Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Momen Spesial


__ADS_3

"Kamu tidak malu wisuda bawa bayi?" tanya Nadine saat mobil yang dikendarai Gerdy memasuki gerbang kampus dan meluncur menuju gedung serba guna. "Aku kira cuma kamu yang membawa anak istri."


"Aku ingin Idyla menyaksikan kehebatan ayahnya," sahut Gerdy kalem. "Dan kamu adalah perempuan tercantik pendamping calon wisudawan."


"Aku sampai pergi ke salon karena kurang percaya diri."


"Nyonya sudah kayak bidadari turun dari kahyangan," puji Mimin yang duduk di belakang bersama Mami dan Prilly. "Masa kurang percaya diri? Bagaimana saya? Bedaknya tidak ketebalan kan, Mi?"


Mami tersenyum sedikit. "Tidak. Kamu dandan cantik-cantik buat apa? Usiamu ketuaan untuk cari brondong."


"Duda tidak masalah. Yang penting jangan suami orang. Males berantemnya."


"Aku tidak mau suamiku mendapat malu," kata Nadine. 'Maka itu aku berusaha untuk tampil sempurna."


Nadine sangat bahagia karena suaminya tidak malu membawa anak dan istri di hari bahagia ini. Dia pasti jadi ledekan teman-temannya dan butuh mental baja untuk menghadapi.


Mobil Gerdy memasuki pelataran parkir gedung serba guna. Suasana ramai sekali. Wajah-wajah bahagia bertebaran di setiap sudut pelataran. Tawa ceria mengangkasa menutup suka duka perjuangan selama empat tahun menuntut ilmu.


Gerdy parkir di ujung pelataran di bawah pohon peneduh. Areal ini cukup jauh dari pintu masuk wisudawan dan tamu undangan, tapi tempatnya sejuk sehingga tidak kepanasan untuk menunggu acara selesai.


Hari masih pagi dan udara mulai menyengat. Tapi tidak dirasakan oleh wisudawan yang berkumpul di depan gedung menunggu pintu dibuka. Sebagian wisudawan berbincang-bincang dengan keluarga di bawah pohon peneduh.


"Aku masuk lewat depan," ujar Gerdy. "Kamu sama Mami ambil jalan memutar, pintu tamu ada di balik gedung ini."


"Sekalian saja kamu antar," pinta Nadine. "Jauh sedikit tidak apa."


"Idyla biar sama aku," tukas Prilly. "Aku mau ajak dia jalan-jalan keliling kampus. Kalau mau menyusu, aku tunggu di pintu tamu."


"Aku bawa saja biar tidak repot." Nadine menoleh ke arah suaminya. "Tidak dilarang kan masuk gedung bawa stroller?"


"Tidak," jawab Gerdy. "Hanya mengganggu kehikmatan acara kalau bayi menangis, paling disuruh keluar."


"Artinya tidak boleh.".


"Yang penting bisa menjaga ketertiban. Mendingan anak kita dititipkan ke Prilly kalau kamu tidak bisa menjamin Idyla akan anteng selama berlangsungnya acara."


"Kamu tidak punya teman laki-laki di kampus?" tanya Nadine. "Kok tidak ada yang menyapa kamu?"


"Perempuan juga tidak ada yang menyapa."


"Kamu terkenalnya di SMA ya?"


"Mulai deh."


"Jadi pacar Kak Gerdy banyaknya seusia aku?" potong Prilly surprise.


"Makanya aku suruh kunci pintu kamar kalau kamu tidur. Kebiasaanmu kalau tidur tanpa pakaian."

__ADS_1


"Jangan sampai dah."


"Kalau sama-sama gelap mata dan listrik mati, apa tidak makin gelap tuh mata?"


"Aku bukan seleranya Kak Gerdy."


"Tahu dari mana?"


"Aku melihat istrinya."


"Kita ada di parkiran dosen," kata Gerdy, pusing mendengar obrolan mereka. Dalam acara resmi saja, curiga dan cemburu tidak ketinggalan. "Jadi mereka adalah istri dan anak dosen. Aku tidak terkenal di mata mereka."


Nadine kaget. "Lancang kamu! Bagaimana kalau kita diusir?"


'Makanya jangan kelamaan ngobrol di sini. Kita segera pergi ke tempat yang semestinya."


Nadine geleng kepala. "Di hari terakhir saja kamu bikin masalah sama panitia, bagaimana hari-hari biasa?"


"Nah, jadi aku terkenal di kampus bukan karena otakku saja."


Mereka meninggalkan pelataran parkir. Prilly dan Mimin membawa Idyla jalan-jalan ke deretan gerai makanan yang berada di luar area gedung serba guna. Target mereka menghadiri acara wisuda adalah mencoba kuliner di kota ini. Duduk menikmati makanan khas Parahyangan sambil menunggu acara selesai. Untung di kampus banyak kuliner jadi tidak bosan menunggu.


Tiba di areal pintu tamu, mereka bertemu dengan wisudawati yang mengantar orang tua untuk masuk ke dalam gedung. Para wisudawati itu akrab dengan Gerdy padahal dari berbagai jurusan. Mereka kagum dengan kecantikan gadis yang mendampingi.


"Calon istri?" tanya seorang wisudawati. "Cepat-cepat dapat momongan ya."


"Hati-hati," kata temannya ke Nadine. "Kalau dia keluar rumah, tandai organ vitalnya pasti ada perubahan."


"Mereka semua mantanmu?" tanya Nadine saat ada kesempatan mengobrol berdua, wisudawati datang dan pergi seperti pembeli di pasar. "Mereka sudah mengenal betul spekmu."


"Ada beberapa mantan," sahut Gerdy jujur. "Mereka tidak semua tahu setiap inci tubuhku."


"Tapi kamu tahu setiap inci tubuhnya. Mereka pasti sudah tidur bersamamu dan ditinggalkan setelah puas. Mereka yang tidak mengetahui setiap inci tubuhmu adalah mereka yang bercinta di dalam mobil."


"Aku minta jangan bahas ini. Aku menyerah kalau didakwa dengan masa lalu."


"Aku tidak mendakwa, hanya bertanya. Kalau merasa tidak nyaman, ya sudah. Cuma aku heran, mereka kok tidak tahu kalau kita sudah nikah? Kamu ngaku jomblo di kampus?"


"Aku tidak perlu bikin pengumuman. Lagi pula, aku bisa kena sanksi kalau ketahuan sudah menikah. Tapi dua sahabatku, Bimo dan Luki, tahu aku sudah menikah, karena aku ada kepentingan dengan mereka."


Orang yang dibicarakan muncul. Bimo mengantar orang tuanya untuk masuk ke pintu tamu. Gerdy mengajak istrinya untuk berkenalan dengan Ibu Marliana, CEO nya. Dia belum tahu kalau dirinya sudah berumah tangga. Dia tahunya Gerdy kerja magang karena ingin belajar mandiri.


"Calon istrimu?" tanya Marliana kagum. "Cantik sekali. Aku sampai nggak pede melihatnya."


Nadine mengangguk sopan. Dia tidak mengira kalau atasan suaminya demikian cantik. Penampilannya sangat anggun. Wajah tirus itu kelihatan segar dan kencang, padahal dia yakin usianya tidak kurang dari kepala empat. Keyakinan itu muncul melihat lelaki tua dan berwibawa yang digandengnya.


Gerdy tidak pernah bercerita kalau pimpinannya begitu mempesona. Dia hanya bilang kalau Ibu CEO adalah wanita baik hati dan tidak sombong, cuma tidak tahu rajin menabung atau tidak. Pikiran jelek melintas di benaknya. Jangan-jangan wanita itu jadi tempat menabung cairan bagi suaminya. Tapi dia segera menghalau pikiran gila itu.

__ADS_1


"Kamu tidak bilang kalau istrimu adalah perempuan dari planet lain," kata Bimo sambil berjalan meninggalkan mereka menuju ke pintu masuk wisudawan. "Aku belum pernah melihat perempuan secantik itu."


"Jangan lebay."


"Sumpah. Aku sudah siap menampung kalau kau sudah bosan, seperti biasa." Bimo tertawa.


"Dia bukan perempuan biasa," ujar Gerdy kecut. "Jadi aku perlakukan tidak seperti biasa."


"Aku tidak heran kalau kamu bisa berubah drastis. Dia pantas untuk membuatmu malas keluar kamar."


"Calon istrimu cantik," puji Gerdy, sekalian mengalihkan pembicaraan. "Anak mana?"


"Anak pilihan Mami. Aku tidak ada kecocokan."


"Ngomong sama Mami kalau kurang sreg. Rumah tangga bukan untuk setahun dua tahun."


"CEO melayang kalau aku menolak. Biarkan saja dia jadi istriku. Lumayan buat hidangan pembuka sebelum aku menikmati hidangan utama di luar."


"Kamu menyiksanya kalau begitu. Aku tahu dia gadis baik-baik."


"Dia dari keluarga terhormat, jelas belum terjamah laki-laki."


"Kamu dari keluarga terhormat, kelakuanmu Dajjal."


"Sesama bemo dilarang saling seruduk."


"Kamu samakan dirimu dengan bemo? Jangan-jangan lahir di dalam bemo sehingga dinamai begitu."


"Sialan."


Bimo sulit menemukan kebahagiaan jika gaya hidupnya tidak berubah. Dia sangat gila dalam mengarungi pergaulan bebas. Dia dan Luki sering saling mencicipi pacar. Gerdy tidak pernah berbuat begitu. Jika dia membiarkan mereka mencicipi, saat itu adalah detik-detik terakhir sebuah hubungan. Kadang mereka jadi penampungan.


Wisudawan sudah berbaris rapi di depan pintu masuk ketika mereka tiba di pelataran depan. Bimo langsung bergabung.


Gerdy berdiri terpukau di tempatnya. Matanya memandang tak berkedip ke arah Wisnu dan Karlina yang berjalan tergesa menghampiri. Kehadiran mereka merupakan surprise karena dia tidak memberi tahu hari indah ini kepada keluarga, meski mereka adalah yang paling ditunggu-tunggu kedatangannya, tapi itu tidak mungkin.


"Kalian pasti tidak minta izin untuk datang ke kota ini," kata Gerdy. "Kalian izin pergi ke mana?"


Wisnu tersenyum ceria. "Aku minta izin jalan-jalan ke Anyer. Aku tidak mau ketinggalan untuk menghadiri hari bahagia ini."


"Jika Abi dan Umi tahu, kalian dalam masalah."


"Mereka mana tahu kalau sekarang adalah hari wisuda universitas ini?" sahut Wisnu separuh mengeluh. Sinar matanya sedikit redup. "Maafkan aku, Kak. Aku belum dapat meluluhkan hati mereka."


"Biarkan mereka dengan kemarahannya. Perbuatanmu cuma membuat mereka makin membenciku dan susah untuk melupakan."


Panitia memanggil wisudawan lewat pengeras suara untuk segera memasuki gedung. Gerdy pamit ke mereka dan segera masuk ke dalam barisan.

__ADS_1


Ada yang menarik perhatiannya dari pertemuan itu. Karlina terlihat sangat cool, penampilannya begitu anggun, padahal dia selalu tampil lincah dan energik jika berada di dekatnya.


Perubahan Karlina tentu bukan karena momen spesial ini. Dia seakan berada di sisi kehidupan yang lain. Apa yang terjadi dengannya?


__ADS_2