Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Kencan Terakhir


__ADS_3

Malam sudah larut. Katrin memandang ke luar lewat gorden jendela kamar. Hujan turun sangat deras. Musim kemarau telah berlalu.


Gerdy sampai hari ini belum memberi tahu di mana alamat adiknya. Dia sedikit tenang karena pemuda itu tidak mungkin membiarkan mereka menderita.


"Aku sudah katakan jangan datang ke apartemenku kalau kamu belum berubah," kata Gerdy dalam pertemuan terakhir mereka. "Kamu masih saja menggangguku."


"Aku sudah berubah," sahut Katrin. "Aku sudah menghentikan kegilaan itu. Bagaimana aku membuktikannya padamu?"


Entah Katrin bertekad ingin menghentikan hubungan terlarang itu atau Papi tidak pulang-pulang, mereka sudah hampir sebulan tidak berhubungan intim.


"Aku ingin tubuhmu," ujar Gerdy tiba-tiba. "Kamu adalah ikan Yellowfin yang sungguh menggugah selera untuk makan siang. Aku belum pernah menyantap wanita hamil."


Katrin memandang tak percaya. "Kamu serius? Suamiku saja tidak berselera denganku?"


"Kamu akan mendapatkan alamat adikmu kalau bersedia melayaniku."


"Se...ka...rang?" tanya Katrin terbata. Dia tidak keberatan melayani setiap hari juga. Gerdy ingin menikmati tubuhnya? Surprise terindah sepanjang hidupnya! "Aku siap jadi hidangan istimewa untukmu."


"Biasanya perempuan mempresentasikan tubuhnya di depanku sehingga aku layak menikmati."


"Maksudnya ... " Katrin menatap bingung. "Buka baju di depanmu?"


"Ya."


Katrin tersenyum berlumur madu. Lelaki pasti tidak kecewa melihat keindahan tubuhnya, meski lagi hamil. Perut buncitnya justru menambah seksi.


Katrin mulai membuka kancing baju.... 


"Cukup," kata Gerdy ketika Katrin hendak menanggalkan baju hamil. "Nyatanya kamu belum berubah."


Katrin baru sadar kalau pemuda itu sedang mempermainkan dirinya. Dia memaki, "Brengsek!"


"Kamu harusnya malu memperlihatkan keindahan tubuhmu di depan adik ipar. Bagaimana aku membiarkan mertuaku untuk tinggal bersama manusia seperti kamu?"


Katrin terkejut. Adik ipar? Mertua? Jadi mereka sudah menikah? Bagaimana dia sampai tidak tahu? Nadine benar-benar sudah tidak menganggapnya saudara!


"Kamu pasti sudah membuat bunting adikku," geram Katrin.


"Adikmu ingin bunting," sahut Gerdy santai. "Usia kandungannya paling-paling selisih satu bulan denganmu."


Keputusan mereka untuk menikah secara diam-diam adalah sebuah kesalahan besar. Nadine berani mengorbankan masa depan hanya untuk menyelamatkan bayi yang belum tentu jadi orang berguna! Dia sudah mengorbankan hidupnya demi cinta yang konyol!


Apa yang dicari Nadine dari kebahagiaan yang semu itu? Dia tidak akan mendapat pengakuan sebagai menantu sampai hari kiamat pun! Kehidupan seperti itu yang diinginkan?


Semua kembali berpulang ke rumah ini. Katrin tidak bisa menjadi pelindung bagi keluarga. Adiknya tidak perlu menempuh jalan itu kalau dia dapat menjalankan tugas seorang kakak. 


Nadine tentu sudah berpikir kalau Gerdy diambil orang tuanya akan menanggung beban berat sendiri. Dia tidak hanya perlu mencukupi kebutuhan anaknya. Dia bertanggung jawab terhadap nasib Mami dan Prilly. Bagaimana mereka menjalani kehidupan di kota yang ganas itu? 

__ADS_1


Air mata Katrin menetes teringat itu. Mereka memilih hidup menderita daripada pulang ke rumah. Kebencian mereka tidak luntur oleh kemewahan. Mereka tidak bisa menerima kalau peristiwa kelam itu sebagai bentuk pengorbanan!


Mereka tidak tahu bagaimana bingungnya Katrin menghadapi situasi rumit di rumah ini. Dia tidak rela melihat ibunya jadi korban kekerasan setiap hari. Kehidupan jadi tenang dan damai setelah dia menyuguhkan kebutuhan ayahnya. Tapi pengorbanan itu adalah sebuah kesalahan besar bagi mereka!


Papi adalah biang keladi terjadinya prahara di rumah ini. Dia tercipta cuma untuk mendatangkan masalah. Katrin sempat mogok untuk melayani nafsu bejatnya. Bukan apa-apa. Suster kiriman istri pertama sudah tiba. Bisa saja jadi mata-mata.


Tapi Papi bukannya sadar kalau perempuan yang ditunggangi adalah anaknya, dia malah kabur ke rumah janda muda seumuran Prilly, dan tidak pulang-pulang hingga detik ini!


Sudah satu bulan ayahnya tidak pulang. Kabar yang beredar dia sudah menikah dengan janda itu. Menang lotere besar bukan dibawa pulang, malah digunakan untuk bersenang-senang dengan perempuan lain.


Bulan-bulan ini Papi bernasib mujur. Dia sering menang lotere dan judi kartu dalam jumlah besar. Katrin membawa hoki, begitu katanya. Maka itu setiap kali hendak pergi dia minta berhubungan intim supaya dinaungi keberuntungan!


Padahal modus untuk melampiaskan nafsu maniaknya!


Katrin sengaja tidak mencari ke rumah istri mudanya karena suatu saat Papi pasti pulang. Ayahnya menjerat janda itu dengan uang dan pasti berakhir karena uang pula.


Jadi tidak aneh kalau malam ini Papi muncul di halaman. Uangnya berarti sudah habis.


Katrin terkejut Papi pulang jalan kaki. Tubuh basah kuyup tersiram air hujan. Dia segera keluar kamar dan berjalan ke pintu depan. 


Katrin tersenyum menyambut kedatangan ayahnya di muka pintu. Dia berkata, "Papi pulang hujan-hujanan, jalan kaki juga. Mobilnya mana?"


"Disita sama perempuan brengsek itu," gerutu Papi jengkel. "Dia menghitung tarif setiap kali berhubungan badan. Dia itu istriku apa PSK? Masa setiap kali bercinta minta dibayar?"


Katrin tersenyum. "Jadi Papi tekor, terus mobil disita? Biasanya Papi berbuat kasar sama istri...tidak berani?"


"Jadi Papi sekarang tahu kan kalau Mami yang terbaik? Dia tidak pernah minta bayar, bahkan tidak pernah menuntut Papi karena cuma memberi nafkah batin."


"Ibumu sama saja. Dia meninggalkan aku," kata Papi seakan tidak mengakui kesalahannya. "Pembantu mana? Aku minta teh hangat."


"Mereka sudah tidur. Aku buatkan nanti."


Mereka tiba di ruang laundry. Papi melepas kemeja, kemudian mencopot celana, sehingga tinggal mengenakan pakaian dalam.


Katrin melihat ke bagian bawah dan tersenyum berlumur madu. "Papi kepingin ya?"


"Aku minta malam ini malah diusir."


"Melihat Papi basah kuyup, aku jadi ingin main hujan-hujanan dalam gendongan Papi seperti masa kecil. Kita main hujan-hujanan yuk, Pi?"


Papi terbelalak. "Malam buta begini? Kamu lagi hamil! Tidak sakit nanti?"


"Aku ingin membuat malam ini sangat istimewa bagi Papi."


Katrin melepas kimono, kemudian mengambil pakaian ayahnya yang teronggok di lantai.


"Buat apa kamu bawa pakaian itu?" tanya Papi heran.

__ADS_1


"Buat alas di taman sekalian basah," senyum Katrin manis.


Papi mengangkat tubuh anaknya dan membawa ke belakang.


Taman belakang cukup terang dalam penerangan lampu kristal. Berpagar tinggi sehingga perbuatan apapun yang dilakukan tidak perlu khawatir ketahuan tetangga.


Taman itu kelihatan tidak terurus karena tukang kebun berhenti dan belum ada gantinya.


Papi membawa anaknya main hujan-hujanan sambil mulutnya menjelajah bagian dada.


"Kita ke pojok itu," tunjuk Katrin. "Tempat kita main dulu."


Di pojok itu terdapat pendopo kecil di mana Papi biasa bersantai di siang hari. Di belakang pendopo ada lubang memanjang bekas menggali harta karun atas petunjuk paranormal.


Papi merasa tertipu. Cangkul dan garpu ditinggal begitu saja.


"Aku ingin bermain lumpur di lubang bekas Papi menggali harta karun," kata Katrin.


"Jangan," cegah ayahnya. "Tubuhmu kotor nanti."


"Aku sering bermain lumpur sambil menindih Papi waktu kecil. Malam ini aku ingin bermain lumpur sambil menindih Papi juga."


Pria itu membopong anaknya ke sudut taman dan menurunkannya di dalam lubang becek terguyur hujan.


Katrin menghamparkan pakaian yang dibawanya di dasar lubang.


"Silakan Papi berbaring," kata Katrin. "Aku akan memberi hadiah istimewa buat Papi."


"Sungguh malam yang penuh kemuliaan," senyum Papi senang. "Aku belum pernah diperlakukan seperti ini."


Hujan semakin deras. Malam semakin larut. Mereka seolah tidak merasa kedinginan. Padahal udara begitu menusuk.


Katrin begitu lihai jadi joki. Keringat dan air hujan berbaur di tubuhnya.


Papi tenggelam dalam gelombang asmara. Erangan nikmat berhamburan dari mulutnya. Suasana di dalam lubang jadi berisik bercampur gemuruh hujan.


Papi tidak tahu kalau malam ini adalah kencan terakhir. Ketika matanya terpejam merasakan puncak kenikmatan, tangan Katrin mengambil pisau yang tersembunyi di lumpur, kemudian menusukkan senjata tajam itu ke ulu hatinya dengan kuat.


Papi berusaha berontak. Kaki Katrin menjepit pinggangnya dengan keras, sementara kedua tangan memegang pisau erat-erat sehingga rontaannya membuat hunjaman semakin dalam dan menembus jantung. Kemudian perlawanan berhenti dan kepalanya terkulai.


Katrin mencabut pisau dan naik ke atas lubang, lalu memandang tubuh yang tergeletak tak bernyawa itu dengan dingin. Sinar matanya sedikit pun tidak memancarkan penyesalan, berkubang amarah dan kebencian.


Katrin menguruk lubang sampai rata, dan menutup tanah merah dengan rumput taman yang tersedia di bawah pendopo, sehingga tidak ada perbedaan dengan areal di sekitar. Setelah itu, dia membersihkan tubuh dan peralatan dengan air hujan.


Cangkul dan garpu disimpan di gudang peralatan. Pisau dikembalikan ke tempatnya di dapur.


Kemudian Katrin pergi ke ruang laundry mengambil kimono dan memakainya.

__ADS_1


Malam ini dia bisa tidur nyenyak. Satu masalah besar sudah dilenyapkan dari rumah ini. 


__ADS_2