Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Jadi Orang Biasa


__ADS_3

Terik matahari masih terasa walau Gerdy berlindung di bawah pohon peneduh jalan. Dia mengeluarkan saputangan menyeka keringat yang meleleh di kening. Tenggorokannya terasa kering, padahal segelas es jeruk baru saja mampir di perutnya.


Kantor di wilayah barat hampir semua telah didatangi, dari gedung pencakar langit sampai pencakar ayam. Jawaban yang diterima sama. Jawaban usang. Tidak ada lowongan atau cari orang berpengalaman.


Bagaimana punya pengalaman kalau mereka selalu bilang tidak ada lowongan, mendahulukan orang yang pernah bekerja, seolah cuma ingin memindahkan karyawan dari satu perusahaan ke perusahaan lain, bukan merekrut pengangguran.


Nadine pindah dengan mudah ke swalayan dekat penitipan bayi, naik jabatan pula, tanpa proses berbelit-belit. Atau perempuan gampang diterima asal berani pakai rok tinggi?


"Buang pikiran kotormu," sergah Nadine. "Swalayan itu yang punya wanita."


"Kaum kalian yang katanya lemah sungguh kuat solidaritasnya. Beda dengan kaumku, masing-masing ingin menunjukkan diri sebagai laki-laki."


Sebenarnya Gerdy menginginkan istrinya berhenti kerja, dan Nadine tidak keberatan diam di rumah mengurus bayi. Tapi keadaan memaksanya untuk merubah keputusan. Dan ini kekalahan pertama selaku kepala rumah tangga.


Mereka percaya Gerdy pintar. Sertifikat sarjana asli, bukan beli atau sekolah siluman. Tapi untuk memperoleh pekerjaan bukan sekedar butuh percaya.


Sekali lagi Gerdy mengawasi papan nama di sebelah pintu gerbang itu. Benar. Alamatnya cocok dengan yang tertulis di koran.


Setelah sia-sia mendatangi kantor yang dipenuhi eksekutif muda, dia mencoba mendatangi pabrik yang sarat dengan eksekusi hidup ini, melamar jadi buruh. Dia tak peduli dengan pendidikan yang dimiliki, perusahaan besar atau kecil, yang penting dapat pekerjaan, memperoleh penghasilan.


Setelah merapikan penampilannya, Gerdy menyeberang jalan menuju pintu gerbang pabrik. Dia naik angkutan umum dari rumah. Motor dibawa Prilly kuliah. Adik iparnya berhasil menembus universitas negeri di kota ini. Mobil dipakai istrinya kerja. Dia merasa lebih bebas dengan berjalan kaki dan lebih terasa jadi orang biasa.


Gerdy berdiri cukup lama di depan pintu gerbang menunggu seorang penjaga keamanan datang menghampiri. Huh, perut gendut begitu dijadikan security. Jangankan mengejar pencuri, balap sama siput saja pasti kalah!


"Selamat siang, Pak," sapa Gerdy sopan.


Pria berseragam coklat mirip polisi itu mengamati dengan penuh selidik. Dandanan rapi...bawa map.... Kalau bukan melamar pekerjaan, pasti minta sumbangan.


"Ada perlu apa?"


Dinginnya suara itu membuat Gerdy hampir tersedak. Di mana-mana sama saja. Tak peduli di kantor bertingkat atau pos butut. Kalau lihat orang bawa lamaran, sambutannya tidak bersahabat.


"Betul pabrik ini butuh karyawan baru?"


"Melamar kerja?"


"Ya."


"Sudah tutup."


Gerdy terdiam bingung. Bagaimana mungkin! Dia tahu sekali iklannya baru dimuat pagi tadi, di koran kecil pula, di internet tidak ada, dan sekarang baru jam sebelas siang.


Wah, Jakarta rupanya padat dengan pengangguran. Orang-orang berlomba cari kerja, sampai-sampai jadi buruh di pabrik kecil pun kalah cepat.


Gerdy sudah hendak permisi ketika security lain mempersilakan seorang gadis masuk melalui pintu kecil di ujung pintu gerbang.


"Kok dia boleh masuk?" tanya Gerdy heran. "Padahal saya datang lebih dulu."


"Security itu koneksinya."

__ADS_1


"Koneksi?"


"Apa itu aneh?" sambar pria berkumis itu muak. "KKN boleh turun dari mimbar. Tapi di sini, di alam nyata, jadi pengemis saja pasti diusir ramai-ramai kalau tidak punya kenalan."


Tanpa ambil peduli lagi, gentong berjalan itu meninggalkan Gerdy yang berdiri terpana. Satu tahun lalu, seorang security tidak berani meninggalkan dirinya begitu saja. Hari ini setiap orang bisa mencampakkannya bagai seekor lalat.


Gerdy pulang hampir senja. Seharian penuh keliling wilayah barat. Banyak alamat yang dituju. Kadang jalan kaki masuk gang sempit. Betul-betul menguras tenaga.


Tapi Gerdy masih bisa memberikan sepotong senyum pada istrinya yang berdiri menyongsong di beranda. Senyum yang Nadine sangat hapal artinya, kegagalan. Heran, suaminya berotak cerdas, pendidikan cukup, badan sehat. Mengapa begitu sulit memperoleh pekerjaan?


Barangkali ada persyaratan lain. Yang tidak bergantung pada pendidikan dan kecerdasan. Koneksi! Repotnya, kerja karena koneksi berbuntut korupsi. Dunia penuh basa-basi!


"Aku ketinggalan," kata Gerdy sambil duduk di atas tempat tidur. "Pendaftaran sudah ditutup atau sengaja ditutup."


Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Nadine meletakkan Idyla di ranjang bayi dan membuka sepatu serta pakaian suaminya. Kemudian pergi ke luar kamar hendak membuat minuman hangat.


"Jangan teh hijau," pesan Gerdy. "Aku mulai tidak suka."


"Susu campur krim?"


"Tidak baik untuk kesehatan."


"Kopi manis?"


"Kudengar harga gula naik."


"Kopi pahit."


"Berarti air mineral."


"Jangan teh hijau, susu campur krim, kopi manis pahit, atau air mineral," tegas Gerdy. "Air putih saja."


"Yang belum dimasak?" tatap Nadine separuh meledek. "Tak perlu pakai gelas, langsung tenggak dari keran."


"Air matang," senyum Gerdy kecut. "Itu juga kalau kamu tidak tega suami jadi sarang bakteri."


"Jadi pengangguran bukan berarti kualitas hidup diabaikan," sindir Nadine. "Kecuali kau tidak ada uang untuk membeli."


Nadine pergi dan sebentar kemudian muncul lagi di kamar dengan secangkir teh hijau. Minuman itu diserahkan ke suaminya.


Gerdy meneguk teh hijau dan menaruh cangkir di meja kecil, kemudian berkata, "Kau tahu semua iklan di koran dan internet itu? Ribuan lowongan kerja tersedia. Yang dibutuhkan cuma satu...koneksi!"


"Atau yang berpengalaman," senyum Nadine sambil duduk di sisinya.


"Kau tahu pengalamanku cuma baca lowongan kerja."


"Jadi korannya bagaimana? Stop berlangganan?"


"Kalau Prilly tidak ada keperluan, mendingan stop saja. Aku coba cari kerja tanpa melalui iklan."

__ADS_1


"Kamu mau kerja apa?"


"Banyak jalan menuju sepiring nasi."


"Kalau sekedar untuk sepiring nasi, kau tidak perlu capek-capek kerja."


"Untung sepiring nasi para bangsawan."


"Kau masih berharap jadi bangsawan?"


"Siapa saja berharap jadi bangsawan. Tapi hari demi hari aku jadi semakin tertantang jadi orang biasa. Sekedar untuk sepiring nasi saja ternyata butuh perjuangan."


Semangat yang tetap menggebu-gebu ini membuat Nadine selalu berbesar hati. Gerdy berkemauan keras, pantang menyerah. Padahal kegagalan demi kegagalan telah ditemuinya.


Nadine belum pernah mendengar sepotong keluhan pun keluar dari mulutnya. Belum pernah melihat wajahnya dirundung putus asa. Dia masih bisa tersenyum meski ditolak jadi buruh sekalipun, dan masih bisa melempar kata-kata segar di antara sisa-sisa keletihannya.


Nadine tidak tahu kalau saat ini pikiran Gerdy demikian mumet. Dia sudah kehabisan akal untuk mencari pekerjaan. Dari kegagalan beruntun yang diterimanya hari ini, dia tahu apa artinya; pendidikan tak berharga. Tapi kalau cari pekerjaan tanpa pendidikan, apakah ada?


"Kenapa tidak coba lewat yayasan?" usul Nadine. "Kamu tidak perlu keliling kantor, tinggal tunggu panggilan."


"Syaratnya?"


"Gaji disunat."


"Pikir-pikir deh."


Kenalan. Disunat. Orang kecil jadi sapi perahan. Tapi sudahlah. Dia tidak ada waktu untuk berbual-bual.


"Makan sekarang?" tanya Nadine. "Ada ikan yellowfin kesukaanmu."


Gerdy kelihatan tidak senang. "Aku sudah bilang makanan itu adalah masa laluku. Aku ingin makan apa yang kalian makan."


"Seminggu sekali tidak apa."


"Nanti saja makannya."


Gerdy memperhatikan Nadine yang mengganti popok bayi. Diam-diam dia menarik nafas getir. Istrinya sudah cukup sibuk dengan pekerjaan; mengurus anak, memasak, mencari nafkah. Tapi masih menyediakan waktu untuk melayani suami.


Dia masih sempat membuat minuman hangat, menyiapkan makan, menyambut pulang, dan membukakan pakaian. Padahal Gerdy selalu gagal membawa pulang uang belanja.


"Jangan menyiksa diri," ujar Nadine. "Menghemat bukan berarti mengundang penyakit."


Nadine tahu suaminya tak pernah makan di luar, kecuali bersama keluarga. Dia makan kalau perutnya benar-benar terasa lapar. Kadang cuma satu kali sehari. Sarapan nasi goreng atau roti isi. Kebiasaan baru sejak dia tidak bekerja.


"Belum lapar," kata Gerdy.


"Sayurnya keburu dingin."


"Gampang dihangatkan lagi."

__ADS_1


"Makanlah. Nanti kena maag."


Melihat sorot mata Nadine meredup, Gerdy terpaksa bangkit dari tempat tidur dan pergi ke ruang makan. Dia tak mau istrinya mengkhawatirkan dirinya. Dia ingin melihat wajah itu selalu tersenyum!


__ADS_2