Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Di Sinilah Kehadirannya Diakui


__ADS_3

Idyla berhasil diselamatkan. Dia terhindar dari cengkraman maut yang hampir merenggutnya. Semua penderitaan berakhir di meja operasi.


Tapi ketika tim dokter hendak melakukan operasi kedua, Bradley menolaknya. Padahal operasi itu adalah operasi yang paling penting untuk masa depan Idyla. Tentu saja Nadine marah.


"Kenapa?" protesnya sengit. "Kamu tak mampu bayar?"


"Satu-satunya yang tidak mampu kubayar adalah kamu," senyum Bradley tanpa mengalihkan pandangannya dari Idyla yang berbaring di kamar perawatan. "Aku ingin membawa anakmu ke Tokyo."


"Kau yakin dokter Tokyo lebih baik?"


"Aku tak mengatakan dokter Tokyo lebih baik. Mereka sudah biasa melakukan itu."


'Biasa? Kau mau bawa anakku dalam keadaan seperti ini karena biasa? Kau dengar kata dokter Hengky tadi, kan? Dia bisa mengganti kuping anakku!"


"Yang kuinginkan bukan sekedar bisa. Aku ingin memberikan yang terbaik buat anakmu karena dia pantas mendapatkannya."


Nadine sendiri sebenarnya memiliki harapan yang sama. Dia tak mau anaknya jadi kelinci percobaan. Tapi pergi ke Tokyo?


Mereka tentu harus tinggal beberapa lama di sana. Dan Bradley bebas berbuat apa saja terhadap dirinya. Dia sudah memiliki tubuhnya sejak Idyla masuk ke rumah sakit!


"Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu," kata Nadine dingin. "Aku tahu apa yang akan kau lakukan."


"Apa?"


"Kenapa mesti pergi ke Tokyo kalau cuma ingin minta hakmu? Di semak-semak saja bisa!" ujar Nadine pedas.


Bradley diam sejenak. Ada sedikit perubahan di wajahnya seolah tak menyangka mendapat jawaban seperti itu.


"Berarti harus kuralat ucapan ke dokter Hengky," katanya. "Dia boleh melakukan operasi, tapi dengan pengawasan dokter luar."


"Dokter Hengky pasti tersinggung."


"Daripada muncul anggapan yang tidak-tidak?"


Dan Bradley benar-benar membuktikan omongannya. Dia datangkan beberapa dokter ahli dari Tokyo. Pihak rumah sakit sendiri tak keberatan. Yang penting sanggup bayar. Hhh, mereka ingin dibilang hebat, tapi pola pikir masih sebatas uang!


Operasi kedua berjalan sukses. Tak mengalami hambatan berarti. Satu bulan tim dokter memantau perkembangan di telinga baru Idyla. Gadis kecil itu diperbolehkan pulang ketika tidak ditemukan perkembangan mencurigakan di telinganya.


Bradley memboyong mereka ke suatu tempat.


"Aku dan anakku mau dibawa ke mana?" tanya Nadine ketika mobil mewah yang ditumpangi menuju ke arah yang berlawanan dengan rumahnya.


"Sudah kusiapkan sebuah apartemen," sahut Bradley tenang. "Sementara waktu kalian tinggal di sana."


"Bersamamu?"


"Tentu saja tidak. Aku masih ada malu tidur di sampingmu tanpa status sebagai suami."


Dia masih belum berubah, pikir Nadine tanpa sadar, pandai menjaga keinginannya. Padahal bisa saja berbuat sekehendak hatinya karena Nadine sudah tak peduli apa-apa lagi. Kehidupannya telah mati! Nyawa Idyla dibayar mahal dengan seluruh kebahagiaannya!

__ADS_1


"Biarlah rumah itu jadi cerita masa lalu, untuk Mami dan Prilly. Perempuan secantik kamu tidak pantas menderita."


"Kau pikir saat ini aku bahagia?"


"Setidaknya tidak kehilangan anakmu."


"Tapi aku kehilangan suamiku!"


"Kau tak kehilangan apa-apa karena tidak ada apa-apa dalam kehidupan kalian," ujar Bradley santai, seakan yang dibicarakan bukan musuh besarnya. "Dia seorang pujangga cinta yang tak bisa mendendangkan cintanya. Dia pantas jadi pecundang."


"Kau tidak lebih baik darinya."


"Tapi bisa memberikan yang jauh lebih baik buat perempuan terbaik."


Bradley masih menganggapku perempuan istimewa, batin Nadine, perempuan yang pantas diagungkan. Dia tak segan-segan mempersembahkan semua yang terbaik, termasuk apartemen mewah ini.


"Di sini kamu jagal pacar-pacarmu?" sindir Nadine sambil membaringkan anaknya yang tertidur di sebuah kamar. "Kau berikan aku sisa."


"Yang masuk kamar ini baru janda beranak satu."


Nadine memandang heran. "Sepupu aku tidak pernah kau ajak ke mari?"


"Ketemu saja belum pernah."


Nadine terkejut. "Terus kenapa kau tidak muncul-muncul saat itu?"


"Kau mengharapkan aku datang?"


"Saat itu aku merasa benar-benar kalah," kata Bradley dengan air muka tak beriak. "Aku kecewa, marah, benci. Tapi semua tidak mampu membunuh angan-angan untuk hidup bersamamu. Lalu kuputuskan untuk hidup sendiri. Menikmati cintamu dalam kesunyian."


Cintanya pun masih tetap terjaga, puji Nadine dalam hati. Tak pudar ditelan waktu. Padahal dirinya sudah jauh berbeda, bukan lagi seorang gadis. Sudah punya anak.


Bagaimanapun, pikir Nadine lambat-lambat, inilah calon suami yang baru, yang tak mungkin diingkarinya lagi.


Tapi ketika Bradley meminta persyaratan untuk mengurus administrasi pernikahan, Nadine juga meminta persyaratan darinya.


"Yang kubutuhkan bukan surat nikah," dengus Nadine dingin. "Surat rumah orang tuaku. Aku ingin tinggal di kotaku."


"Kau minta surat rumah apa minta rumah baru?"


"Rumah itu adalah salah satu alasan aku menikah denganmu."


"Alasan lainnya pasti karena cinta."


"Jangan mimpi," ujar Nadine sinis. "Cintaku sudah habis dibawa pergi."


Bradley memandang Nadine dengan lembut tanpa perasaan tersinggung sedikit pun, dia berkata, "Mulai saat ini kau harus belajar mencintaiku, karena akulah yang akan mengisi lembaran hidupmu."


"Kau brengsek. Kau rebut istri orang."

__ADS_1


"Mantan suamimu lebih kotor. Dia memenangkan persaingan dengan cara kotor. Tentu saja kamu mengejar-ngejar."


"Aku tidak mengejar-ngejar! Aku menyerahkan kehormatanku dengan rela!"


"Nah, apa salahnya kamu menyerahkan dirimu padaku dengan rela juga?" tatap Bradley separuh menggoda. "Kelasku tidak di bawahnya, kan?"


Nadine memalingkan muka dengan ketus. Entah terbuat dari apa hati lelaki itu. Dia seolah tak merasa jengkel dengan kata-kata pedasnya. Atau karena kesungguhan cintanya?


"Aku masih ada satu permintaan," kata Nadine dengan suara tetap tidak bersahabat.


"Seribu permintaan pun aku tak peduli," tukas Bradley. "Kau mau apa? Dari air jeruk sampai air plane pasti kusediakan."


"Kapan mengenalkan aku ke orang tuamu?"


"Secepatnya."


"Aku ingin bawa anakku."


Bradley tersenyum lebar. "Kukira minta resepsi di Gedung Putih. Mami Papi sudah tahu siapa calon menantunya."


Orang tua Bradley tak bisa menolak waktu anaknya mengajukan calon istri. Mereka tahu adatnya. Kalau tekadnya sudah bulat, perkawinan jalan terus tanpa restu orang tua sekalipun.


Lagi pula, mereka terlalu sayang pada puteranya. Dia satu-satunya anak lelaki dari empat bersaudara. Kedua kakaknya sudah berkeluarga, sudah punya anak. Tinggal adiknya yang masih sekolah di Amerika.


Siapapun boleh jadi istrinya. Tak peduli dari kalangan mana dan statusnya gadis atau janda, yang penting Bradley senang. Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar selain dapat mewujudkan semua mimpi-mimpinya.


Jadi, walaupun akan punya menantu seorang janda, mereka berusaha menyambutnya semeriah mungkin. Seorang koki luar khusus didatangkan untuk membuat hidangan istimewa. Semua pelayan sibuk membenahi rumah.


Dan begitu sedan mewah itu muncul di halaman, mereka sudah siap berdiri menyambut di beranda.


Bradley tersenyum sambil membukakan pintu buat Nadine.


"Mereka sudah tidak sabar ingin melihat calon istriku," katanya.


Nadine sendiri sampai tertegun. Bagaimana mungkin orang sibuk macam mereka bisa menyempatkan waktu menyambut kedatangan calon menantu, seorang janda pula!


Semula Nadine mengira Bradley harus menelpon ke kantor papinya. Dia mesti menunggu maminya berjam-jam pulang arisan, atau menyusulnya ke salon kecantikan.


Keluarga Bradley tersenyum senang melihat seorang perempuan muda turun dari dalam mobil. Ah, puteranya sungguh pandai memilih! Di mana dia menemukan wanita seperti itu?


Penampilannya demikian anggun. Wajahnya sungguh mempesona. Tubuhnya sangat seksi. Ketika berjalan, lenggang lenggoknya demikian sedap dipandang. Hampir tak percaya perempuan itu seorang janda kalau tidak melihat anak kecil yang berjalan dalam bimbingannya.


"Ini Nadine." Bradley memperkenalkan perempuan yang berdiri di sampingnya kepada mereka. "Calon istri aku."


"Pantas kamu bersikeras." Kakak sulungnya yang sengaja datang dari Solo tak dapat menahan rasa kagumnya. "Dia cocok sekali jadi adik ipar."


Ketika Nadine membalas pelukan mami Bradley, tak sadar matanya berkaca-kaca. Dia teringat pada impiannya beberapa tahun silam. Betapa indahnya memperkenalkan diri pada calon mertua, sembah sungkem dengan sejuta kebahagiaan. Tapi bukan di sini, di kota kecilnya!


Tapi di sinilah kehadirannya yang diakui, yang diterima sebagai calon menantu. Nadine bukan saja mesti belajar mencintai Bradley, dia harus menerima kenyataan baru.

__ADS_1


Hampir tiga jam mereka berada di rumah orang tua Bradley, dan pulang membawa sebuah keputusan; pernikahan dilangsungkan di kota kelahirannya dengan sebuah pesta besar.


Nadine tidak tahu kalau perkawinan mereka menyulut kemarahan seorang perempuan terhormat di kota itu, Umi!


__ADS_2