap hari memberi uang keamanan secara sukarela.
Timbal baliknya, Gerdy jadi pelindung dari segala macam gangguan. Bahkan pernah mendekam di sel beberapa hari karena terlibat perkelahian dengan sekelompok anggota ormas. Kemudian dibebaskan karena semua orang di kawasan itu demo ke kantor polisi. Gerdy adalah pembela rakyat kecil.
Di sudut kota inilah Gerdy menggantungkan harapan kelabunya. Mengais mimpi dari lorong ke lorong. Menjadikan kehidupan jalanan sebagai sahabat sejatinya, dan angin malam sebagai selimut dinginnya.
Banyak orang menawari untuk tinggal di kontrakan. Ratna, janda muda pemilik warung nasi langganan bahkan merayunya untuk tinggal satu rumah tanpa ikatan. Tapi Gerdy memilih tidur di gerobak kaki lima atau gerbong kereta dengan ditemani anak jalanan.
__ADS_1
"Abang sebenarnya sudah cerai belum sih sama istri Abang?" tanya Ratna suatu hari penasaran. Dia heran melihat Katrin tiap hari bolak-balik ke kawasan itu.
Gerdy balik bertanya. "Siapa istriku?"
"Abang suka pura-pura! Aku kalah cakep dan kalah seksi sama istri Abang, tapi pelayanan belum tentu! Abang bisa buktikan! Dia selingkuh ya, Bang? Jadi Abang pergi meninggalkannya! Makanya punya istri jangan kelewat cakep, Bang! Banyak diincar hidung belang!"
Semua orang di kawasan kaki lima sudah mengenal Katrin sebagai istrinya. Gerdy membiarkan saja opini itu berkembang untuk tameng dirinya. Dia hampir kewalahan menghadapi rayuan janda-janda muda dan PSK untuk hidup serumah tanpa ikatan.
"Aku terlalu kotor untuk jadi istrimu," kata Katrin suatu kali. "Tapi kita bisa saling bantu membangun kembali kehidupan kita yang sudah hancur."
Atas bantuan sahabat lamanya, Katrin bekerja jadi pramuniaga di sebuah swalayan dan tinggal di perumahan yang cukup elit. Dia meninggalkan masa lalu untuk merajut kembali benang mimpi yang putus.
Dia khawatir melihat kehidupan Gerdy yang liar. Lelaki itu akan semakin tenggelam dalam kehancuran tanpa ada kesempatan untuk bangkit kembali. Dengan hidup teratur dan menetap di sebuah rumah, pasti akan muncul secercah harapan untuk membuka lembaran hidup baru.
"Menjerumuskan diri dalam kekecewaan tidak akan membuat kehidupanmu kembali," nasehat Katrin. "Aku sudah mengecewakan keluarga besarku. Dennis dan istrinya hampir bercerai gara-gara aku."
"Kamu tahu tidak? Kamu adalah perempuan yang paling dicemburui adikmu."
"Dan kini adikku hidup dengan laki-laki yang paling kamu cemburui. Jadi masalahnya di mana? Kamu perlu hidup teratur. Jalanan bukan kehidupanmu."
"Jalanan membuat aku tenang."
"Tenang dari mana? Kamu tiap hari tidak terlepas dari ancaman."
"Hidup dalam bahaya itu ternyata mengasyikkan."
"Kamu tidak mendapatkan segalanya di jalanan."
"Aku sudah kehilangan segalanya."
"Dan semakin banyak kehilangan kalau kamu hidup di jalanan. Aku ingin kamu bangkit dan aku yakin kamu bisa."
Tinggal di sebuah rumah membuat Gerdy teringat pada rumah sendiri, pada anak istri. Dia tidak mau bayang-bayang masa lalu menghantui setiap langkahnya.
Dia ingin menganyam hidup baru. Merenda hari esok tanpa beban hari kemarin. Dan menjadikan kota ini sebagai persinggahan hidupnya.
Tapi akhirnya Gerdy menyerah juga ketika kesehatannya memburuk. Dia jatuh sakit.
"Kamu tidak biasa tidur terkena angin malam," kata Katrin. "Kamu biasa hidup di istana. Jadi kena demam deh."
"Kenapa kamu begitu memperhatikan aku di saat semua perempuan menjauhiku?" tatap Gerdy gelap.
"Siapa bilang semua perempuan menjauhimu?" balik Katrin tersentuh. "Di manapun tinggal kamu tetap jadi permata. Jadi rebutan Ratna dan kupu-kupu malam."
Gerdy pikir setiap manusia pasti akan mengalami titik balik kehidupan. Barangkali sekaranglah saatnya untuk Katrin berbenah diri menyongsong hari esok yang penuh cahaya.
Dia melihat kehidupannya sungguh jauh berubah. Katrin bukan lagi perempuan yang gemar melanglang buana mencari pelepas dahaga.
__ADS_1
Tapi sanggupkah Katrin menahan gelembung rasa yang sekian lama terpenjara demi kebahagiaan adiknya?