
Hari pertama toko buka pendapatan cukup lumayan. Kebanyakan konsumen datang dari cluster sebelah. Pembeli dari cluster ini cuma beberapa orang. Barangkali kebutuhan dapur masih cukup.
Promosi Prilly di media sosial sangat efektif. Pak Marto sampai tidak sempat untuk pergi menarik becak. Dia hanya mengantar anak tetangga berangkat sekolah karena sudah langganan, bayar tiap bulan.
"Saya berhenti menarik penumpang kalau setiap hari pembeli kayak begini," kata Pak Marto. "Baru pembukaan saja sudah ramai. Bukan harga promosi kan, Tuan?"
"Bukan," jawab Gerdy. "Toko kecil tidak cocok menggunakan sistem diskon."
"Tuan ini bercanda," kata Bu Marto. "Toko besar begini dibilang kecil?"
"Standar yang dipakai adalah standar keluarga suamiku," sambar Nadine yang datang sambil mendorong kereta bayi. "Bukan standar orang kebanyakan. Maklumlah mantan crazy rich."
Pak Marto menatap heran. "Kok mantan sih, Nyonya? Sekarang masih jadi crazy rich."
"Itu menurut standar Pak Marto. Standar suamiku biasa-biasa saja."
Bu Marto melongo. "Waduh, kaya banget berarti keluarganya Tuan."
"Bangetnya pakai kuadrat. Sejak menikah, suamiku ingin mandiri. Punya usaha sendiri. Nah, toko ini salah satunya. Modalnya hasil menabung. Bu Marto tidak melihat mobil mewah parkir di rumahku, kan? Nah, beberapa hari yang lalu dikembalikan ke orang tuanya."
"Mantap dah. Saya angkat dua jempol."
"Kamu ini bayi masih merah dibawa jalan-jalan," tegur Mami sambil tangannya sibuk menghitung uang pendapatan hari ini. "Udara di luar tidak sehat."
"Pakai alat pembersih udara," jelas Nadine. "Jadi pernafasan Idyla aman."
Toko ini buka jam tujuh pagi dan tutup jam empat sore. Plank terpampang di depan dengan nama: Toko Sembako Idyla, diambil dari nama depan anak mereka. Kelihatannya toko ini memiliki prospek cerah.
"Kalau Bu Marto butuh beras atau apa, ambil saja," kata Gerdy. "Cuma tolong catat."
"Tidak enak, Tuan. Memangnya toko saya main ambil saja?"
"Kan sudah dibilang catat," tukas Mami. "Jadi tidak main ambil saja. Perhitungannya nanti akhir bulan."
"Saya ambilnya kalau ada Mami saja."
"Begitu juga baik. Hari ini kamu butuh apa? Beras? Susu? Kornet?"
"Kornet kemahalan. Saya biasa makan ikan asin."
"Jadi butuh lauk pauk? Kamu ambil kornet satu kaleng sebelum toko tutup."
__ADS_1
"Terima kasih, Mi." Bu Marto kelihatan senang sekali. Dia segera mengambil kornet satu kaleng di rak.
"Minyak gorengnya ada?" tanya Nadine.
"Ada, Nyonya."
Mami menyodorkan buku pengeluaran ke Bu Marto. "Nih, tanda tangan. Untuk bukti kalau aku tidak asal tulis."
Gerdy cuma sebentar berada di toko. Sekedar relaksasi otak. Dia kembali ke rumah dan duduk di ruang tamu. Matanya konsentrasi penuh ke layar laptop. Kemudian tangannya mengetik dengan lincah.
Gerdy mulai sibuk menyusun skripsi. Dia ingin selesai sesuai target. Menunda-nunda penyusunan skripsi berarti menunda-nunda masa depan, itu bukan sifatnya.
Minggu-minggu ini Gerdy tidak mau memikirkan hal lain. Dia ingin fokus mengerjakan skripsi. Sidang sarjana tepat waktu adalah harga mati. Kantor sudah menunggu sertifikat sarjana.
Kesibukan ini cukup membantu Gerdy untuk melupakan kebutuhan batin yang tidak tersalurkan. Dia kadang berolahraga untuk mengurangi libido berlebih. Masa kelahiran adalah masa paling berat untuk pasangan muda.
Nadine masuk membawa kereta bayi dan duduk di dekat suaminya. Matanya tertuju ke layar laptop membaca hasil ketikan.
"Jangan melendot begitu," tegur Gerdy. "Libidoku lagi tinggi-tingginya."
"Aku mau menyumbang inspirasi."
"Sabar. Satu minggu lagi."
Nadine pergi sambil mendorong kereta bayi. Mami masuk selesai mengurus toko. Ia meletakkan dompet di atas meja.
"Uangnya semua ada di sini," kata Mami.
"Pegang saja."
"Uang itu lumayan banyak."
Gerdy berhenti mengetik dan memandang mertuanya. "Kenapa kalau lumayan banyak? Mami habiskan juga tidak apa-apa."
Mami tersenyum. "Tidak mungkin dihabiskan. Usaha sekurang-kurangnya harus kembali modal, itu yang betul."
"Mami sisihkan modal supaya tidak habis. Untungnya silakan gunakan untuk keperluan Mami dan Prilly."
Mami mengambil lagi dompet di atas meja. "Aku alokasikan keuntungan untuk kebutuhan Prilly. Jadi kalian tidak perlu memikirkan ongkos kuliah nanti."
"Aku membuka toko supaya Mami ada kesibukan. Akan lebih baik kalau usaha itu dapat menunjang biaya sekolah Prilly. Perhatikan juga kebutuhan Mami."
__ADS_1
Kebutuhan mertuanya adalah anggaran paling kecil di rumah ini. Dia jarang sekali membeli baju baru. Dia baru membuang pakaian kalau sudah tidak layak pakai. Nadine sering menegur karena Mami mengenakan pakaian berwarna usang meski hanya untuk di dalam rumah.
Mami berdandan kalau pergi jalan-jalan. Di rumah dia tidak pernah memakai kosmetik, sehingga peralatan kecantikan kebanyakan jadi pajangan di meja rias.
Nadine adalah perempuan paling boros di rumah ini. Dia ingin tampil sempurna di manapun berada. Tiap minggu shopping dan melakukan perawatan kecantikan.
"Aku pikir harus ada libur," kata Mami beberapa hari berikutnya. "Aku dan keluarga Marto perlu waktu untuk bersantai. Hari Minggu tutup bagaimana? Di hari itu perumahan sepi karena warga pergi jalan-jalan. Toko buka juga tidak efektif."
"Atur saja," sahut Gerdy. "Umumkan ke pelanggan sebelumnya."
Mami butuh waktu untuk mengurus kepentingan diri sendiri. Hari Minggu adalah hari di mana orang banyak keluar rumah untuk refreshing. Mami tidak sekedar ingin jalan-jalan menikmati pemandangan kota, semangatnya untuk mencari Papi belum pudar.
Selama ini Mami minta diantar Mimin dengan motor. Hari Minggu Prilly bisa membantu dengan berkendara mobil. Jangkauan pencarian lebih jauh. Jadi Gerdy harus mengalah pergi ke kantor menggunakan motor. Lagi pula, dia biasa pakai motor.
"Pakai saja mobil," kata istrinya saat Gerdy membuka aplikasi online memesan taksi untuk berangkat kerja, pakai motor hari mendung takut hujan. 'Di rumah juga mobil buat apa?"
"Kamu tidak peka sama keinginan Mami," tegur Gerdy. "Dia minta hari Minggu toko tutup supaya bisa minta bantuan Prilly untuk mencari Papi. Dengan mobil, dia bisa mencari ke kota lain sambil rekreasi."
"Mami harus kamu kasih pengertian kalau Papi sudah tiada. Jangan turuti keinginannya."
"Kamu sudah melakukan hal itu dan Mami malah semakin gigih mencari Papi. Jadi apa artinya penjelasan menantu? Aku lebih suka membiarkan dia mencapai titik jenuh dalam pencarian sia-sia, atau menghabiskan sisa umur untuk mencari suaminya."
"Kamu tidak terenyuh melihat Mami memikirkan sesuatu yang sia-sia?"
"Mami senang menjalani hal itu. Aku tidak bisa meminta untuk berhenti karena pasti membuatnya sedih."
Kepergian Papi tanpa jejak jadi masalah abadi di rumah ini karena tidak ada titik terang. Polisi sudah menghentikan pencarian dan menetapkan Papi dengan status orang hilang.
Gerdy juga sudah meminta Surya untuk menghentikan pencarian secara khusus, cuma buang-buang waktu dan biaya. Temannya tidak minta bayar, tapi dia perlu mempertimbangkan tenaganya dengan mentransfer uang setiap bulan.
Gerdy memuji kesetiaan Mami kepada suaminya. Kharisma Papi tidak luntur dengan kebejatan perilakunya di tahun-tahun terakhir karena pernah mengalami masa indah di tahun-tahun pertama.
Tidak banyak istri dapat bertahan manakala menghadapi masalah yang sangat prinsipil. Entah kesetiaan Mami yang hebat atau seorang istri yang bodoh.
Gerdy tidak mau terbebani dengan memikirkan keinginan Mami. Minggu-minggu ini dia harus memusatkan pikiran untuk menghadapi masa kritis studinya. Skripsi disusun butuh analisa mendalam dengan kemampuan berpikir yang tinggi.
Gerdy tidak mau nilai skripsi menjatuhkan IPK yang nyaris sempurna. Dia ingin mencapai yang terbaik selama ada kesempatan. Dia percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki.
Bilamana otaknya lelah, dia beristirahat sebentar dengan berjalan-jalan melihat toko yang semakin ramai, atau berbaring tidur jika hari sudah malam. Hari-harinya cuma untuk menyusun skripsi.
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Tidak banyak koreksi dari dosen pembimbing. Hingga dia bisa menyusun bab selanjutnya dengan lancar.
__ADS_1