
Mula-mula Nadine mengira benjolan kecil di daun telinga putrinya cuma benjolan biasa, akibat digigit serangga atau terkena sesuatu. Maklum Idyla sudah pandai berjalan. Serang lucu-lucunya, sedang nakal-nakalnya pula.
"Aduh, kenapa, Sayang?" hibur Nadine ketika Idyla menangis keras seperti kesakitan. "Kupingnya kok dipegangi terus? Coba Mama lihat. Ah, tidak apa-apa. Masa anak Mama segitu saja nangis?"
Bermacam cara Nadine mencoba membujuknya. Usahanya berhasil. Idyla sudah bisa tertawa-tawa lagi dan kembali bermain.
"Bantu aku periksa rumah, Min," kata Mami. "Cucuku kayaknya digigit binatang kecil."
Seharian mereka mencari sarang serangga dengan hasil nihil. Rumah ini sangat bersih, tidak ada barang berdebu. Lalat pun malu untuk bertamu.
Malam harinya Idyla menangis lagi dengan masalah serupa. Dua hari kemudian pun begitu. Muncul rasa sakitnya tidak tentu.
"Minggu ini anak kita sering sekali menangis," kata Gerdy yang terbangun tengah malam mendengar suara tangisnya. "Aku kira bukan karena gigitan serangga."
"Baby sitter mengajaknya bermain di luar, kemudian Idyla berlari ke dalam sambil menangis, begitu awal kejadiannya."
"Menurut baby sitter kenapa katanya?"
"Dia lagi mengobrol dengan Pak Hamdani. Jadi tidak tahu."
"Ceroboh."
"Maka itu aku kembalikan ke yayasan. Aku tidak suka waktu kerja tebar pesona."
"Sudah minta gantinya?"
"Biar si Mimin saja. Idyla sudah besar, jadi tidak perlu keahlian khusus untuk merawatnya."
"Kasih tahu saja hal-hal yang perlu dilakukan."
"Dia sudah tahu apa yang perlu dikerjakan. Selama ini dia belajar dari baby sitter secara diam-diam."
"Ada juga inisiatifnya."
"Dia ingin melakukan yang terbaik untuk keluarga ini."
Sebuah ide muncul di benak Gerdy, dan disampaikan kepada istrinya, "Apa si Mimin saja kita jodohkan sama Pak Hamdani?"
"Cinta tidak bisa dipaksa. Pak Hamdani maunya sama Mami."
"Kasihan cintanya digantung."
"Sudah ada lampu hijau. Mami sudah mulai mengakrabkan diri dengan anak-anaknya."
__ADS_1
"Aku senang mendengarnya."
"Tapi aku sedih dengan anak kita."
Nadine curiga pasti ada sesuatu dengan kuping putrinya. Tidak mungkin cuma memar biasa. Dua tiga hari saja pasti sudah hilang. Lagi pula, benjolan itu tak ada tanda-tanda seperti memar.
Kecurigaan Nadine makin beralasan ketika dokter THT tidak bisa mendiagnosa keanehan di telinga putrinya.
"Sebaiknya Ibu hubungi bagian radiologi," saran dokter. "Saya buatkan surat rujukannya."
Seketika wajah Nadine memucat. Bagian radiologi? Kenapa harus diperiksa di bagian itu? Apa penyakit anaknya demikian gawat?
Dokter tersenyum kecil. "Ibu jangan berpikir yang bukan-bukan. Di sana anak Ibu cuma difoto. Nah, hasil foto ini nanti dianalisa oleh mereka."
Nadine memandang bingung. "Kenapa mesti dibawa ke sana, Dok? Penyakitnya tidak berbahaya, kan?"
"Saya tidak berani bilang benjolan itu penyakit, dan saya tidak berani pula memastikan benjolan itu bukan penyakit. Ibu tahu artinya apa? Saya tak mau berspekulasi dengan nyawa pasien."
Nadine mengamati pria separuh baya itu lurus-lurus. Mencoba mencari sesuatu yang mungkin disembunyikan di balik tatapannya, tapi dia gagal menemukannya. Ah, dokter paling pintar menyimpan firasat dari kejaran kepenasaran.
Perasaan Nadine makin tak enak waktu pergi ke bagian radiologi hasil foto Idyla tidak bisa diketahui hari itu juga, baru dapat diberikan besok. Duh, mengapa begitu lama? Tidak tahukah mereka untuk menunggu sampai besok dia pasti tak dapat tidur semalaman?
Dan malamnya Nadine sulit memejamkan mata. Pikirannya terus tertuju pada penyakit yang diderita putrinya, pada rentetan kejadian siang tadi.
Nadine masih bisa mengerti kalau bagian radiologi tak bisa memberi keputusan secepatnya. Mereka sibuk. Tugasnya bukan cuma mengurus Idyla. Tapi tidakkah mereka mengambil keputusan yang sama? Keputusan yang berbuntut panjang?
Nadine menghela nafas menghalau pikiran jelek yang tiba-tiba menyelusup. Bunyinya terlalu keras sehingga membangunkan suami yang tidur di sampingnya.
Gerdy membuka mata dengan berat, dan bertanya, "Ada apa? Kenapa belum tidur?"
"Anak kita, beb," desah Nadine khawatir. "Perasaanku tidak enak."
Gerdy menegur dengan halus, "Kamu masih saja memikirkan masalah itu. Bisa-bisa kamu sendiri yang sakit."
"Kau tidak kuatir?"
"Putri kita belum tentu kena penyakit."
"Belum tentu juga tidak mengidap penyakit."
"Nah, makanya serahkan saja ke dokter. Tunggu apa katanya. Jangan punya pikiran yang bukan-bukan. Bikin capek hati."
"Firasatku lain."
__ADS_1
"Ini bukan soal firasat. Ini soal benjolan di telinga Idyla. Dan itu tidak bisa diselesaikan dengan kekhawatiranmu. Sekarang tidurlah. Sudah malam."
Nadine tidak dapat tidur sampai jauh malam. Firasat buruk membuat matanya sulit terpejam.
Dan apa yang ditakuti Nadine terjadi juga. Penyakit Idyla tidak selesai sampai di bagian radiologi.
"Operasi?!" belalak Nadine kaget. "Anak saya harus dioperasi?"
"Bukan operasi seperti yang Ibu maksud," kata dokter sabar. "Biopsi, mengambil sedikit bagian yang sakit untuk diperiksa di laboratorium."
"Dokter," pandang Nadine gugup. "Anak saya tidak apa-apa, kan? Tidak mengidap penyakit berbahaya?"
"Untuk jawaban itulah putri Ibu harus dioperasi. Ada proses mencurigakan pada daun telinganya."
"Maksud dokter?"
"Ibu akan tahu lebih jelas bila anak Ibu dibiopsi. Saya harap Ibu menyetujui usul kami."
Jadi itu vonis untuknya, pikir Nadine lemas. Idyla mesti dioperasi untuk mengetahui penyakit yang dideritanya. Oh, betapa pelik persoalan yang dihadapi.
Nadine terpaksa menandatangani surat itu. Dia sudah melihat angka yang harus dibayar. Cukup besar. Tapi tidak mungkin rebut tawar. Mereka bukan pedagang sayur!
Lagi pula bukan itu persoalannya. Yang menggelisahkannya justru operasi itu sendiri!
"Biopsi?" Gerdy yang baru pulang dari proyek tak habis kaget. "Dokter bilang begitu?"
"Ya," sahut Nadine lesu. "Dan aku sudah menyetujuinya."
Dada Gerdy bergetar. Dia tahu mengapa ahli medis melakukan itu. Mereka ingin memastikan tanda-tanda peradangan pada jaringan telinga Idyla. Mungkinkah putrinya mengidap penyakit ganas itu?
"Apa kau berpikir sama seperti apa yang ada di benakku?" tanya Nadine tercekat melihat suaminya termenung.
Gerdy berusaha memandang dengan tenang, dan untuk pertama kalinya dia gagal memamerkan senyumnya, terlihat hambar. "Berpikir apa? Kita cuma bisa menanti."
"Aku tahu anak kita tidak hanya berhenti pada biopsi," keluh Nadine muram. "Dia masih harus menjalani operasi yang amat dekat dengan nyawanya."
"Tenangkan hatimu, beb," hibur Gerdy lembut. Padahal diam-diam hatinya sendiri panik. Ya Tuhan! Jangan! Jangan Kau berikan penyakit itu pada anakku! "Mudah-mudahan Idyla tak apa-apa."
"Tidak, beb," bantah Nadine getir. "Aku dapat merasakannya. Sesuatu tengah menggerogoti kehidupan Idyla perlahan-lahan."
"Naluri yang salah dari seorang ibu."
"Aku berharap begitu, tapi hatiku tidak berkata begitu."
__ADS_1
Gerdy tidak tahu harus bicara apa. Dia diam membisu dengan pikiran melayang tak karuan.