Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Benang-benang Cinta


__ADS_3

Sebagai supervisor, Gerdy bukan hanya mengatur tugas atau memberi perintah semata. Kadang terjun langsung menangani pekerjaan di lapangan. Dia ingin menciptakan image positif bagi pimpinan perusahaan. Menjaga nama baik Luki juga. Semua karyawan sudah tahu kalau direktur itu temannya. Lagi pula, dia tidak punya asisten.


Padahal Gerdy tidak kenal yang mana pimpinan perusahaan. Dan tidak ingin tahu. Dia tak perduli dengan urusan orang-orang atas. Yang penting gajinya lancar.


Begitu pula ketika tersiar kabar akan ada pergantian pucuk pimpinan. Dia melaksanakan tugas seperti biasa. Tak ambil pusing. Apa untungnya buat mereka?


Pergantian pimpinan hanya berpengaruh bagi orang yang berhubungan langsung. Mereka berharap tercipta peforma baru yang membangkitkan semangat kerja dari kejenuhan pimpinan lama. Untuk karyawan middle macam dirinya sama saja. Ada kepentingan apa dengan presiden direktris?


"Siapa tahu pimpinan baru lebih royal," dalih Parjo, satu-satunya tukang sapu yang paling sibuk kasak-kusuk. "Sudah lama aku tidak naik gaji."


"Siapa yang sudi menaikkan gaji pemalas kayak kamu?" ejek Gerdy. "Yang ingin menaikkan ke tiang gantungan banyak!".


"Di depan bos baru aku akan bekerja lebih giat."


"Sudahlah," potong Gerdy sebal. "Kau tak ada peluang cari muka. Mending cari sapu sana. Bantu temanmu membersihkan pelataran parkir."


Dan Gerdy mengutuk habis-habisan ketika Parjo lama tidak kembali. Pasti alasannya sapu hilang atau lupa menaruh. Dasar pemalas!


Terpaksa Gerdy memanggil karyawan yang lagi menyapu di taman. Membersihkan areal parkir adalah prioritas utama. Jangan sampai daun-daun pohon peneduh yang berguguran masih berserakan ketika bos-bos itu datang. Atasannya pasti ngomel-ngomel.


Gerdy melihat dua mobil mewah muncul di pintu gerbang. Heran. Sepagi ini mereka sudah datang. Barangkali menyiapkan penyambutan pimpinan baru. Yang satu mobil Luki, yang satu lagi entah punya siapa. Dia tidak hapal satu per satu mobil yang tiap hari parkir di sini.


Mobil-mobil itu berhenti tak seberapa jauh darinya. Dia tidak menghiraukan mereka. Menoleh pun tidak. Dia asyik membantu memindahkan gundukan daun ke tong sampah beroda, lalu menyuruh anak buahnya membuang ke tempat pembakaran. Apa urusannya? Yang penting tempat parkir mobil sudah bersih. Titik.


Kadang Luki menyapanya. Tentu saja sikapnya berbeda dengan di luar. Dia harus menjaga wibawa.


Gerdy baru menaruh perhatian ketika Luki bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Suaranya demikian merdu, lembut. Suara yang membuat jantungnya hampir terlepas!


Serentak Gerdy menoleh. Wanita itu tampak terperangah menatapnya. Tapi hanya sekejap mereka saling pandang. Di detik lain, Gerdy sudah mendelik ke Parjo yang datang dengan tergesa-gesa.


"Cari sapu ke Cianjur?" sergah Gerdy.


"Jangan keras-keras. Ada Pak Luki."


"Lagakmu! Tampang eskrim cari muka!"


"Kalau tampang keren, ngapain cari muka? Orang sudah keren!"


"Dasar!"


Sambil bersungut-sungut, Gerdy pergi dari tempat itu. Luki tersenyum pada perempuan yang berdiri tertegun di sampingnya.


"Biasa, Bu," katanya. "Pemandangan sehari-hari di tempat parkir. Tapi kerja mereka bagus kok."


Sekilas Nadine melirik Luki. Ketika menoleh lagi ke arah semula, Gerdy sudah lenyap dari pandangannya.


Ada sesuatu yang sulit dipercaya dari pertemuan tak terduga itu. Dia melihat seseorang yang berdiri di sana tadi seperti bukan laki-laki yang pernah mengisi hari-harinya, seperti bukan Gerdy.

__ADS_1


Laki-laki itu seakan hanya mengenal dirinya sepintas lalu, seakan bertemu dengan kawan lama yang tak berarti, seakan dia tak pernah hadir dalam hidupnya!


Tepuk tangan bergemuruh begitu presiden direktris lama memperkenalkan penggantinya.


"Dia menantu saya," katanya bangga. "Saya harap kalian dapat bekerja sama dengan baik di bawah kepemimpinannya."


Beberapa eksekutif muda bisik-bisik di belakang:


"Kalau bosnya secantik ini, kerja sama di segala bidang aku siap, khususnya di dada bidang."


"Belum apa-apa sudah dapat ujian iman."


"Bisa-bisa aku lupa sama malam pengantin minggu depan."


"Aku dianggap apa? Sebagai senior, aku dapat kesempatan pertama."


"Tampang disamber geledek mau unjuk gigi! Gigi lu udah nongol kok!"


"Bukan nongol, Goblok! Komandan gigi harus berdiri paling depan!"


Nadine tersenyum kecut. Dia sudah bisa menebak apa yang mereka gunjingkan. Hhh, di mana-mana sama saja, entah lelaki berdasi atau berdaki, paling kepo melihat yang halus-halus.


Tapi dari sekian banyak eksekutif muda, satu pun tak ada yang menarik perhatiannya, sungguhpun mereka gagah-gagah. Pikirannya justru terlempar jauh pada seorang pekerja di luar gedung.


Lama sesudah rapat usai Nadine berdiri termenung dekat jendela ruang kerjanya. Memperhatikan pria yang sedang mengawasi pekerja memangkas rumput di taman.


Ada perasaan kecewa yang tak mau hilang di hatinya. Dari pertemuan mereka tadi, dia merasa telah terbentuk jurang yang sangat lebar. Membuat mereka tak dapat saling melihat, saling menyapa, apalagi saling melepas rindu!


Sungguh menyakitkan. Setelah sekian lama berpisah, setelah sekian waktu memendam harap, tiba-tiba mereka bertemu dalam sosok yang jauh berbeda!


Mata Nadine masih tertuju ke bawah sana ketika sekretarisnya yang bernama Laras masuk membawa berkas laporan.


"Simpan di meja," kata Nadine sebelum sekretarisnya sempat bicara. "Bisa minta tolong?"


"Tentu."


"Suruh orang itu menghadapku."


"Ibu tidak keliru?" tatap Laras heran. Sekilas diikuti pandangan pimpinannya. "Buat apa Ibu memanggilnya?"


"Aku ingin bicara dengannya."


"Maaf, bukan saya lancang," ujar Laras hati-hati. "Apa tidak sebaiknya Ibu mengadakan konsolidasi dengan jajaran direksi?"


"Kamu mau bantu tidak?" pandang Nadine tajam.


"Baik, Bu."

__ADS_1


Laras pergi meninggalkan ruang kerja atasannya dengan tak habis pikir. Belum pernah dia melihat seorang presiden direktris memiliki kepentingan dengan mandor tukang sapu. Padahal di lantai lain jajaran direksi sudah siap-siap memberikan laporan perkenalan.


Parjo yang lagi memangkas rumput terheran-heran melihat Laras menghampiri mereka. Tidak biasanya bidadari itu turun dari kahyangan.


"Kamu disuruh menghadap Ibu," katanya ke Gerdy. "Sekarang juga."


Parjo bengong. Ibu memanggil Gerdy? Direktur tukang sapu? Sulit percaya! Pasti ada urusan yang sangat penting kalau bukan sebuah kekeliruan!


"Teruskan kerja, Jo." Gerdy menepuk pundaknya. "Cita-citaku akhirnya kesampaian. Naik ke lantai paling tinggi."


Selama ini Gerdy tidak pernah naik ke lantai paling atas, masuk gedung induk saja jarang-jarang. Tak ada keperluan dengan orang-orang di dalam kecuali menghadap HRD. Kantor atasannya terpisah di belakang, dekat gudang logistik.


Lain dengan Parjo. Dulu tugasnya di dalam. Karena kerjanya sembrono, ditendang ke luar.


Pantas Parjo sering menggerutu, pikir Gerdy sambil mengikuti Laras masuk ke lift khusus. Kerja di dalam sungguh enak. Cuma melayani keperluan staf, membersihkan lantai, mencuci perabotan, tanpa perlu mengeluh kepanasan.


Begitu pintu lift terbuka, Laras menunjukkan ke ruangan mana Gerdy harus masuk.


Tanpa ragu-ragu Gerdy mengetuk pintu jati berukir itu, seolah yang akan dihadapi memang bos besarnya, bukan bayang-bayang masa lalunya!


"Masuk."


Nadine sudah tahu siapa yang berada di luar. Dia sedang tidak mau diganggu stafnya. Rapat koordinasi ditunda besok. Tapi dia keliru kalau berharap Gerdy membalas kehangatan sikapnya.


"Ibu memanggil saya?"


Sekejap Nadine terpaku di kursinya. Orang yang pernah menjadi suaminya, yang sering dilap keringatnya setiap kali pulang kerja, memanggilnya Ibu?


Diangkat wajahnya dari berkas laporan yang dibacanya. Dipandangnya laki-laki yang berdiri dengan tangan tersilang sopan itu.


"Baby...," cetus Nadine tanpa sadar. Bilur-bilur rindu membayang jelas di matanya. "Apa kabar?"


"Baik." Gerdy balas menatap dengan tenang.


"Kamu tidak mau duduk?"


"Saya tidak berani sebelum diperintahkan."


"Di ruangan ini cuma ada aku dan kamu," desis Nadine tercekat. "Tak perlu bersikap formil begitu."


"Ibu adalah pimpinan tertinggi...."


"Aku mantan istrimu."


"Sudah selayaknya saya menjaga attitude."


"Aku tidak butuh penghormatanmu. Kamu pikir aku suka dengan sikapmu itu?"

__ADS_1


"Kalau tidak ada kepentingan apa-apa, baiknya saya pergi. Saya banyak kerjaan. Permisi."


Nadine tercenung di tempatnya. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Tapi dia tahu karena laki-laki itu dia masih belum bisa menerima Bradley seutuhnya, karena di hatinya masih ada benang-benang cinta yang belum putus!


__ADS_2