
Minggu-minggu ini merupakan hari yang berat buat Gerdy. Dia bukan saja sibuk menyiapkan tesis dan studi kasus. Dia juga sibuk menghadapi dua perempuan cantik yang selalu menghias pemandangannya sehari-hari.
Katrin makin rajin mengantar makan siang setiap jam istirahat. Mengantar jemput ke kampus selama motornya masuk bengkel. Kadang mengantarnya untuk pergi ke perpustakaan atau ke rumah dosen pembimbing kalau cuaca buruk. Tentu saja bukan semata-mata ingin membantunya, dia melihat ada harapan untuk menyemaikan harapannya.
Gerdy membuka pintu hatinya karena ingin menutup rapat-rapat pintu masa lalunya. Menjadikannya tempat persembunyian cinta dari pesona yang sulit dihalaunya.
Nadine tiap hari bolak-balik ke tempat kerja dan tempat tinggalnya. Kadang sampai ketiduran di kamar menunggunya pulang dari kampus, atau sengaja mampir istirahat sepulangnya dari kantor. Begitu bebasnya dia keluar masuk rumah karena memiliki kunci cadangan. Katrin banyak mengalah seolah dirinya adalah tamu. Dia rela tidur di kamar sebelah kalau ada Nadine di kamarnya.
Sewaktu kecil, Katrin tidak pernah bertengkar untuk makanan yang sama-sama mereka inginkan. Dia hanya menunggu sisa dari kedua adiknya.
Kebiasaan mengalah itu terbawa sampai mereka dewasa. Dia senang kalau adiknya bahagia, dalam perkara apapun.
Melihat perempuan yang menggairahkan berbaring di tempat tidur, suasana remang-remang, hujan rintik-rintik, dingin menusuk, Gerdy khawatir tidak bisa menjaga diri. Biar Nadine tak pernah menggodanya, tapi keberadaannya sudah sangat menggoda!
"Tolong keluar sebentar," kata Gerdy siang itu. Dia baru pulang dari kampus. "Aku mau ganti pakaian untuk pergi kerja."
Nadine yang sedang rebahan bangun dan duduk di sisi tempat tidur.
"Kenapa aku harus keluar?" tanyanya enteng. "Aku sudah hapal seluruh bagian tubuhmu."
"Kamu adalah perempuan asing di kamarku."
Sinar mata Nadine tampak terpuruk luruh. Dia berkata dengan pedih, "Aku tahu kamu cuma pura-pura mencintai Katrin. Kamu memberi harapan semu padanya. Kau bahagia dengan situasi seperti itu?"
"Aku cuma ingin melalui hari-hariku dengan nyaman. Aku terlambat tahu kalau Katrin ternyata sangat mencintaiku sejak lama."
"Jadi kau menyesal sudah mencintai aku?" tatap Nadine perih.
"Aku tidak pernah menyesal atas apa yang kulakukan, karena penyesalan adalah bukti kebodohan dari perbuatan sebelumnya," sahut Gerdy datar. "Aku sudah terlambat masuk kerja. Aku atau kamu yang keluar kamar?"
"Kamu ingin menyembunyikan sesuatu yang aku sudah sangat hapal, seperti kamu yang sudah sangat hapal setiap lekuk tubuhku. Apakah itu bukan sebuah kebodohan?"
Gerdy seolah termakan omongannya sendiri. Dia tahu tidak baik membiarkan istri orang berlama-lama di dalam kamar. Tapi dia tak kuasa mengusirnya pergi. Mantan istrinya sungguh keras kepala.
Brengseknya, Nadine malah menontonnya ganti baju.
"Tubuhmu sangat sempurna," komentarnya. "Tidak ada yang berubah dalam dirimu, kecuali ginjalmu."
"Mendingan kamu pikirkan diri sendiri," gerutu Gerdy ketus. "Kalau warga tahu siapa kamu sebenarnya, rumah ini pasti digerebek. Nama baikmu hancur seketika."
"Justru aku senang digerebek," kata Nadine konyol. "Kita pasti dipaksa nikah, dan kamu tidak bisa menolaknya."
__ADS_1
"Cinta membuatmu kehilangan logika."
"Kamu suka lagu Agnes Mo juga ya?"
"Masa lalu adalah masa lalu," keluh Gerdy tawar. "Aku atau kamu yang memberikan alamatnya pada suamimu?"
"Alamat?" pandang Nadine bingung. "Alamat apa?"
"Pengobatan alternatif," sahut Gerdy sambil memakai jam tangan, siap pergi kerja. "Ketika ilmu kedokteran tidak mampu menyembuhkannya, suamimu harus menempuh cara lain."
"Kesembuhannya tidak akan melunturkan cintaku padamu."
"Cinta itu akan hilang seiring berjalannya waktu," tukas Gerdy. "Aku pergi kerja dulu. Kau tidak masuk kantor hari ini?"
"Aku kan big boss. Jadi bebas mau masuk atau tidak."
Nadine bangkit dari tempat tidur dan berjalan di sisinya meninggalkan kamar.
"Aku antar," katanya. "Biar tidak kehujanan di jalan."
"Aku bawa jas hujan."
"Ya sudah aku ikut bonceng."
"Aku kan sudah bilang ingin mengantarmu kerja."
"Kamu tidak bisa memaksakan kehendakmu."
"Sejak dulu kamu tidak pernah menuruti permintaanku kalau tidak dipaksa dan dijebak."
Gerdy terpaksa naik mobil mewahnya. Dia tidak mau jadi perhatian warga dengan naik motor. Nadine pasti akan bergaya seperti anak remaja saat mereka berpacaran.
Bagaimana Gerdy bisa menghalau pesona yang semakin ketat mengikat?
Ketika mendengar kabar Nadine pergi bulan madu ke Hawaii, ada tamparan yang menyakitkan di dadanya. Tapi dia tak mau membiarkan perasaan itu berkembang. Tidak mungkin. Apalagi di depan Luki.
"Kau itu direktur atau apa?" komentar Gerdy. "Mau-maunya jadi kacung."
"Sekalian menengokmu."
"Memangnya aku kenapa?"
__ADS_1
"Katanya sering sakit-sakitan."
"Kelihatannya?"
"Kayaknya bersyukur ditinggal pergi, ada stok yang tak kalah bagusnya," bisik Luki sambil melirik Katrin yang datang membawa rantang makan siang. "Perempuan body goal begitu sungguh mengundang penasaran untuk dibongkar isinya."
"Jangan macam-macam."
"Kau tidak boleh memiliki keduanya. Bagi-bagilah."
"Maumu aku pilih Katrin supaya kamu bebas hambatan dengan bosmu?"
"Aku justru memilih perempuan ini, kelihatannya ganas di ranjang."
"Dia bukan mainan yang cocok untukmu."
"Dia tidak cocok jadi mainan. Cocoknya jadi istri."
"Selamat mimpi deh."
"Mimpiku pasti jadi kenyataan."
Dan Luki benar-benar membuktikan tekadnya. Setiap hari dia mampir ke supermarket. Ada saja keperluannya. Kalau tidak membeli sesuatu, pura-pura ingin bertemu dengan Gerdy. Kadang membantu Katrin melayani pembeli.
Jauh di lubuk hatinya, Luki sebenarnya sudah lelah bertualang. Di usianya yang makin matang mulai terpikir untuk mencari teman hidup, tempat berbagi suka dan duka. Dia bahkan sempat khawatir karena tak kunjung menemukan perempuan yang sesuai.
Melihat kegigihannya itu, Gerdy jadi cemas. Tak ada perempuan yang bisa menghindari rayuan maut Luki, siapapun perempuan itu. Tapi dia ragu dengan suara hatinya, akhirnya dibiarkan saja Luki melakukan pendekatan. Seperti siang itu.
Katrin bukan cuma sibuk melayani pembeli. Sibuk menghadapi Luki juga. Dia merasa rikuh dibuntuti ke manapun dia pergi, kecuali ke toilet.
"Kamu disuruh bosmu ya?" tanya Katrin curiga. "Memata-matai aku?"
"Mendekati perempuan secantik kamu masa disuruh-suruh?"
Luki sebenarnya tipe lelaki idaman. Tapi matanya terlalu liar untuk jadi suami. Jadi Katrin menganggap candaan saja saat dia mengajak untuk menjalin hubungan serius.
Karena sibuk menghadapi Luki, Katrin jadi telat mengantar makan siang.
Hari ini Gerdy lagi banyak-banyaknya pekerjaan. Giliran turun barang. Memang tidak berat. Dus-dus itu isinya cuma dua puluh kiloan. Tapi cukup melelahkan kalau jumlahnya banyak. Salah seorang anak buahnya tidak masuk. Dia terpaksa turun tangan.
Gerdy sedang mengangkat sebuah dus minuman ketika tiba-tiba sakit di pinggangnya menyengat hebat. Dunia berputar kencang. Dan sebelum pandangannya menggelap lapat-lapat terdengar jeritan Katrin.
__ADS_1
"Angkat ke mobil saya!" perintah Luki yang datang bersamanya. "Dia harus dilarikan ke rumah sakit!"
Orang-orang yang mengerubung segera menggotong Gerdy ke basement gedung. Luki berlari ke mobilnya dan beberapa menit kemudian, Gerdy sudah dilarikan ke rumah sakit.