Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Biarkan Saja


__ADS_3

"Sudah blokir saja nomornya," kata Nadine. "Dia akan terus mengganggu sampai mendapatkan alamat rumah ini."


"Aku tidak pernah memblokir nomor perempuan," sahut Gerdy sambil duduk bersandar di tempat tidur. "Berarti aku menghindari mereka dan itu bukan kebiasaanku."


Masalah Tante Friska dan Tarlita sudah selesai. Mereka bisa memahami alasan Gerdy dan makin memahami saat Nadine dengan sabar memberi pencerahan agar tidak membebani suaminya. Mereka ingin hidup tenang. 


Persoalan Karlina menggantung. Dia bisa saja nekat memberi tahu orang tua Gerdy tentang pernikahan diam-diam ini, sekalipun taruhannya kehidupan dia sendiri hancur.


Hari ini muncul masalah baru. Katrin tidak berhenti ngebel meskipun tak dihiraukan. Maksud perempuan itu sebenarnya baik, hanya cara berpikirnya tidak dapat diterima oleh logika umum.


"Aku minta singsingkan dulu kesombonganmu," kata Nadine. "Istrimu ada masalah dengan kakaknya. Kamu mesti bantu menyelesaikan."


"Katrin tidak bisa memaksa Mami dan Prilly untuk pulang," sahut Gerdy tenang. "Mereka sudah nyaman tinggal di rumah kita."


"Katrin pasti menggunakan tangan Papi untuk mengambil Mami. Dan aku tidak bisa apa-apa karena Mami pasti mengikuti keinginan suaminya."


"Aku heran Mami begitu penurut sama Papi. Dia tidak berani menentang, apalagi meninggalkan suaminya."


"Papi adalah pilihan hatinya. Mami sudah dijodohkan dengan lelaki lain. Mami bersikeras ingin menikah sama Papi. Maka itu bagaimanapun perlakuan suaminya, Mami tidak pernah mengeluh karena semua itu salahnya sendiri."


"Mami hamil duluan kayak kamu?"


"Papi bukan pacar brengsek kayak kamu. Dia berubah drastis karena jadi korban pengkhianatan. Sejak itu dia tidak percaya lagi pada orang."


"Percuma, setelah jatuh miskin baru mengambil sikap tegas. Siapa yang peduli?"


"Maka itu dia bergaul dengan pemabuk dan penjudi. Orang yang percaya pada botol dan kartu."


"Perbuatan Papi dan Katrin sudah melampaui batas. Mami mestinya tidak mentolerir."


"Mami tidak memaafkan perbuatan binatang itu. Tapi hatinya pasti luluh kalau mendengar penyesalan suaminya. Itu sudah sering terjadi. Satu dua minggu kemudian Papi begitu lagi."


"Kamu tahu apa alasanku tidak memblokir nomor kakakmu?" tatap Gerdy sabar. "Aku ingin kakakmu tak berhenti berusaha mencari keterangan dariku sehingga seluruh perhatiannya tercurah padaku. Jadi kehidupan kalian tidak terganggu."


"Katrin bisa menggunakan berbagai cara untuk memperoleh informasi darimu."


"Kamu belum mengenal suamimu kalau bisa terperdaya dengan kelicikan perempuan. Aku berhenti jadi laki-laki kalau hal itu terjadi."


"Alah, buktinya kamu tidak tahu kalau aku tidak minum pil anti hamil. Apa itu bukan terperdaya namanya?"


"Aku membiarkan diriku terperdaya. Aku menghendaki kamu jadi istriku. Maka itu aku pergi mandi dan kubiarkan kamu untuk menentukan pilihan. Nah, pilihanmu ini aku sedikit tidak menyangka, kamu ternyata memilih aku bukan Bradley, membiarkan dirimu hamil."


"Bradley mana mau menerima barang bekas."


"Cinta bisa memaklumi."


"Kamu juga?"


"Aku tidak berharap kamu masih suci hari itu."


"Aku cinta kamu sejak lama, maka itu dijaga baik-baik kehormatanku karena cuma itu kebanggaan yang kumiliki."

__ADS_1


"Jadi kamu sudah menyiapkan dari dulu untuk menjebak aku?"


"Karena aku tahu siapa calon pacarku."


"Katrin bukan masalah serius bagiku. Aku lebih memikirkan Karlina. Dia bisa saja nekat membocorkan pernikahan kita. Aku jadi berpikir untuk berterus terang pada orang tuaku."


Nadine kaget. "Kamu buang jauh-jauh pikiran itu. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk membuat pengakuan."


"Aku tidak yakin ada saat yang tepat."


"Setidaknya tunggu kamu lulus."


Gerdy menatap hambar. "Apa bedanya dengan sekarang?"


"Kamu sudah siap hidup menderita? Aku melihat kamu masih terikat dengan gaya hidup mewahmu."


"Aku tidak ditakdirkan untuk jadi orang miskin."


"Kamu jadi orang miskin kalau membuat pengakuan sekarang."


"Lebih menyakitkan kalau aku membuat pengakuan setelah lulus. Lagi pula, aku membuat pengakuan kapan pun kamu tidak akan diakui sebagai menantu. Aku kerja untuk menghadapi risiko itu."


Nadine mengeluh dengan wajah muram, "Aku bukan khawatir soal itu sebenarnya. Aku belum siap mengarungi hidup sendiri dengan jabang bayi di perutku. Kamu pasti tidak boleh kembali padaku."


"Aku pasti kembali padamu apapun yang terjadi."


"Aku tidak yakin kamu dapat menerima ultimatum ayahmu. Aku tidak yakin kamu memilih aku daripada tidak diakui sebagai anak untuk seumur hidup."


"Aku sudah lebih siap saat itu. Aku persilakan kamu untuk memilih orang tuamu. Saat itu Prilly sudah lulus SMA. Dia bisa membantu aku menghidupi keluarga."


"Apa harus seperti itu?"


"Aku tidak mau kamu kehilangan orang tua gara-gara aku."


Gerdy diam. Dia jadi bimbang dengan tekatnya. Dia tidak bermimpi Nadine diakui sebagai menantu seandainya membuat pengakuan saat ini. Keberadaan Karlina sebagai calon istri adalah sebuah pengukuhan. 


Gerdy hanya berharap orang tuanya tidak terlalu murka kalau membuat pengakuan saat ini. Dia sangat berat untuk membuat pengakuan setelah wisuda karena saat itu anaknya sudah lahir. 


"Bagaimana kalau Karlina nekat melaporkan pernikahan kita?" tatap Gerdy tawar. "Risikonya sama saja. Aku pasti diultimatum untuk menikah dengan Karlina, atau pergi dari kehidupan mereka."


"Bukti yang kamu miliki terlalu dahsyat untuk diabaikan, kecuali Karlina sudah tidak waras."


"Dia bisa tidak waras karena cinta."


Nadine seakan menyalahkan suaminya. "Kamu terlalu mengumbar junior begini akibatnya. Aku yakin Karlina tidak mendapat kepuasan dari Robby, maka itu dia memilihmu."


"Aku sudah membuat pengakuan berkali-kali. Aku tidak bermain dengan perempuan mana pun sejak aku memutuskan untuk menjadikan kamu istri."


"Kamu tidak kepikiran untuk minta padaku saat itu?"


"Tanganku mendaki bukit kembar saja kena tampar, kamu nyuruh aku minta?" pandang Gerdy tak percaya. "Bulldog pondokan bisa dilepas semua."

__ADS_1


Nadine tersenyum kecil. "Maka itu aku datang ke apartemen untuk menjebakmu supaya menghentikan semua kegilaan itu."


Gerdy membaringkan Nadine  dan menindihnya. "Kamu berani menjebak aku berarti sudah siap menanggung risikonya. Aku bisa sepuluh kali dalam sehari."


Nadine memandang mesra. "Aku malah siap lima belas."


"Berarti aku di kamar terus. Kamu makan apa? Aku mesti cari nafkah."


"Aku pegang rekening lima ratus juta."


"Itu buat biaya penyambutan anak kita nanti. Aku ingin kamu operasi Caesar, supaya kamu tetap pas di aku."


"Aku mau anakmu lahir normal. Aku tahu caranya untuk tetap pas di kamu."


Gerdy melepaskan tindihannya dan duduk di tepi kasur. "Aku membuat pengakuan saat ini atau nanti sama saja risikonya. Aku ingin membuat pengakuan malam minggu nanti."


"Aku tidak kuasa melarang suamiku untuk membuat pengakuan. Aku cuma minta kamu siapkan uang buat naik taksi untuk pulang ke Jakarta, karena kamu pasti tidak membawa apa-apa dari kota satelit."


Keraguan muncul di hati Gerdy. Dia sebetulnya belum siap untuk kehilangan semua fasilitas. Dia menatap istrinya dengan serius.


"Aku jadi gembel kalau membuat pengakuan minggu ini. Kamu siap menerima suami tidak punya apa-apa?"


"Tidak."


Gerdy tampak kecewa. Nadine bangun dan menyandarkan dagu pada bahu suaminya dengan mesra.


"Buat apa aku menerima suami yang tidak punya apa-apa? Cinta juga berarti tidak punya. Padahal itu yang diminta dari suamiku."


Nadine mengecup wajah Gerdy dengan lembut. "Aku lihat kamu ragu untuk kehilangan duniamu. Lebih baik kamu tunda kalau belum siap."


Gerdy diam merenung. Pilihan yang tersedia sungguh dilematis. Dia kehilangan segalanya kalau membuat pengakuan sekarang. Tapi tegakah dia membiarkan orang tua kehilangan segalanya kalau membuat pengakuan setelah bayi lahir? Harta tidak berguna kalau harga diri tercabik! 


"Suamiku malam ini banyak bengong," kata Nadine manja. "Aku jadi sedih."


"Bagaimana agar tidak sedih?"


Nadine kembali berbaring dan tersenyum penuh arti. "Katanya sepuluh? Baru tiga."


Di luar kamar, Mimin tampak ragu untuk mengetuk pintu.


Mami muncul dari dalam kamar dan menegur, "Kamu ngapain berdiri di situ, Min?"


"Kukus pisang sudah matang. Nyonya pesan suruh dikasih tahu."


"Nyonya pasti tidak ingat itu. Biarkan saja. Mereka pengantin baru. Aku saja sempat semalaman penuh tidak keluar."


"Nyonya dan Tuan juga pernah sehari semalam tidak keluar. Apa mereka tidak lapar ya?"


"Mereka makan cinta. Jadi tidak lapar."


"Makan cinta?"

__ADS_1


Mami tersenyum melihat Mimin bengong. Dia tentu tidak mengerti karena belum pernah merasakan indahnya jadi pengantin baru.


__ADS_2