
Gerdy baru saja duduk di depan laptop untuk melanjutkan pekerjaan ketika bel berbunyi.
Ting tong.
Dia terpaksa bangkit lagi dari sofa ruang tamu, berjalan ke pintu dan membukanya. Matanya memandang gadis yang berdiri di depan pintu dengan tak percaya. Ada apa Karlina datang ke kota ini?
Gadis itu tersenyum manis. "Kayak melihat hantu begitu. Memangnya ada hantu secantik aku?"
"Banyak berkeliaran di apartemen," canda Gerdy.
"Pasti hantu yang gemar bercinta."
"Masuk." Gerdy membuka pintu lebih lebar, dan menutup kembali setelah Karlina melangkah ke dalam. Dia memperhatikan gadis cantik dan seksi yang berjalan ke sofa dengan heran, kemudian bertanya, "Ada perlu denganku atau sekedar mampir?"
Karlina melepas tas daypack dari gendongan dan menaruh di sofa, lalu duduk di atas sandaran sofa sambil melihat-lihat ruangan. "Tempatmu sangat rapi dan interiornya bagus."
"Cowok berselera tinggi ya?"
"Kalau dibilang berselera rendah, berarti aku cewek murahan."
"Nah, itu tahu."
"Ada yang bersih-bersih setiap hari?"
"Pagi dan sore." Gerdy mengambil minuman botol di kulkas, membuka tutup dengan alat, kemudian berjalan ke sofa dan menyerahkan minuman itu ke Karlina. "Kadang siang juga."
"Kamu bersihkan sendiri atau siapa?" tanya Karlina sambil meneguk minuman.
"Cleaning service."
"Tempat tinggal laki-laki jarang yang nyaman begini. Biasanya barang berserakan tidak karuan."
"Robby juga?"
"Aku belum pernah masuk ke kamarnya."
"Berarti ini pertama kali kamu masuk ke kamar laki-laki?"
"Jadi aku boleh masuk kamar?"
"Aku tahu kamu tidak terhalang oleh peradaban."
"Aku hanya terhalang oleh cinta di hatimu."
"Maksudnya?'
"Aku harus menahan diri kalau ada Nadine di sisimu."
Sekarang apalagi, kamu harus mengerem dalam-dalam, keluh Gerdy dalam hati. Dia tidak sabar menunggu Karlina untuk menjelaskan maksud kedatangannya.
Gerdy mengingatkan, "Kau belum jawab pertanyaanku."
Karlina tersenyum berlumur madu. "Aku sengaja datang untukmu, dan menginap beberapa hari."
Gerdy terkejut. "Bagaimana dengan orang tuamu? Mereka pasti tidak mengijinkan dirimu menginap di apartemenku."
"Hari ini sekolahku study tour ke Yogya. Aku turun di kota ini. Ada waktu lima hari untuk melepas kangen."
"Bisa begitu?"
"Aku bilang kakakku di Bandung dapat musibah."
"Aku maksudnya?"
"Ya."
__ADS_1
"Musibah apa?"
"Musibah cinta," senyum Karlina manis. "Kamu hampir dua bulan tidak pulang. Sibuk apa?"
"Kau lihat sendiri."
Gerdy menunjukkan kertas yang berserakan di sekitar laptop di meja tamu. Dia sibuk mengerjakan laporan hasil riset di Kalimantan dan tertunda karena masalah kehamilan Nadine. Pikirannya sudah mulai bisa konsentrasi. Kedatangan Karlina mengacaukan kembali.
"Aku tahu kamu tidak bisa bertahan hidup tanpa perempuan, meski cuma teman curhat. Siapa yang sudah menggantikan aku?"
Mereka sudah menjalin hubungan rumit akibat perjodohan. Semua skenario bisa berantakan kalau Robby mengetahui bahwa Gerdy adalah calon suami kekasihnya, bukan kakak angkat seperti yang dia tahu selama ini.
Gerdy sudah berusaha mengendalikan hasrat sejak berpacaran dengan Nadine. Dan satu kejadian menakjubkan bersamanya membuat dirinya bertekad untuk berhenti bertualang selamanya.
Libido berlimpah berpengaruh terhadap otaknya sehingga sulit fokus mengerjakan laporan, maka itu dia banyak nge-gym.
Kemudian Tarlita datang dan hampir kejadian kalau Gerdy tidak berpura-pura kena penyakit raja singa.
Gadis itu stres dosen pembimbing I minta skripsinya dirombak total. Dia curiga dosen itu sakit hati karena cintanya pernah ditolak. Dia sekarang lagi tidur di dalam kamar.
Gerdy perlu belajar banyak tentang sebuah kesetiaan dan berusaha keras, meski sampai detik ini belum sepenuhnya berhasil. Dia perlu mencari kegiatan positif untuk menyalurkan libidonya.
Kadang muncul hasrat untuk mencoba Dutch Wife, meski cuma boneka tetap saja sebuah pengkhianatan.
Dia memiliki lima boneka untuk menyalurkan kebutuhan batin kalau tiba-tiba muncul tengah malam buta. Kini sudah dikemas rapi untuk dibakar.
Kebutuhan biologis adalah ujian paling berat sejak berpacaran dengan Nadine.
"Boleh aku masuk ke kamarmu?" tanya Karlina.
"Masuk ke kamar Robby saja tidak berani," sindir Gerdy.
"Jadi tidak boleh?"
Karlina memandangnya dengan sinar mata berkilau. "Aku tidak cemburu kalau perempuan di dalam kamar adalah Nadine. Jadi kalian tinggal bersama?"
"Tarlita cuma mampir untuk istirahat. Dia stres berat skripsinya harus direvisi total."
"Pantas wajahmu tidak kusut," desis Karlina sinis. "Jadi ada sahabat seniormu sehingga kau berani menolak setiap ajakanku. Apa dia lebih hebat dariku?"
"Aku tidak tahu kamu hebat apa nggak, kan belum pernah nyoba." Gerdy mencoba bercanda, tapi kelihatannya bukan waktu yang tepat.
Dengan marah Karlina mengambil tas dan bangkit hendak pergi, Gerdy menahannya.
"Aku sudah sampaikan lewat telpon apa alasanku sehingga tidak bisa menjumpai dirimu," ujar Gerdy. "Aku bisa digantung kalau laporan tidak selesai akhir bulan ini."
"Kamu bisa minta aku untuk datang," sahut Karlina ketus. "Ingat, aku calon istri yang resmi."
"Aku lebih suka kau mengaku adikku."
"Tapi security di depan tidak percaya. Dia menganggap diriku cewek bispak. Sering call ya?"
"Mereka melihat dandananmu," senyum Jodi geli. "Tapi perempuan mana pun yang datang bagiku sama saja, cuma teman curhat, lunch, dinner, healing, nge-dance. Aku sudah membuang jauh-jauh kehidupan masa laluku."
"Kalau sama saja, kenapa kau larang aku untuk week end di apartemen ini?" protes Karlina sengit. "Sementara kau biarkan Tarlita tidur di kamarmu, padahal ada kamar tamu."
"Kebiasaan dari dulu, dan terpaksa aku mengalah tidur di kamar tamu," senyum Gerdy pahit. Dia duduk di sofa tunggal melanjutkan pekerjaan yang tertunda di laptop. "Aku tidak mau orang tuamu curiga kalau kau kubiarkan week end di apartemenku."
Padahal Gerdy kuatir tidak bisa menahan diri. Gadis putih abu-abu adalah hidangan yang sulit ditolaknya jika sudah tersaji.
Seorang gadis cantik dan seksi keluar dari dalam kamar dengan berpakaian rapi. Dia terkejut ada gadis lain di ruangan itu.
"Pacarmu?" tanyanya ke Gerdy.
"Adik," sahut Gerdy. "Dia mau liburan di kota ini."
__ADS_1
"Kamu tidak pernah cerita punya adik secantik ini."
"Kamu kan bukan petugas kelurahan?"
Mereka berkenalan. Karlina tampak begitu percaya diri. Dia melihat Tarlita terlalu ramping dibanding dirinya. Mungkin kebanyakan diet.
"Aku pergi dulu." Tarlita pamit. "Aku ingin tahu dosen itu maunya apa."
"Kalau dia minta...." Gerdy tidak melanjutkan kata-katanya, tapi Tarlita tahu ke mana arahnya.
"Mendingan dia bongkar-bongkar aku daripada bongkar-bongkar skripsi."
Gerdy tersenyum kecut. "Jalan jadi bebas hambatan, begitu?"
"Ada yang lebih berani dari itu!"
"Di fakultas kita?"
"Di Prodi kita."
Gerdy kaget. "Siapa?"
"Aku!"
"Sialan."
"Terima kasih atas semuanya."
"Datang saja kalau butuh," kata Karlina. "Kakakku tidak sempat keluar apartemen, lagi dikejar target."
"Butuh apa?"
"Apa saja."
"Kamu tidak masalah?"
Karlina tersenyum manis. "Aku sudah tujuh belas tahun. Jadi paham apa yang kalian butuhkan."
"Kayaknya sudah pengalaman," canda Tarlita.
"Jangan ngira-ngira."
"Adikku orangnya pengertian," ujar Gerdy. "Tidak menggonggong kalau kamu datang."
"Memangnya aku herder apa?" sambar Karlina ketus.
"Oke, aku call nanti," kata Tarlita. "See you later. Bye.
Tarlita keluar.
"Apa maksudmu bilang begitu ke Tarlita?" gerutu Gerdy dongkol. "Keterikatan ku dengannya cuma sebatas kebutuhan batin, dan itu sudah berakhir."
"Habis manis sepah dibuang." Dengan kurang ajar Karlina duduk di pangkuan Gerdy dengan posisi berhadapan. "Mana ada adik berani duduk begini di pangkuan kakaknya?"
"Aku lagi bikin tabel riset."
"Aku sakit hati dibilang cewek bispak. Mendingan aku buktikan daripada jadi fitnah."
"Yang bilang kan security. Kamu buktikan sama dia kalau kamu benar-benar gadis bispak, biar dia terhindar dari dosa fitnah."
"Sialan."
Karlina bangkit dari pangkuan calon suaminya. Perjodohan jadi pintu kebebasan baginya untuk berbuat sesuka hati. Kalau kurang-kurangnya menguasai diri, Gerdy bisa terseret ke dalam kisaran gelombang.
Perjodohan membuat situasi jadi rumit.
__ADS_1