Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Jadi Begini Akhirnya


__ADS_3

Gerdy mendapat persetujuan dari tiga dosen pembimbing untuk maju sidang. Dia sebetulnya ingin menginap di apartemen Luki agar tidak bolak-balik untuk daftar ujian skripsi besok. Tapi Nadine pasti khawatir kalau dia tidak pulang dan tentu saja timbul curiga.


Di kota ini berderet mantan pacarnya. Jadi wajar jika muncul pikiran macam-macam tentang dirinya. Segala sesuatu bisa terjadi di saat Gerdy rindu akan kehangatan. Dia ingin menjaga perasaan istrinya.


Nadine bersedia melayani jika dirinya menginginkan. Dia tidak peduli dengan pantangan untuk mencegah suami mencari kehangatan pada perempuan lain.


Nadine bersedia bercinta dengan gaya apa saja asal Gerdy terpuaskan. Dia sangat marah kalau suaminya menginginkan gaya tertentu dan dipendam karena merasa kasihan.


Maka itu dia sangat penasaran saat suaminya mimpi bercinta dengan kakaknya. Dia mau tahu gaya apa yang dipakai. Tapi Gerdy tidak mau bercinta secara ekstrim dengan istrinya karena sangat berisiko.


Gerdy ingin memperlakukan Nadine bak bidadari dengan gaya bercinta yang menyenangkan. Dia pantas mendapat perlakuan istimewa. Perempuan yang demikian sempurna tidak layak menderita, baik dalam bercinta maupun kehidupan.


Gerdy terpaksa pulang ke Jakarta meski sangat lelah. Dia tidak mau istrinya susah tidur memikirkan dirinya. Padahal tidak ada perempuan yang pantas dicemburui selain dirinya sendiri. Di perjalanan pulang, dia tak lupa mampir ke gerai kuliner untuk membeli oleh-oleh khas kota kembang, keripik tempe dan oncom.


Dalam kendaraan yang melaju kencang di keramaian malam, Gerdy teringat pada Dennis. Dia tidak tahu bagaimana keputusannya. Tarlita tentu tidak mau ditinggal pergi, sementara Caroline pasti bersikeras untuk membawa suaminya pulang.


Dennis dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit dan tidak ada jalan keluar terbaik. Caroline tidak menuntut cerai saja sudah untung. Faktor anak akan membuatnya terpaksa mempertahankan bahtera rumah tangga.


Seorang anak dihadapkan pada posisi rumit jika terjadi perceraian. Mereka tidak butuh hak asuh. Mereka hanya perlu jawaban yang bisa dimengerti kenapa orang tuanya berpisah. Dennis dan Caroline pasti kesulitan untuk memberi pemahaman kepada anak sekecil itu.


Mereka tidak boleh egois dengan mendahulukan kepentingan sendiri dan mengabaikan perhatian terhadap anak. Butuh kebesaran hati untuk sebuah kepura-puraan dalam kerukunan berumah tangga. Omong kosong kalau mereka dapat memberikan perhatian secara penuh setelah perceraian.


Jika mereka mempertahankan ego masing-masing, berarti sudah memberi tekanan psikis pada anak. Perceraian membuat anak jadi korban.


Gerdy menghentikan mobilnya ketika melewati sebuah bar di ibukota. Dia seperti melihat sedan Caroline di pelataran parkir. Dia memundurkan kendaraan untuk memastikan. Mobil itu benar milik tantenya.


Sebuah pikiran jelek membuat Gerdy membelokkan mobil dan berhenti di halaman parkir. Bergegas dia turun dan berjalan ke pintu masuk bar.


Tidak sulit mencari Caroline di antara keramaian pengunjung. Wanita itu berada di kursi sudut dalam keadaan mabuk berat. Seorang security sedang berusaha menenangkan karena dia berteriak-teriak histeris sehingga mengganggu kenyamanan tamu dan menjadi tontonan.


"Suamiku selingkuh! Tidak setia! Dia ingin menceraikan aku! Salah apa aku? Dasar laki-laki bajingan!"


Gerdy langsung paham apa yang terjadi. Dia segera mendatangi Caroline. Semua mata tertuju padanya, malu juga jadi pusat perhatian.


Security bertanya, "Tuan suaminya?"

__ADS_1


"Aku keponakannya. Dia baru saja mengalami depresi."


Gerdy segera memapah Caroline dan membawanya ke pintu keluar. Entah bagaimana warna mukanya melihat semua mata menjilati dirinya. Jika bukan saudara istrinya, sudah dibiarkan wanita itu mengacau di bar.


"Jangan lupa mampir di kasir, Tuan," pesan security.


Gerdy singgah di kasir membayar minuman. Dia heran melihat bon yang disodorkan. "Cuma segini?"


"Wanita itu tamu baru, Tuan."


Sudah pasti baru, jawab Gerdy dalam hati. Kalau sudah biasa, tidak mungkin mabuk hanya dengan dua sloki Vodka. Caroline benar-benar mengalami depresi berat sehingga nekat untuk masuk ke bar.


Caroline tak henti meracau memaki-maki suaminya di sepanjang perjalanan pulang. Dia pasti jadi korban hidung belang kalau Gerdy tidak lewat jalan ini. Tinggal dibawa ke hotel tanpa ingat siapa yang menggagahi.


Jadi ini keputusan Dennis? Dia memilih Tarlita dan menceraikan istrinya? Sebuah pilihan yang membuat Gerdy muak. Suami yang mementingkan kesenangan sendiri adalah lelaki yang tidak termaafkan.


Dennis tidak berpikir kalau keputusan ini membahayakan kedudukannya di kantor. Gerdy tahu pimpinannya adalah perempuan. Biasanya perempuan memiliki solidaritas tinggi bagi kaumnya yang tertindas.


Caroline baru sedikit tenang saat mereka tiba di depan rumahnya. Gerdy segera mengeluarkannya dari dalam mobil. Asisten rumah keluar membuka pintu pagar mendengar bunyi klakson yang ditekannya.


"Nyonya kenapa, Tuan?" tanyanya bingung.


"Aku menemukannya lagi mabuk di bar."


Mpok Ijah tidak banyak bertanya lagi meski tak habis pikir. Nyonya mabuk? Sejak kapan suka minuman keras? Berangkat pagi-pagi dan pulang dalam keadaan teler! Pasti Nyonya mengalami peristiwa berat!


Nyonya sering keluar malam. Malam Minggu bahkan sering pulang menjelang subuh. Biasanya terjadi kalau Tuan Dennis tidak ada di rumah. Tapi tidak pernah pulang dalam keadaan mabuk.


Gerdy membaringkan Caroline di atas tempat tidur. Wanita itu kelihatan tenang dengan mata layu separuh terpejam. Dia mengenakan rok sangat pendek sehingga terpampang pemandangan yang sangat menggairahkan.


Gerdy sempat terkesiap melihatnya.


"Kalau mau pakai, copot saja," kata Caroline dengan suara seperti orang mengigau. "Jangan cuma dilihatin. Aku tahu kamu lagi butuh. Apa perlu dibukain?"


Tangan Caroline bergerak hendak melepas segitiga pengaman.

__ADS_1


Gerdy terkejut dan mencegah, "Jangan, Tante...!"


Kedatangan Mpok Ijah yang membawa segelas air putih membuat Caroline menghentikan aksinya. Wanita itu rupanya berada antara sadar dan tidak.


"Minuman buat Nyonya?" tanya Gerdy.


"Iya, Tuan. Nyonya biasanya bangun malam untuk minum."


"Kasih yang banyak."


"Baik, Tuan."


"Jus buah atau air kelapa ada?"


"Ada, Tuan. Kebetulan siang tadi saya beli dan ditaruh di kulkas. Tuan suka minuman dingin?"


"Bukan buat aku, buat Nyonya. Kamu sediakan di meja kecil. Malam nanti biar diminum sama Nyonya supaya pengaruh mabuknya cepat hilang."


"Baik, Tuan." Mpok Ijah pergi.


"Kalau kepingin, pakai saja." Sekali lagi Caroline meracau. "Aku mau tidur. Bisa kan buka sendiri?"


Caroline memejamkan mata dan tertidur.


Malam ini Gerdy sudah menyelematkan seorang perempuan dari kejahatan hidung belang. Di bar dia sempat melihat beberapa pria terpesona dengan keindahan tubuhnya. Perempuan mabuk adalah santapan lezat untuk penutup hidangan makan malam.


Gerdy menyelimuti Caroline sampai leher sehingga pemandangan yang menggoda itu terhalangi. Kemudian berkata kepada Mpok Ijah yang sudah muncul lagi membawa jus buah dan air kelapa di atas nampan, "Aku pulang dulu. Jaga Nyonya baik-baik."


"Baik, Tuan."


Persoalan rumah tangga Dennis tidak bisa dianggap main-main. Dia sudah berbuat sewenang-wenang selaku suami. Apa begini tabiat keluarga Papi? Dari anak sulung sampai bungsu tidak bisa menghargai perempuan!


Semasa bujangan Gerdy sangat hobi bermain-main dengan perempuan, tapi tidak pernah menyakiti mereka. Dia selalu berpisah secara baik-baik dan memberi kenang-kenangan dengan nominal sangat besar untuk ukuran gadis SMA.


Karlina adalah perempuan terakhir yang menerima cek paling besar dari yang pernah diberikan untuk seorang perempuan.

__ADS_1


__ADS_2