
Berjam-jam Gerdy tak sadarkan diri. Dan berjam-jam pula Katrin menunggunya di depan ruang UGD sambil tak henti menangis. Berbagai perasaan mendera hatinya.
Dia sama sekali tak menduga kalau penyebab komanya itu karena fungsi ginjalnya terganggu. Dia kira karena semalaman kurang tidur menyelesaikan tesis dan paginya masuk kerja. Energinya jadi terkuras. Mengapa Gerdy tak pernah jujur kalau ginjalnya tinggal satu? Mengapa dia harus tahu dari dokter?
Barangkali Gerdy merasa tak perlu bercerita. Dia ingin menyimpan deritanya rapat-rapat. Atau dia menganggap dirinya bukan siapa-siapa? Tak punya arti apa-apa? Hanya Nadine yang boleh tahu kesusahannya! Satu-satunya wanita yang berharga dalam hidupnya!
Jujur Katrin sangat mencintai Gerdy. Dia tidak kecewa manakala tahu lelaki itu tidak pernah mencintainya. Dia sudah bahagia dibiarkan untuk mencintai dan hidup bersamanya.
Ketika beberapa jam kemudian mata yang terpejam itu perlahan terbuka, dia begitu gembira melihatnya. Tak peduli Gerdy merasakan getaran hatinya atau tidak. Dia tahu seharusnya bukan dirinya yang duduk menemani di ruang UGD. Dia tahu siapa yang diharapkan. Tapi perempuan itu lagi bersenang-senang bersama suaminya di Hawaii!
Nadine baru datang setelah beberapa hari Gerdy dirawat. Begitu tiba di bandara, dia langsung pergi ke rumah sakit di Bandung. Air mata sudah mendesak-desak keluar saat memasuki kamar perawatan. Dan tidak bisa dibendung begitu berjumpa dengannya. Terenyuh melihat keadaannya.
Wajahnya amat pucat. Jarum infus menempel di tangannya. Pipa oksigen melekat di hidung. Dan berbaring tak berdaya seorang diri. Tak ada yang menemani. Barangkali Katrin pulang istirahat, dan tak ada kewajiban untuk menungguinya.
"Maafkan aku, beb," tangis Nadine pedih sambil menggenggam tangannya. "Aku terlambat datang."
"Seharusnya tidak datang," gumam Gerdy lemah. Matanya menatap sayu. "Suamimu ditinggal di bandara?"
"Mestinya Luki tidak menungguku pulang untuk kasih kabar."
"Dia tidak mau mengganggu bulan madumu."
"Kalau tahu kamu seperti ini, bukan cuma bulan maduku yang dipersingkat, usia perkawinan pun pasti diperpendek."
Keadaan Gerdy menghapus segenap kebimbangannya. Dia harus segera mengambil keputusan. Dia tahu risikonya bila bercerai dengan Bradley. Dia harus meninggalkan kehidupan yang gilang-gemilang. Jadi wanita biasa. Tapi apalah artinya semua itu dibanding cintanya?
"Aku tak mau kehilanganmu, beb," isak Nadine. "Aku tak mau berpisah denganmu."
Gerdy mengalihkan pandangannya ke langit-langit. Tidak tahan melihat bilur-bilur yang menghiasi bola mata indah menawan itu. Bilur-bilur yang hampir meruntuhkan benteng pertahannya. Bilur-bilur cinta.
"Perkawinan bukan permainan," ujar Gerdy galau. Matanya terdampar layu di langit-langit. "Yang bisa kamu sudahi setiap kali menginginkannya."
"Aku ingin hidup bersamamu, beb. Seperti dulu."
"Bradley juga ingin hidup bersamamu, seperti sekarang."
"Dia bisa mencari penggantiku."
"Dia sudah melakukannya kalau bisa. Seharusnya kau bersyukur memiliki suami sebaik dirinya."
"Kau juga suami yang baik."
"Kalau aku suami yang baik, kau tidak akan menjadi milik orang lain," desis Gerdy pahit. "Jangan pudarkan kehidupan yang telah memiliki warna. Pikirkan Idyla. Jangan hancurkan kebanggaannya dengan papanya yang sekarang. Dia baik-baik saja, bukan?"
Nadine tertegun. Selama ini Gerdy belum pernah menyinggung soal putrinya. Dia selamat atau tidak dari ancaman maut pun seperti tak ingin tahu. Sekarang tiba-tiba saja menanyakan kabarnya. Apakah ini pertanda sebelum ajal menjelang? Ah, tidak mungkin! Kondisi Gerdy sudah stabil! Tinggal menunggu proses penyembuhan!
"Kenapa?" tatap Gerdy lemah. "Tidak boleh aku tahu?"
"Kau ingin bertemu dengan anakmu?"
__ADS_1
Tentu saja keinginan itu ada. Bertahun-tahun dia memendam rindu. Entah sudah sebesar apa sekarang. Pasti tumbuh sehat penuh gizi. Tapi dia tahu apa yang harus keluar dari mulutnya.
"Biarlah Idyla menganggap Bradley sebagai papanya."
"Kamu ayah kandungnya."
"Apa artinya ayah kandung kalau menyelematkan nyawanya saja tidak mampu?"
"Bukan salahmu."
"Dan bukan salah siapapun. Ini adalah jalan yang mesti kita lewati. Kita harus belajar menerima sesuatu yang tidak kita sukai. Kita tempuh jalan hidup masing-masing."
"Jangan bilang bukan aku yang kau cinta."
"Cinta tidak harus saling memiliki."
"Aku tidak rela kau mencintai Katrin."
"Aku juga tidak rela kau jadi istri Bradley."
"Aku akan minta cerai."
"Kau mau aku jujur padamu?" Lewat sinar matanya yang redup Gerdy mencoba membangun kekuatan dirinya. Memandangnya dengan lembut. "Kau satu-satunya wanita yang kucintai dan tak tergantikan. Sampai kapanpun aku tak bisa melupakanmu. Tapi sampai kapan pun aku tak bisa memaafkanmu kalau kau minta cerai. Kembalilah pada suamimu demi Idyla, demi masa lalu kita."
Nadine diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Tapi melalui tatapan yang berlumur permohonan itu, dia melihat sebuah kesungguhan di sana. Sepertinya dia tidak punya pilihan. Dia telah banyak berkorban. Mengapa tidak berkorban sekali lagi untuk kebahagiaan anaknya?
Dan kemunculan Katrin di pintu makin mengukuhkan kesadarannya. Dia harus rela melepas pria yang dicintainya. Perempuan itulah sekarang yang berhak mendampinginya. Dia harus menerima posisinya sudah tersingkirkan!
Dia tak boleh menghalangi mereka merangkai mimpi-mimpinya. Mengayuh biduk menuju pantai harapan. Air matanya hanyalah tangisan masa lalu! Tak berarti apa-apa! Dia harus pergi dari kehidupan Gerdy!
Barangkali cintanya mesti terdampar di pelabuhan lain. Lelaki yang tak pernah sepi dari cintanya. Dan teringat suaminya, muncul hasrat untuk menghubunginya.
Tentu saja Bradley terkejut. Bukan karena istrinya menelpon di tengah malam buta. Tapi mendengar suaranya yang lain dari biasanya.
Dalam sekian lama perkawinan mereka, hampir tak pernah mendengar suara Nadine mengalun demikian merdu. Ah, rasanya segenap keletihannya sirna seketika.
Di tengah kesibukan urusannya, dia bolak-balik ke daerah untuk menjalankan terapi pada alamat yang telah diberikan istrinya. Pengobatan tradisional ternyata sungguh mujarab. Hanya dalam satu bulan sudah memperoleh perkembangan yang sangat berarti. Dia sengaja tidak memberi tahu istrinya untuk surprise pada perayaan hari ulang tahun pernikahan mereka!
"Mas," tegur Nadine ketika tidak terdengar sambutan Bradley. "Kau ketiduran?"
Bradley tertawa halus.
"Tentu saja tidak! Kantukku langsung lenyap begitu mendengar suaramu. Ada apa?"
"Tidak boleh aku ngebel suamiku?"
"Kau tahu apa yang selalu kunantikan."
"Aku rindu padamu, Mas."
__ADS_1
"Darling...," desis Bradley tak percaya. "Kau bukan sedang bermimpi, kan?"
"Aku justru belum tidur."
"Katakan sekali lagi," pinta Bradley lembut. "Aku begitu ingin mendengarnya."
Nadine mengatupkan matanya sesaat. Mengumpulkan sisa-sisa cintanya yang masih berserakan di awan. Lalu lambat-lambat bibirnya bergetar.
"Aku sungguh-sungguh rindu padamu, Mas."
"Belum pernah aku sebahagia malam ini."
"Malam-malam sebelumnya tidak bahagia?"
"Tiada hari bersamamu berlalu tanpa kebahagiaan," gumam Bradley mesra. "Tapi malam ini aku betul-betul bahagia sekali. Seandainya seluruh pena di dunia dikumpulkan, rasanya tidak cukup untuk menuliskan kebahagiaanku. Aku ingin segera bertemu denganmu."
"Kau bisa lakukan akhir pekan."
"Aku ingin datang malam ini juga. Rasanya tidak tahan menunggu sampai akhir pekan."
"Nggak capek?"
"Pikirmu aku di mana?"
"Jakarta."
"Aku ada di daerah selatan yang dekat dengan kotamu. Sudah satu bulan aku terapi pada seorang tabib. Dan hasilnya bisa kau rasakan malam ini juga. Aku ingin berterima kasih pada anak buahmu yang sudah memberikan alamat tabib itu. Siapa namanya, Darling?"
"Kau tidak perlu tahu siapa namanya," jawab Nadine sedikit gugup. "Karena dia menginginkan kita untuk melupakannya."
"Alangkah mulianya orang itu."
"Jadi kau sudah sembuh, Mas?"
"Kau lihat sendiri nanti."
"Aku menunggumu, Mas."
"Dandan yang manis ya. Aku tidak mau memelukmu dengan pakaian yang semerawut. Sekarang sudah lewat tengah malam. Jadi hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita. Kita awali hari dengan peristiwa yang sangat romantis."
Nadine tersenyum manis sambil mengakhiri percakapan. Untuk pertama kalinya dia menyanggupi permintaan suaminya dengan senang hati.
Dia ingin menjadikan malam ini sebagai awal dari malam-malam bahagia berikutnya. Dia ingin tampil sebaik-sebaiknya dengan mengenakan gaun pengantin. Malam ini bertepatan dengan hari perkawinan mereka.
Dia ingin menciptakan suasana yang romantis. Yang penuh kesyahduan. Yang berbeda dengan beberapa tahun lalu. Dia ingin menyerahkan cintanya dengan setulus-tulusnya.
Tapi yang menyentakkan lamunannya satu jam kemudian bukan kehadiran sosok yang dinanti-nantinya. Bukan kemunculan suaminya. Dering telepon dari kantor polisi!
"Nyonya!" teriak pembantu panik. "Tuan kecelakaan!"
__ADS_1