
Kemarahan Nadine pada teman pondokan belum reda. Dia lewat begitu saja di depan mereka yang berkumpul di beranda sambil menyeret travel bag.
"Kamu mau ke mana?" tanya Nungky heran.
"Week end di apartemen teman kuliahku, sekalian cari pondokan," jawab Nadine dingin.
Mereka berpandangan dengan kaget. Perselisihan kemarin malam ternyata belum selesai, padahal mereka sudah melupakan kejadian itu.
"Kita bisa bicarakan baik-baik, Nad," kata Rindy. "Tidak seperti ini solusinya."
Nadine mendengus sinis. "Kamu sendiri bilang urusan sudah selesai. Aku mau tahu apa kamu masih dapat fasilitas dari Bradley kalau aku pergi dari sini."
"Sumpah, kemarin itu aku cuma main-main."
"Aku tidak pernah main-main dengan kehidupan. Gerdy adalah masa depanku. Kalian sudah mengambil keuntungan dari situasi yang terjadi. Aku tidak suka."
"Tapi tidak begini juga, Nad," ujar Friska. "Semua masih bisa diperbaiki."
"Silakan kalian perbaiki, aku pergi."
Nadine berjalan ke taksi online yang muncul di halaman. Mereka pasti bingung. Besok ada acara ke Pulau Seribu yang disponsori Bradley. Dia sudah muak dengan situasi ini!
Mami memintanya untuk pulang minggu ini karena sudah lama tidak pulang. Keputusannya jelas, Nadine tidak mau pulang sebelum urusan di rumah beres. Urusan itu cukup dia dan kakaknya yang tahu. Mami hanya perlu tahu kalau minggu ini dia tidak bisa pulang karena banyak pemotretan yang tertunda.
Padahal Nadine mau pergi berlibur ke kota Bandung. Kota di mana kekasih impiannya berada. Dia tidak tahu keputusan ini salah atau tidak, dia cuma mengikuti bisikan hatinya. Menunggu adalah sebuah kemustahilan untuk mempertahankan cintanya!
***
Tidak sulit mencari alamat Gerdy. Apartemen itu terletak di jalan utama. Cukup besar dan megah. Entah berapa tingkat, Nadine tidak menghitungnya. Nama apartemen terpampang jelas di depan pagar.
Nadine melihat gadis SMA dan mahasiswi keluar masuk pintu lobi. Banyak pula yang duduk berduaan di bangku taman. Padahal apartemen ini adalah khusus putra.
Tiba-tiba saja hati Nadine merasa tidak enak. Dia tidak melihat pemuda yang dicari di antara mereka. Mungkinkah Gerdy berada di dalam kamar bersama seorang gadis?
Kedatangannya pasti memberikan surprise yang tidak diharapkan! Dan itu sebenarnya yang diinginkan Nadine seandainya hubungan mereka harus berakhir!
"Maaf mengganggu," kata Nadine ke sepasang muda-mudi yang duduk di bangku taman. "Kalian kenal Gerdy?"
"Tentu saja!" jawab si gadis. "Semua cewek hapal biodatanya!"
__ADS_1
Begitu tenarnya Gerdy di mata perempuan, pikir Nadine kecut. Dia memang sangat memenuhi syarat untuk jadi idola: Ganteng, kaya, cerdas, dan aktif di semua kegiatan kampus.
"Orangnya ada?" tanya Nadine.
Gadis berambut sebahu itu balik bertanya, "Ada perlu dengannya?"
Sebuah pertanyaan konyol. Dia mencarinya pasti ada perlu. Tapi pertanyaan itu nampak wajar kalau melihat atribut yang dipakai. Gadis SMA suka asal.
"Ya," sahut Nadine pendek.
"Wah, ini perempuan ketiga yang datang sore ini," komentar pemuda berkaca mata hitam itu. "Cakep-cakep lagi."
Darah Nadine terasa berdesir. Perempuan ketiga? Jadi begini kerjaan Gerdy tiap hari? Melelang cinta kepada perempuan setiap hari? Pantas tak pernah ingat ke Jakarta! Ingin rasanya Nadine kembali saat itu juga.
"Banyak betul penggemarnya," timpal gadis di sampingnya. "Pakai pelet kali ya?"
"Nah, kamu dulu bagaimana?"
"Jangan bongkar masa lalu! Kamu pantas dapat sisa!" Kemudian gadis itu memberi saran kepada Nadine. "Mending pulang deh, ntar kecewa."
"Gadis-gadis itu pacarnya?"
"Jadi tante-tante?"
"Apartemen ini tidak menerima tante-tante, kecuali istri pemilik apartemen yang sering meninjau handling bangunan. Nah, khusus tante satu itu, semua penghuni berharap diperiksa kamarnya, soalnya sangat cantik dan seksi."
"Lalu?"
"Memangnya gadis tidak boleh turun mesin? Bunker nya kebanyakan kena rudal, mesinnya pasti butuh diservis!"
"Mereka itu siapanya Gerdy?"
"Semua mengaku teman dekat. Kamu juga pasti teman dekatnya, kan?"
"Teman dekat belum tentu pacar," bela pemuda yang duduk di sampingnya.
"Bela diri ya?" semprot gadis itu. "Biar kamu bebas pergi sama si Susi?"
"Kok ke situ-situ? Kamu pergi sama si Bobi aku tidak marah."
__ADS_1
"Dia sepupu aku!"
"Cinta itu buta. Tambah sepupu kamu buta!"
"Apartemennya lantai berapa?" potong Nadine tak enak melihat pertengkaran mereka.
"Nomor 501, lantai lima," jawab gadis itu. "Depan lift persis. Gak persis-persis banget sih."
Nadine berjalan menuju ke pintu lobi. Dia tidak perlu mengaku sebagai adik Gerdy yang mau liburan di kota ini. Security tidak bertanya sama sekali ketika dia menyodorkan KTP dengan sejumlah uang dalam amplop.
Kemarahan merayapi dada Nadine melihat bagaimana bebasnya kehidupan di apartemen ini. Gerdy tak pernah bilang tinggal di tempat seperti ini. Jangan-jangan kejadian malam itu bagian dari kebiasaannya. Sengaja dibesar-besarkan biar bebas pergi darinya!
Pemuda itu harus diberi pelajaran! Tidak semua perempuan bisa dipermainkan!
Gerdy sedang membaca sebuah berkas dengan duduk membelakangi pintu ketika pintu kamarnya dibuka dengan kasar dan ditutup kembali separuh dibanting. Tapi dia diam saja. Tak mengalihkan perhatian sedikit pun dari data yang dibacanya. Dia sibuk membuat laporan hasil riset di Kalimantan.
Kejadian seperti itu sudah biasa. Hingar-bingar sampai jauh malam. Teriak-teriak kayak orang gila. Masuk apartemen orang tanpa sopan santun. Kalau pintu dikunci, digedor-gedor, padahal ada bel dan terpampang jelas di pintu tulisan besar-besar: Jangan masuk sembarangan kecuali The King of Kong.
Kalau ingin hidup tanpa aturan, apartemen ini tempatnya. Security tidak bisa tegas menjalankan aturan karena melimpahnya uang rokok, padahal mereka tidak merokok. Kadang dia heran apartemen mahasiswa apa markas pemberontak. Aman sentosa cuma kalau istri pemilik apartemen datang berkunjung.
Orang tua Gerdy sendiri tidak setuju dengan pilihan ini. Mereka lebih suka anaknya tinggal di asrama. Hidup terkendali. Cuma masalahnya asrama untuk mahasiswa tingkat awal.
Gerdy baru tersentak ketika mendengar suara merdu melantunkan kemarahan:
"Sudah kukatakan! Kalau mau meninggalkan aku, bukan begini caranya!"
Suara itu amat dikenalnya. Suara yang sampai detik ini membuat kacau pikirannya!
"Bukan dengan membiarkan aku menunggu di Jakarta! Bukan dengan mengundang gadis-gadismu ke dalam kamar! Berapa banyak gadis yang sudah kamu cumbu hari ini?" Dengan sengit Nadine merampas berkas di tangan Gerdy dan dibantingnya ke lantai. "Kau punya kuping tidak?"
Gerdy memandang bingung, ia tergagap, "Nadine ... kamu kenapa?"
Lembutnya suara itu membuat Nadine tertegun. Kemarahan yang membakar matanya membuyar begitu bertemu dengan tatapan Gerdy.
Tatapan itu masih seperti tatapan yang didambakannya. Tatapan yang menyimpan nyanyian cinta. Tatapan yang memegang teguh sebuah janji!
Mata itu masih seperti mata dua bulan lalu. Mata seorang laki-laki yang kecewa. Mata yang terluka mendengar kata-katanya itu!
"Maafkan aku," desis Nadine bergetar. "Aku menyakiti hatimu...."
__ADS_1
Seorang gadis yang berbekal kerinduan bertemu dengan seorang pemuda yang dilanda kegalauan. Belenggu waktu yang mencabik rasa dengan kejam memburai dalam satu pelukan cinta. Pelukan yang membujuk mereka untuk memadukan gelombang hasrat yang menderu dalam secawan kenikmatan....