Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Hari Semakin Berat


__ADS_3

Mereka keluar dari kafe dengan wajah berseri. Pertunangan itu jadi komitmen mereka untuk mempertahankan pacar masing-masing.


Gerdy bahkan bisa mengambil keuntungan secara finansial. Dia ingin minta uang tambahan untuk biaya jalan-jalan bersama Karlina, padahal uang itu akan ditabung untuk bekal masa depan.


Dia sudah merencanakan pemberontakan setelah lulus kuliah nanti. Jika orang tuanya tidak menerima Nadine sebagai menantu, maka dia akan pergi.


Gerdy juga berencana menghubungi beberapa teman dekatnya untuk mencari kerja sambilan. Barangkali di perusahaan orang tua mereka ada lowongan kerja part time, untuk berjaga-jaga seandainya Abi dan Umi mengetahui bahwa perjodohan ini ternyata dijadikan modus untuk memberontak. Jadi dia sudah punya pegangan kalau diusir dari rumah.


Dia tidak mau mengandalkan Nadine. Di mana harga dirinya sebagai kepala rumah tangga kalau mencari nafkah saja tidak mampu? Lebih baik hidup sendiri daripada jadi beban istri. Betapapun cintanya dia kepada gadis itu.


Justru ayah Nadine yang jadi beban pikirannya. Pria tua yang hobi mabuk dan berjudi itu sulit dipegang omongannya. Calon menantu pilihan bisa bergeser kalau dia tidak mendapat restu dari orang tua, karena dia bukan lagi seorang sultan. Di kepala pemabuk itu yang ada cuma uang.


Gelagatnya sudah kelihatan sore ini. Perasaan Gerdy mendadak tidak enak begitu melihat Papi membuka pintu. Tak ada senyum yang biasa menyambutnya. Entah ke mana hilangnya kegembiraan di wajahnya. Mata yang selalu bercahaya setiap kali melihat kedatangannya itu sekarang memandang dingin.


"Nadine tidak ada," kata Papi sebelum Gerdy sempat bertanya. Tangannya sudah siap-siap menutup pintu kembali. "Ada lagi yang perlu dibicarakan? Aku sedang sibuk."


Gerdy menatap bingung. "Pergi ke mana?"


Sejak mereka resmi pacaran, Nadine tidak pernah menerima tamu laki-laki. Gadis itu ingin membuktikan kalau dirinya bisa setia dengan satu cinta.


"Jakarta," sahut Papi ketus. "Ke mana lagi?"


Gerdy tertegun. Mereka sudah janji berangkat sama-sama sore ini. Sebuah pikiran jelek melintas di benaknya. Apalagi ketika tahu perginya tadi siang. Berarti Nadine tidak lama di rumah. Apa yang terjadi dalam waktu yang sekejap itu?


Melihat bagaimana ketusnya Papi menjawab setiap pertanyaan, Gerdy tahu ada badai menerjang cinta mereka!


"Akhirnya apa yang ditakuti terjadi juga," keluh Gerdy, terduduk lemas di sofa. "Ada laki-laki lain yang mengusik cinta kita."


Dia sengaja menyusul ke pondokan Nadine ingin tahu apa yang terjadi. Gadis yang hendak berangkat kerja itu tak dapat menolak desakannya.


"Hari-hari berikutnya semakin berat bagiku," kata Gerdy dengan wajah keruh. "Setiap saat aku bisa kehilangan cintamu."


Nadine menghibur, "Tak perlu jadi pikiran. Aku mampu menjaga cintaku."


"Tapi ayahmu tidak," sambar Gerdy lesu. "Dia tidak mampu menjaga pendiriannya. Dari caranya menyambut tadi, aku tahu posisiku sudah tergeser. Dia sudah berpaling dari pilihan yang telah ditetapkan."

__ADS_1


"Tahu sendiri Papi. Siapa yang paling kaya, dialah yang berhak jadi tamu kehormatan."


"Itu yang aku khawatirkan. Kalau dalam waktu yang demikian singkat laki-laki itu mampu memikat ayahmu, bukan tidak mungkin dia juga dapat menaklukkan dirimu."


"Kau tak percaya padaku?"


"Percaya, sama halnya Dodi yang percaya pada Katrin. Ikatan mereka malah lebih kuat, sudah tunangan."


"Aku bukan kakakku."


"Tapi punya ayah yang sama, yang tidak bisa membuka mata selain pada uang."


"Kamu sudah tahu itu sejak awal. Kehadiranmu di rumahku membuat Papi menutup pintu bagi pemuda lain. Jadi apa yang aneh?"


"Artinya pemuda ini memiliki pesona yang sangat istimewa."


"Aku minta masalah ini jangan diperpanjang," kata Nadine tak mau ambil pusing lagi. "Berilah aku kepercayaan. Aku tidak akan menyerah pada keadaan, meski aku harus mati karenanya."


Nadine mempunyai keteguhan hati yang tak tergoyahkan oleh apapun. Kalau sudah menjatuhkan pilihan, maka itu berlaku untuk selamanya.


Sekarang Papi tak punya alasan yang cukup untuk memaksa anaknya. Andai diusir sekalipun, Nadine tidak bingung, sudah bisa hidup mandiri. Dia bahkan mampu membeli mobil yang cukup mewah, lagi indent.


Persoalannya, apa jiwa Nadine sudah semapan itu?


Orang tua macam ayahnya tentu tak segan-segan menggunakan berbagai tipu muslihat untuk menjebak putrinya. Dia hapal di mana letak kelemahannya, dan Nadine belum cukup pengalaman untuk memahami hal itu.


Dia baru bisa memperjuangkan hak dengan semangat yang menggebu, semangat perempuan modern dengan segala obsesi. Kepribadiannya belum matang, padahal ayahnya begitu banyak menyimpan siasat.


"Strategi Papi paling sama dengan yang digunakan pada Katrin," kata Nadine santai dalam perjalanan menuju ke rumah pelanggan. "Aku saat itu belum paham apa yang dilakukan Papi, tapi kemudian aku tahu semua itu dilakukan untuk menyelamatkan keluarga."


Sore ini Nadine ada janji dengan ibu hamil muda untuk konsultasi perawatan kecantikan selama mengandung. Entah tidak ada kesibukan atau belum puas membahas masalah ini, Gerdy bersedia mengantar padahal bisa berjam-jam menunggu. Nadine biasanya naik taksi. 


"Ayahmu tidak mungkin memakai cara yang sama untuk anak yang berbeda," ujar Gerdy tawar. "Yang aku sesalkan cuma satu, kalian kasih dia uang untuk berjudi dan mabuk."


"Papi minta ke Mas Sastro, suami Katrin. Menantunya itu memiliki kebiasaan yang sama."

__ADS_1


"Judi dan mabuk?"


"Main perempuan juga."


"Jangan-jangan calonmu itu mempunyai kebiasaan yang sama. Dia kan keponakannya."


"Aku baru kenal namanya, Bradley. Jadi tidak bisa menilai."


Laki-laki ini yang paling berbahaya dan paling mungkin dapat meruntuhkan benteng Nadine. Kalau ayahnya sampai sudi mendepak dirinya, dia pasti memiliki segudang pesona yang bisa membalikkan mata seseorang dalam sekejap!


"Stop," kata Nadine begitu tiba di depan sebuah rumah mewah berpagar tinggi. "Sudah sampai."


Gerdy melambatkan laju mobil dan berhenti di depan pintu gerbang. Rumah itu kelihatan sepi. Ada pos security tapi tidak berpenghuni.


"Aku tunggu," kata Gerdy. "Kebetulan lagi senggang."


"Bisa berjam-jam."


"Asal ada upahnya."


Nadine menyorongkan wajah dan mencium pipi Gerdy dengan mesra. "Itu DP-nya."


"Aku ingin kamu bertahan dengan satu cinta, itu upahnya."


"Percayalah, cintaku takkan berubah walau tenggelam di lautan permata," bisik Nadine lembut. Kemudian dia turun dan sebelum pergi matanya memandang Gerdy dengan penuh cinta. "Meski kau biarkan aku pulang naik taksi."


"Serius?"


"Demi."


"Kayak cewek bispak, bisa ditinggal di mana saja."


"Sialan."


Pekerjaan Nadine sangat berisiko, pikir Gerdy sambil memperhatikan gadis itu berjalan ke pilar gerbang untuk memencet bel. Di dalam rumah megah itu bisa saja ada tipu daya.

__ADS_1


__ADS_2