Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Bukan Resep Dokter


__ADS_3

Sastro marah, "Setiap kali dipakai kamu basah! Ngaku saja! Bekas siapa itu?"


"Kamu menuduhku selingkuh?" Katrin menatap dengan sengit. "Salahmu sendiri jarang pulang! Gara-gara lama tidak dipakai, maka kena sentuh sedikit saja langsung banjir!"


Sastro jadi terpancing emosinya karena tidak terima disalahkan. "Kamu sering sekali basah! Apa habis dipakai Papi? Aku tahu ayahmu tidak pernah lagi jajan!"


"Kamu mau pakai tidak?" Katrin memandang muak. "Aku pakai baju lagi kalau tidak!"


"Aku hilang gairah!"


"Ya sudah!" Katrin bangkit dari tempat tidur dengan jengkel dan mengambil pakaian yang tergeletak di kasur. "Ngomong saja sudah kenyang jajan di luar! Jangan nuduh macam-macam! Aku jemur dulu kalau pengen kering!"


Justru aku sial banget semalam, gerutu Sastro dalam hati. Hampir kena gerebek di hotel kalau tidak kabur lewat pintu belakang.


Pada saat hasrat yang menggantung itu mau disalurkan di rumah, dia marah melihat keadaan istrinya. Dia hanya memperoleh sisa-sisa!


Jadi begini kerjaan mereka setiap pagi? Pulang berjudi, Papi langsung beroperasi! Enak betul!


Sastro jadi serba salah. Kalau membongkar perbuatan busuk mereka dengan menunjukkan hasil tes DNA, sama saja bunuh diri. Katrin jadi punya senjata, dan dia tidak mempan ancaman.


Mendesak istrinya untuk mengaku, jadi timbul keributan. Kalau menangkap basah sulit, mereka berbuat di saat dirinya tidak ada di rumah.


Sekalinya ada di rumah, dia terlambat untuk memergoki karena permainan sudah selesai.


Di saat-saat butuh seperti inilah Sastro jadi senewen bukan main. Dia terpaksa menunggangi istri dengan disaksikan anak haram dari mertuanya sendiri!


"Kamu mau ke mana?" tanya Sastro dengan suara lunak melihat Katrin beranjak pergi dari sisinya.


"Berjemur biar kering!" sahut Katrin dongkol. "Aku tersinggung kamu sebut basah! Memangnya donat kena hujan basah?"


Sastro berusaha mengalah, meski dalam hati muak. "Aku curiga karena aku sayang sama kamu, beb. Biasanya kalau basah bekas dipakai."


"Dipakai siapa?" sergah Katrin marah. "Kamu tahu pagi ini tidak ada lelaki di rumah!"


"Lalu basah kenapa?"


"Aku habis buang air kecil!"


"Ya sudah, keringkan saja pakai tissue."


"Gak mood!"


"Ya terus aku gimana?"


"Bodo!"


Sastro coba membujuk, "Ayo dong, baby. Maafkan aku sudah mencurigai dirimu."


"Pakai alat bantu!"


Katrin sudah terlanjur sakit hati. Baru pulang langsung minta, pas dilayani komentar macam-macam. Memangnya dia tidak tahu kalau setiap kali berhubungan intim, suaminya habis jajan?


Dia tidak melakukan hal aneh-aneh pagi ini. Di rumah cuma ada Emi. Papi belum pulang. Hari-hari sebelumnya dia akui bekas pakai.


Katrin pergi ke dapur. Emi lagi membuat nasi goreng spesial untuk sarapan pagi tuannya. Dia heran CEO makanan favoritnya nasi goreng. Dia saja tidak doyan! Padahal pangkat asisten rumah!

__ADS_1


"Masih lama nasi gorengnya?" tanya Katrin.


"Sudah siap, Nyonya."


"Kamu bawa segera ke kamar, sekalian layani Tuan Besar."


Emi memandang bingung. "Maksud Nyonya layani apa?"


"Kamu tahu sendiri nanti."


Emi terdiam tak percaya. Dia sudah tahu ke mana arah ucapan itu. Nyonya menyuruhnya melayani Tuan Besar? Apa tidak salah?


Dia sering mendengar berita seorang istri menyuruh suami mengambil madu karena tidak kuat melayani. Tapi gara-gara tidak mood lalu minta asisten rumah melayani, baru kali ini dengar!


"Kok diam?" tegur Katrin. "Uang tipnya gede loh?"


Emi menatap ragu. "Yang ada nanti saya kena damprat Tuan."


"Yang ada kamu kena terkam!"


Emi tidak mengerti, apa setiap orang kaya begini kelakuannya? Malas melayani suami diserahkan ke asisten. Atau di antara Nyonya dan Tuan tidak ada ikatan batin sehingga kebutuhan boleh dipenuhi oleh siapa saja?


Sejujurnya Katrin sudah tidak peduli dengan suaminya. Dia merasa rumah tangga mereka sulit dipertahankan. Dia cuma perlu bersabar sampai bayi lahir, setelah itu mengurus surat perceraian. Kehadiran perempuan ketiga membuatnya terhina.


Papi yang baru pulang heran melihat anaknya duduk termenung di ruang keluarga. Tangannya tak henti menekan remote memindahkan chanel televisi, entah mencari acara apa.


"Ada apa?" tanya Papi sambil duduk di sebelahnya. "Berantem sama suami?"


"Papi kok tahu Mas Sastro pulang?" tatap Katrin heran, padahal mobilnya tidak ada di depan, pergi ke bengkel.


"Warung mana?"


"Tempat biasa aku nongkrong."


Katrin kaget. "Rumah simpanannya tidak lewat situ! Jangan-jangan habis dari janda pemersatu bangsa!"


"Sudahlah, jangan pikirkan si Sastro. Biarkan dia berbuat apa saja. Kamu juga bisa berbuat apa saja. Sekarang yang harus kamu pedulikan adalah lelaki yang duduk di sampingmu."


Katrin tersenyum dan coba memberi pengertian, "Papi, kita tidak bisa begini terus. Mas Sastro sudah mulai curiga kalau ada hubungan di antara kita."


"Kamu takut jadi janda kalau ketahuan?"


"Aku justru sudah menyiapkan materai untuk surat cerai."


"Lalu masalahnya apa?"


"Aku kuatir Mas Sastro tahu hubungan inses sebelum kontrak berakhir. Semua bisa berantakan."


"Lalu apa mau kamu sekarang?"


"Aku ingin kita hentikan hubungan inses ini. Aku ingin Papi kembali ke Mami."


"Ibumu istri durhaka. Dia meninggalkan aku."


"Karena kita juga. Maka itu kita hentikan semua ini. Aku yakin Mami pasti memaafkan kita dan bersedia pulang."

__ADS_1


"Aku akan hentikan hubungan inses kalau kamu jadi istri orang nomor satu di kabupaten, kebetulan dia baru ditinggal istrinya."


Setiap minggu Katrin sering bertemu dengan bupati. Dia jadi instruktur senam ibu-ibu di depan rumah dinasnya. Setelah mengundurkan diri sementara karena hamil, mereka kadang berkomunikasi lewat medsos, pejabat itu follower Instagramnya.


"Kelihatannya bupati interest sama kamu. Aku menaruh hormat padanya."


Menaruh hormat, batin Katrin sinis. Sejak kapan ayahnya punya rasa hormat? Rasa hormat Papi cuma untuk botol minuman dan kartu!


"Aku akan cari asisten rumah yang cocok untuk Papi," kata Katrin. "Atau Papi ingin Dutch Wife untuk memenuhi kebutuhan?"


"Aku ingin kamu."


"Aku ingin hidup tenang," ujar Katrin sabar. "Kapan-kapan hubungan kita pasti tercium oleh warga, dan berarti hidupku kiamat."


"Buat apa kamu pedulikan masyarakat? Mereka sendiri tidak peduli dengan kita!"


"Karena apa yang kita lakukan menyimpang dari kehidupan normal."


"Jadi kita tidak normal?"


"Mami dan Prilly tidak pergi kalau apa yang kita lakukan adalah normal!"


"Kamu tidak bisa menghentikan itu sekarang," kata Papi keras kepala. "Bagaimana denganku yang sudah terlanjur minum obat?"


Katrin tersenyum sabar. "Aku layani untuk terakhir kali. Setelah ini, aku pasti mengunci pintu kamar setiap kali Papi pergi dan Pulang. Terserah mau melampiaskan sama kerbau atau sapi."


Katrin berbaring di sofa siap-siap melayani ayahnya. Dia merasa nafasnya agak sesak karena beban anak di perutnya.


"Di kamarku saja," kata Papi. "Ketahuan si Sastro kiamat kita."


"Suamiku tidak akan keluar kamar untuk waktu lama. Dia pasti melalap habis si Emi. Ngakunya tidak suka pembantu. Ternyata sama saja."


Papi terbelalak kaget. "Kamu suruh si Emi melayani suamimu? Gila!"


"Aku sudah gak mood. Aku sakit hati."


Tiba-tiba terdengar suara Emi memanggil Katrin, "Nyonya! Nyonya!"


Mereka segera merapikan pakaian. Emi muncul dengan langkah sempoyongan. Tampak kepayahan.


"Saya tidak kuat melayani Tuan," kata Emi. "Nyonya diminta ke kamar."


Katrin terpaksa pergi. Papi bengong.


"Aku bagaimana?" tanya Papi.


"Apanya yang bagaimana?" sambar Katrin muak. "Aku mau mendamprat suamiku, atau Papi mau aku damprat?"


Harusnya Papi tahu ada Emi di situ. Dia pasti curiga kalau mereka ngomong agak melipir. Katrin memang bejat, tapi dia tidak mau kebejatannya diketahui orang lain.


Baru kali ini Katrin berani membentak ayahnya. Kemarahannya sudah luber. Papi harusnya bisa menjaga omongan. Inses sangat sensitif.


Lagi pula, Katrin bukan resep dokter! Dua kali sehari disantap! Pagi dan sore!


Rumah sangat kacau gara-gara kelakuan papinya, dan Katrin terperangkap dalam hubungan terlarang. Bagaimana dia menghentikannya?

__ADS_1


__ADS_2