
Nadine duduk santai di beranda menikmati cahaya purnama yang singgah di kolam hias. Malam terasa sunyi, padahal baru jam delapan. Malam Minggu pula.
Warga perumahan sebagian besar karyawan perusahaan. Beristirahat hanya di tanggal merah. Kadang Sabtu Minggu lembur. Ada beberapa pegawai negeri sipil.
Malam Minggu mereka biasanya membawa keluarga jalan-jalan ke mall atau makan malam di luar. Memanfaatkan waktu libur sebaik-baiknya. Sebagian kecil saja berkumpul bersama keluarga sambil nonton acara televisi.
Penjual makanan tidak pernah lewat. Pedagang sayur juga. Entah tidak laku atau bagaimana. Padahal security di depan mengijinkan, berbeda dengan perumahan cluster sebelah.
Penutupan akses secara ketat justru memancing pergesekan dengan warga pribumi dan mengundang kriminalitas terselubung. Ada orang pura-pura ijin bertamu padahal merampok, bahkan rumah jadi sarang pengedar dan kaum radikal, dan itu terjadi di cluster sebelah. Nadine memilih tinggal di cluster ini karena lingkungan aman dan familier.
Nadine masuk ke dalam rumah karena tak ada pemandangan yang dapat dinikmati di luar. Keadaan di dalam lebih menyenangkan. Dia bisa menghilangkan kejenuhan dengan menonton televisi, mendengarkan musik, atau berselancar di dunia maya, menunggu kantuk datang.
Tetangga sebelah seorang pegawai pajak. Mereka pergi week end ke luar kota sejak siang tadi. Di rumah cuma ada pembantu, dan baru saja pergi bersama Mimin naik motor. Jadi sekarang rumah itu kosong.
Istri pegawai pajak sering memberi oleh-oleh jika pulang liburan. Mereka cukup akrab.
Tetangga sebelah lagi manajer perusahaan. Tetangga paling akrab dengan mereka. Gerdy sering dikasih pinjam motor gede. Sayang istrinya ingin tinggal bersama ibunya yang hidup sendiri. Dia terpaksa mengalah, tinggal bersama mertua.
Rumah itu sekarang dihuni keluarga Pak Marto, tukang becak yang biasa mangkal di depan. Manajer itu memintanya untuk menempati tanpa dipungut uang sewa, yang penting rumah dirawat. Semua perabotan diangkut atas permintaan Pak Marto karena takut rusak terpakai.
Bu Marto kelihatan minder dengan kehidupan tetangga. Nadine mencoba akrab untuk menghilangkan jarak di antara mereka. Maksud manajer itu baik ingin membantu keluarga tukang becak dari beban sewa kontrakan di tempat lama. Tapi hidup di lingkungan perumahan jadi beban mental tersendiri.
Pak Marto memiliki tiga anak, dua sudah sekolah SD, yang bungsu masih bayi. Nadine sering membagi mereka makanan setiap kali pulang shopping dari mall. Dia sudah wanti-wanti kepada Bu Marto agar tidak segan-segan minta bantuan kalau ada kebutuhan. Dia pernah mendengar anaknya menangis dan ternyata belum makan dari pagi menunggu suaminya pulang.
"Bu Marto kenapa diam saja?" sesal Nadine. "Aku sudah bilang kalau ada apa-apa ngomong. Masa tega anak sampai kelaparan begini?"
"Saya lagi menunggu suami beli beras," dalih Bu Marto tidak enak. "Sebentar lagi pulang."
"Aku punya banyak beras, ibu bisa pakai dulu, tidak perlu menunggu sampai mereka menangis begini."
"Saya sudah sering menyusahkan Nak Nadine. Saya malu."
"Pokoknya kalau tidak punya persediaan beras dan lauk pauk, tidak usah sungkan minta saja sama si Mimin. Aku tidak mungkin bolak-balik menanyakan kebutuhan ibu."
Nadine pernah merasakan hidup susah dan tetangga tidak peduli. Dia berusaha untuk maklum karena kelakuan ayahnya membuat mereka kehilangan simpati. Tapi rasa sakit tetap ada saat perutnya lapar sementara mereka kelebihan makanan dan diberikan pada binatang peliharaan. Dia tidak mau kejadian itu terulang pada keluarga Pak Marto.
__ADS_1
Nadine duduk di sofa sambil menonton acara televisi. Dia tinggal sendirian di rumah. Prilly menginap di sekolah mengikuti acara renungan suci menjelang hari kemerdekaan. SMA adiknya tidak menghilangkan kebiasaan lama dengan mengingat jasa para pahlawan melalui acara sakral itu.
Mami baru kemarin pulang dari rumah sakit, dan sekarang lagi beristirahat di kamar. Mami kelihatan sulit untuk menghapus suaminya dari ingatan, membuatnya sering melamun.
Saat-saat sendiri seperti ini Nadine sering teringat suaminya. Biasanya malam Minggu Gerdy selalu menyempatkan waktu berada di rumah bagaimana pun sibuknya. Mengajak jalan-jalan keluarga.
Malam ini Gerdy tidak mungkin berkumpul bersama mereka. Dini hari nanti orang tuanya kembali dari Tanah Suci. Dia harus siap-siap menjemput mereka ke embarkasi.
Gerdy sendiri ragu meninggalkan istrinya. Kandungan Nadine sudah menginjak bulannya. Bagaimana kalau tiba-tiba ingin melahirkan? Siapa yang membawa ke rumah sakit?
"Aku bisa minta bantuan Pak Marto," kata Nadine mencoba menghalau kekhawatiran suaminya. "Diantar pakai becak."
Gerdy terbelalak. "Ke rumah bersalin naik becak? Bisa keburu beranak di jalan!"
"Daripada naik taksi online? Nunggunya lama kalau malam."
"Maka itu aku tidak pulang. Aku harus jadi suami siaga."
"Kamu anak sulung, beb," bujuk Nadine halus. "Kamu bertanggung jawab atas penyambutan Abi sama Umi."
"Arya membutuhkanmu."
"Kau tidak?"
"Aku bisa atasi sendiri."
"Arya apalagi, banyak orang membantu."
"Kamu tidak ingin melihat orang tua dengan pakaian kebesarannya?"
Tentu saja ingin, pikir Gerdy serba salah. Bagaimana perasaan orang tuanya kalau dia tidak ada di antara orang-orang yang menyambut kedatangan mereka? Apa tanggapan keluarga besarnya nanti?
Tapi Gerdy tidak sampai hati meninggalkan Nadine sendirian. Dia tidak bisa membiarkan istrinya naik becak sementara perutnya sudah terasa nyeri. Bagaimana kalau terjatuh di jalan?
"Ada aku di sini," kata Mami untuk menghalau keraguan menantunya. "Aku pasti tidak tinggal diam kalau istrimu hendak melahirkan."
__ADS_1
"Mami butuh istirahat."
"Aku sudah cukup istirahat di rumah sakit."
Prilly memotong, "Aku bantu cari taksi kalau Kak Nadine sudah terasa."
Biasanya perempuan gampang panik kalau ada kejadian mendadak, keluh Gerdy bingung. Bukan menyelesaikan masalah, malah menambah heboh keadaan.
"Kau bukannya ada renungan suci di sekolah?" tatap Gerdy.
"Aku bisa pesan dari sekolah."
"Tidak perlu," tukas Nadine. "Kau tidak perlu repot-repot memikirkan kakakmu. Acaramu terganggu nanti."
"Ya sudah kalau mau kakak begitu."
"Rumah bersalin cukup jauh," kata Gerdy. "Tidak mungkin diantar pakai becak. Mobilmu di bengkel lagi servis. Apa sebaiknya aku booking taksi dari sekarang?"
Nadine menggeleng. "Tidak usah. Buang-buang duit. Kalau brojol malam ini, kalau besok siang sesuai perkiraan dokter, gimana?"
"Paling berapa sih booking taksi? Tidak sampai satu juta. Keselamatan dirimu lebih penting."
"Atau kakak masuk rumah bersalin saja sore ini," usul Prilly. "Jadi tidak kepikiran sama kak Gerdy."
"Masuk rumah bersalin dari sekarang biayanya berapa? Lagi pula aku ngapain di sana? Apa bedanya dengan menunggu di rumah?"
"Kak Nadine ngirit banget sih?"
"Duit jadi masalah di rumah ini," senyum Gerdy kecut. "Kakakmu cuma mau menggunakan uang dari hasil keringatku."
Nadine merengut manja. "Kok suamiku ngomongnya begitu? Aku cuma ingin memanfaatkan uang sebaik mungkin. Aku tahu suamiku mampu untuk membiayai aku menginap berapa lama pun di rumah sakit. Tapi bayiku kan sehat dan diprediksi lahir normal. Jadi buat apa aku menginap di rumah sakit?"
Calon dokter gagal begini jadinya, pikir Gerdy pahit. Apa kata ahli medis ditelan mentah-mentah, padahal namanya diagnosa bisa saja meleset, meski peluangnya hanya satu persen.
Bagaimana kalau Nadine melahirkan malam ini? Siapa yang akan menolongnya?
__ADS_1