
Ibu kos curiga. Sejak pulang week end, Nadine sering kedapatan melamun. Jarang kumpul bersama mereka. Beberapa hari belakangan ini ibu kos pulang lebih cepat karena ada perselisihan di antara penghuni pondokan yang perlu campur tangannya.
"Ada masalah apa?" selidik ibu kos. "Ibu perhatikan belakangan ini kamu kelihatan bingung sekali."
"Bagaimana tidak bingung...," jawab Nadine. "Mereka bertegur sapa cuma pas ada Ibu, di belakang masalah week end ke Anyer belum selesai."
Nadine melewati hari-hari yang berat. Masalah bukan hanya datang dari perutnya, mereka menganggap dalam kasus Anyer seolah dirinya yang bersalah. Dia sulit melakukan pembelaan karena mereka bersekongkol sehingga dirinya jadi terdakwa di depan ibu kos.
"Memperbaiki benang putus tidak langsung beres kayak tukang jahit," kata ibu kos sabar. "Kamu perlu berbesar hati. Maka itu kita kumpul di dalam, bukan memisahkan diri begini."
"Mereka menginginkan saya putus sama Gerdy dan menerima Bradley, karena banyak memberi keuntungan pada mereka. Saya tidak suka."
"Jangan men-justice begitu dong," tegur ibus kos lembut. "Hatimu jadi tertutup untuk berdamai. Ibu melihat Bradley lebih baik dari Gerdy. Sifatnya tidak kekanak-kanakan."
Ibu kos mulai kehilangan simpati kepada Gerdy sejak kejadian ulang tahun itu. Kemarahannya sulit diterima, kecuali Nadine merayakan ulang tahun berdua bersama Bradley.
Perkara Nadine menolak merayakan bersamanya adalah masalah tahun lalu yang tidak perlu diributkan sekarang. Sudah basi. Lagi pula, Nadine sekedar menghargai surprise dari teman-temannya.
"Kamu jelaskan kalau malam ini tidak ada kejadian yang patut dicemburui," kata ibu kos usai perayaan ulang tahun. "Bradley mengecup tanganmu adalah hal biasa sebagai bentuk penghormatan. Gerdy kan anak bangsawan, masa tidak tahu kebiasaan itu?"
"Masalahnya tahun lalu aku marah-marah dikasih kejutan seperti ini. Sekarang aku malah merayakannya bersama Bradley."
"Bilang saja teman-temanmu ngasih surprise."
"Dia tahu siapa yang ngasih surprise, Bu. Dan itu sangat menyinggung harga dirinya."
"Harga diri apa? Bradley sudah berbuat apa sama kamu sampai bawa-bawa harga diri?"
"Ibu belum mengenal pacarku seutuhnya."
"Aku tidak perlu mengenal Gerdy atau Bradley secara utuh," tegas ibu kos. "Begini, jika pacarmu tidak lagi percaya padamu padahal sudah dijelaskan semuanya, berarti ada masalah dengan cinta kalian. Atau dia sengaja cari masalah untuk pergi darimu."
Kecurigaan inilah yang membuat Nadine nekat menyusul ke apartemen. Dia tidak sudi dicampakkan dengan alasan dibuat-buat. Dia ingin memberi pelajaran pada Gerdy. Kemudian terjadi peristiwa yang berbuah petaka.
Nadine merasa keretakan di antara penghuni pondokan sulit diperbaiki. Satu hal yang tidak bisa diterima, mereka menghujat Gerdy dan memuji Bradley di depan ibu kos. Dia mulai merasa tidak nyaman tinggal di pondokan.
Pagi itu Nadine duduk termenung seorang diri di beranda. Teman-temannya sudah berangkat kuliah sejak tadi. Ibu kos pergi dinas. Di rumah cuma ada Mpok Siti, pembantu satu-satunya. Rumah terasa sunyi.
__ADS_1
Hari ini Nadine tak punya kesibukan. Kerja kebagian sore. Pergi ke kampus malas. Semangat belajar berantakan bersama hadirnya jabang bayi di perutnya. Dia tidak sempat memikirkan studi, bahkan berniat untuk cuti.
Kerja modeling sulit konsentrasi. Fotografer sampai marah-marah karena pose sederhana saja harus diulang. Jadi sales sudah masa bodoh dengan target. Ada yang jauh lebih penting dari semua itu, perkembangan janin di rahimnya.
Nadine dicekam perasaan bingung tanpa tahu jalan keluar. Pikirannya buntu. Semua pintu seolah menjebloskannya ke lorong gelap.
Dalam keadaan begini, Nadine butuh teman berbagi. Tapi Gerdy tidak mungkin mendampingi setiap saat. Jarak Bandung-Jakarta memaksa mereka untuk mengekang keinginan.
Lagi pula, Nadine tidak mau konsentrasi belajarnya terganggu. Dia tidak boleh punya pikiran macam-macam. Kalau gagal, berarti harus mengulang tahun depan, sementara waktu mereka demikian sempit.
Yang sering menemaninya justru Bradley. Tak bosan-bosannya pemuda itu mengusiknya walau penolakan sudah berulang kali dilontarkan.
Hari ini Bradley datang lagi. Seperti hari-hari sebelumnya, dia tidak lupa membawa buah-buahan, padahal Nadine tak pernah memakannya. Jadi rejeki besar teman-temannya.
Bradley tahu Nadine sudah punya pacar. Dia tahu dirinya amat mencintai pacarnya. Tapi dia tidak pernah tahu kalau usahanya sia-sia. Tidak pernah sadar.
"Entah bagaimana aku harus mengusirmu," keluh Nadine antara kesal dan putus asa. "Aku sudah kehabisan cara, kehabisan kata-kata."
"Baru kata-kata," sahut Bradley sambil duduk di sebelahnya tanpa menunggu dipersilakan, dan tidak pernah dipersilakan. "Berondongan peluru pun tidak akan mampu membunuh cintaku."
Semangat bergelora ini yang menyentuh hati Nadine. Bradley begitu gigih memperjuangkan cintanya. Pantang menyerah. Dan dia cuma bisa menaruh iba.
Sementara Bradley sudah berkorban waktu, tenaga, uang, tapi tak mendapatkan apa-apa.
Pemuda sehebat Bradley tidak seharusnya menghambakan diri pada cinta. Banyak perempuan yang mengejarnya.
"Gadis pondokan cantik-cantik, masa satu pun tidak ada yang menarik hatimu?" Suara Nadine berubah lunak. Tiba-tiba saja dia merasa pemuda itu tidak bisa diusir secara kasar, mesti diberi pengertian. "Aku tidak bisa, Brad. Bukan kamu tidak menarik, kamu terlambat hadir dalam hidupku."
Nalurinya benar. Untuk pertama kalinya tatapan yang penuh semangat itu berubah mendung. Cahaya di wajahnya memudar. Pemuda itu lama termenung sebelum terdengar suaranya yang mengambang.
"Mungkin aku ada kelainan." Bradley menghela nafas halus. Matanya menatap kosong ke depan. "Aku ini seorang CEO, tidak pantas mengemis cinta. Tapi setiap kali aku berusaha berlari darimu, setiap kali pula aku merasa aku telah membohongi diri sendiri."
"Kamu normal, Brad," hibur Nadine lembut. Ternyata dia telah keliru menduga. Pemuda itu bukan tidak mau menghentikan perburuan konyolnya, tapi tak mampu melepaskan diri dari belenggu cintanya. "Berusahalah lebih keras. Kamu tidak sulit mencari perempuan yang melebihi aku."
Bradley memandang hampa. "Siapa yang melebihi kamu? Hatiku bertahan denganmu, seperti kamu bertahan dengan Gerdy. Banyak perempuan datang padaku, tapi cintaku padamu tidak tergantikan."
"Kamu tidak boleh membiarkan mimpimu merusak hari-harimu."
__ADS_1
"Aku tidak bisa."
"Pasti bisa," sambar Nadine yakin. "Wanita manapun tidak akan mampu menolak cintamu."
"Buktinya kamu menolak cintaku."
"Aku sudah punya Gerdy," jawab Nadine separuh mengeluh. Sudah hamil, lanjut hatinya getir. "Cinta butuh kesetiaan."
"Cinta juga butuh perjuangan. Dan itu yang sedang kujalani."
"Jangan bodoh."
"Aku tak mau disebut pintar."
"Aku tidak mungkin berpisah dengan Gerdy. Tolong hargai cinta kami."
"Berarti aku harus hidup seorang diri."
Sebuah ide melintas di benak Nadine. Bagaimana kalau dia bantu mencari? Siapa tahu jalan pikirannya terbuka, karena yang memilih adalah gadis yang dicintainya.
"Aku punya famili," kata Nadine hati-hati. "Foto model juga. Seumuran denganku."
Bradley menoleh dengan antusias. "Famili? Cantik?"
"Bidadari kampus."
"Tapi belum punya pacar?"
"Apa itu suatu keharusan?"
"Cantikan mana sama kamu?"
"Perempuan paling tidak suka dibandingkan."
Semangat Bradley meluap-luap kembali. "Bagaimana juga aku harus mencoba. Kuliahnya di mana? Kos tidak? Biar aku usaha sendiri."
Sejak itu Bradley tak pernah muncul lagi. Barangkali sudah menemukan pelabuhan hati, entah familinya atau bukan. Dia tak ambil pusing.
__ADS_1
Tapi biar laki-laki itu sudah tidak mengganggunya lagi, hatinya belum tenteram. Ada sosok lain yang mengusik kehidupannya. Makhluk mungil dalam kandungan!