Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Bersembunyi


__ADS_3

Perumahan ini cocok untuk mengasingkan diri. Lokasinya berada di pinggiran kota, jauh dari keramaian. Yang kurang cocok menurut Gerdy adalah bangunan rumahnya, lebih bagus kandang kuda ayahnya!


"Sederhana banget," komentar Gerdy sambil mengeluarkan barang-barang Nadine dari bagasi mobil. Kemudian membawanya memasuki halaman sempit. "Tidak ada tempat kos yang lebih baik?"


"Sederhana banget...," gerutu Nadine keki. "Makanya sesekali tukar nasib jadi orang biasa. Jangan diam di istana terus. Aku beli rumah ini lima ratus juta."


Gerdy kaget. "Beli?"


"Kebetulan ada yang lelang. Pemiliknya kembali ke kampung."


"Uangnya?"


"Aku batal membeli mobil."


Nadine membuka pintu rumah. Barang bawaan diletakkan di ruang tamu. Perabotan rumah kosong. Diangkut pemilik sebelumnya.


Rumah ini cukup besar untuk ukuran masyarakat biasa. Di dalamnya ada ruang tamu, ruang tengah, tiga kamar tidur, ruang makan, dapur, dan kamar mandi. Untuk ukuran Gerdy rumah ini sangat sempit, kamar tidurnya jauh lebih luas, belum termasuk kamar mandi.


"Jadi kita tidur di sini?" tanya Gerdy.


"Memangnya kamu mau berhenti kuliah?"


Gerdy merasa tak perlu menjawab. Nadine sudah tahu jawabannya. Dia memilih tinggal di rumah sederhana ini karena jawaban itu.


Tapi Gerdy tak menyangka kalau Nadine membeli rumah ini. Apa maksudnya? Apa dia mau menetap di sini?


"Aku mau hidup tenang," kata Nadine. "Tidak dikejar-kejar uang sewa. Rumah ini bisa dijual kalau kamu sudah kaya."


"Lulus saja belum."


"Justru itu mesti cepat lulus."


"Kalau gagal?"


"Berarti pengorbananku sia-sia."


"Tapi kenapa memilih tempat ini, Nad?" tatap Gerdy luruh. "Kita bisa membeli rumah yang lebih baik."


"Menurutku rumah ini sudah sangat baik."


"Aku punya tabungan. Nominalnya kau sudah tahu."


Nadine yang sedang mengeluarkan isi travel bag menoleh sekilas. "Simpananmu buat cadangan kalau kepepet."


"Kita sudah kepepet."


"Kepepet apanya? Kau bisa menjalani kehidupan seperti biasa."


Gerdy menghela nafas berat. "Aku malah berpikir ingin memberi tahu mereka. Kita bisa cari alasan untuk menutupi aib di mata masyarakat."


"Tapi kita tidak bisa cari alasan untuk orang tuamu," sambar Nadine murung. "Dunia kita akan kiamat."


Orang tua Gerdy pasti menyalahkan dirinya. Nama keluarganya demikian buruk di mata mereka. Keluarga perusak laki-laki. Dia tak punya pembelaan yang cukup meski tidak sepenuhnya bersalah.


Mereka tentu mempertahankan anaknya, mengambil Gerdy dari sisinya. Nadine cuma punya dua pilihan, menggugurkan kandungan atau hidup sendiri dengan janin di perutnya!

__ADS_1


Gerdy sulit diharapkan perlindungannya. Dia pasti kerepotan menghadapi dakwaan orang tuanya. Dia begitu menggebu-gebu mengangkat martabat dirinya, bagaimana sekarang membuktikannya?


Bisa saja Gerdy berpihak padanya, pergi dari rumah. Tapi bagaimana kuliahnya? Bagaimana nasib mereka? Hidup tak cukup berbekal cinta!


Sementara waktu Nadine lebih suka bersembunyi. Masalah lebih mudah diatasi kalau Gerdy sudah memperoleh titel. Bagaimanapun, mereka memiliki bekal cukup untuk menghadapi segala kemungkinan.


Sekarang yang perlu dipikirkan bagaimana menyembunyikan perutnya dari kecurigaan orang tua Gerdy, dari orang kampung yang bekerja di kota. Dan pilihannya jatuh ke perumahan ini. Dia tak peduli bagaimana keadaannya. Dia sudah pernah merasakan hidup susah.


Perabotan yang kemudian dibeli juga yang perlu-perlu saja. Kursi, televisi, tempat tidur, lemari pakaian, dan peralatan dapur seadanya.


"Kalau beli sesuatu itu bilang dulu sama aku," tegur Gerdy. "Aku bisa beli perabotan bermerek."


Siang itu Gerdy hendak pergi ke toko furnitur untuk membeli perabotan, tapi sudah datang satu colt diesel pesanan Nadine.


"Tempat tidur ini untuk aku, bukan untukmu."


"Nah, terus kalau aku berkunjung ke mari tidur di mana?"


"Kamu bisa tidur di hotel."


"Masa suami istri tidur terpisah?"


"Kita cuma pura-pura!"


"Biar cuma pura-pura, apa kata tetangga nanti? Tidak apa aku tidur di kasur jelek ini, asal satu kamar denganmu."


Nadine mendelik. "Memanfaatkan kesempatan ya?"


"Jadi aku tidur di kamar lain?"


Gerdy terkejut. "Kamu mau membawa mereka tinggal di rumah ini?"


"Keberatan?"


"Persoalannya, apa mereka mau tinggal di kandang kerbau?"


Nadine mendelik kesal. "Aku beli rumah ini dengan banting tulang dibilang kandang kerbau. Terus kamu siapa berani membuat bunting kerbau?"


"Kerbau jantan," jawab Gerdy kecut sambil mengusap-usap kepala.


"Kamu keberatan mereka tinggal bersama kita?" tanya Nadine sambil menatap pemuda itu dengan sinar mata lembut. "Aku perlu minta pendapatmu karena suatu saat kamu akan tidur bersamaku."


"Kamu harusnya tanya mereka, apa mereka mau meninggalkan istana megahnya?"


"Itu urusanku."


"Buat apa minta persetujuan kalau itu urusanmu?"


"Kamu adalah suamiku."


"Apa?"


"Meski suami pura-pura!"


"Aku tidak mau pura-pura. Kamu egois kalau cuma memikirkan kuliahku, tapi tidak memikirkan anak di perutmu."

__ADS_1


"Buat apa aku pergi dari pondokan dengan kamar tidur mewah kalau tidak memikirkan anakmu?"


"Aku mau anak itu mempunyai ayah saat lahir. Kita menikah diam-diam. Kamu minta om kamu jadi wali. Dia saudara kandung ayahmu, kan?"


"Aku masih punya ayah."


"Katakan saja ayahmu tidak layak jadi wali karena tiap hari kerjanya mabok."


Nadine memang tidak sudi ayahnya jadi wali. Dia binatang. Tapi omnya apa mungkin bersedia jadi wali dengan kondisi hamil duluan?


Maka itu Nadine rela menjalani hidup seperti ini karena tak ada pilihan.


Tapi Gerdy tidak sampai hati melihatnya. Apa dosanya sehingga harus hidup menderita? Dia yang membuatnya hamil!


"Kamu masih punya kesempatan untuk memilih," kata Gerdy, "sebelum terlambat."


Nadine menoleh tanpa semangat. "Minta ampun sama orang tuamu? Itu bukan pilihan. Cari mati."


"Bukan."


Bukan? Lantas apa? Mereka tak punya banyak pilihan. Tak punya banyak kesempatan. Atau Gerdy ada rencana lain? Yang membuat mereka semakin terpuruk ke lembah dosa?


Nadine memandang dengan curiga. "Kamu mau menggugurkan kandunganku?"


"Aku benci mengatakannya," sahut Gerdy tawar. "Tapi adakah jalan lain yang dapat menyelamatkan hidup kita?"


Gerdy sendiri separuh hati menyampaikan hal itu. Membunuh jabang bayi yang tak berdosa adalah perbuatan biadab. Tapi lebih biadab lagi kalau sampai tega menghancurkan nama baik orang tuanya. Dosa bisa dihapus dengan bertaubat. Tapi nama baik? Bagaimana menghilangkan coreng hitam yang sudah membekas di masyarakat?


"Aku tak mau mengotori tanganku dengan darah anakku sendiri," dengus Nadine dingin.


"Kamu tak perlu mengotori tanganmu."


"Minta bantuan dukun beranak? Calon dokter kandungan minta aborsi sama dukun beranak?"


"Dokter juga ada, kan?"


"Aku tidak minta kamu untuk bertanggung jawab."


"Tapi kamu tahu aku tidak akan lari dari tanggung jawab."


"Lalu kenapa punya pikiran sekeji itu?"


"Aku kasihan sama kamu, Nad," jawab Gerdy tidak enak. "Kamu rela hidup menderita begini karena mempertahankan jabang bayi yang belum tentu jadi orang berguna."


"Dia tidak menginginkan lahir."


"Kita juga."


"Tapi kebodohan kita menginginkannya." Sinar mata Nadine memburam. Air menggenang di sudut matanya. Getir. "Biarkan dia hidup, Ger. Biarkan menghukum kita."


Nadine telah bertekad untuk mempertahankan kandungan sekalipun taruhannya masa depannya sendiri. Dia yang berbuat, mengapa bayi itu yang harus menebus dosanya? Yang berkorban?


Dia tak mau melepaskan tanggung jawab karena sebongkah perasaan malu. Dia tidak malu melakukan perbuatan terkutuk itu, mengapa harus malu menanggung akibatnya?


Lagi pula, warga perumahan ini tidak tahu kalau mereka belum menikah. Biarkan saja opini itu berkembang selama Gerdy tidak memperlakukan dirinya sebagai istri!

__ADS_1


__ADS_2