Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Sang Dajjal


__ADS_3

Air muka Nadine berubah saat melihat Bradley duduk di beranda rumah sambil membuka gadget. Pasti menunggunya pulang.


"Ngapain kamu datang ke rumahku?" tanya Nadine ketus sambil duduk di kursi yang berjauhan.


Bradley tersenyum sedikit. "Jutek banget. Aku jenguk Mami."


Pemuda itu tahu saja kalau Mami lagi sakit, keluh Nadine dalam hati. Dia pasti dapat informasi dari tante mudanya.


Sebuah sedan muncul di halaman. Papi turun. Dia baru pulang berjudi.


Nadine sebenarnya ingin memarahi ayahnya yang baru pulang begini siang. Dia jengkel melihat kelakuannya yang kelewatan. Istri lagi sakit jam segini baru pulang. Tapi dia berusaha menyembunyikan amarahnya dengan bermuka ramah.


"Papi," panggil Nadine. 'Tolong temani Bradley sebentar. Aku mau ke dalam dulu."


"Papi lagi buru-buru," kata ayahnya sambil pura-pura memegang perut menahan hajat. "Sudah kebelet pengen ke toilet."


Tergesa-gesa Papi membuka pintu depan dan masuk.


Pikiran keji muncul di benaknya melihat keberadaan mereka. Kebetulan.


Papi segera mengambil dua bungkus serbuk dengan kemasan berbeda di laci lemari pajangan. Kemudian pergi ke dapur dan bertemu dengan Mimin yang membuat dua cangkir teh hangat.


"Min, kamu lihat sebentar ke meja makan," kata Papi. "Aku mencium bau busuk, coba periksa ada bangkai apa."


"Baik, Tuan."


Setelah Mimin pergi, Papi segera mengeluarkan dua bungkus serbuk dari kantong celana dan mulai menjalankan siasat liciknya.


Katrin sempat menyaksikan kejadian itu di pintu dapur, dan tampak sangat marah.


Tapi Katrin tak berani melarang. Papi pasti marah besar. Sejak kecil dia sangat takut kalau ayahnya marah hingga terbawa sampai sekarang. Dia cuma bisa mengutuk.


Dulu Papi membubuhi minumannya dengan obat tidur sehingga CEO brengsek itu bisa menggagahi dengan bengis di kamar, akhirnya dia terpaksa jadi istri kontrak dan meninggalkan tunangannya.


Papi pasti mau meracuni Bradley dengan obat perangsang karena tidak memiliki nafsu binatang seperti omnya, dan membubuhkan obat tidur pada minuman Nadine. Biadab.


Kemudian Papi minum beberapa butir pil. Pasti obat untuk menambah vitalitas tubuh. Dia tak peduli istrinya lagi sakit. Dia akan memaksa Mami untuk melayani dan tidak segan-segan berbuat kasar. Katrin pernah berpikir untuk lapor ke polisi, tapi cuma membongkar aib keluarga.


Mimin kembali ke dapur, dan berkata, "Tidak ada bangkai apa-apa, Tuan."


"Berarti hidungku ada masalah. Ya sudah kamu bawa minuman ke depan. Cangkir ini buat Bradley, yang ini buat anakku. Awas jangan sampai tertukar."


"Baik, Tuan."


"Habis mengantarkan minuman ini, buatkan aku teh hangat. Aku tunggu di beranda samping."

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Papi pergi ke beranda samping. Dia ingin bersantai menikmati kemenangan judi semalam sambil menunggu obat bereaksi.


Papi kesal sudah menunggu satu jam di home stay, janda langganan tidak datang, alasannya lagi haid. Kalau ada halangan, kenapa open BO?


Dia sudah keluar duit untuk jemputan taksi online!


Papi sebenarnya tidak mau jajan di luar kalau di rumah siap saji. Dia merasa cukup dengan layanan istri. Kekurangannya cuma jarang berdandan, sehingga rumput di ladang kelihatan lebih hijau, padahal dimakan kambing mana saja.


Papi memiliki perawakan gagah dan kekar. Dia bisa menjadi tokoh masyarakat yang berwibawa kalau berperilaku baik. Predikat pemabuk dan penjudi membuat warga tidak menaruh rasa hormat.


Katrin mencegat Mimin di ruang tengah. Ia bertanya, "Untuk Bradley yang mana?"


"Yang ini, Nyonya."


"Nah, itu berikan ke Papi. Jadi kamu tidak perlu repot bikin lagi. Dia minta teh hangat, kan?"


"Iya, Nyonya."


"Yang satu lagi buang. Kamu bikin minuman baru buat mereka. Jangan sampai ketahuan Papi."


"Baik, Nyonya."


"Habis itu kamu bawa Mami ke dokter, minta Non Nadine untuk mengantar."


"Baik, Nyonya."


"Baik, Nyonya."


Katrin pergi ke kamar untuk tidur siang. Dia cuma bisa berbuat sebatas itu untuk menyelamatkan keluarga.


Mereka tidak ada harga di mata masyarakat karena kebejatan ayahnya. Dia sendiri tidak peduli. Hidupnya sudah hancur.


Katrin menyingkapkan gorden jendela kamar dan mengintip ke luar. Di halaman cuma ada SUV putih. Mereka sudah pergi ke dokter dengan mobil Bradley.


SUV itu sebenarnya buat Nadine, supaya tidak repot naik turun taksi. Dia menolak karena ingin punya mobil dari hasil jerih payah sendiri, dan sekarang lagi indent. Akhirnya mobil itu dipakai Papi.


Katrin senang Nadine sudah mampu hidup mandiri. Kebahagiaan mereka adalah satu-satunya alasan yang membuatnya bertahan untuk hidup.


Sementara itu Papi mulai gelisah di beranda samping. Dia heran merasakan reaksi yang terjadi. Seharusnya obat yang diminum efeknya tidak begini. Dia curiga dengan teh yang diminumnya, tapi cangkir sudah kosong.


Papi segera pergi ke kamar. Dia kaget istrinya tidak ada. Kemudian pergi ke lantai atas memeriksa kamar Nadine. Tidak ada pemandangan mesum yang diharapkan. Brengsek. Dia melihat ke halaman dari balik tirai jendela kamar, cuma ada sedan miliknya.


Papi curiga si Mimin telah menukar minuman. Bergegas dia pergi ke belakang. Asisten rumah itu harus bertanggung jawab. Haram jadah. Kamar kosong.

__ADS_1


Akhirnya Papi terduduk lemas di ruang tengah. Mereka sepertinya sengaja ingin membiarkan dirinya mati menderita. Semua kabur.


Papi sudah membubuhkan obat overdosis, sehingga siapa saja yang minum tidak bisa menahan gejolak yang luar biasa itu.


Papi berjalan ke pintu depan dengan terburu-buru. Dia ingat tetangga sebelah suaminya lagi dinas ke luar kota. Dia tidak peduli dengan risikonya, yang penting terbebas dari siksaan yang sangat hebat ini.


Papi berhenti melangkah saat melewati kamar Katrin. Kamar ini belum diperiksa. Dia menggerakkan gagang pintu sedikit. Tidak dikunci. Pelan-pelan pintu dibuka dan mengintip ke dalam. Matanya terbelalak lebar-lebar.


Katrin tidur terlentang di kasur. Sebelah kakinya menekuk sehingga kimono tersingkap dan terlihat pemandangan yang sangat menggiurkan.


Papi termangu sesaat, seperti terjadi pergolakan batin di hatinya. Kemudian dia melangkah masuk dan menutup pintu.


Papi berjalan lambat-lambat ke tempat tidur. Matanya memandang liar pada perempuan yang tertidur pulas dengan jakun turun naik.


"Katrin...," panggil Papi bergetar menahan gelora yang memburu.


Katrin sebenarnya cuma pura-pura tidur. Dia tahu Dajjal itu pasti datang.


Katrin ingin menolongnya. Dia tidak tega membiarkannya mati tersiksa. Maka itu dia tidak memakai apa-apa lagi selain kimono.


"Katrin...," panggil Papi tercekat didera gelombang panas yang menderu.


Katrin tidak berani membuka mata. Dia membiarkan saja Dajjal itu menyeret tubuhnya secara perlahan dan berhenti setelah pinggulnya berada di sisi tempat tidur dengan kaki menjuntai.


"Kat...rin...," desis Papi terbata dihantam hawa panas yang membakar tubuh.


Katrin membuka mata sedikit, mengintip. Dada berbulu itu naik turun didera nafas kencang memburu. Celananya mengembung terdorong sesuatu dari dalam. Tubuhnya bergetar hebat menahan hasrat yang menggebu. Dajjal itu berdiri mematung kelihatan ragu.


"Kat...rin...!" Suara Papi bergetar terbakar gairah yang memuncak.


Akhirnya Katrin tidak tega. Dia mengangkat kaki ke atas kasur dan membukanya lebar-lebar sehingga terpampang jelas organ intimnya di depan Dajjal itu.


"Masuklah," kata Katrin untuk menghilangkan keraguan di matanya.


Kemudian ombak besar datang bergulung-gulung dan menerjang pantai, menghancurkan segala norma dan etika, tercecer berkeping-keping dan hangus terbakar dalam puncak kenikmatan sang Dajjal.


Pengaruh obat itu sungguh luar biasa, batin Katrin dengan air mata meleleh sambil memandang kepergian sang Dajjal ke luar kamar. Mami pasti mati tenggelam dihantam ombak sedahsyat itu.


Papi sedang mengeringkan keringat di bawah sejuknya AC di ruang tamu saat mereka pulang.


"Papi keringatan habis ngapain?" tanya Nadine heran, sementara Mimin membawa Mami ke kamar untuk istirahat.


"Nge-gym," sahut Papi santai.


Nadine jadi curiga. Seumur-umur ayahnya belum pernah berolahraga, masuk ruang fitness saja alergi. Dan dia semakin curiga ketika membuka pintu kamar depan, Katrin lagi mengeringkan rambut dengan hair dryer di depan cermin rias, habis mandi basah.

__ADS_1


"Tolong jelaskan apa yang terjadi." Nadine memandang marah. "Atau aku tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di rumah ini."


Katrin terkejut.


__ADS_2