
Jantung Nadine berdebar kencang. Dia tidak tahu apa maksud Gerdy dengan membawa dirinya pulang ke rumah orang tuanya. Dia curiga suaminya tersinggung dengan kata-kata Katrin sehingga merubah rencana semula.
"Sebetulnya aku ingin menginap di rumah kakakku karena sudah lama tidak pulang," kata Nadine cemas. "Kau rubah rencana secara mendadak. Aku terus terang tidak paham."
"Kau tidak mau tidur di kamar paling mewah di kota ini?" tanya Gerdy santai. "Kesempatan yang mungkin datang hanya sekali untuk seumur hidup."
"Aku takut, lebih baik kita pulang ke Jakarta."
"Apa yang kamu takuti?"
"Kamu membawaku ke rumah dengan perut besar begini, bagaimana aku bisa tenang?"
Ada yang paling dikuatirkan Nadine dengan kedatangan ke rumah orang tua suaminya. Mereka masuk perangkap yang sudah disiapkan orang rumah, dan suaminya tidak menyadari hal itu.
Abi sama Umi mungkin saja sudah mendengar kabar tentang pernikahan diam-diam ini, kemudian mereka menyusun rencana lewat orang rumah untuk membuktikan kebenaran kabar itu. Mereka menyuruh Gerdy datang membawa istrinya, dan terjadilah hal yang menakutkan.
"Yang nyuruh datang Wisnu atau siapa?" tanya Nadine waswas.
"Security," jawab Gerdy santai. "Aku tidak tahu Wisnu di mana?"
"Sayang...," desis Nadine khawatir. "Hatiku tidak enak. Aku merasa semua ini adalah jebakan."
"Jebakan bagaimana maksudmu?"
"Orang tuamu sudah mengendus pernikahan kita, kemudian kamu disuruh membawa aku ke rumah. Perutku ini adalah bukti yang tak terbantahkan. Mereka mau memisahkan kita. Security menahan dirimu di rumah, aku diusir pergi."
Gerdy menghentikan mobil secara mendadak seakan baru sadar.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang?" sesal Gerdy. "Aku tidak terpikir sama sekali kalau semua ini adalah jebakan. Aku harusnya curiga security memintaku untuk pulang."
"Harusnya kamu tidak membawa aku."
"Aku berarti tidak mengambil jatah malam ini kalau tidak membawamu," dalih Gerdy. "Aku tidak enak dibilang kehilangan selera karena perut buncit, padahal istriku makin seksi di mataku."
"Situasi lagi darurat, jadwal malam ini kita abaikan."
"Terlambat ngomongnya. Kita sudah tiba di depan pintu gerbang. Jalan masuk sudah diportal. Kita tidak bisa kabur. Tidak mungkin lari hujan-hujanan."
Waktu itu mobil sudah berada di depan gerbang yang terbuka. Security sudah mengawal untuk masuk. Air mata Nadine menetes. Dia tidak menyangka malam ini mengalami kejadian memilukan.
"Jangan menangis," hibur Gerdy. "Mereka tidak bisa selamanya menahan aku, banyak kesempatan untuk kabur."
"Aku menangis bukan memikirkan nasibku, aku memikirkan dirimu."
__ADS_1
"Aku kira wajar kalau aku mendapat hukuman tahanan rumah. Aku sudah melakukan kebodohan besar. Membuat bunting anak orang dan tidak lapor ke orang tua."
Gerdy menjalankan mobil memasuki pintu gerbang. Dua orang security berlari-lari mengikuti mobil menuju ke sebuah bangunan cukup besar khusus garasi.
"Mereka pasti menginterogasi aku," keluh Nadine gelisah. "Kesalahan ada padaku karena aku mendatangi kamu ke apartemen."
"Kayak perempuan penggoda ya?" canda Gerdy untuk mengusir ketegangan. "Nyatanya aku tergoda. Untung aku suka digoda."
Gerdy menghentikan mobil di dalam garasi. Dua security yang membuntuti mereka segera membuka pintu. Dua security itu membawa mereka ke arah yang berbeda.
Air mata Nadine jatuh berderai. Dia memandang suaminya dengan sedih. "Sayang...."
"Yang sabar ya," hibur Gerdy pasrah. "Jawab saja dengan jujur semua pertanyaan Pak Kumis."
Kemudian Gerdy dipaksa masuk ke sebuah pintu. Nadine makin pilu melihatnya. Perjalanan cinta mereka sungguh berat. Kejadian ini hanyalah kerikil kecil di antara butiran batu.
"Jalan," perintah security berkumis tebal itu.
"Aku mau dibawa ke mana?" tanya Nadine.
"Sebuah ruangan yang tidak pernah anda bayangkan," sahut Pak Kumis galak.
Mereka berjalan menelusuri koridor menuju ke sebuah ruangan di bagian sayap rumah. Langkah Nadine terasa mengambang seolah tidak menginjak lantai. Kejadian ini sulit untuk dicerna akalnya. Berbagai perasaan bercampur aduk di dadanya.
Pak Kumis membuka sebuah pintu besar. Di dalam ruangan tidak ada penerangan sama sekali. Nadine jadi curiga. Jangan-jangan ruangan ini adalah ruang penyiksaan. Dia tidak ada kesempatan untuk kabur. Areal rumah ini dibatasi dengan pagar tinggi menyerupai benteng.
"Masuk," perintah Pak Kumis tak kenal kompromi.
Nadine masuk diikuti Pak Kumis. Kemudian security itu menutup pintu. Ruangan jadi gelap gulita, tidak ada cahaya masuk sama sekali.
Nadine tidak bisa melihat apa-apa. Untung dia tidak phobia gelap. Jadi tidak panik berada di dalam ruangan gelap. Dia berdebar-debar menunggu apa yang akan dilakukan security itu.
Tiba-tiba ruangan jadi terang. Di pintu dalam berbaris orang rumah mengawal Wisnu membawa kue ulang tahun. Gerdy berdiri mendampingi. Mereka bernyanyi beramai-ramai, termasuk Pak Kumis dan security lain.
Di tengah ruangan ada meja panjang dengan beraneka macam hidangan. Mereka kelihatan sudah menyiapkan penyambutan ini sebelumnya. Ruangan ditata dengan hiasan menarik sehingga menambah semarak suasana.
Nadine hanya bisa terdiam mendapat kejutan yang di luar bayangan itu. Perasaan haru dan bahagia menyelimuti hatinya. Sedih juga. Kejadian ini tentu tanpa restu pemilik rumah. Tapi setidaknya ada yang menyambut hangat kehadirannya malam ini.
Nadine sudah bergaul dengan Gerdy sejak kecil. Sekali pun dia belum pernah masuk ke istana ini. Kejadian malam ini adalah sesuatu yang luar biasa baginya.
Wisnu meletakkan kue ulang tahun di meja dan menyalakan lilin yang membentuk usia Nadine. Kemudian dia menoleh ke perempuan yang berdiri termangu di dekat pintu luar. "Kok malah bengong di situ? Sini tiup."
Nadine mengayunkan kakinya lambat-lambat. Dia sempat merasa momen ini adalah sebuah mimpi. Sambutan hangat orang rumah menyadarkan dirinya kalau yang dialami adalah kenyataan.
__ADS_1
Wisnu menyodorkan tissue. Nadine menerima dan mengeringkan wajah yang basah oleh air mata. Orang rumah memberi semangat untuk meniup lilin.
"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga...."
Nadine mendekatkan wajah dan meniup lilin. Tepuk tangan berkumandang memenuhi ruangan saat lilin padam sekaligus.
"Selamat ulang tahun," kata Wisnu. "Selamat datang di gubuk surga. Aku menyambut gembira kedatangan kakak ipar meski bukan mewakili orang tua."
Nadine tersenyum samar. Dia tahu mukanya pasti disiram air keras kalau Wisnu mewakili orang tua.
"Terima kasih," desis Nadine terharu. "Sebutan kakak ipar membuat aku sangat tersanjung."
"Silakan potong kuenya," kata Wisnu sambil menyodorkan pisau.
Nadine mengambil pisau dari tangan adik iparnya dan memotong kue ulang tahun. Dia taruh kue itu di piring kecil dan memberikan ke suaminya sambil berkata, "Terima kasih untuk surprise malam ini."
"Kamu sampaikan ucapan itu ke Wisnu," ujar Gerdy. "Aku sendiri tidak tahu ada acara ini. Aku dikasih tahu security untuk pulang karena ada informasi penting dari Tanah Suci. Aku kuatir ada apa-apa dengan Abi dan Umi."
"Maafkan saya, Tuan," kata security berbadan atletis. "Saya hanya menjalankan perintah."
"Acara dorong-dorongan juga?"
"Semua sesuai instruksi."
"Saya juga minta maaf, Nyonya," ujar Pak Kumis. "Saya sudah berbuat kasar."
Nadine tersenyum kecil. "Tidak apa. Aku sudah biasa dibentak-bentak customer kalau orangku salah kirim barang. Kumis bapak membuat aku takut."
"Siap, Nyonya. Saya cukur habis besok."
"Tidak perlu. Aku tidak tahu apakah ada kesempatan untuk bertemu lagi dengan bapak."
"Menurut Tuan Wisnu, Nyonya akan tinggal di rumah ini sampai menjelang kepulangan tuan dan nyonya besar dari Tanah Suci. Saya tidak mau selama itu membuat Nyonya takut."
Nadine menoleh ke Wisnu. "Kamu serius?"
Wisnu tersenyum. "Aku ingin kakak ipar tinggal selamanya di rumah ini. Aku tahu itu tidak mungkin. Ayahmu membuat kedatangan puterinya tertolak. Jadi aku manfaatkan hari-hari tersisa sebaik mungkin, karena apapun yang terjadi kalian adalah keluargaku."
"Terima kasih," kata Nadine terharu. "Pengakuan kamu sudah cukup bagiku karena aku tidak bisa berharap lebih."
Wisnu mengeluarkan cek dari saku kemeja. "Ini adalah sisa uang jajanku selama ini. Kakak ipar pasti menolak kalau dijadikan kado ulang tahun. Aku berikan uang ini untuk keponakanku. Aku tidak mau hidupnya menderita."
Nadine menerima cek itu dan matanya mendelik melihat nominal yang tertulis. "Tiga ratus juta?"
__ADS_1
"Terlalu sedikit untuk biaya hidup keponakanku," ujar Wisnu. "Tapi uang itu bisa membantu."
Crazy rich, batin Nadine kecut. Tiga ratus juta dibilang sedikit. Uang ini sudah cukup untuk membesarkan anaknya. Dan itu hanyalah sisa uang jajan!