Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Tak Semudah Yang Diperkirakan


__ADS_3

Pagi itu Gerdy berada di sebuah kawasan pertokoan. Dia sendiri tidak tahu apa yang dicari di antara keramaian orang berbelanja itu. Dia hanya mengikuti putaran lambat ban Mogenya. Tak punya tujuan.


Motor gede ini terpaksa dibeli karena desakan istrinya. Nadine tiap hari menasehati untuk membeli kendaraan agar tidak repot dan ongkosan naik turun angkutan umum cari pekerjaan. Gerdy sempat berpikir untuk membeli mobil sekalian jadi driver online. Tapi istrinya lebih setuju dia jadi sopir pick up toko membantu Pak Marto.


Gerdy melihat pria separuh baya itu belum perlu bantuan. Jadi dia lebih baik cari kerja di luar. Kerja apa saja. Sampai hari ini dia belum berhasil mendapat pekerjaan.


Gerdy sudah keluar uang cukup banyak untuk mencari kerja. Dia mempunyai batasan tertentu untuk biaya cari kerja. Dua bulan lagi masih menganggur, dia benar-benar jadi pecundang di depan istri, merawat bayi atau membantu Pak Marto di toko.


Dia diburu waktu. Tapi tak ada peluang buat meloloskan diri. Nasib baik seolah tak berpihak padanya. Cari kerja ternyata tidak semudah yang diperkirakan.


Gerdy menelan air liur melihat seorang anak kecil melemparkan es krim yang masih separuh ke tong sampah. Dia jadi teringat masa kecilnya, begitu gampangnya membuang jajanan. Tak ada rasa sayang sama sekali. Padahal harga dari sisa es krim itu cukup untuk membeli segelas es kelapa penawar dahaga yang mulai mencekik lehernya.


Gerdy membawa uang pas-pasan dari rumah. Ongkos bensin saja. Kalau beli minuman, pulangnya mesti mendorong motor beberapa kilometer.


Nadine sampai menitikkan air mata melihat perubahan drastis suaminya ini. Belajar jadi orang biasa, bukan berarti harus menyengsarakan diri.


"Aku tidak menyiksa diri," sanggah Gerdy sebelum berangkat. "Aku ingin mendidik diri bahwa cari uang tidak gampang."


"Bawalah pulang anakmu dan kembalilah pada kehidupanmu," kata Nadine sesak. "Aku tidak tega melihat pria yang kucintai menderita begini."


"Jangan pernah katakan apapun tentang cinta kita," sahut Gerdy mantap. "Aku tidak menderita, kamu memandangku terlalu berlebihan."


Nadine tidak bisa berbuat banyak melihat sikap keras kepala suaminya. Gerdy terlalu keras mendidik dirinya. Atau dia sedang menghukum dirinya yang telah mengecewakan kedua orang tuanya?


Mata Gerdy tertuju kepada ibu-ibu yang keluar dari sebuah swalayan. Dia kelihatan repot sekali membawa kantong belanjaan. Pasti nyonya pelit. Belanja kebutuhan dapur dilakukan sendiri. Barangkali takut uang belanja ditilep kalau menyuruh pembantu, atau tidak kebagian troli untuk membawa barang belanjaan.


Gerdy membelokkan Moge memasuki pelataran swalayan. Dia berhenti di dekat wanita itu, dan segera turun menghampirinya.


"Mari saya bantu," kata Gerdy.


Perempuan itu memandang penuh selidik. Gerdy menarik nafas halus. Di Jakarta berbuat baik saja sulit. Uluran tangan seseorang dipandang sebagai hal yang patut dicurigai. Mungkin karena banyak orang berpenampilan baik tapi berperilaku buruk.


"Baiklah." Entah percaya pada senyum jujurnya, atau butuh bantuan, tatapan yang menusuk itu berubah lunak. "Kelihatannya kamu orang baik-baik."


Gerdy hampir melompat gembira seolah kepercayaan adalah barang langka di ibukota. Susah ditemukan. Wanita itu menyerahkan kantong belanjaan yang berat-berat, sementara yang ringan dibawa sendiri.


Gerdy menjinjing kantong belanjaan sambil siap-siap mengikuti langkahnya.


"Mobil Ibu parkir di mana?" tanyanya.


"Mobil?" Perempuan itu menatap sejurus.

__ADS_1


"Ibu bawa mobil kan?"


"Mobil apa! Aku ini cuma pembantu! Ada mobil tiga di rumah. Satu dibawa tuan, satu dipakai nyonya, satu lagi untuk ngantar cah ayu ke sekolah. Nah, aku kebagian sepeda roda tiga!"


Pembantu? Gerdy memandang kagum, merasa tertipu juga. Dandanannya sangat glamor kayak nyonya besar. Tapi kalau diperhatikan secara teliti, pakaiannya bukan barang bermerek. Perhiasan juga imitasi. Pantas jambret tak mau mendekat.


"Saya kira...."


"Saya kira apa?" sergah si ibu. "Kalau ngomong jangan setengah-setengah, kecuali otakmu setengah waras."


"Maklum otaknya rada lemot."


Wanita itu mulai curiga. "Katanya siap mengantarkan, kok diam saja?"


"Ee, saya ..."


"Saya apa?" potong ibu itu tidak sabar. "Jangan-jangan kamu copet ya?"


Dan kota kosmopolitan paling alergi terhadap copet. Gerdy mulai menarik perhatian banyak orang. Mereka mulai siaga. Bahkan ada yang siap-siap memegang batu. Kacau.


Gerdy terpaksa menggantungkan kantong belanjaan pada aksesoris sasis, daripada babak belur kena amuk massa, sebagian ditaruh di atas tangki.


"Helm buat penumpang mana?" tanya si ibu.


Wanita itu naik ke boncengan. "Tidak apa tidak pakai helm, dekat ini. Tidak ada polisi."


"Kena tilang, Ibu saya jadikan jaminan."


"Kamu pikir aku BPKB?"


"Lagi mana ada Harley Davidson jadi ojek?"


"Banyak! Untuk bayar cicilan!"


"Saya cash."


"Gak nanya! Cepetan jalan!"


Gerdy menghidupkan motor. Hitung-hitung pelajaran baginya. Menolong harus jelas orangnya biar tidak salah sasaran. Bikin susah jadinya.


Bayangkan saja, sudah diantar baik-baik, sepanjang jalan tak henti-hentinya ngomel, membuat Gerdy tidak yakin dapat pahala atas kebaikannya karena saking jengkelnya.

__ADS_1


"Jangan terlalu kencang!" semprot wanita itu. "Tabrakan mati aku! Kemarin aku bercinta dengan pacarku dan belum sempat tobat, kau mau aku masuk neraka?"


"Tadi suruh cepetan," gerutu Gerdy kesal. "Sekarang minta pelan-pelan. Apa sekalian saja Mogenya kita dorong?"


"Siapa yang suruh ngebut? Aku tadi bilang cepetan karena takut ada pacarku, jadi ribet urusannya. Jangankan sama orang ganteng kaya kamu, sama gorila saja jealous! Pokoknya kamu jangan banyak protes! Ikuti saja maunya penumpang!"


"Baik, Bu," kata Gerdy dongkol.


"Nah, begitu! Berlaku ramah kepada konsumen adalah kunci kesuksesan. Ngomong-ngomong kamu sugar Ojol bukan?"


"Istilah apa lagi itu?"


"Kan ada sugar baby, sugar daddy. Nah, kau sugar Ojol bukan?"


"Istilahnya saja saya baru dengar."


"Katrok sekali kau! Tapi bagus begitu. Jadi bebas dari dosa. Jangan kayak pacarku! Tiap hari minta bercinta! Katanya sungguh enak hidup tanpa ikatan, kan edan!"


Suara bising seperti knalpot bocor itu baru lenyap ketika motor tiba dan berhenti di depan pintu pagar sebuah rumah bertingkat di daerah elit.


Pantas cerewet, pikir Gerdy keki, pembantu rumah mewah. Pasti tiap hari dimarahi majikan, jadi dilampiaskan pada orang lain.


Selesai Gerdy menurunkan kantong belanjaan, perempuan itu menyelipkan sesuatu ke tangannya. Sekilas diliriknya dan dia tersentak kaget.


"Bu!" seru Gerdy.


Wanita yang lagi memencet bel itu menoleh sekejap. "Apa? Kurang? Nih, sepuluh ribu lagi!"


Selembar uang kertas yang sudah diremas-remas melayang di udara dan hampir mengenai mukanya kalau Gerdy tidak menangkapnya.


Sebelum dia sempat berbuat apa-apa, ibu itu sudah melangkah masuk dan security segera menggembok kembali pintu gerbang. Kemudian memanggil anjing herder untuk menjaga pintu. Barangkali takut dia berniat jahat. Metropolitan sangat kental dengan rasa curiga.


Mulai saat ini Gerdy harus terbiasa dengan budaya Jakarta. Terima kasih seseorang bukan diungkapkan melalui kata, tapi melalui uang. Atau mungkin wanita itu mengira dia penjual jasa transportasi. Seperti gadis yang melambaikan tangan dari rumah sebelah itu. Wajah metropolis tapi dandanan pinggiran. Pembantu juga kelihatannya.


"Mas! Tolong antar gua!"


Sebersit pikiran melintas di benak Gerdy. Barangkali Tuhan ingin menunjukkan pekerjaan yang tanpa sengaja ditemukan. Takdir membawanya ke jalanan.


"Swalayan juga?" tanya Gerdy. "Belanja kebutuhan dapur?"


"Emangnya gua pembantu apa?" hardik gadis itu. "Antar kuliah! Mobil gua masuk bengkel!"

__ADS_1


"Mahasiswi toh?"


Gerdy terpana. Jakarta sungguh membuatnya bingung.


__ADS_2