
Karlina tidak dapat melawan takdir. Dia berencana jauh-jauh hari untuk menikah dengan Roby. Maut menghapus semua impian yang ada. Satu hari setelah pengumuman kelulusan, Roby pergi untuk selamanya karena leukemia.
Penyakit ganas itu membuat uang tak berkuasa atas segalanya. Tuhanlah yang berkuasa. Orang tua Roby mengabulkan setiap keinginannya. Termasuk menikah muda, satu-satunya permintaan yang tidak terpenuhi karena ajal sudah lebih dulu menjemput.
"Kepergian Roby membuat aku terpaksa menerima perjodohan ini," keluh Wisnu dalam perjalanan menuju ke sebuah restoran mewah untuk perayaan wisuda. Gerdy dan Nadine satu mobil dengannya. Prilly dan keluarga membuntuti di belakang. Jalan raya tidak begitu padat sehingga mereka bisa konvoi. "Aku tidak tahu bagaimana perasaan Andini."
Wisnu mengurungkan niat untuk menunjukkan video syur ke ibunya. Dia tidak tega Karlina makin terpuruk setelah kepergian pacarnya. Gadis itu sudah tidak peduli dengan kehidupannya, menerima dengan pasrah keputusan apapun yang diambilnya.
"Jadi kalian akan menikah dalam waktu dekat?" tanya Gerdy. "Umi tidak memberi tempo kepada kalian?"
"Umi menginginkan kami menikah setelah hari wisuda," sahut Wisnu. "Sekalian syukuran kelulusan."
"Jadi banyak waktu buat kalian untuk berpikir," kata Gerdy. "Aku tahu kalian berdua tidak nyaman dengan situasi ini."
"Aku tidak tahu masih banyak waktu atau sudah habis untuk menata hidupku," tukas Wisnu kecut. "Tapi aku tidak mau terpaku dengan apa yang sudah ditentukan oleh Umi."
"Kamu bagaimana, Lin?" tanya Nadine tiba-tiba, cukup mengejutkan Karlina yang sejak tadi diam memandang keramaian di trotoar. "Aku tahu kamu bukan orang yang suka memanfaatkan kesempatan. Ada laki-laki selain Roby di hatimu?"
Pertanyaan itu terasa sangat menjurus dan Gerdy tahu apa makna di baliknya. Dia berusaha sabar untuk menghadapi kekhawatiran istrinya. Nadine takut dirinya pulang ke istana untuk hidup bermewah-mewahan bersama wanita pilihan ibunya.
"Roby sudah ingkar janji karena takdir," cetus Karlina pahit. "Aku menunggu takdir berikutnya."
"Jangan pasrah begitu."
"Aku begitu berapi-api untuk menikah dengan Roby, tapi takdir memadamkan harapanku. Hari ini aku menolak untuk menikah dengan Wisnu, jika hari esok takdir memutuskan untuk duduk di pelaminan, apa yang bisa kulakukan?"
"Kau tidak ingin menikah dengan Gerdy?" tanya Nadine langsung ke sasaran.
"Selama kau mencintai suamimu selama itu keberuntungan menyertaimu."
"Cintaku tidak akan longsor seandainya tanah yang dipijak terbelah jadi dua."
"Kalau begitu jangan sampaikan pertanyaan itu karena jawabannya tidak pernah ada," senyum Karlina samar.
Dia ingin menutup kesempatan bagi siapapun untuk mengorek perasaannya pada Gerdy. Jujur dia tidak bisa melupakan kenangan yang pernah terjadi di antara mereka. Tapi sudah lewat waktunya untuk disampaikan. Basi.
Gerdy juga pasti belum lupa dengan kebersamaan mereka. Banyak momen-momen indah tercipta meski tanpa cinta.
__ADS_1
Mengingat keindahan yang pernah terjadi bukan berarti Karlina ingin mengulang kembali. Dia sekedar menegaskan kalau dirinya pernah hadir dalam kehidupan Gerdy, walau cuma perjodohan semu.
Nadine sendiri tak peduli selama kisah mereka hanya bagian dari masa lalu. Setiap insan pasti punya catatan buruk dalam perjalanan hidupnya, besar kecilnya tergantung kerikil yang menghadang.
Jadi dia merasa nyaman saat mereka duduk berempat di sebuah meja dengan hidangan sangat mewah, sementara keluarganya di meja lain.
Wisnu memandang Idyla yang tertidur pulas di stroller. "Aku butuh keponakan laki-laki untuk penerus dinasti."
"Satu saja jadi masalah," senyum Nadine kecut. "Bagaimana dua? Kiamat hidupku. Kamu saja cari rahim yang cocok untuk mengeluarkan anak laki-laki. Kukira Karlina sanggup memberi apa yang diminta."
Nadine jelas mendukung suksesi perjodohan itu. Jika mereka menikah, Gerdy aman dalam pelukannya. Dia bergaul dengan crazy rich di kantor, tidak tertutup kemungkinan tergoda untuk kembali ke masa lalu, hidup bermegah-megahan.
"Aku mau hidup bebas seperti kalian," kata Wisnu. "Aku jemu hidup dengan segala keterikatan."
Gerdy khawatir apa yang diucapkan Wisnu jadi kenyataan di kemudian hari. Dia berkata, "Aku tidak mau kamu mengikuti jejakku. Cukup satu yang terhapus dari silsilah keluarga."
"Aku tidak nyaman hidup seperti ini."
"Aku kuatir kamu bicara begitu karena Karlina. Dia jadi beban hidupmu karena rencana tidak sesuai harapan. Apakah kamu tidak berpikir bahwa dirimu juga jadi beban baginya?"
Mereka sama-sama bukan orang bersih. Wisnu bahkan lebih kotor. Situasi ini tidak ada yang menginginkan terjadi.
"Kamu bisa rubah kebiasaan di rumah tanpa Umi sadari."
Gerdy tahu semua itu hanya soal selera. Wisnu suka musik dan film kekinian, sementara orang tuanya suka film dan musik klasik. Mereka tidak mau mendengar musik lain di rumah itu. Solusinya sederhana, Wisnu tinggal menyetel film dan musik favoritnya jika mereka tidak ada di rumah, atau tinggal sendiri di apartemen.
"Wanita seperti Umi biasanya berumur panjang, jadi sampai aku tua nanti susah untuk merubah budaya di rumah. Aku iri pada kalian."
Nadine tersenyum. "Kamu tidak layak hidup seperti kami. Feodalisme bukan alasan untuk mengarungi kehidupan seperti orang kebanyakan. Aku ingin tinggal di istanamu, menjalani hidup yang jadi impian setiap orang. Tapi kesempatan untuk itu tidak ada. Jadi jangan sia-siakan kesempatan yang kamu miliki."
Dimana bumi dipijak di situlah kita menikmati hidup, peribahasa itu cocok untuk mereka. Optimisme penting dalam menjalani hari-hari agar keluhan tidak muncul. Wisnu melihat hidup mereka bahagia karena butuh kebebasan, sementara mereka melihat hidup Wisnu enak karena butuh masa depan yang terjamin.
Kuncinya adalah harta dan cinta. Kebahagiaan materi tanpa cinta laksana robot dengan segala rutinitas, kebahagiaan cinta tanpa materi adalah manusia dengan segala keterbatasan. Harta menciptakan kemampuan, sementara cinta menghadirkan kenyamanan.
Sejak kecil Nadine ingin hidup seperti keluarga raja-raja, maka itu dia bermimpi untuk jadi istri Gerdy. Kecewa pasti ada saat dia sudah jadi istrinya ternyata tidak hidup seperti keluarga raja-raja. Tapi kecewa itu tidak berlarut. Di matanya, cinta di atas harta meski bukan di atas segalanya.
"Sejak makan siang bersama mereka, kau jadi banyak diam," komentar Gerdy sambil mengendarai mobil dengan santai menuju perjalanan pulang. "Ada apa?"
__ADS_1
"Hidup ini aneh," ujar Nadine tawar. "Wisnu ingin hidup bebas seperti kita, padahal hidup kita terikat dengan keterbatasan."
'Maka itu nikmati hidup apa adanya," tukas Prilly yang duduk di belakang bersama Mami dan Mimin. "Beberapa jam lalu kita jadi sultan di restoran eksklusif, kita nikmati itu baik-baik. Nah, sekarang kita kembali jadi orang biasa, ya dinikmati juga karena kehidupan asli kita."
"Aku sudah jadi sarjana hari ini," kata Gerdy. "Hari esok kamu dan kakakmu nyusul."
Nadine menatap separuh protes. "Aku kuliah bawa bayi?"
"Jangan jadikan anak sebagai alasan untuk menunda cita-cita."
"Kamu begitu inginnya aku jadi dokter."
"Kamu tidak ingin jadi dokter?"
"Aku ingin jadi ibu dari anak-anakmu."
"Harapan itu sudah terwujud. Maka wujudkanlah mimpimu yang lain."
"Aku kerja, kamu kerja. Kita buka usaha toko. Apa kamu masih merasa kurang?"
"Banget."
"Aku takut kamu kehilangan cinta karena obsesimu."
"Apa misalnya?"
"Kamu korbankan cinta demi karir."
"Kamu mau itu terjadi?"
"Tentu saja tidak."
"Jadi jangan bahas. Aku tidak pernah menduakan istriku dengan apapun. Hanya pintaku kamu siap menanggung risikonya."
"Risiko apa?"
"Nikmati hidup apa adanya, seperti kata Prilly tadi. Jangan hidup ada apa-apanya."
__ADS_1
Tapi jauh di lubuk hatinya, Gerdy sangsi, apa istrinya bisa bertahan jika mereka kekurangan?