
Mimin segera turun dari mobil untuk membuka pintu garasi. Mami dan Prilly langsung masuk ke dalam rumah. Nadine tidak berani turun karena memakai baju pengantin. Dia duduk di belakang supaya tidak menarik perhatian tetangga.
Nadine baru turun setelah mobil masuk dan pintu garasi ditutup. Dia membuka pintu garasi yang menghubungkan ke ruang tamu dan berjalan melintasi ruangan.
Mami sudah duduk istirahat di ruang tengah sambil menonton televisi. Dia tidak berpakaian adat seperti dirinya. Jadi tidak perlu ganti baju untuk bersantai.
Prilly keluar dari dalam kamar dengan berpakaian seragam SMA dan menggendong tas daypack. Dia hendak berangkat ke sekolah.
"Kamu masuk?" tanya Gerdy.
"Aku masuk setengah hari. Acara kakak kebetulan cepat selesai. Jadi bisa berangkat lebih awal."
"Pakai mobilku biar lekas sampai ke sekolah."
"Dia biasa naik becak," kata Nadine. "Belum punya SIM juga."
"Tolong bikin SIM mobil nanti sekalian sama SIM motor," pinta Jodi.
Prilly memandang tak mengerti. "SIM motor?"
"Baiknya kamu naik motor supaya lebih pagi tiba di sekolah. Aku sudah pesan matic ke dealer. Minggu ini datang."
Prilly terlihat senang sekali. Dia mencium tangan Gerdy.
"Terima kasih, Kak," katanya. "Aku pamit."
Kemudian Prilly mencium tangan Nadine dan Mami.
"Hati-hati ya di jalan," pesan Mami.
"Ya, Mam."
"Kunci mobilnya di lemari depan," ujar Gerdy.
"Baik, Kak."
Prilly pergi. Anak itu rajin sekali. Dia sebenarnya dapat izin satu hari, tapi memilih masuk setengah hari karena tidak mau ketinggalan pelajaran. Dia bisa beradaptasi dengan cepat di sekolah baru dan berprestasi.
"Kamu jangan memanjakan Prilly," tegur Nadine. "Kebiasaan nanti."
"Aku akan memanjakan semua orang rumah selama aku bisa," sahut Gerdy.
Nadine membuka pintu kamar dan menahan Gerdy saat akan ikut masuk. "Tunggu di luar. Aku ganti baju dulu."
Mami tersenyum. "Kamu itu lucu. Suami masa suruh nunggu di luar?"
"Malu, Mam." Wajah Nadine bersemu merah.
"Suami sendiri kok malu?"
Gerdy meledek, "Suami tetangga maunya kali, Mam."
"Jangan bicara begitu," tegur Mami. "Tidak baik."
"Rasain," kicau Nadine. "Hari pertama jadi menantu sudah dapat teguran."
"Orang-orang dapat kado ya?"
__ADS_1
"Masuk."
Nadine membuka pintu lebar-lebar. Gerdy masuk dan langsung rebahan di tempat tidur.
Nadine menutup pintu dan berjalan ke lemari pakaian. Dia merasa sedikit aneh ada laki-laki di dalam kamarnya.
"Tengkurap," kata Nadine. "Aku mau ganti baju."
Gerdy memandang dengan lucu. "Tengkurap? Kita main petak umpet apa? Aku mestinya yang buka baju pengantin itu."
Gerdy bangun dari tempat tidur dan meraih pinggang istrinya, lalu menarik tubuh yang sangat seksi itu ke tempat tidur.
Nadine melepaskan tangan suaminya dengan lembut. "Kamu sore ini ada kuis. Mendingan pulang ke apartemen dan belajar. Banyak waktu nanti untuk bersamaku."
Gerdy menepuk jidat. "Oh, iya. Aku ke Bandung naik apa? Mobilnya dibawa Prilly."
"Kirain naik grab kayak kemarin itu."
"Hari itu aku tidak ada kuliah."
"Nah, terus buat apa pergi ke Bandung?"
"Aku tidak pergi ke Bandung. Aku pergi ke perusahaan pertambangan milik orang tua temanku di kota ini. Orang magang masa bawa mobil mewah?"
"Memangnya kenapa?"
"Tidak enak saja. Aku magang karena butuh duit, bukan cari pengalaman."
"Magang di kota ini kejauhan. Kuliahmu bisa terbengkalai."
"Aku ingin dekat denganmu. Aku kerja hari Sabtu dan Minggu. Jadi tidak mengganggu kuliah."
"Gunanya koneksi di situ."
"Bagaimana jadwalmu dengan Karlina?"
"Jangan bicarakan perempuan lain hari ini."
Gerdy meraih pinggang istrinya. Nadine tidak menolak kali ini. Dia membiarkan saja tangan itu membimbing dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kemudian Gerdy menindihnya. Mereka berpandangan dengan mesra.
"Aku ingin jujur padamu," kata Nadine. "Aku hari itu sengaja tidak minum pil anti hamil karena aku takut kehilanganmu. Aku jadi panik sendiri saat tahu aku benar-benar hamil."
Gerdy terbelalak. "Kamu korbankan masa depanmu cuma gara-gara itu?"
"Masa depanku adalah kamu. Aku tahu kamu tidak akan lari kalau aku hamil. Aku buang pil itu dari mulut begitu kamu pergi mandi. Aku menjebakmu ya?"
Gerdy mencium bibir mungil itu dengan lembut. "Aku suka dijebak."
"Aku cuma punya satu cinta untuk selamanya. Aku ingin kamu ada di sisiku saat aku menutup mata."
"Aku ingin ada di atasmu saat kamu menutup mata," canda Gerdy. "Berarti kamu menikmati kemesraan kita."
Gerdy meraih kancing baju pengantin istrinya untuk dilepas. Nadine menahannya dan memandang wajah suaminya bolak-balik.
"Aku tahu kamu sangat pengalaman dalam bercinta," desisnya. "Bukan cuma dengan anak putih abu-abu, dengan banyak perempuan. Kamu boleh buka bajuku kalau bisa menghentikan kegilaan itu. Jadi hanya istrimu yang melayani."
"Aku sudah mulai sebelum kamu pinta."
__ADS_1
"Aku tidak mau dengar kata mulai, aku minta dihentikan. Kamu bisa?"
"Pasti bisa."
Nadine membiarkan kancing baju pengantinnya dilepas. Gerdy tahu istrinya sangat lugu di atas ranjang. Jadi dia perlu mengambil inisiatif. Keluguan istrinya justru membuat dirinya sangat bergairah.
Nadine tersenyum malu-malu saat suaminya sudah membuka seluruh pakaian adat.
"Ajari aku untuk memuaskan suamiku sehingga tidak mencari kenikmatan pada perempuan lain," bisiknya mesra.
"Aku merasa cukup dengan apa yang kamu berikan."
"Aku belum memberikan apa-apa. Kamu baru buka tutupnya."
"Aku tidak mungkin ada di kamar ini kalau kamu belum memberikan apa-apa. Aku terpesona dengan kesempurnaan cintamu."
"Yang tidak kamu peroleh dari Karlina?"
"Aku sudah bilang tidak pernah terjadi apa-apa dengan Karlina."
Nadine adalah gambaran istimewa tentang perempuan masa kini. Pergaulannya demikian liar, tapi nonton film dewasa saja belum pernah. Dia benar-benar tahu tentang lelaki seutuhnya pada saat mempersembahkan kesempurnaan cintanya.
Nadine menyembunyikan kemolekan tubuhnya di balik selimut. Dia mengingatkan suaminya yang hendak melepas pakaian dalam. "Lihat jam dinding. Aku tidak mau kamu terlambat ujian karena kemesraan kita."
Gerdy mengusap-usap rambut. Gerakannya berhenti saat melihat jam dinding, dan panik. "Aku bisa telat kalau tidak pinjam motor sport tetangga."
"Asal jangan pinjam istrinya."
"Peralatan mandi di mana?"
"Di laci paling bawah meja riasku."
Gerdy mengambil peralatan mandi di laci yang ditunjukkan, kemudian berjalan dengan tergesa ke pintu kamar dan mendadak berhenti ketika istrinya menegur, "Kamu mau keluar dengan keadaan begitu?"
Gerdy baru sadar kalau dia cuma mengenakan pakaian dalam. Ia bertanya, "Handuk di mana?"
"Lemari. Pintu kanan."
"Mestinya kamu izinkan aku masuk kamar sebelum ini. Jadi tidak banyak tanya."
"Enak saja."
Gerdy mengambil handuk di lemari dan tertegun ingat sesuatu. "Travel bag belum diturunkan di mobil yang dibawa Prilly. Masa aku ujian pakai gaun?"
"Pakai saja baju pengantin."
"Biar suami kamu viral di kampus?"
"Biar perempuan tidak berani mendekatimu karena sudah ganti status."
"Aku harus pinjam baju ke tetangga."
"Pakai saja punyaku."
"Aku mau operasi tadi ... suruh lihat jam, sekarang aku mau pergi kuliah ... suruh pakai punyamu...."
"Pakai bajuku!"
__ADS_1
"Kirain pakai...."
Gerdy pergi ke luar kamar. Nadine rebahan di tempat tidur dengan pikiran melayang. Dia tahu dengan pernikahan ini kerikil tajam sudah menunggu di hari esok.