
Nadine membuka dasi dan kemeja suaminya. Sebuah pelayanan yang sudah menjadi janjinya sebagai istri.
Gerdy baru pulang kerja. Istrinya libur hari Sabtu dan Minggu. Dia pasti sibuk kalau suaminya nanti masuk kantor tiap hari. Dia harus pulang lebih awal agar bisa menyambut kedatangannya.
Gerdy tidak pernah minta untuk dilayani seperti pangeran. Dia tidak enak jika Nadine sedang mencopot sepatu di beranda kepergok oleh mertua. Dia sudah menolak, istrinya malah marah dan menganggapnya menutup pintu untuk berbakti.
Perlakuan istimewa ini membuat Gerdy mempunyai beban tanggung jawab untuk dapat mewujudkan setiap keinginan istrinya. Untung Nadine tidak memiliki banyak keinginan. Dia hanya ingin dicintai untuk selamanya.
Gerdy sungguh suami yang beruntung. Dia dianugerahi seorang istri yang demikian sempurna dengan sedikit permintaan. Permintaan klasik; "cintai aku untuk selamanya."
Untuk crazy rich seperti Gerdy, cinta bisa dalam bentuk hadiah barang-barang mahal. Tapi Nadine hanya mau menerima dan memakai mas kawin cincin dan kalung berlian, karena itu adalah haknya.
Nadine menolak segala bentuk kemewahan yang disuguhkan. Dia sudah merasa cukup dengan gaji hasil jerih payah suaminya.
Nadine ingin membiasakan hidup seperti orang kebanyakan, karena kehidupan itu yang akan dijalani jika orang tua Gerdy tahu pernikahan mereka.
"Kamu lagi hamil tua," kata Gerdy sambil merebahkan diri di tempat tidur. "Tidak boleh terlalu capek."
Nadine berbaring menemani suaminya istirahat.
"Melayani suami masa capek?" baliknya. "Kan ada hasilnya."
"Apa?"
"Ini." Nadine menunjuk perut buncitnya.
Gerdy tidak menanggapi candanya. "Aku tidak enak sama Mami."
"Mami justru mengajari aku untuk memberi pelayanan terbaik. Papi berubah jadi begitu sebenarnya ada peran Mami juga, kurang perhatian karena mementingkan kerja. Dia kemudian memutuskan untuk berhenti, tapi sudah terlambat."
"Kamu istriku bukan pelayan."
"Justru aku mau jadi pelayan bagi suamiku. Aku perempuan modern berpaham ortodoks dalam menjalani peran sebagai istri."
Nadine sering cepat letih dengan usia kandungan yang semakin tua. Dia sudah mengurangi aktivitas kerja sesuai anjuran dokter. Minggu depan mulai mengambil cuti hamil.
Tapi Nadine tidak mengurangi pelayanan terhadap suami. Jadwal rutin berhubungan intim tetap berlaku. Dia malah menyindir suaminya kehilangan gairah kalau membahas untuk mengurangi jadwal.
"Katrin menghubungi aku di kantor," kata Gerdy. "Dia bilang Papi sudah satu bulan tidak pulang."
Nadine terkejut. "Pergi ke mana katanya?"
"Papi menikah lagi karena kakakmu menolak untuk mencukupi kebutuhan batinnya."
Masalah keluarga makin rumit, keluh Nadine dalam hati. Katrin berusaha keras untuk memulangkan Mami dan Prilly dengan menghentikan perbuatan keji itu, tapi menimbulkan masalah baru yang kian melukai ibunya.
Papi tak henti membuat pusing keluarga.
__ADS_1
"Jangan cerita ke Mami," pinta Nadine. "Mami pasti sedih."
"Kelihatannya kita harus cerita," ujar Gerdy. "Ada kabar Papi pergi dari rumah istri mudanya. Dia tidak pulang ke rumah, entah pergi ke mana."
Nadine menatap heran. "Kok bisa pergi?"
"Papi menikah dengan janda ingusan karena menang lotere banyak. Uang habis Papi pun ditendang. Kira-kira begitu."
"Kok kira-kira?"
"Kabar yang beredar begitu. Katrin mau membawa masalah ini ke meja hijau karena mereka sudah membuat Papi pergi tanpa ketahuan rimbanya."
"Katrin terlambat, mestinya dari awal-awal bertindak."
"Bertindak bagaimana maksudmu? Melarang Papi nikah lagi? Berarti dia harus kembali pada kebiasaan lama. Kebiasaan yang membuat Mami dan Prilly pergi dari rumah."
Nadine merasa tidak ada solusi terbaik untuk masalah ini. Papi adalah seorang maniak yang bisa berbuat apa saja kalau kebutuhan batin tidak terpenuhi. Dia hidup cuma untuk mendatangkan masalah bagi keluarga.
"Mami jadi kebawa-bawa," kata Gerdy. "Menurut informasi, Papi menikah lagi karena ditinggal pergi istri tua."
"Begitu cepatnya kabar beredar kalau mengenai keluargaku."
"Aku heran Papi tidak bosan-bosannya bikin sensasi."
"Mending jadi duit."
"Katrin mendapat saran dari warga untuk tidak mencari Papi karena kerjanya cuma bikin resah masyarakat, biar saja pergi. Nah, kakakmu perlu masukan dari keluarga. Dia minta bertemu dengan kalian."
Persoalannya, Katrin bukan semata-mata ingin minta pendapat dari mereka. Dia mau meminta Mami dan Prilly untuk kembali tinggal bersamanya.
Bagaimana kalau Papi tiba-tiba pulang? Masalah datang lagi, dan Nadine sulit untuk membawa mereka keluar dari rumah itu.
Semua keputusan ada di ibunya. Dia tidak bisa memaksa mereka untuk tinggal bersamanya, sementara Katrin menghadapi masalah pelik di kota satelit.
Mami meneteskan air mata saat Nadine menyampaikan kabar buruk itu.
"Semua ini salahku," kata Mami. "Rumah itu tidak perlu dirundung masalah kalau aku dapat melayani suami dengan baik."
"Jangan menyalahkan diri sendiri," sahut Nadine tidak enak. "Semua orang tahu siapa yang jadi biang kerok di keluarga kita. Sayangnya aku tidak bisa memilih lahir ke dunia dari benih siapa."
"Kamu tidak boleh bicara begitu," tegur Mami. "Dia ayahmu, baik atau buruk. Dia jadi suami yang membanggakan sebelum kamu lahir."
"Jadi aku sumber kesialan di rumah itu?"
"Aku tidak mengatakan begitu. Dia sebenarnya sangat menyayangi anak-anaknya. Dia menyerahkan tagihan pabrik tempe pada orang kepercayaan karena mau membawaku ke rumah sakit di kota besar untuk melahirkan kamu. Orang kepercayaan itu kabur membawa uang tagihan. Sejak itu perangai ayahmu berubah drastis. Dia benci jadi orang baik karena mendatangkan kebangkrutan."
Nadine sudah sering mendengar cerita itu dari ibunya. Dia tidak bisa menerima karena kekecewaan ayahnya mendatangkan musibah yang lebih besar. Keluarga mereka jadi sampah di mata masyarakat.
__ADS_1
"Jadi keputusan Mami bagaimana?" tanya Nadine.
Mami menatap anaknya dengan sendu. "Kamu tidak keberatan kalau aku pulang untuk menemani Katrin? Dia pasti bingung karena tidak ada keluarga untuk bertukar pikiran. Dia lagi menunggu masa-masa lahiran."
"Aku tidak keberatan kalau keinginan Mami demikian. Katrin ingin bertemu dengan kita untuk membicarakan kepergian Papi."
"Ayahmu tidak perlu dicari karena suatu saat pasti pulang. Dia akan berdiri di depan pintu rumah sampai aku sudi memaafkan."
"Mami akan menerima kembali kalau Papi pulang?"
"Dia ayah dari anak-anakku. Menurutmu sebaiknya aku bagaimana?"
Nadine angkat bahu sedikit. "Keputusan ada di Mami. Aku bahagia kalau Mami bahagia. Prilly barangkali tinggal bersamaku karena tidak mungkin pindah sekolah lagi. Dia sudah kelas dua belas."
"Mimin dan Prilly tetap tinggal di rumah ini untuk menemani kamu. Aku sebenarnya berat meninggalkan kamu, hanya Katrin saat ini lebih membutuhkan aku."
"Aku tahu Katrin sebenarnya ingin Mami dan Prilly pulang. Tolong sampaikan saja, aku tidak menahan adikku. Prilly akan pulang kalau sudah lulus nanti."
Prilly muncul dari dalam kamar, dan berkata, "Aku tidak mau pulang. Aku ingin tinggal bersama Kak Nadine."
"Tinggal bersamaku berarti kamu masuk universitas sesuai dengan kemampuanku. Tinggal bersama Katrin, kamu bebas masuk universitas sesuai keinginanmu."
"Aku tidak peduli."
"Mami dengar sendiri apa kata Prilly. Tolong sampaikan hal ini sama kakakku."
Gerdy menoleh ke istrinya. "Kamu tidak ikut ngantar Mami pulang?"
"Aku tidak mungkin pulang dengan perut buncit begini."
"Malu ya tidak kelihatan seksi?" ledek Gerdy.
"Siapa bilang?" balik Nadine berbisik. "Semalam yang minta duluan siapa?"
Mami memandang menantunya. "Tidak perlu kau antar. Aku naik taksi online saja."
"Ada mobil masa naik taksi sih, Mam?" Kemudian Gerdy memastikan ke istrinya. "Beneran nggak mau ikut?"
"Nggak," jawab Nadine tegas. "Kalau orang kampung melihat, terus lapor ke orang tuamu di Tanah Suci, bagaimana?"
"Aku akan membuatmu tidak kelihatan sama warga."
Nadine menatap lucu. "Dibungkus pakai karung maksudnya? Kamu pikir aku buah-buahan apa?"
"Buah nangka kali yang gendut begitu."
"Yang bikin gendut siapa?"
__ADS_1
"Ikan yellowfin," sambar Prilly asal.
Untung usianya sudah tujuh belas. Jadi boleh nimbrung obrolan mereka.