
Gerdy mempunyai kewajiban baru sejak perjodohan itu. Malam Minggu harus pulang bagaimanapun sibuknya. Jika tidak, handphone sepanjang malam bunyi dan berujung dengan kemarahan ibunya.
"Perhatikan calon istrimu," tegur Umi setiap kali Gerdy beralasan tidak bisa datang. "Dia cuma ada waktu malam Minggu untuk bertemu denganmu. Hari-hari biasa sibuk sekolah."
Karlina sekolah di SMA unggulan di pusat kota. Berangkat habis Subuh dan pulang hampir Maghrib. Malam hari tinggal sisa-sisa lelahnya.
Umi tidak tahu kalau malam Minggu adalah malam terburuk bagi anaknya. Waktu yang seharusnya dimanfaatkan baik-baik untuk refreshing justru terbuang percuma. Gerdy harus mengantar Karlina pergi kencan dengan anak motor.
Malam ini Gerdy ada janji dengan Tarlita. Mahasiswi senior itu mengundang dirinya untuk datang ke apartemen putri. Kalau ada undangan, berarti pacarnya lagi dinas ke luar kota.
Gerdy sendiri sering mengundang Tarlita ke apartemen putra kalau pacarnya lagi ada halangan. Berhubungan intim adalah kebutuhan rutin mereka.
Gerdy ingin menghentikan semua kegilaan itu, dan itu tidak cukup lewat telpon.
Sejak hatinya terikat pada Nadine, Gerdy tidak tertarik untuk menyalurkan kebutuhan biologis dengan perempuan manapun. Sebagai gantinya, dia menyalurkan kelebihan libido dengan nge-gym.
Gerdy bertekad untuk pacaran bersih. Dia tidak mau mengotori cinta Nadine, dan cuma ingin menyentuhnya di malam pertama.
Menurutnya, mengenal istri secara utuh di malam pertama mempunyai kesan yang berbeda karena belum pernah melakukan hal itu sebelumnya di masa pacaran, meski mungkin bukan malam pertama bagi mereka karena sudah sama-sama berpengalaman.
Nadine terpaksa merubah jadwal kerja, hari Minggu masuk menemui pelanggan di acara arisan atau golf. Gerdy hanya bisa datang malam Sabtu, menginap semalam di kamar tamu dan pergi Sabtu sore. Gadis itu tidak tahu kalau pacarnya pulang untuk jadi sopir pribadi Karlina, calon istri yang resmi.
Sehabis dari pondokan Nadine, Gerdy sebenarnya ingin kembali ke Bandung untuk bertemu dengan Tarlita. Kemudian Umi menelpon sehingga dia terpaksa membatalkan janjinya.
Gerdy terpaksa mengantar Karlina untuk menghadiri pesta ulang tahun Robby di sebuah diskotik terkenal di ibukota. Bu Lurah meminta Linmas untuk mengawal karena mereka pasti pulang larut malam.
Karlina tidak keberatan pakai pengawal karena Linmas bisa menunggu di luar sampai acara selesai. Dia tidak mau kehadirannya mengganggu meriahnya pesta.
"Jadi saya suruh nunggu di luar?" gerutu Linmas keki. "Ketahuan banget rakyat kecilnya."
"Ganti baju dulu kalau mau masuk."
"Tidak bisa, Non," bantah Linmas. "Saya lagi bertugas."
"Berarti tunggu di luar sampai aku pulang."
"Begini saja, Non." Linmas memberikan usul. "Biar sama-sama enak, saya turun di sini. Pulangnya nanti nunggu di sini. Jalan ini aman, tidak ada kriminalitas."
"Betul juga," kata Gerdy sambil menepikan mobil dan berhenti. "Di bagasi ada sepeda lipat, pasang lampunya."
"Kebetulan!" seru Linmas senang. "Saya kepingin sekali naik sepeda mahal!"
"Tapi jangan bilang punyaku."
"Beres."
Karlina menambahkan, "Jangan sampai ketahuan Bunda juga."
__ADS_1
"Dijamin, Non."
Gerdy memberi beberapa lembar uang lima puluh ribu untuk tutup mulut.
"Buat jajan," katanya.
Linmas kelihatan gembira sekali.
"Makin terjamin kalau ada fulus." Linmas menghirup harumnya lembaran uang yang masih baru itu. "Lebih baik meletus di pantat daripada keluar dari mulut."
Bujang lapuk itu bergegas turun mengambil sepeda lipat di bagasi. Kemudian mobil melesat pergi menyeruak jalan yang sepi.
Gerdy menjalankan mobil dengan kencang. Dia ingin cepat-cepat sampai di pesta ulang tahun Robby. Setelah menurunkan Karlina, dia akan pergi jalan-jalan keliling kota, menghibur kekacauan pikiran akibat Tarlita marah-marah janjinya dibatalkan, dan tidak bisa menerima alasannya.
Untung dibatalkan lewat telpon. Kalau bertemu secara langsung, dia tidak yakin bisa menahan diri dari rayuan selebgram itu.
Gerdy sebenarnya ingin berkunjung ke pondokan Nadine. Tapi gadis itu pasti curiga, karena tidak biasanya malam Minggu datang.
Sesampainya di diskotik, Gerdy justru tidak sempat untuk pergi dari pesta anak putih abu-abu. Karlina benar-benar menyebalkan. Dia memaksa untuk berkenalan sama teman-temannya dengan sebutan kakak.
Mereka berebut mengajak berdansa setelah acara tiup lilin selesai. Dia sampai kewalahan melayani.
Gerdy jadi orang yang paling tua di ruangan itu, selain pramusaji. Dia merasa tidak nyaman.
Mereka menjadikan pesta ulang tahun sebagai ajang kebebasan.
Beberapa anak laki-laki duduk di lounge area, minum whisky. Pacarnya duduk menemani, ada juga yang ikut minum, sisanya dansa berpasang-pasangan.
Karlina dan Robby juga kelihatannya jadi bagian dari kebiasaan itu. Mereka minum vodka, lalu berdansa dengan mesranya seolah tidak ada orang di sekeliling.
Karlina bahkan lupa malam sudah larut kalau Gerdy tidak mengingatkan. Mereka pergi sebelum pesta usai.
Gerdy menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi di jalan raya yang mulai sepi. Barangkali penghuni kota sudah kembali ke peraduan atau menghabiskan waktu di klub malam.
Kecepatan mobil tidak berkurang saat memasuki jalan kota satelit. Satu pun tidak ada kendaraan lewat.
Mobil melambat saat melintasi perbatasan kelurahan dan berhenti di bawah pohon yang cukup gelap. Lampu dimatikan. Suasana jalan raya sangat sunyi dalam penerangan cahaya bulan separuh. Warga tidak ada yang kelayapan.
"Kok berhenti?" tanya Karlina sambil menyemprot mulutnya dengan pewangi untuk menghilangkan bau minuman.
"Saking senangnya nge-dance sama pacar sampai lupa kalau kita janjian sama Linmas di sini," gerutu Gerdy. "Congcorang itu belum kelihatan batang hidungnya."
"Dia pasti keasyikan di warung janda muda."
Gerdy menoleh heran. "Jam segini warung boleh buka?"
"Ada penambangan emas di kaki bukit, dua puluh empat jam."
__ADS_1
Gerdy pernah mendengar kabar tentang bukit itu. Seorang petani membuka ladang baru dan menemukan bijih emas pada tanah yang digarap.
"Kamu jago nge-dance juga ya," komentar Karlina. "Mereka minta nomor kontakmu."
"Sejak kapan aku jadi kakakmu?" dengus Gerdy keki.
Karlina tersenyum sambil duduk bersandar ke kursi. "Kalau aku bilang calon suami, pesta pasti bubar."
"Aku sudah jadi kacungmu malam ini, nunggu kamu bersenang-senang sama pacarmu."
"Terus?"
"Aku minta ganti rugi."
"Berapa?"
"Aku tidak butuh duit."
Karlina menoleh dengan penasaran. "Butuh apa?"
Gerdy melihat ada tantangan tersembunyi pada sinar mata bening berkilau itu dengan bibir basah separuh terbuka.
"Butuh apa ya?" Gerdy berlagak bego.
Karlina bergeser duduk, perlahan-lahan bibirnya mendekat hendak mengecup wajah tampan itu, tapi Gerdy menolak dengan menahan bibir mungil itu pakai telunjuk.
"Ingat kita cuma pura-pura," tegur Gerdy lembut. "Jangan libatkan perasaan."
Tiba-tiba saja Gerdy merasa perjodohan ini berbahaya. Melihat bebasnya pergaulan Karlina, bagaimana jika suatu saat terjadi kecelakaan? Dia pasti kena getahnya!
"Aku bebaskan kamu untuk minta apa saja." Karlina tersenyum berlumur madu. Sebuah tawaran yang sangat sulit ditolak. "Aku kira kita punya kebiasaan sama. Tapi jangan kuatir. Robby siap tanggung jawab kalau sampai lolos. Dia akan menikahi aku setelah lulus SMA, agar bisa diboyong ke California untuk melanjutkan sekolah."
"Pikirannya bisa saja berubah," kata Gerdy santai, padahal terjadi pertempuran hebat di dadanya. Biasanya dia langsung menerkam tanpa perlu menunggu tawaran. Tapi malam ini dia bahagia jadi laki-laki bodoh dengan membiarkan sinar mata itu menguncup kecewa. Barangkali dia lagi kepingin, dan tidak ada kesempatan dengan Robby. "Pendirian anak putih abu-abu tergantung mood."
"Dia tidak bisa lari dariku."
Di kejauhan terlihat sorot lampu sepeda. Karlina segera kembali ke posisi duduknya semula.
Ketika Linmas tiba di depan mobil, mereka terlihat duduk manis di kursi masing-masing.
Linmas menyimpan sepeda di bagasi, lalu masuk dan duduk di belakang.
"Si Non kelihatannya capek banget?" komentar Linmas.
"Ngantuk, tahu gak?" sergah Karlina. "Jam berapa ini?"
"Emangnya kalian sudah nunggu lama?"
__ADS_1
"Setengah jam lebih!"
Linmas terbelalak. "Terus dari tadi cuma bengong begini? Gak bosan apa? Jadi orang itu jangan cupu banget! Contoh dong si Abang Linmas! Waktunya tugas, ya tugas! Waktunya joget, ya joget! Waktunya ngembat janda...ya gak berani!"