Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Tanda Mata Terakhir


__ADS_3

Sudah satu minggu Gerdy berada di Kalimantan. Mereka tinggal di hotel kecil di pinggiran kota kabupaten. Tujuannya supaya tidak terlalu jauh dari lokasi ekplorasi, sehingga dapat menghemat waktu dan energi.


Mereka melakukan eksplorasi menggunakan helikopter untuk pemetaan, dan mobil segala medan untuk meninjau lokasi secara langsung. Ada beberapa titik yang perlu diteliti.


Hotel itu terletak di jalan raya utama, dan tidak lebih ramai dari jalan kelurahan di kota kelahirannya.


Restoran dan kafe jarang terdapat, sekalinya ada sangat sederhana dengan menu terbatas. Destinasi yang kurang menarik kalau datang untuk liburan.


Jika ingin menikmati kuliner yang cukup baik, pergi puluhan kilo ke kota provinsi. Ada beberapa tempat hiburan yang lumayan untuk cuci mata, setelah seminggu bekerja keras keluar masuk hutan.


Kota kecil dan sunyi sangat cocok untuk menenangkan pikiran kalau tidak ada gangguan calling dan chat dari Nadine, yang cuma mengotori aplikasi dan memenuhi memori. Dia segan membalas, tapi tak dipungkiri membuat luka hatinya jadi lama sembuh.


"Jangan tinggalkan aku dengan cara begini," bunyi chat terakhir dari Nadine senja kemarin. "Aku rela kalau kebersamaan kalian menumbuhkan benih-benih cinta. Aku tidak percaya kalau Karlina tidak jatuh hati padamu. Tapi please, pesta ulang tahun itu sebuah kecelakaan, kamu harus percaya padaku, cintaku hanya untukmu selamanya, meski pada akhirnya aku ditinggalkan."


Nadine belum kenal siapa pacarnya. Gerdy tidak segan-segan membasmi cinta di hatinya kalau harga diri sudah tersakiti. Aqilla adalah gadis SMA yang jadi korban terakhir sebelum tiba waktunya. Dia tidak suka melihatnya boncengan dengan seorang cowok, padahal cuma nebeng pulang karena mobilnya mogok.


"Terima kasih atas semua perhatian yang sudah kamu berikan padaku," bunyi chat pagi ini dari Nadine. "Kamu adalah cowok pertama yang mengisi hatiku sejak aku mengenal cinta, dan aku berharap jadi cowok terakhir yang menutup cerita cintaku. Ketika aku sadar harapan itu sekedar pengantar tidur, aku tidak kecewa, aku bangga kamu sudah memenuhi permintaanku, pergi meninggalkan aku tanpa mengucapkan selamat tinggal, hingga aku dapat menikmati cinta kita untuk selamanya."


Gerdy sudah memutuskan untuk mengakhiri kisah cinta mereka. Tapi dia tidak pernah pergi tanpa meninggalkan tanda mata terakhir. Dia lagi memikirkan besaran cek yang pantas untuknya, sebagaimana gadis lain yang pernah ditinggalkannya.


Gerdy merasa perlu berterima kasih kepada mereka karena sudah menemani di setiap waktu untuk segala keperluan, dan ucapan terima kasih yang paling berkesan di abad milenium, menurutnya, adalah uang


Nadine adalah satu-satunya pacar yang lolos dari kebuasan cintanya. Barangkali karena cinta sempat mampir di hatinya dan karena dia adalah sahabatnya sejak kecil, ada rasa tidak tega.


"Kamu ini kalau sudah bucin bener-bener deh," kicau Luki yang masuk kamar tanpa permisi. "Jangan-jangan nyesel putus tanpa ngasih tanda mata terakhir."


Tanda mata terakhir versi Luki tentu saja berbeda dengan tanda mata terakhir versi Gerdy. Temannya itu pernah minta ganti rugi karena pacarnya mendesak untuk putus. Ganti rugi itu bukan cuma dalam bentuk uang. Tapi bercinta sepuasnya selama satu malam!


Gerdy heran bagaimana Luki bisa masuk tim eksplorasi. Kemampuan otaknya pas-pasan. Anggota tim curiga, termasuk dirinya, dia terpilih karena kedekatannya dengan Bu Hilda, dosen cantik beranak dua, yang jadi wakil ketua tim. Semua mahasiswa sudah tahu kalau cinta Luki untuk semua umur, kayak bioskop.


"Chat ini adalah chat yang ke 105 dari Nadine," kata Gerdy tanpa bergerak dari bersandarnya di tempat tidur. "Tanggal dan bulan kelahirannya. Aku jadi berpikir, apa aku kasih cek sebesar angka ini saja untuk tanda mata terakhir? Seratus lima juta."


"Kegedean, men!" seru Luki. "Ingat, kamu tidak dapat apa-apa darinya. Tangan bergerilya di sekwilda saja kena gampar!"

__ADS_1


Sekwilda singkatan dari sekitar wilayah dada, istilah Luki kalau main post card.


"Jangan-jangan sekwilda khusus untuk CEO muda ... siapa namanya?"


"Bradley."


"Ya! Khusus buat si Bradley! Buktinya dia mau merayakan pesta ulang tahun sama cowok itu!"


"Jangan bahas kejadian itu lagi deh. Aku betul-betul merasa jadi pecundang."


"Kamu tidak akan pernah jadi pecundang, men! Aku percaya seratus persen sama pejuang kelamin nomor satu di dunia ... kalau Johnny Depp pensiun!"


Gerdy merasa chat ke 105 adalah chat yang terakhir. Nadine sering meninggalkan pacar-pacarnya di angka itu. Jadi pertanyaannya sekarang; siapa meninggalkan siapa?


"Kalian tidak ikut healing?" tanya Rendy di muka pintu, mahasiswa yang tak pernah lepas dari kacamata minus. Mandi juga dipakai karena blur melihat peralatan mandi. "Kita sudah mau berangkat."


Hari Minggu mereka mendapat kebebasan untuk bersantai setelah enam hari bekerja keras. Sejauh ini tidak ada kendala berarti yang ditemukan, semua berjalan sesuai rencana.


"Kamu, Ger?"


"Terlalu murah harga kita kalau cuma dapat fasilitas liburan seperti itu," jawab Gerdy. "Kenapa ketua tim tidak mengusulkan week end ke Serawak, kan tidak jauh dari sini?"


"Kau bisa pergi liburan ke mana yang kau suka kalau eksplorasi sukses," ujar Rendy. "Sementara kita nikmati dulu fasilitas yang ada."


"Aku bisa pergi ke mana yang aku suka biar eksplorasi ini gagal."


"Itu lain cerita."


"Aku relaksasi di kamar saja."


"Kamu gak iseng tinggal sendirian di hotel hantu ini?"


Hotel ini merupakan bangunan tua peninggalan jaman kemerdekaan. Saat ini tidak ada tamu lagi selain mereka.

__ADS_1


"Aku justru berharap ketemu hantu cantik di hotel tua ini," kata Gerdy. Yang bisa dipakai tentunya, lanjut hatinya kecut.


Luki bertanya ke Rendy, "Semua pergi?"


"Ibu Hilda tidak. Dia sibuk menganalisa hasil minggu ini."


"Mendingan bantu Bu Hilda." Luki pergi ke luar kamar.


Gerdy mendengus sinis. "Modus."


Suami dosen cantik itu bertugas di Norwegia. Pulang enam bulan sekali. Luki bukan datang membantu, malah mengacaukan pekerjaan.


"Kamu jangan dekat-dekat Bu Hilda, Ger," kata Rendy mengingatkan. "Libidonya lagi tinggi. Kena terkam kepayahan nanti. Kalau si Luki sih bodo amat."


Rendy tidak tahu kalau Gerdy predator cinta yang sanggup membuat perempuan bertekuk lutut. Hanya dia selektif, tidak berminat pada perempuan yang jauh lebih tua betapapun cantiknya perempuan itu.


Gerdy sangat rapi membungkus keliaran cintanya dalam kepribadian yang tenang dan dingin. Cuma orang-orang tertentu yang tahu.


"Mendingan kamu ikut," kata Rendy. "Banyak gadis cantik di kota provinsi."


Gadis cantik dengan kulit eksotik bertebaran di kota provinsi, setidaknya itu yang diperoleh dari internet. Tapi bisa dipakai apa tidak? Itu masalahnya. 


Tidak ada tempat bertanya di hotel ini, dan tidak ada pelayan yang menawarkan plus-plus baik secara transparan maupun tersembunyi.


"Aku sama teman-teman pergi dulu ya." Rendy pamit.


"Okay," kata Gerdy. "Have a good time."


Dia lebih suka berselancar di dunia maya atau main game online dengan teman dari berbagai belahan dunia. Healing dengan kutu buku hanya buang-buang energi.


Mereka melihat panorama kota sudah cukup, sementara Gerdy mau tahu kehidupan di balik keindahan panorama itu, bila perlu turut menikmati.


Tapi ada perasaan mengkhianati di hatinya jika bercinta dengan gadis Kalimantan, padahal sudah tidak ada yang dikhianati.

__ADS_1


__ADS_2