Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Kekasih Terindah


__ADS_3

Gerdy keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kimono. Dia menghampiri Nadine yang berbaring di tempat tidur dengan tubuh tertutup selimut. Pakaiannya tergeletak di kasur.


Pengalaman pertama ini sungguh dahsyat untuknya, menari-nari di atas awan, merengkuh badai, lalu tersungkur lunglai dalam jerat kenikmatan, sehingga dia belum sanggup mengayunkan langkah ke kamar mandi untuk membersihkan badan.


"Aku datang dengan kesempurnaan cinta," kata Nadine lembut saat Gerdy duduk di sisinya. "Milikku untuk laki-laki yang percaya cintaku hanya satu untuk selamanya, sudi menerima maaf karena aku merayakan ulang tahun bersama cowok lain, dan bersedia mencintai aku untuk seumur hidupnya."


"Aku tersanjung," bisik Gerdy sambil membelai rambutnya yang panjang terurai. "Aku bangga padamu, seperti mimpi rasanya, kekasih terindahku melebihi apa yang dibayangkan."


Nadine menatap mesra. "Aku bahagia karena bisa mempersembahkan milikku yang paling berharga kepada lelaki yang paling berharga dalam hidupku."


"Sungguh aku belum percaya dengan apa yang dialami," pandang Gerdy takjub. "Kau mampu menjaga kesucian di tengah kotornya ibukota, padahal kehidupanmu begitu liar."


Sejak kecil Nadine sudah berangan-angan ingin hidup seperti keluarga raja-raja. Dia berusaha menjaga kehormatan di tengah derasnya rayuan kehidupan. Dia bukan dari keluarga terpandang, apa lagi yang membuatnya percaya diri untuk bersanding dengan seorang sultan?


Dia menjaga mimpi itu baik-baik hingga muncul nyanyian syahdu untuk mempersembahkan mahkotanya kepada Gerdy, sebagai kado terindah dari kesempurnaan cintanya. Tapi di ranjang pengantin! Di malam pertama! Bukan sore ini!


"Kamu tidak mandi?" tanya Gerdy lembut. "Kimono sudah disiapkan di kamar mandi."


"Sakitnya belum hilang," sahut Nadine pelan. "Mellow banget ya?"


Gerdy tersenyum samar. "Aku suka gadis mellow."


Nadine sadar sepenuhnya kalau dia sudah menyerahkan miliknya yang paling berharga sebelum tiba waktunya. Tapi dia tidak mengingkari kalau hatinya berbunga-bunga.


Gerdy menawarkan diri, "Aku gendong ke kamar mandi ya?"


"Tidak usah," tolak Nadine halus. "Sebentar lagi rasa sakitnya pasti hilang."


Padahal dia malu untuk digendong dalam keadaan tanpa busana. Gerdy tahu apa yang dirasakan pacarnya, maka diangkatnya tubuh Nadine dengan selimut yang membungkusnya.


Nadine tetap tidak dapat menutupi rasa malunya. Wajahnya tampak kemerahan. Kemudian dia memberanikan diri berkata, "Aku kelihatan cupu banget ya?"


"Aku suka cewek cupu," jawab Gerdy. "Aku seperti mendapat durian runtuh. Kamu sudah menghapus image buruk di mataku. Aku semakin yakin dengan pilihanku."


Nadine tersenyum berlumur madu. Dia sangat senang mendengar janji suci itu. Di hatinya makin terpatri sebuah tekat bahwa dia hanya ingin hidup bersama Gerdy. Apapun yang terjadi!


Gerdy membaringkan tubuhnya di bathtub sambil berkata, "Kalau sudah hilang rasa sakitnya...."


"Kalau sudah hilang mau apa?" tatap Nadine mesra.


"Kamu bisa segera mandi."


"Kirain...."


"Kirain apa?"


Nadine mencoba mengelak dengan berkata, "Aku tahu ini tidak benar."


"Aku sudah lama tidak tahu mana yang benar mana yang tidak."


"Karena keseringan main sama pacar-pacarmu," sindir Nadine. Sama Karlina juga mungkin, lanjut hatinya getir. "Siapa saja yang pernah mandi di bathub ini?"


"Laki-laki apa perempuan?"


Nadine kaget. "Jadi laki-laki juga?"


"Apaan sih?"


"Kirain...."

__ADS_1


"Baru kamu kalau perempuan."


"Karlina belum pernah?"


Gadis itu sebenarnya ingin liburan akhir pekan bersama Gerdy di apartemen ini. Tapi dia menolaknya. Mereka tidak boleh melangkah terlalu jauh, tinggal satu kamar berdua bukan pilihan terbaik. Ribet urusannya jika Nadine tahu. Dia tidak mau pacarnya pergi karena perjodohan itu.


"Aku melarang Karlina untuk datang ke apartemen ini," kata Gerdy. "Meski tetangga sebelah, tiap akhir pekan calon istrinya datang berlibur."


"Kok jadi ngomongin tetangga sebelah?"


"Sekedar ngasih gambaran kalau aku dapat menahan diri."


Nadine percaya kalau Karlina belum pernah datang dan menginap di apartemen ini. Tidak ada tanda-tanda kalau perempuan pernah tinggal di sini.


Tapi Nadine sedikit sangsi kalau mereka belum pernah berhubungan intim. Calon istri pilihan orang tuanya sangat hijau dan segar untuk jadi ladang gembalanya. Situasi sangat mendukung. Jadi tidak perlu atas nama cinta.


"Aku tahu kamu tidak percaya," kata Gerdy. "Tapi bagiku Karlina adalah boneka Barbie di dalam lemari kaca yang tidak boleh disentuh."


Nadine tidak mau memperdebatkan sesuatu yang dia tidak tahu kejadiannya. Lagi pula, dia tidak berharap banyak pada laki-laki yang digandrungi perempuan. Gerdy bersedia membalas cintanya saja sudah cukup. Dia berharap pacarnya menghentikan kebiasaan itu setelah apa yang mereka lakukan bersama.


"Pacar-pacarmu yang lain sering mampir ke apartemen?" pancing Nadine.


"Pacarku cuma kamu."


"Masa? Kata cowok di depan, sebelum aku, ada dua cewek datang hari ini."


"Dia pasti tidak cerita kalau ada tiga cowok yang menemani mereka."


"Jadi kalian...?"


"Jangan ngeres deh! Ada tugas kelompok."


"Kamu lihat skripsinya ya di meja depan? Dia sering minta bantuan aku."


"Kamu kan bukan dosen pembimbing!"


"Sudahlah. Aku tidak mau bahas perempuan lain saat ini."


"Lalu kau mau bahas apa?"


"Bahas tentang cinta kita karena cuma ada kita di apartemen ini."


"Ada apa dengan cinta kita sehingga perlu dibahas? Apa kau mau mengingkari janji setelah mengambil mahkotaku? Aku lihat ada cek kosong di meja kamar. Cek buat siapa? Cek buat aku sebagai tanda mata terakhir?"


"Jangan menebak-nebak."


"Tebakanku biasanya benar untuk cowok play boy."


"Kenapa kamu datang ke apartemen ini kalau tahu pacarmu play boy?"


Nadine memandang mesra. "Karena aku terlanjur cinta."


"Aku juga terlanjur sayang padamu. Janjiku tidak berubah untuk menjadikan kamu sebagai istriku."


"Orang tuamu sudah menetapkan Karlina untuk jadi istrimu."


"Aku sudah siap menanggung risikonya."


"Berarti tabunganmu sudah besar."

__ADS_1


"Lumayan."


"Berapa?"


"Satu milyar."


"Aduh, rendah hati sekali calon suamiku! Satu milyar dibilang lumayan!"


"Aku bisa memperoleh seribu kali, bahkan lebih, kalau memilih Karlina jadi istriku."


"Kamu ngomong begitu bukan karena kepingin lagi kan?"


"Kepingin apa?"


Nadine tidak menjawab. Dia tidak mau mengingat kemesraan itu. Dia terlalu cepat mempersembahkan upeti cintanya!


"Cukup sekali aku denganmu," ujar Gerdy.


Nadine terbelalak. "Jadi kamu mau meninggalkan aku seperti pacar-pacarmu sebelumnya?"


"Aku ingin menikmati sepuasnya setelah kita menikah, kecuali kamu keberatan mempunyai suami gembel."


"Gembel?"


"Aku tidak yakin kamu diterima di rumahku. Jadi kelihatannya aku harus pergi."


"Gembel mana ada yang punya duit satu milyar?"


"Impianmu tentu lebih dari itu."


"Kau betul," jawab Nadine jujur. "Sewaktu kecil aku begitu ingin hidup seperti keluarga raja-raja, tapi sejak aku mengenal cinta, aku tidak peduli siapa dirimu. Aku hanya ingin hidup bersamamu."


"Kemesraan itu seharusnya tidak terjadi hari ini."


"Aku tidak mau mengingat hal itu karena mulai hari ini aku cuma ingat kamu."


Gerdy memperhatikan Nadine yang berbaring di bathub dengan tubuh terbungkus selimut. "Kamu mau mandi apa cuma pindah tidur?"


"Kamu keluar dulu! Aku malu!"


Gerdy melangkah pergi, tapi kemudian menoleh untuk mengingatkan, "Pilnya sudah diminum?"


Nadine berlagak bodoh. "Pil apa?"


"Pilkada!"


"Jutek banget."


"Habis banyak tanya."


"Aku tidak sering pakai kayak kamu."


"Aku tidak pernah pakai."


"Pacarmu!"


"Pacarku kan kamu!"


"Sebelumnya!"

__ADS_1


"Aku sudah lupa pacar sebelumnya, aku cuma ingat pacar yang sekarang."


__ADS_2