Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Jatuh di Permadani


__ADS_3

Detik-detik menjelang keberangkatan orang tuanya ke Tanah Suci adalah saat-saat yang paling membingungkan buat Gerdy. Dia berada di antara dua pilihan yang sama sulitnya. Dan dua-duanya bukan jalan keluar yang terbaik.


"Aku lihat seperti ada yang mau disampaikan," kata Abi sesaat sebelum naik bus jamaah menuju penginapan karantina. "Katakanlah sebelum terlambat."


Gerdy menggeleng dengan wajah muram. Dia tidak sanggup mengutarakan. Bagaimana dia tega membekali perjalanan suci mereka dengan sebuah kenistaan?


"Selamat jalan, Abi." Gerdy memeluknya dengan sedih. "Semoga Abi baik-baik saja di Tanah Suci."


"Jaga adikmu baik-baik," pesan Umi menahan tangis ketika mendapat kesempatan memeluk anaknya yang terakhir kali. "Jangan bertengkar. Kamu mesti sabar menghadapinya."


Sementara Wisnu sudah pergi diam-diam. Dia pengap melihat pemandangan di sekeliling. Air mata bercucuran di mana-mana seolah mereka tidak akan bertemu lagi. Mereka pergi haji, bukan berangkat ke medan perang!


Wisnu menemui gadis yang menunggu di tempat terpisah bersama rombongan pengantar. Gadis ini modelnya beda, berjilbab. Barangkali sudah bosan dengan gadis berpenampilan berani, atau cuma cari sensasi.


"Siapa dia?" tanya Gerdy dalam perjalanan pulang. Gadis itu pulang bersama ibu-ibu yang turut mengantar orang tuanya.


"Andini," sahut Wisnu sambil mengendarai mobil dengan santai. "Anak Pak Sekel."


Pantas tidak lepas dari Bu Sekel. Dia tidak hapal anak sekretaris kelurahan itu. Mereka sejak kecil sekolah pesantren.


"Pacar barumu?"


"Gitu deh."


"Kamu ganti pacar kayak ganti nomor PIN."


"Adik tidak jauh dari kakaknya."


"Jangan contoh yang jeleknya."


"Yang baiknya tidak ada."


"Sialan."


"Yang ini kayaknya serius. Umi sama Bu Sekel sudah mulai kasak-kusuk."


"Belum kamu apa-apain, kan?"


"Pegang saja belum pernah."


"Masa?"


"Katanya bukan muhrim, haram. Pacaran sama Andini banyakan khotbah daripada ngomong cinta. Aku tak habis pikir kenapa belum putus juga."


"Tandanya kamu jatuh cinta."


"Barangkali karena cocok sama selera Umi."


"Yang pacaran kamu."


"Lebih baik kalau Umi setuju."


Adiknya betul, pikir Gerdy pahit. Persetujuan orang tua perlu untuk menempuh bahtera rumah tangga. Dia tidak akan demikian bingung kalau yang hamil adalah Karlina. Mereka tinggal mengaku khilaf.


"Abi juga acc kayaknya," kata Wisnu.


"Prilly bagaimana?" pancing Gerdy. "Katanya mau pedekate."


"Justru itu aku kehilangan jejak," sahut Wisnu hambar. "Aku hubungi ke sekolahnya sudah pindah. Teman-temannya tidak ada yang tahu pindah ke mana."


"Kamu sudah tanya sama kakaknya?"


"Aku bisa kena gampar kalau Umi tahu aku datang ke rumahnya."


Gerdy meledek. "Katanya cinta butuh perjuangan."


"Aku cari aman saja deh. Umi setujunya sama Andini."


Gerdy berharap Wisnu jadi orang baik-baik. Tidak mengikuti jejak kakaknya. Tidak ganti-ganti pacar dan terjerumus dalam kehidupan bebas. Semoga Andini jadi pelabuhan terakhir Wisnu.


Gadis itu cocok untuk Wisnu. Dia bukan cuma cantik dan pandai menjaga penampilan, tapi pintar mengurus pekerjaan dapur.


Dia langsung pergi ke belakang bersama Karlina begitu sampai di rumah. Mereka membantu koki masak untuk acara ratiban malam nanti.


"Baiknya kamu larang," kata Gerdy. "Kerja di dapur itu berat."


"Andini lagi baik-baikin calon kakak iparnya," sindir Wisnu. Dia tahu kalau perjodohan itu cuma kedok. "Semua orang bilang mereka cocok jadi penghuni rumah ini."


"Dia belum jadi calonmu. Tidak enak sama orang tuanya."

__ADS_1


"Justru disuruh bantu-bantu sama orang tuanya."


"Nggak sekolah?"


"Baru pulang dari Masturiyah."


"Sudah lulus?"


"Pindah ke Aliyah di kota kecamatan."


"Biar dekat sama kamu?"


"Nggak juga."


"Jangan perlakukan Andini seperti pacar-pacarmu sebelumnya."


"Kak Gerdy persis Umi! Memangnya aku tak punya perasaan apa?"


"Perasaan punya, cuma suka korslet."


"Umi lebih sadis."


"Harus."


"Aku dipaksa kawin gantung."


"Bagus."


"Bagus apanya?"


"Daripada kamu yang digantung."


"Aku ingin bebas."


"Tapi mau kan?"


"Ya jalani saja apa adanya. Hitung-hitung ta'aruf. Sayang kalau dilepas. Andini cantik."


"Silvana cantik."


Silvana adalah manajer rumah tangga mereka. Cantik, terpelajar, tapi jomblo abadi.


"Artinya jangan lihat wajahnya."


Barangkali Umi khawatir melihat kebebasan hidup Wisnu. Dia ingin mengekangnya dengan ikatan resmi, tapi belum boleh bercampur, kira-kira itulah gambaran kawin gantung.


Padahal ada yang lebih perlu dicemaskan.


Gerdy kena karma dari pencitraan di hadapan orang tuanya. Teringat itu dia jadi resah.


"Siang ini aku kembali ke Bandung," kata Gerdy. "Sore ada kuliah."


"Siapa yang sambutan mewakili keluarga pada ratiban malam nanti?" 


"Pak Lurah."


"Cocok."


"Mestinya Pak Sekel."


"Lebay."


"Aku sudah bilang ke mereka, tapi aku usahakan untuk pulang secepatnya." Gerdy mengeluarkan kunci brankas dan kartu ATM ayahnya dan disodorkan ke Wisnu. "Kamu pegang."


"Abi menyerahkan sama kakak."


"Aku serahkan ke kamu." Gerdy merasa adiknya lebih pantas mendapat kepercayaan. Orang kotor macam dirinya tak pantas memegang sebuah amanat. "Aku ingin jujur padamu karena kamu saudaraku satu-satunya."


"Jadi selama ini kakak tidak jujur sama aku?"


"Tidak."


"Soal apa?"


"Aku sudah menikah sama Nadine delapan bulan yang lalu."


Wisnu terkejut. "Serius?"


"Cukup kamu yang tahu. Maka itu aku serahkan kepercayaan itu sama kamu."

__ADS_1


Wisnu sudah dapat menebak kenapa kakaknya menikah secara diam-diam, pasti kecelakaan. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti jatuh juga, begitu kata pepatah. Untung kakaknya jatuh di permadani. Temannya menghamili janda beranak dua, apa bukan jatuh di batu cadas namanya?


"Kok bisa kecelakaan ya, padahal banyak rambu-rambu."


"Dia tidak minum pil."


"Kan bisa di luar?"


"Kayak sudah pengalaman."


"Banyak di internet."


"Di kehidupan kamu, bagaimana?"


"Namanya anak SMA, rasa ingin tahu sangat tinggi. Sekedar ingin tahu."


"Pacarmu tidak menuntut?"


"Dia main bukan sama aku saja. Cowoknya banyak. Aku tidak mau kena getahnya. Maka itu aku pisah baik-baik."


"Pacar-pacar sebelumnya?"


"Tes drive kan lumrah sebelum membeli mobil."


"Gen Z begitu ya?"


"Emangnya kakak lahir tahun berapa? Kayak sudah bapak-bapak saja?"


"Sebentar lagi aku jadi bapak-bapak."


"Untung aku buru-buru lepas dari pacar terakhir. Kalau tidak, kejadian deh kayak kakak."


"Lagian anak SMA mainannya anak kuliahan. Mereka pengalaman."


"Aku kira dia gadis baik-baik. Gak tahunya sama dengan istri kakak, banyak pacar."


"Enak saja menjelekkan istriku. Nadine hanya bersahabat."


"Dia juga ngakunya begitu. Tapi temanku sering memergoki dia check in."


"Nadine tidak pernah check in. Dia cuma satu kali melakukan itu...sama aku."


"Amazing. Jadi wajar Kak Nadine menuntut. Aku kira dia sudah biasa."


"Dia tidak menuntut. Dia tahu aku tidak akan lari dari tanggung jawab."


"Aku juga begitu kalau aku jadi yang pertama. Aku cuma jadi penampungan barang bekas. Maka itu aku kapok pacaran sama yang jauh lebih tua."


Gerdy tidak bisa menyalahkan Wisnu. Dia sudah memberi contoh buruk. Mestinya dia tidak terlalu terbuka kepada adiknya.


"Jadi Prilly sama ibunya tinggal sama kakak?" tanya Wisnu.


"Jangan bicarakan Prilly karena sudah ada Andini."


"Kakak seharusnya bilang dari awal kalau sudah terjadi kecelakaan."


"Aku pasti disuruh meninggalkan Nadine dan menikah sama Karlina."


"Jangan salahkan Umi."


"Aku tidak menyalahkan Umi. Aku tahu keluarga mereka tidak layak jadi besannya."


"Dan kakak memilih keluarga yang tidak layak?"


"Aku bersahabat dengan Nadine sejak kecil. Aku tahu betul sifatnya. Jadi kupikir dia yang paling cocok jadi pendamping hidupku."


"Dia kakak ipar yang sangat sempurna. Aku bangga kakak bisa mendapatkannya. Tapi keburukan ayahnya jadi musibah."


"Kamu mengakui Nadine sebagai kakak ipar?"


"Dia istri Kak Gerdy, bagaimana aku menyebutnya?"


"Aku senang mendengarnya."


"Terus aku harus bagaimana?"


"Tolong sampaikan ke orang tua kita kalau aku tidak sempat menceritakan."


Wisnu diam.

__ADS_1


__ADS_2