
Siang itu mereka berangkat ke rumah Dennis, adik ipar Mami. Kunjungan dilakukan lebih awal karena Gerdy dihubungi ibunya agar segera pulang untuk menghadiri resepsi pernikahan keponakan ayahnya.
Dennis adalah pegawai negeri sipil di tingkat kota. Di usia relatif muda, dia sudah menduduki jabatan lumayan penting. Pembawaannya kalem, cenderung pendiam, penurut kepada istri, tapi bukan suami takut istri.
Istri Dennis sedang membawa anaknya jalan-jalan ke mall saat mereka tiba di rumahnya. Hari Sabtu adalah jadwal rutin untuk wanita keturunan ningrat itu mengasuh anaknya mandi bola atau bermain wahana sesuai dengan usianya, sekalian perawatan kecantikan di salon langganan.
Mami jadi leluasa untuk menyampaikan maksud kedatangannya, bercerita secara terus terang tentang semua peristiwa yang terjadi. Dia bertamu bersama Nadine, sementara Gerdy menunggu di mobil. Dia takut Dennis mencak-mencak kepada pemuda yang telah menghamili keponakannya itu.
"Begitu ceritanya, Den," kata Mami. "Suamiku tidak layak jadi wali. Otaknya sakit. Hak wali jatuh kepada adiknya, yaitu kamu."
"Rumit sekali masalahnya," komentar Dennis. "Aku tidak mengira kehidupan kalian demikian pelik."
"Terus bagaimana, Om?" tanya Nadine hati-hati. "Om bersedia jadi wali aku?"
"Perempuan secantik kamu harusnya hati-hati dalam bergaul. Banyak lelaki mengincar dan mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kamu. Siapa namanya calon suami kamu itu?"
"Gerdy Anggara. Mahasiswa tingkat akhir perguruan tinggi terkenal di kota Bandung."
Dennis mengerutkan dahi. "Gerdy Anggara? Di mana orangnya?"
"Menunggu di mobil," jawab Mami. "Aku minta kamu dapat mengendalikan emosi kalau bertemu dengannya. Aku tidak mau urusan bertambah rumit."
Dennis bangkit dari sofa. "Aku sudah biasa menghadapi bajingan. Jadi jangan kuatir. Kalian tunggu di sini. Aku mau bicara empat mata dengannya."
Dennis pergi ke luar rumah. Dia sulit mengenali orang di dalam SUV mewah itu karena berkaca gelap dan tertutup, tapi seperti pernah melihat mobilnya. Dia melangkah ke halaman. Kaca jendela mobil terbuka perlahan, dan sebuah senyuman menyambutnya.
Dennis terkejut. "Jadi kamu? Brengsek. Berani kamu menghamili keponakan aku."
Gerdy senang ternyata wali yang dimaksud adalah pacar sahabat seniornya, Tarlita. Negosiasi jadi lebih mudah. Tapi dia tidak menunjukkan perasaan senangnya di hadapan lelaki itu.
"Brengsek mana dengan pria yang mengaku bujangan padahal sudah punya anak satu?" balik Gerdy santai. "Sejak kapan Jalan Braga pindah ke metropolitan?"
"Aku punya rumah di jalan itu."
__ADS_1
"Tapi istrimu tidak tahu kalau rumah itu jadi tempat penjagalan temanku."
Kasihan Tarlita. Dia termakan janji manis buaya darat itu. Paling mujur jadi istri simpanan. Jauh melenceng dari mimpinya, jadi ratu rumah tangga pejabat Pemkot setelah wisuda.
"Aku dengar PNS tidak boleh beristri dua," kata Gerdy. "Bahaya kalau atasanmu tahu."
"Jangan mengancamku."
"Aku tidak mengancam. Aku cuma ingin mengingatkan pertemuan kita ini adalah pembicaraan antar lelaki."
"Aku mencium bau busuk di baliknya."
"Terserah mau bilang apa," ujar Gerdy santai. "Bagaimana? Kamu bersedia jadi wali calon istriku? Semua tentu ada jaminannya."
Dennis tidak ada pilihan. Menolak berarti skandal terbongkar. Dia cukup bahagia karena calon suami keponakannya adalah orang baik-baik, mahasiswa berprestasi, begitu image yang diperoleh dari Tarlita.
"Sebutkan saja di KUA mana kalian akan menikah, aku pasti hadir."
"Aku belum memutuskan menikah di KUA mana. Aku tidak tahu cara mengurus surat-suratnya."
Gerdy angkat bahu sedikit. "Aku cuma minta kamu tunjukkan yang termudah. Kalau kamu ingin mengurusnya, itu yang diharapkan dan tentu saja akan membuatmu sangat nyaman."
Gerdy berjalan ke beranda rumah. Dennis tak berkutik karena pemuda itu memiliki kartu truf yang setiap saat bisa dimainkan. Dia harus mencari kelemahannya lewat Tarlita. Mereka sahabat karib. Gadis itu tentu tahu banyak rahasia pribadinya.
Mereka duduk di ruang tamu. Nadine merasa keputusan terbaik telah diambil melihat mereka demikian akrab. Wajah omnya sangat cerah. Kalau Gerdy susah dibedakan, bahagia atau sedih air mukanya begitu.
"Calon suami kamu ini bisanya cuma bikin anak," kata Dennis pedas. "Untuk persyaratan administrasi pernikahan biar aku urus. Aku minta data kalian secepatnya agar perkawinan ini bisa segera dilaksanakan."
Nadine terharu omnya bersedia jadi wali, bahkan rela membantu mengurus berkas persyaratan untuk mempercepat pernikahan. Dia jadi penasaran apa yang dilakukan Gerdy sehingga hatinya jadi lunak. Padahal Om Dennis terkenal keras pada adik-adik perempuannya!
"Kamu sogok pakai apa omku?" tanya Nadine dalam perjalanan pulang. "Tiba-tiba saja dia jadi berhati malaikat."
"Aku bingung dengan jalan pikiranmu," komentar Gerdy. "Urusan lancar curiga, mestinya bersyukur."
__ADS_1
"Aku tahu siapa Om Dennis. Dia tidak semudah itu dimintai bantuan. Dia tidak kejam tapi sangat memperhitungkan manfaatnya."
"Jangan bertanya kepadaku kenapa om kamu mendadak baik begitu, yang tahu jadi baik atau pura-pura baik cuma dia sendiri."
Nadine memperhatikan Gerdy sekilas. Pemuda itu seperti menyembunyikan sebuah rahasia. Hal ini tidak boleh terjadi kalau sudah berumah tangga, atau biarkan rahasia itu terkubur di masa lalu. Di kehidupan baru nanti mereka harus saling jujur.
Nadine sendiri menyimpan rahasia besar dalam keluarganya. Gerdy tentu ingin tahu bagaimana ceritanya Mami dan Prilly bisa diboyong dengan mudah. Dia pandai menyembunyikan rasa penasaran di balik ketenangan wajahnya.
Mobil Gerdy tiba di depan rumah. Dia segera turun membukakan pintu buat calon istrinya.
Nadine terpana sesaat. "Tumben."
"Itu janjiku sejak kau persembahkan kesempurnaan cintamu," kata Gerdy pelan sehingga hanya terdengar oleh calon istrinya. Kemudian dia membukakan pintu buat calon mertuanya. "Saya tidak mampir dulu, langsung pulang."
"Hati-hati ya, jangan ngebut," pesan Mami sambil berjalan ke halaman.
"Kalau Katrin menemui kamu, katakan saja tidak pernah melihatku lagi," pesan Nadine.
Gerdy memandang sejurus. "Kamu menculik Mami dan Prilly?"
"Aku tidak menculik mereka," sahut Nadine. "Tapi Katrin pasti mencarinya."
Entah ada kejadian apa di antara mereka sehingga Nadine begitu benci kepada kakaknya. Gerdy tidak mau memaksa calon istrinya untuk menjelaskan.
"Kalau kamu sudah jadi suamiku, pasti kuceritakan karena sudah jadi keluarga. Sekarang baru calon, jadi belum saatnya diceritakan."
"Jika masalah kalian sudah selesai sebelum aku jadi suami, lebih baik jangan ceritakan. Biarkan masalah itu jadi masa lalu dirimu."
"Masalah ini pasti berlanjut sampai aku berumah tangga dan aku akan menceritakan semuanya di ranjang pengantin kita."
"Malam pengantin itu bukan diisi dengan cerita, diisi sesuatu yang bisa menjadi cerita sampai kita tua nanti."
"Selamat malam mingguan bersama Karlina." Nadine mengecup bibir calon suaminya. "Itu untuk setiaku padamu."
__ADS_1
Gerdy tahu, kecupan itu untuk mengingatkan kalau di metropolitan ada perempuan pura-pura bego dengan perjodohan mereka.