
Luki sedang duduk santai di taman saat Gerdy tiba di apartemen. Dia baru pulang dari kampus selesai mengikuti ujian. Motornya parkir di pelataran taman. Dia taruh helm di stang dan menghampiri temannya.
"Tumben naik motor," komentar Luki saat Gerdy duduk di sebelahnya. "Katanya takut masuk angin."
Gerdy jarang sekali naik motor. Dia tidak suka pamer kemesraan membonceng pacar di depan umum. Dia bertualang bukan untuk cari perhatian, untuk memperoleh kenikmatan.
Gerdy hampir tidak pernah jalan bergandengan tangan dengan pacar. Maka itu perempuan tidak banyak yang tahu kalau cintanya demikian liar, kecuali sudah merasakan.
"Mobilmu masuk bengkel?" tanya Luki.
Gerdy biasanya pinjam motor pemilik bengkel kalau service rutin. Dia sangat teliti dengan kendaraan, minta dicek seluruh komponen, tidak sekedar ganti oli, sehingga makan waktu cukup lama.
"Dipakai adik istriku pergi ke sekolah."
"Kamu ini belum satu hari menikah sudah banyak mengalah."
"Aku lupa kalau hari ini ada ujian. Maka itu aku pinjamkan mobilku."
Luki dan Bimo tahu Gerdy menikah hari ini. Mereka teman berpetualang. Dia menerima tawaran Bimo untuk kerja di kantor maminya di Jakarta.
Luki pasti lagi menunggu kedatangan seseorang kalau siang begini ada di taman apartemen. Kalau tidak ada kuliah, dia biasanya menghabiskan waktu di tempat clubbing sekalian cari mangsa.
Gerdy melihat nasi lunch box dibiarkan terbuka di bangku outdoor sehingga dihinggapi lalat. Paket makanan itu harganya lumayan mahal.
"Orang keringatan cari sesuap nasi, malah dibuang-buang," komentar Gerdy.
"Aku pesan apa yang datang apa."
"Lagian kamu terima saja sudah tahu tidak sesuai pesanan."
"Kasihan. Mereka pasti rugi kalau aku kembalikan."
"Alah, bilang saja kamu lagi mengincar anak pemilik kafe itu. Makanan dikembalikan berarti cinta kembali. Kamu lagi nunggu anaknya ngantar pesanan baru, kan?"
"Sudah tahu banyak omong."
Gadis kelas XII SMA itu memberi pelayanan khusus kepada Luki. Dia tidak tahu kalau kedatangannya untuk dieksekusi di kamar apartemen.
"Aku mulai kerja besok," kata Gerdy. "Aku tidur di Jakarta malam ini biar tidak telat masuk di hari pertama."
"Aku betul-betul tidak mengerti dengan jalan pikiranmu," tukas Luki serius. "Kamu pilih jalan berduri padahal ada jalan bebas hambatan. Ada manusia pengen sengsara."
"Belajar bertanggung jawab, itu yang sedang ditanamkan pada diriku. Suatu saat kamu akan dihadapkan pada situasi seperti apa yang aku alami."
__ADS_1
"Aku sudah sering menghadapi situasi seperti kamu. Kecelakaan adalah biasa dalam kehidupan bebas. Pacarmu harusnya dikasih ultimatum untuk aborsi, bukan dinikahi."
"Dia akan membesarkan anaknya walau aku lari dari tanggung jawab."
"So nice! Sudah tinggalkan saja! Apa yang membuatmu jadi beban? Takut tidak mendapatkan perempuan yang secantik istrimu? Nah, teman adikku yang pernah diceritakan ke kamu, sore ini belajar kelompok di rumahku. Dia jauh lebih unggul dari istrimu. Anak bangsawan, tajir, dan belum kenal laki-laki."
"Aku sudah tidak tertarik."
"Aku tidak mengenal sahabatku bulan-bulan ini."
"Kamu belum merasakan keagungan cinta."
"Aku mendingan tidak merasakan kalau begitu. Bunuh diri namanya. Kamu sudah tahu risikonya bagaimana kalau orang tuamu tahu dan suatu saat pasti tahu. Kamu jadi orang sehebat apa pun mereka tidak bangga. Mereka sudah diberaki wajahnya."
Masalah paling besar adalah orang tuanya. Gerdy bingung bagaimana mencari jalan keluarnya. Maka itu dia kerja magang untuk mengantisipasi kemungkinan yang terjadi. Dia pasti kehilangan segalanya kalau mereka tahu.
"Aku curiga kelakuan anak dalam perut istrimu nanti melebihi bapaknya. Kamu membiarkannya hidup untuk memberaki wajahmu di kemudian hari. Hukum karma berlaku."
"Doanya jelek bener."
"Kita berdoa jelek atau baik sama saja, tidak dikabulkan. Kita pasti lebih bejat kalau doa kita dikabulkan. Maka itu nikmati hidup selagi bisa."
"Aku sudah tidak bisa."
Luki pasti tidak mengerti biar dijelaskan sampai berbusa pun. Dia belum pernah mengalami jatuh cinta. Perempuan yang datang silih berganti di kehidupannya adalah budak nafsu. Akan tiba waktunya kelak di mana Luki terjebak situasi sehingga tidak bisa menghindari cinta.
"Oh ya, salary di kantor mami Bimo bagaimana?" tanya Luki. "Kunyuk itu bilang tidak tahu menahu soal salary, tahunya soal Hilary, maklum selera tua."
"Bimo mana tahu salary aku. Dia sibuk memikirkan bagaimana menghabiskan uang maminya karena tidak habis-habis. Di mana dia sekarang?"
"Lagi mendampingi Tante Friska mengontrol apartemen."
Gerdy terkejut. Tante Friska adalah satu-satunya perempuan dewasa yang sulit ditolak karena pesonanya yang luar biasa. Biasanya dia datang awal minggu.
"Mukamu kenapa kayak mendengar setan beranak begitu?" tatap Luki heran. "Kamu sering dapat jatah ya dari Tante Friska? You're so great! Perempuan terhormat seperti Tante Friska saja bisa dijadikan kuda pacu! Aku bangga sebagai sahabatmu."
Gerdy jadi bingung. Dia tidak berani masuk apartemen. Bertemu dengan Tante Friska pasti ribet. Dia sulit menghindar karena belum menemukan alasan yang tepat. Otaknya mendadak bodoh karena kehamilan istrinya.
"Kamu bisa bantu aku?" tanya Gerdy.
"Bantu apa?"
"Tolong ambilkan pakaian beberapa setel dan dompet di meja kamar."
__ADS_1
Gerdy berangkat buru-buru ke kampus sampai dompet ketinggalan di meja. Dompet itu berisi separuh hidupnya. Dia biasanya menyimpan dompet di tas kuliah, tas itu ada di mobil dan sekarang dibawa Prilly ke sekolah. Dia harus berangkat ke Jakarta siang ini juga. Tidak enak pinjam motor tetangga lama-lama biar sudah akrab.
"Nah, ini yang dimaksud pintar-pintar bodoh," kata Luki. "Kamu sudah tahu di dalam ada kenikmatan, malah dihindari."
"Sudah tiba waktunya bagiku untuk menghindari."
Hari pertama jadi suami membuat Gerdy sangat kacau. Handphone saja ketinggalan di rumah istrinya. Dia begitu panik menghadapi pernikahan karena tahu risiko besar menanti.
Luki mengeluarkan handphone dari saku bajunya dan menggeser layar mencari nomor kontak seseorang.
"Malah buka HP!" sergah Gerdy jengkel. "Aku minta bantuanmu, cepat! Tante Friska keburu muncul!"
"Ini aku lagi bantuin kamu, cari kontak Tarlita."
Gerdy bengong. "Tarlita?"
"Dia sekarang ada di apartemen kamu. Aku minta dia membawa pakaian dan dompet kamu ke sini."
"Eh, jangan, jangan," cegah Gerdy. "Jangan call Tarlita."
Luki terpaksa membatalkan call. "Kamu ini maunya apa sih? Kamu butuh bantuan segera, aku hubungi Tarlita dilarang. Jangan-jangan senior itu disebut kakak angkat karena bokongnya sering kamu angkat saat orgasme."
"Sudah jangan banyak omong," potong Gerdy tidak sabar. "Kamu ada uang nggak? Aku pinjam."
"Kapan aku pegang cash?"
Gerdy melongo. "Kamu tidak pegang cash sama sekali? Kamu beli Pertamax pakai kartu kredit?"
"Uang ada tapi sedikit. Cuma lima ratus."
"Sini cepat!"
"Cukup apa?"
"Pokoknya sini!"
Luki mengeluarkan dompet dari saku celana. Gerdy segera merampas uang yang baru nongol dari dompet kulit buaya itu, lalu bangkit dan buru-buru berjalan ke motor sport.
"Jangan bilang aku mampir di apartemen!" kata Gerdy. "Tante Friska bisa marah besar sama kamu!"
"Kok marah sama aku?"
"Karena kamu membiarkan jokinya kabur!"
__ADS_1